Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.
Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.
Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Kehancuran peradaban
Tangga batu yang baru saja dipijak Ye Chan mendadak lenyap ditelan pendar formasi kuno.
Udara dingin lorong berganti menjadi kehangatan sebuah kota yang kembali bernapas.
Rekonstruksi masa lalu kembali merajut dirinya sendiri, membentangkan jalanan lebar yang dipadati orang, tawa renyah para pedagang, serta desir Qi murni dari para praktisi yang sedang mengasah teknik di pelataran paviliun.
"Penglihatan yang sama."
Ye Chan menahan langkahnya di tepi pelataran. Ia tidak bergerak sembarangan.
Matanya yang tajam mengamati setiap sosok ilusi yang melintas. Kehidupan di masa ini tampak begitu makmur, melampaui apa pun yang pernah ia jumpai di sekte-sekte masa kini.
Namun, formasi tidak berhenti di titik yang ia saksikan sebelumnya. Waktu terus bergulir maju.
Tiba-tiba, tawa di sekitarnya tersedak.
Bukan karena angin bertiup kencang, melainkan karena udara mendadak mati.
Tidak ada semilir sepoi. Tidak ada debu yang melayang. Atmosfer kota seolah ditekan oleh beban raksasa yang tak kasatmata. Langit biru cerah meredup cepat, berganti menjadi kelabu pekat yang menindih ubun-ubun.
Denyut Qi di udara bergetar hebat, kacau tak beraturan.
Dari dalam kediaman-kediaman megah di pusat kota, puluhan kultivator melesat ke udara.
Aura mereka membubung tinggi, begitu padat hingga Ye Chan—meski hanya menyaksikan rekaman memori—merasakan getaran ngilu merambat di sepanjang sumsum tulang dan jiwanya.
Kultivator-kultivator kuno itu berdiri di atas atap, mendongak ke langit dengan rahang terkatup rapat. Ada ketegangan nyata di wajah mereka, sejenis kecemasan yang hanya muncul saat menghadapi kepunahan.
Lalu, langit terkoyak tanpa suara.
Sebuah siluet turun perlahan dari balik mendung hitam. Tidak ada kilat yang menyertai, tidak ada auman guntur. Sosok itu hanya melayang di angkasa, berbalut jubah panjang yang batas-batasnya tampak kabur di mata. Formasi tidak mampu merekam raut wajahnya; yang tersisa hanyalah bayangan samar seorang manusia dengan kehadiran yang membuat seluruh ruang kota melengkung gentar.
Ye Chan menahan napas.
"Kaisar..."
Bisikan itu meluncur serentak dari bibir ratusan kultivator di bawah. Nada suaranya berbaur antara kebencian purba dan rasa takut yang amat pekat.
'Jadi ini orangnya,' batin Ye Chan, mengepalkan jemarinya. Prasasti di tangga tadi tidak berbohong. Entitas inilah pangkal dari segala kehancuran.
Tanpa aba-aba, kota itu meledak dalam perlawanan.
Kubah formasi pertahanan kota menyala terang benderang, menembakkan ribuan pilar cahaya ke arah langit.
Bersamaan dengan itu, para tetua dan praktisi terkuat melompat ke udara.
Ribuan bilah pedang terbang melesat seumpama badai logam, disusul oleh gulungan naga api dan teknik-teknik es yang membekukan ruang.
Langit kota berubah menjadi lautan energi yang menggelegak, pemandangan agung yang memperlihatkan puncak kejayaan sebuah peradaban kultivasi.
Semua serangan mematikan itu bermuara pada satu titik: sosok di langit.
Ledakan dahsyat menutup pandangan. Cahaya warna-warni berpendar liar, meremukkan awan dan mengoyak udara di sekitar alun-alun. Ye Chan menyipitkan mata, menanti akibat dari hantaman yang sanggup meratakan pegunungan tersebut.
Namun, saat tirai debu dan sisa energi tersapu, sosok itu masih di sana.
Tidak ada sehelai benang pun yang koyak dari pakaiannya. Ia tidak menghindar, tidak pula memasang perisai pelindung yang rumit.
Siluet sang Kaisar hanya mengangkat tangan kanannya secara santai. Gerakannya malas, nyaris seperti orang yang sedang mengusir lalat di sore hari.
Sebuah gelombang tanpa warna meluncur turun.
Hanya satu gelombang.
Bilah-bilah pedang terbang di udara pecah berkeping-keping menjadi serbuk logam. Naga api dan mantra es buyar seketika, terhapus seolah tidak pernah diciptakan.
Formasi pertahanan kota yang agung langsung retak, memicu suara denting kaca raksasa yang hancur sebelum akhirnya runtuh berkeping-keping menimpa tanah.
Puluhan kultivator yang melayang terlempar ke bawah, menghantam jalanan batu hingga memuntahkan darah segar.
Ye Chan berdiri membeku. 'Kekuatan macam apa ini?'
Jurang kekuatannya terlalu konyol. Itu bukan pertarungan antara dua pihak yang bersaing, melainkan telapak tangan manusia yang menepis serangga.
Para kultivator yang masih sanggup berdiri bangkit tertatih. Wajah mereka pucat pasi, namun keputusasaan justru melahirkan kegilaan.
Mereka membakar esensi darah mereka sendiri, memaksa dantian mereka bekerja melampaui batas untuk melancarkan serangan pamungkas. Mereka menerjang maju bersamaan.
Kaisar melangkah turun satu jengkal di udara.
Setiap kali ia menggerakkan jemarinya, teknik terkuat para kultivator buyar sebelum sempat mencapai jarak tiga langkah darinya.
Pedang-pedang pusaka patah menjadi dua.
Tulang-tulang remuk di balik jubah tempur mereka. Sang Kaisar melangkah di tengah hujan darah tanpa tergesa, mematahkan setiap upaya perlawanan dengan kesenyapan yang dingin.
Hingga akhirnya, tidak ada lagi yang melayang di langit. Para kultivator tersungkur di atas reruntuhan alun-alun.
Lalu, kengerian yang sesungguhnya dimulai.
Kaisar mengulurkan kedua tangannya ke bawah, merentangkan jemari ke arah kota.
Seketika itu juga, arus Qi di seluruh penjuru kota tersentak. Aliran energi alam tidak lagi menyatu dengan tanah atau tubuh manusia, melainkan tertarik paksa menuju pusaran di kedua telapak tangannya.
Para kultivator yang terluka di bawah tiba-tiba menjerit melengking.
Mereka mencengkeram dada mereka sendiri, bergulingan di atas batu yang pecah.
Ye Chan melihat dengan jelas bagaimana fondasi kultivasi di dalam dantian orang-orang itu retak dan ditarik keluar paksa.
Jalur meridian mereka tertutup rapat, layaknya pintu gerbang besi yang dibanting dan digembok selamanya.
Satu per satu, tubuh mereka lemas. Kekuatan yang mereka kumpulkan seumur hidup lenyap tak bersisa.
Mereka menjadi fana seutuhnya—bahkan lebih rapuh daripada manusia biasa karena tubuh mereka tak sanggup menahan kekosongan energi yang mendadak.
'Hak kultivasi mereka... benar-benar dirampas,' bisik Ye Chan di dalam kepalanya, merasakan dingin menjalar ke tengkuknya.
Ini bukan sekadar pembantaian raga. Ini adalah pemusnahan eksistensi mereka sebagai praktisi jalan langit.
Beberapa orang yang tersisa mencoba merangkak maju, memungut batu atau pecahan pedang tumpul untuk dilemparkan. Perlawanan yang menyedihkan dari mereka yang telah kehilangan segalanya.
Kaisar tidak melirik mereka. Dengan satu kibasan lengan jubahnya yang dingin, gelombang kejut menyapu seluruh kota.
Menara-menara tinggi roboh, paviliun batu hancur menjadi debu, dan orang-orang yang tak lagi berdaya itu tertimbun di bawah reruntuhan kota mereka sendiri.
Peradaban yang megah itu lenyap dalam hitungan napas.
Rekonstruksi formasi mulai bergetar hebat.
Retakan-retakan ilusi merambat di udara, menandakan memori ini telah mencapai batas akhirnya. Di tengah hamparan puing dan asap yang perlahan memudar, Kaisar masih berdiri tegak di tengah reruntuhan alun-alun.
Tepat sebelum proyeksi itu runtuh total, kepala sang Kaisar sedikit bergerak.
Ia menoleh ke samping. Pandangannya yang tanpa wajah itu seolah menembus bentangan ribuan tahun, tertuju lurus ke titik di mana Ye Chan sedang berdiri mengamati.
Jantung Ye Chan berdegup kencang, refleks mengambil sikap bertahan.
Prak!
Ilusi itu pecah seperti cermin yang dihantam palu.
***
Ye Chan tersentak. Kakinya masih menapak di atas lempengan batu dingin di bawah tanah. Suara jeritan, deru runtuhan, dan kepulan debu masa lalu lenyap seketika, menyisakan kesunyian lorong yang pengap dan beku.
Napasnya memburu tipis. Ia menunduk, menatap telapak tangannya sendiri yang masih kasar.
Kultivasinya saat ini baru berada di ranah Pengumpulan Qi Awal. Jangankan dibandingkan dengan Kaisar itu, melawan kultivator rendahan dari peradaban kuno tadi pun ia belum tentu mampu bertahan.
Ia mengangkat kepala, memandang reruntuhan di sekelilingnya dengan tatapan berjarak.
"Siapa sebenarnya kaisar ini..." gumam Ye Chan pelan, memecah kesenyapan lorong.
Ia menghela napas panjang, meredakan ketegangan di dalam dadanya. "Tak ada sejarah apa pun yang memuat tentang entitas ini selama aku hidup."
Ye Chan merapikan jubahnya yang berdebu.
Pikirannya bekerja cepat, menimbang-nimbang setiap petunjuk yang baru saja ia lihat. Tanpa ragu, ia memutar tumit dan kembali melangkah, menuruni lorong gelap yang membelah bagian terdalam reruntuhan tersebut. Masih ada rahasia yang terkubur di bawah sana, dan ia berniat membongkarnya.