NovelToon NovelToon
Istri Mafia Memilih Taubat

Istri Mafia Memilih Taubat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir / Mafia
Popularitas:25.1k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Rara, seorang gadis yang gemar membaca kisah pria tampan, tiba-tiba terbangun di dalam novel yang baru saja dibacanya. Namun, bukan sebagai pemeran utama yang baik hati, ia justru menjadi Zelara Sabiru, istri arogan, sombong, dan kejam dari seorang bos mafia bernama Bashkar Deluca. Dalam cerita asli, Zelara selalu membenci Bashkar dan ikut keluarganya menuduh sang suami sebagai dalang di balik kematian kedua orang tuanya. Bahkan, Zelara berakhir dengan nasib tragis. Namun Rara mengetahui satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun Bashkar tidak pernah membunuh orang tuanya. Semua tuduhan itu hanyalah fitnah. Berbekal pengetahuan tentang alur cerita, Rara memutuskan mengubah takdir Zelara. Ia meninggalkan sifat buruk sang istri, memilih untuk bertaubat, dan mulai membela Bashkar yang selama ini hidup dalam kesepian serta penuh kecurigaan. Tetapi semakin Rara berusaha mengubah akhir cerita, semakin banyak rahasia keluarga Deluca yang terbongkar. Dan yang paling membuatnya bingung… Mengapa sang mafia dingin yang seharusnya membencinya justru mulai melindunginya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35

Malam harinya, ruang makan utama mansion Deluca yang megah diterangi pendar hangat lampu kristal gantung yang bernuansa emas. Meja makan kayu mahoni berukuran panjang di tengah ruangan itu kini dipenuhi oleh berbagai hidangan hangat favorit yang dimasak khusus oleh koki terbaik atas instruksi Bashkar mulai dari sup ayam giling kental berkaldunya yang harum, daging steak tenderloin yang dipotong tipis dan lembut, hingga beberapa piring hidangan penutup yang rasanya gurih manis.

Sebelum mereka duduk, Bashkar melambaikan jemari tangannya pelan memberi gestur mutlak kepada belasan pelayan dan pengawal yang tadinya berdiri berjejer rapi di sepanjang dinding ruang makan.

"Kalian semua, keluar," perintah Bashkar singkat dengan suara rendah yang tegas.

Pelayan senior dan para pengawal menunduk hormat dengan patuh, lalu melangkah mundur tanpa suara, meninggalkan ruang makan yang luas itu sepenuhnya hanya untuk Bashkar dan Zela. Bashkar sengaja melakukan hal itu karena ia tahu betapa sensitifnya Zela saat ini terhadap keberadaan orang asing yang berdiri di sekitarnya.

Zela duduk di kursi berbusa empuk tepat di samping kanan Bashkar, bukannya di ujung meja yang jauh. Bau aroma masakan yang menggugah selera seketika membangkitkan rasa lapar luar biasa di perutnya yang sudah berhari-hari hanya diisi oleh bubur rumah sakit yang tawar.

Tanpa canggung sedikit pun, Zela meraih sendok dan garpunya dengan wajah berbinar terang.

"Wah, ini kelihatan enak banget!" seru Zela gembira, matanya yang bulat berbinar-binar bagaikan anak kecil yang disajikan piring penuh hadiah.

Zela langsung menyendokkan nasi hangat bersama potongan daging lembut dan kuah sup kental ke dalam mulutnya. Ia makan dengan teramat lahap pipi porselennya yang kini mulai mengembung kemerahan penuh oleh kunyahan masakan, memancarkan keceriaan murni yang sangat kontras dengan rona pucatnya beberapa hari lalu.

"Nyam... emm! Enak banget, Mas Es Batu!" cerocos Zela di sela-sela kunyahan penuh di mulutnya, sama sekali tidak memedulikan tata krama makan formal. Ia menunjuk piring daging di tengah meja dengan ujung sendoknya. "Ini daging apa, sih? Kok empuk banget kayak enggak perlu dikunyah? Kamu koki yang masak atau beli di luar?"

Bashkar yang duduk tegap di sampingnya hanya memegang pisau dan garpu dengan sangat rapi dan elegan. Manik mata kelabunya menatap lekat setiap gerak-gerik polos istrinya. Mendengar pertanyaan beruntun dari mulut Zela yang masih penuh makanan, sudut bibir tegap Bashkar terangkat tipis seraya meletakkan alat makannya perlahan.

"Makan dulu yang ada di mulutmu, baru bicara," sahut Bashkar pelan namun tenang. Pria itu mengulurkan tangan tegapnya, meraih serbet kain putih di samping piringnya, lalu menyapu lembut sisa noda kuah sup di sudut bibir Zela. "Makan pelan-pelan, Zelara. Tidak ada yang akan merebut makananmu."

Zela menelan kunyahannya dengan payah seraya tersenyum meringis polos, membiarkan jemari tegap Bashkar menyapu lembut pipinya.

"Hehe, habisnya enak banget..." cicit Zela tanpa dosa, matanya mengedip cepat. "Lagipula di rumah sakit kemarin kan cuma makan bubur tawar yang rasanya kayak air hujan. Sekarang ketemu makanan beneran, ya aku lapar banget!"

Zela kembali menyendok porsi besar ke piringnya, lalu menceritakan apa saja yang terlintas di kepalanya yang polos mulai dari memuji bentuk lampu kristal di atas mereka yang mirip kembang api, bertanya kenapa piringnya sangat berat, hingga mengoleskan sedikit saus manis ke daging di piring Bashkar secara sepihak.

"Nih, kamu juga harus makan yang banyak! Biar enggak kaku terus kayak papan selancar!" ujar Zela seraya menyodorkan potongan daging itu ke depan mulut Bashkar dengan sendoknya sendiri.

Bashkar menatap potongan daging di depan bibirnya, lalu beralih menatap sepasang mata bulat Zela yang menatapnya penuh harap dan kepolosan tanpa beban. Penguasa underworld yang biasanya tak pernah membiarkan siapa pun mengatur atau menyuapinya itu akhirnya membuka mulutnya, menerima suapan dari Zela tanpa ragu.

"Bagaimana? Enak, kan?" tanyanya antusias dengan mata berbinar.

"Ya," jawab Bashkar singkat, mengunyah pelan daging tersebut. Suaranya rendah dan dalam, namun pancaran mata kelabunya dipenuhi rasa hangat yang teramat pekat sewaktu memperhatikan istrinya yang kembali menyantap makanannya dengan ceria di bawah pendar emas ruang makan.

Setelah jam makan malam yang hangat dan penuh dengan celotehan polos Zela, suasana mansion Deluca perlahan-lahan meredup menuju ketenangan malam. Cahaya lampu utama di kamar tidur raksasa mereka telah digantikan oleh pendar temaram lampu tidur bernuansa emas yang lembut, menciptakan atmosfer yang hangat dan menenangkan di seluruh sudut ruangan.

Zela sudah berbalut piyama katun longgar berwarna merah muda lembut. Ia duduk bersila di atas kasur king-size yang empuk, meremas selimut sutranya seraya menatap Bashkar yang baru saja selesai menutup tirai tebal jendela balkon.

Saat Bashkar memutar tubuhnya dan hendak melangkah mendekati sisi tempat tidur, Zela mendadak menegakkan tubuhnya. Manik mata bulatnya mengerjap polos, seolah baru saja teringat sesuatu yang sangat penting.

"Mas Es Batu! Tunggu dulu!" panggil Zela dengan suara nyaring yang polos.

Langkah tegap Bashkar terhenti. Pria itu memiringkan kepalanya sedikit, menatap istrinya dengan kening berkerut halus. "Ada apa?"

Zela menunjuk mulutnya sendiri dengan jari telunjuknya yang mungil, lalu mengangguk-angguk sok serius. "Dokter di rumah sakit kemarin bilang, sebelum tidur aku harus gosok gigi dulu sampai bersih! Biar kuman-kumannya enggak bersarang di gigi sewaktu tidur!"

Bashkar menatap Zela yang berbicara dengan memasang raut wajah sok tegas ala anak kecil yang mematuhi perintah gurunya. Sudut bibir tegap sang penguasa underworld itu terangkat sangat tipis. Tanpa melontarkan sepatah kata pun untuk membantah, Bashkar melangkah lebar mendekati tempat tidur.

Sebelum Zela sempat bersiap untuk bergeser atau berdiri sendiri, Bashkar sudah menyusupkan kedua lengan kokohnya di bawah paha dan punggung Zela. Dalam sekali gerakan pelan dan cekatan, pria itu mengangkat tubuh mungil istrinya ke dalam pangkuannya.

"Ehh!" Zela tersentak kaget, refleks melingkarkan kedua tangan kurusnya di sekitar leher tegap Bashkar. Pipi porselennya merona tipis karena kedekatan mendadak itu, namun ia tetap bersandar nyaman pada dada bidang suaminya.

Bashkar melangkah santai membawa Zela menembus pintu kaca tebal menuju kamar mandi utama yang amat luas berlantai marmer putih. Aroma peppermint dan sabun mewah langsung menyergap indra penciuman mereka.

Bashkar berhenti tepat di depan wastafel marmer raksasa bermandikan pendar lampu cermin. Dengan sangat hati-hati, pria itu mendudukkan Zela di atas pinggiran wastafel marmer yang bersih dan luas, memastikan tubuh mungil wanita itu terduduk stabil dan nyaman di sana. Zela membiarkan kedua kakinya yang telanjang menggantung santai, mengayun-ayunkannya pelan ke udara.

"Tunggu di sini," desis Bashkar pelan, suaranya rendah dan dalam.

Bashkar kemudian meraih sikat gigi berbulu lembut berwarna merah muda yang sudah disiapkan khusus di dalam gelas porselen. Ia membuka tutup pasta gigi herbal aromatis, mengoleskan krim di atas bulu sikat secukupnya, lalu memutar keran air otomatis hingga gemericik air hangat mengalir memenuhi wastafel.

Setelah membasahi ujung sikat gigi itu, Bashkar kembali berbalik dan berdiri tegap tepat di antara kedua kaki Zela yang menggantung. Pria tegap itu memajukan tubuhnya sedikit, memangkas jarak di antara wajah mereka hingga Zela bisa merasakan dengan jelas hembusan napas hangat dan aroma kayu cendana dari tubuh suaminya.

"Buka mulutmu," perintah Bashkar sangat pelan, menyodorkan sikat gigi bernuansa merah muda itu ke depan bibir Zela dengan ketelitian penuh.

Zela menatap wajah tegap Bashkar dari jarak yang amat dekat. Manik mata kelabu suaminya yang biasanya terlihat dingin kini memancarkan kesabaran tak terbatas. Zela menyunggingkan senyuman tipis dan polos, lalu membuka mulutnya sedikit.

"Aaa..." cicit Zela menurut.

Dengan gerakan jemari tegapnya yang dipenuhi bekas perban luka, Bashkar mengarahkan sikat gigi itu memasuki mulut Zela. Pria yang biasanya memegang senjata api dan parang tajam itu kini menyikat gigi istrinya dengan gerakan yang teramat sangat lembut memastikan tidak ada bagian gusi atau gigi sensitif Zela yang terluka. Ia membersihkan bagian depan, samping, hingga ke dalam dengan ketelatenan yang luar biasa.

Zela sesekali mengerutkan hidung mungilnya saat busa peppermint yang dingin memenuhi mulutnya, membuat Bashkar harus menahan senyum dan mengusap sudut bibir istrinya yang terkena sedikit busa menggunakan ibu jarinya.

Setelah beberapa menit menyikat gigi dengan teliti, Bashkar mengambil gelas porselen berisi air hangat bersih dan menyodorkannya ke bibir Zela. "Kumur dan buang ke wastafel."

Zela menerima tegukan air hangat itu, berkumur perlahan, lalu membuangnya ke dalam aliran air wastafel. Ia mengulangi proses itu dua kali hingga mulutnya terasa segar dan bersih sepenuhnya.

Bashkar lalu meraih handuk kecil berwarna putih bersih yang tergantung di samping cermin, menyapu lembut sisa-sisa air di sekitar bibir dan dagu Zela hingga kering sempurna.

"Sudah bersih kan, Mas Es Batu?" tanya Zela polos dengan raut bangga, memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi di depan cermin.

"Ya, sudah sangat bersih," sahut Bashkar pelan. Pria itu menyapu beberapa helai rambut panjang Zela yang menempel di pipinya, lalu kembali merengkuh tubuh mungil itu ke dalam dekapan dadanya, menggendongnya keluar dari kamar mandi menuju kasur.

1
merry
hajar balik zelll
merry
sekarat dia x dech zel
merry
nga blg y mimpi Indigo ya🤭🤭🤭dan baskara gk tau klo bhong tnt kemampuan mu itu zel asli y kmu gk pyn kemampuan ap pun tp jiwa kmu bkn zelara tp gpp baskara tau y kmu zelara biar seterusnya baskara tau kmu pyn kemampuan lbh
merry
berati freya in tau y klo baskara ank dr tmn papa ya ,,, yg dibunuh papa y demi kekuasaan ya
Anbu Hasna
Freya ini tantenya Bas atau adiknya si?
Anjani Manurung
bukannya papa mama nya baskar udh mninggal ya
Anjani Manurung
drtd diam aja.udah terluka baru marah.suami lemot
merry
bingung kn zel 🤭🤭🤭gmn jwb skrg zel
Apis
zela berarti g ingat yg lg di culik thor cuma di kasih ingat sblm penculikan makanya lngsung adem ayem ke baskar
merry
bingung jgg y zel bongkar kmu siapa sebenarnya jg agak aneh bagi baskara 🤭🤭🤭🤭bongkar mertua palsu mu jg bingung dr mn kmu tau 🤔🤔🤔hrs cari akal kmu zel bongkar kebusukan papa palsu y baskara tu,, cm jgn bongkar siapa kmu 😆😆😆🤭🤭🤭
merry
moga aj gppp si zela
merry
jgn bongkar siapa kmu sebnrnya zela tar gk seru
Mom Yara
gak mandi dulu neng, langsung berangkat aja
merry
syukurin lgian rumah mewah ko bs di masukin org lain trs zela jg ud sembunyi di blkng mu tp diam ajj
merry
diseret donk 🤭🤭🤭hancurin lh klo gk nnti berulah lgg
Gustinur Arofah
syukurrrrrrrrrrrr kau clarisaaaaaaaaaaaa😤😤😤😤😤
merry
tar koma lgh gr gr kmu hbs kmu clarisa
Susi Nugroho
Lanjut
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Gustinur Arofah
ko kaya gk yakin klo zela amnesia🤔😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!