Satu malam mengubah hidup Keyla selamanya.
Dijebak oleh ibu tirinya sendiri, Keyla kehilangan kehormatan dan masa depannya. Pria yang bersamanya malam itu bukan pria sembarangan—Dominic, mafia berbahaya yang tak pernah tersentuh hukum.
Bagi Dominic, wanita hanyalah alat. Kecuali istri yang amat sangat ia cintai.
Namun tekanan dari ibunya memaksanya mencari seorang pewaris, sementara istrinya menolak memberinya anak.
Saat Keyla muncul dalam hidupnya, sebuah keputusan kejam diambil Dom terpaksa menjadikannya istri kedua.
Tapi siapa sangka, hubungan yang diawali dengan paksaan justru menumbuhkan rasa yang sulit dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Bagaimana Rasanya? Enak?
"Bagaimana rasanya? Enak?" tanya Keyla dengan mata berbinar penuh harap saat suapan pertama masuk ke dalam mulut Dominic.
Gadis itu memperhatikan setiap gerak rahang suaminya yang mengunyah dengan perlahan.
Dominic terdiam sejenak, mengecap rasa bumbu yang meresap sempurna. Tidak buruk, bahkan sangat enak. Rasanya memiliki sentuhan hangat yang mirip dengan masakan Elise.
"Kau yang memasak ini sendiri, atau ibuku yang mengerjakan semuanya?" tanyanya curiga.
Keyla mendengus. "Tentu saja aku! Mama hanya membantuku memotong sayuran sedikit. Apa kau meragukan kemampuanku?"
"Sedikit," balas Dom singkat.
"Ck, menyebalkan!" Keyla kembali mengambil satu suapan besar dan menyodorkannya ke depan bibir Dom dengan gerakan sedikit memaksa. "Makan saja yang banyak agar anda tidak berisik!"
Dom menurut, ia mengunyah dalam diam. Ada perasaan asing yang menyelinap di dadanya. Lima tahun menikah dengan Clara, ia tidak pernah merasakan suasana seperti ini.
Clara terlalu sibuk dengan dunianya. Runway, pemotretan, dan pergaulan kelas atas. Jangankan memasak, menyentuh peralatan dapur saja Clara enggan karena takut merusak kukunya.
Dom menatap Keyla. Gadis ini memberikan sesuatu yang sederhana namun terasa sangat nyata. Ia teringat bagaimana ayahnya, Diego, selalu dimanjakan oleh masakan Elise. Mereka tampak begitu utuh.
Selama ini Dom pikir kemewahan sudah cukup, namun malam ini ia sadar bahwa ia menginginkan kehangatan yang sesungguhnya.
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu," ucap Dom tiba-tiba.
"Ya, katakan saja. Aku tidak akan memaksamu memuji masakanku lagi," jawab Keyla sambil sibuk merapikan piring.
"Kau dan ayahmu... kalian tidak memiliki hubungan darah, bukan?"
Pertanyaan itu seketika membuat tangan Keyla membeku di udara. Dom kembali mengingatkan Keyla pada kenyataan pahit yang sempat ingin ia lupakan, fakta bahwa ia hanyalah anak yang ditemukan di pinggir jalan, seorang anak pungut.
"Begitulah," balas Keyla lirih, suaranya terdengar datar dan ada getaran samar di sana.
Dominic menatapnya lekat. "Kau tidak menangis?"
"Untuk apa aku menangis? Memangnya air mataku bisa mengubah fakta bahwa aku tidak punya orang tua kandung?"
"Biasanya perempuan kan suka sekali menangis hanya karena hal kecil. Menangis, menangis, dan menangis," ejek Dom, mencoba mencairkan suasana meski dengan cara yang sedikit unik.
Keyla melotot tajam, ia meletakkan sendoknya dengan suara denting yang cukup keras. "Jangan samakan aku dengan mereka! Tidak semua perempuan harus menangisi hal-hal yang sudah berlalu. Mau aku anak pungut atau anak ha-ram sekalipun, aku harus tetap melanjutkan hidupku!"
Dominic tertegun melihat ketegaran di mata gadis itu. Ia mengulurkan tangan, menangkup pipi Keyla lalu mendaratkan kecupan lembut di keningnya. "Mau kubantu menemukan orang tua kandungmu?" tanyanya.
Keyla terdiam. Mencari orang tua kandungnya? Untuk apa? Jika mereka menyayanginya, mereka tidak akan membuangnya sejak awal.
"Tidak perlu, Tuan. Aku sudah cukup nyaman berada di sisimu sekarang."
"Kau berkata seperti ini bukan hanya karena ingin menyenangkanku, kan?" Dom menatapnya tajam, mencoba mencari kebohongan di mata gadis itu
"Tentu saja tidak. Mulai sekarang, aku... aku akan belajar menjadi istri yang baik untukmu. Ya, meskipun statusku sangat menggelikan sebagai istri kedua," ucap Keyla pelan seraya menundukkan kepalanya.
Dominic tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun. "Kalau kau ingin diutamakan dan membuang status istri kedua itu, segeralah memberiku bayi."
Keyla tersentak. Wajahnya memerah seketika, bukan karena malu, melainkan karena kesal. "Jadi kau pikir aku ini hanya rahim pengganti karena kak Clara menolak melahirkan pewaris untukmu?! Kau pikir aku semurah itu?!" ketus Keyla.
Tanpa menunggu respon Dominic, Keyla berdiri dan melangkah menuju kamar, meninggalkan pria yang masih mematung di meja makan.
"Apa barusan aku salah bicara lagi?" gumam Dom bingung.
Ternyata menghadapi satu gadis kecil jauh lebih rumit daripada menegosiasikan kontrak bernilai miliaran dolar.
Plak!
"Aduh! Pa, sakit! Kenapa malah memukul kepalaku?" Dominic meringis sembari mengusap bagian belakang kepalanya.
Entah darimana pria paruh baya itu muncul dan sudah berdiri di sana.
"Karena kau putraku yang paling tidak peka! Malu sekali aku punya anak sepertimu!" maki Diego tanpa ampun. Ia mengambil gelas air minum di atas meja, meneguknya hingga tandas, lalu meletakkannya kembali dengan bunyi yang cukup keras. "Kau tahu? Istri keduamu itu marah besar karena ucapanmu yang sangat tidak berotak tadi!"
Dominic menyipitkan mata, menatap ayahnya curiga. "Papa menguping pembicaraan kami?"
"Tidak sengaja dengar! Papa tadi haus dan hendak mengambil minum, tapi malah harus mendengar percakapan yang membuat telingaku panas," kilah Diego.
"Alasan," ucap Dominic dingin, tak percaya begitu saja.
"Terserah kau mau percaya atau tidak! Pokoknya Papa tetap ingin meluruskan soal Keyla," tegas Diego. Ia mendekati Dominic, menatap putranya dengan sorot mata yang mendadak serius. "Kalau dipikir-pikir, ucapanmu tadi benar-benar menghina harga dirinya. Kau menganggapnya seolah-olah dia hanya sebuah mesin yang kau beli untuk memproduksi ahli waris."
"Jangan sok tahu! Dia mungkin hanya mengantuk atau sedang datang bulan. Makanya jadi sensitif," balas Dominic enteng, mencoba bersikap acuh meski hatinya sedikit terusik.
Diego menghela napas panjang, ia semakin ingin menghajar putranya ini agar otaknya kembali ke tempat yang benar. "Dia begitu karena kau secara tidak langsung menyebutnya sebagai rahim pengganti! Dominic, wanita itu butuh pengakuan, bukan sekadar tugas."
Diego mencengkeram bahu Dominic, memaksa putranya itu untuk mendengarkan. "Setidaknya katakan kalau kau ingin dia melahirkan keturunanmu karena kau ingin membangun masa depan bersama. Karena kau ingin ada bagian dari dirinya dan dirimu yang tumbuh di rumah ini. Bukan karena anak semata sebagai pemenuh kewajiban bisnis! Begitu saja kau tidak tahu!"
Dominic terdiam, lalu membuang muka. "Ya memang aku tidak tahu. Selama ini Papa selalu menyuruhku untuk mengurus bisnis, bisnis dan bisnis agar perusahaan berkembang. Papa tidak pernah mengajariku cara fokus pada urusan perasaan dalam rumah tangga."
Diego memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut. Di antara keempat anaknya, memang Dominic yang paling susah jatuh cinta. Sekalinya jatuh cinta pada Clara, Dominic justru menjadi seperti keledai du-ngu yang dengan gampangnya dimanfaatkan selama bertahun-tahun.
"Dengar, Dom!" Diego menunjuk tepat ke arah dada kiri putranya. "Rasakan di sini saat kalian bersentuhan. Ingat kembali getaran apa yang kau rasakan atau saat kau menatap matanya."
Dominic tertegun, tangannya tanpa sadar ikut menyentuh dadanya sendiri.
"Lalu pikirkan dengan jernih," lanjut Diego. "Kau membutuhkannya demi seorang anak semata untuk memuaskan ego keluarga, atau kau membutuhkannya karena kau ingin dia ada di masa depanmu sampai rambutmu memutih? Jika kau sudah menemukan jawabannya, segera susul dia ke kamar! Jangan biarkan dia tidur dengan hati yang hancur."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Diego menepuk bahu Dominic sekali lagi sebelum berbalik pergi meninggalkan putranya dalam keheningan.
Dominic masih berdiri mematung di ruang makan. Kata-kata ayahnya berputar di kepalanya seperti kaset rusak, membuatnya semakin bingung sekaligus gelisah.
Dominic menatap ke arah pintu kamar yang tertutup rapat, bertanya-tanya apakah masih ada kesempatan untuk memperbaiki kata-katanya yang salah.
"Susul tidak ya?" gumamnya sembari menatap ke lantai atas.