NovelToon NovelToon
[~ Seluruh Keluargaku Adalah Mafia ~]

[~ Seluruh Keluargaku Adalah Mafia ~]

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Misteri / Sistem
Popularitas:98
Nilai: 5
Nama Author: Bintang Pury A.

Di Tengah papan catur yang berkilauan, berdiri bidak ratu emas raksasa yang gagah dan berkuasa menjadi pusat perhatian, dikelilingi barisan bidak-bidak setia yang tak tergoyahkan. Langit di belakangnya bergolak dengan pijar galaksi, seolah menggambarkan dunia yang luas namun penuh rahasia dan kekuatan tersembunyi.

Simbol sempuna dari sebuah keluarga satu pemimpin utama yang memegang kendali, didukung seluruh anggota yang berdiri tegak bersama tak terpisahkan, tak terkalahkan. Di balik kemewahan dan keanggunan, tersimpan jarring kekuasaan yang mengatur segalanya. Setiap langkah adalah taktik, setiap senyuman menyimpan rahasia, dan setiap anggota adalah bagian dari permainan yang tak semua orang pahami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang Pury A., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 Pelindung yang Akhirnya Dilindungi

Will adalah orang yang berdiri paling tegak di barisan depan. Sejak kecil, ia sudah belajar satu hal sederhana tugasnya adalah menjaga. Jika ada yang mendekat, ia yang menghadap. Jika ada bahaya, ia yang menahan. Ia tidak banyak bicara, tidak mencari perhatian, tidak meminta pujian ia hanya berdiri, kokoh seperti dinding batu, memastikan semua orang di belakangnya aman.

Saat Secret Land mulai dikenal, kedatangan tamu semakin sering. Di antara mereka yang datang untuk belajar dan meminta bantuan, ada seorang wanita muda bernama Kirana ia datang dari daerah pegunungan yang jauh, membawa peta lusuh dan tekad yang kuat. Matanya tajam namun lembut, suaranya tenang, dan di tangannya selalu ada buku catatan yang penuh coretan rencana untuk memulihkan kampung halamannya yang rusak.

Pertama kali Will melihatnya, ia sedang berdiri di dermaga, memandang pulau itu dengan takjub namun juga ragu seakan tak percaya tempat seindah ini benar-benar terbuka untuk siapa saja.

“Kau mencari sesuatu?” tanya Will, suaranya rendah dan tegas seperti biasa.

Kirana menoleh, tersenyum tipis. “Aku mencari harapan. Tapi aku takut ini hanya mimpi yang akan hilang saat aku mendekat.”

Will terdiam. Ia paham perasaan itu takut percaya bahwa kebaikan bisa nyata, takut berharap hanya untuk dikecewakan. “Ini nyata,” jawabnya pelan. “Dan pintunya tidak tertutup.”

Hari-hari berikutnya, Will selalu ada di dekatnya bukan karena mencurigai, melainkan karena merasa perlu memastikan ia aman. Kirana tidak seperti orang lain yang datang memuji keindahan pulau itu ia sibuk mencatat, bertanya, mempelajari cara kerja sistem irigasi dan pertanian yang dikelola robot-robot Grace. Ia ingin membawa pulang pengetahuan itu, bukan kekayaannya.

“Kau ingin membangun semuanya sendiri?” tanya Will suatu sore, saat mereka duduk di bawah pohon rindang di tepi perkebunan.

“Aku tidak sendirian,” jawab Kirana lembut. “Tapi aku yang harus memulainya. Orang-orang di kampungku sudah terlalu lama ditinggalkan. Mereka lupa cara berharap.” Ia menatap Will lekat-lekat. “Kau tahu rasanya, bukan? Selalu berdiri sendiri di depan, memastikan orang lain aman, sementara tidak ada yang bertanya bagaimana perasaanmu.”

Jantung Will berdebar kencang. Tidak ada yang pernah berkata begitu kepadanya. Semua melihatnya sebagai perisai yang tak bisa ditembus kuat, tak tergoyahkan, tak butuh apa-apa. Tidak ada yang melihat bahwa di balik ketegasan itu, ia juga manusia yang lelah, yang rindu untuk didengar.

“Aku terbiasa,” jawabnya pelan.

“Terbiasa bukan berarti tidak butuh,” sahut Kirana lembut namun tegas. “Batu yang paling kokoh pun butuh hujan agar tidak retak.”

Hari-hari berlalu, dan kedekatan mereka tumbuh perlahan tenang, tulus, seperti matahari pagi yang menyelinap lewat celah daun. Will mulai bercerita tentang beban yang dipikulnya sejak muda, tentang ketakutan yang ia simpan sendirian, tentang rasa bersalah jika ia sekadar ingin istirahat sebentar. Kirana mendengarkan tanpa menghakimi, tanpa terburu-buru menenangkan ia hanya ada, mendengar, dan membiarkan Will menjadi dirinya sendiri.

Suatu sore, badai datang tiba-tiba angin kencang, ombak tinggi menghantam dermaga. Will sibuk memastikan semua orang berlindung, memeriksa setiap sudut pulau, memastikan tidak ada yang tertinggal. Saat badai mereda, ia berdiri di tepi pantai, napasnya terengah, tubuhnya basah kuyup, dan tiba-tiba ia merasa sangat lelah-lelah yang sedalam-dalamnya, seakan beban selama bertahun-tahun tumpuk sekaligus di pundaknya.

Ia tidak menyadari Kirana mendekat hingga suara kakinya terdengar di pasir. Ia berdiri di sampingnya, memegang selimut kering dan secangkir teh hangat.

“Mereka semua aman,” ucapnya pelan. “Berkat kau.”

Will tidak menjawab. Ia menunduk, menatap ombak yang masih bergolak. “Terkadang aku takut... jika aku berhenti sebentar saja, semuanya akan runtuh.”

Kirana melangkah lebih dekat, meletakkan selimut di bahunya yang dingin. “Lihatlah ke belakang, Will.”

Ia menoleh. Di sana, di beranda bangunan utama, seluruh keluarganya berdiri Grace, Edward, George, Charlotte, Sophie, Henry, Lucas semuanya menatapnya, dengan senyum hangat dan penuh rasa syukur.

“Mereka tidak berdiri di belakangmu karena kau satu-satunya penopang,” kata Kirana lembut. “Mereka berdiri di sana karena mereka juga menopangmu. Kau hanya lupa melihatnya.”

Air mata yang selama ini ditahan akhirnya jatuh pelan, satu per satu, membasahi pipinya yang keras. Ia tidak berusaha menyembunyikannya. Kirana merangkulnya dengan lembut, membiarkannya bersandar, membiarkannya menjadi lemah sejenak.

“Kau tidak harus selalu kuat, Will,” bisiknya. “Aku di sini. Dan mereka semua juga.”

Hari itu, Will menyadari kebenaran yang sederhana namun mengubah segalanya: menjadi pelindung tidak berarti harus sendirian. Bahu yang kuat bisa menopang dunia, tapi ia juga berhak bersandar di bahu orang lain.

Saat masa kunjungan Kirana hampir berakhir, ia duduk bersama Will di tempat pertama mereka berbicara di bawah pohon rindang itu.

“Aku harus pulang,” ucapnya pelan, namun suaranya mantap. “Orang-orangku menunggu.”

Will menggenggam tangannya erat. “Aku tahu. Dan aku akan menemanimu.”

Kirana terkejut. “Tapi tugasmu di sini...”

“Tugasku adalah menjaga,” jawab Will tegas namun lembut. “Dan tempatmu adalah tempat yang juga butuh dijaga. Aku tidak akan tinggal di sini sementara kau berjuang sendirian.” Ia tersenyum senyum yang paling tulus, paling tenang, yang pernah terlihat di wajahnya. “Aku ingin membangun bersamamu. Bukan hanya melindungi dari kejauhan.”

Mata Kirana berbinar bahagia. “Benarkah?”

“Benar,” jawabnya mantap. “Dan aku akan pulang ke sini sesering mungkin. Ini rumahku. Tapi ke mana pun kau pergi, itulah tempatku juga.”

Sebelum berangkat, seluruh keluarga berkumpul untuk berpamitan. Daddy meletakkan tangan di bahu Will. “Kau tidak pergi sendirian, anakku. Dan kau tidak meninggalkan kami. Kau membawa semangat kami ke tempat yang membutuhkannya.”

Edward mengangguk. “Kami akan menjaga semuanya di sini. Pulanglah kapan saja kau mau pintu ini selalu terbuka untukmu.”

Grace memeluknya erat. “Hati-hati, Kak. Dan bahagialah.”

Kapal berlayar membawa Will dan Kirana menjauh dari Secret Land, menuju pegunungan yang jauh. Will berdiri di haluan, memegang tangan Kirana, menatap cakrawala yang perlahan terang. Ia tetap pelindung tetap kuat, tetap setia tapi kini ia tahu ia tidak lagi sendirian.

Kekuatan sejati bukanlah seberapa berat beban yang bisa kau pikul sendirian. Melainkan seberapa indah masa depan yang bisa kau bangun bersama orang yang kau cintai.

...~ Bersambung ~...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!