NovelToon NovelToon
Komandan Galak Itu, Suamiku

Komandan Galak Itu, Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Dokter
Popularitas:23.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Bagi Rahma Wulandari, Sakti Prawira adalah sosok kakak asuh masa kecilnya yang galak dan protektif. Namun, garis takdir mendadak berubah ketika impiannya menjadi dokter terancam kandas akibat kesulitan ekonomi. Satu-satunya jalan keluar yang ditawarkan orang tuanya adalah sebuah perjodohan. Demi masa depan, Rahma akhirnya pasrah. "Gak apa-apa deh nikah sama Kak Sakti, dia sudah aku anggap seperti kakaku sendiri!"

Di sisi lain, Sakti seorang Komandan TNI AD yang terkenal tegas, kaku, dan berhati dingin sejak ditinggal menikah oleh masa lalunya merasa tak habis pikir. "Kenapa aku harus menikah dengan gadis bau kencur dan masih ingusan itu?" protesnya keras. Baginya, menikahi sahabat adiknya sendiri adalah hal yang konyol.
Namun, titah orang tua tak bisa diganggu gugat. Pernikahan beda usia dan prinsip ini pun tetap terjadi.

Mampukah pernikahan yang terbentur perbedaan usia, prinsip, dan watak ini menumbuhkan benih-benih asmara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18

Setelah seluruh rangkaian acara resepsi di aula militer selesai, Sakti dan Rahma memutuskan untuk langsung kembali ke rumah sederhana Pak Salim. Rencananya, besok pagi-pagi sekali Sakti akan memboyong Rahma menuju asrama militer yang akan menjadi tempat tinggal baru mereka.

Sebenarnya, keputusan ini sempat memicu perdebatan sengit antara Sakti dan ayahnya. Pak Wirahadi sempat sangat kesal karena niat baiknya untuk memfasilitasi malam pertama putra dan menantunya di salah satu hotel megah berbintang di Bandung ditolak mentah-mentah oleh Sakti.

"Papah sudah pesankan kamar suite yang paling bagus, Sakti! Kenapa malah ditolak dan memilih tidur di rumah Salim yang sempit itu?" protes Pak Wirahadi dengan nada tinggi di ruang VIP gedung tadi.

Sakti menatap ayahnya dengan tatapan tegak namun dingin. "Menikahi Rahma saja sudah lebih dari cukup bagi Sakti untuk menerima perjodohan paksaan dari Papah dan Mamah. Jadi, tolong jangan atur bagaimana cara Sakti menjalani malam pertama atau kehidupan pernikahan ini. Sakti punya cara sendiri," balas Sakti ketus dan tegas.

Mendengar penegasan putranya yang menohok itu, Pak Wirahadi akhirnya terdiam. Beliau mengangguk pasrah, menyadari bahwa ia tidak bisa menekan Sakti lebih jauh lagi jika ingin pernikahan ini berjalan lancar.

Malam pun tiba di kediaman Pak Salim. Suasana rumah terasa sangat sepi karena Pak Salim dan Bu Rima sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar, tertidur pulas akibat rasa lelah yang luar biasa setelah seharian penuh menyambut para tamu undangan.

Kini, di dalam kamar Rahma yang tidak begitu besar, Sakti sudah berada di dalam. Ia duduk di sisi ranjang berukuran sedang yang kini terasa pas-pasan untuk ditiduri dua orang. Sakti sedang menunggu Rahma yang sejak tiga puluh menit lalu membersihkan diri di kamar mandi.

Ceklek!

Gagang pintu kamar berputar, memutus keheningan malam. Rahma melangkah masuk dengan dada yang bergemuruh hebat akibat rasa gugup yang tak tertahankan. Bagaimana tidak? Sekarang di dalam kamar pribadinya sudah ada sosok pria idaman masa kecilnya yang kini telah resmi menyandang status sebagai suaminya.

Saat pintu terbuka, Rahma melihat Sakti sedang anteng menatap layar ponselnya tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya. Rahma yang baru saja selesai mandi dan keramas, perlahan berjalan mendekati meja rias. Karena takut masuk angin jika tidur dalam kondisi rambut basah, ia pun menyalakan hairdryer untuk mengeringkan rambut panjangnya yang hitam lebat dan berkilau.

Wuuusshhh...

Suara deru hairdryer yang cukup nyaring seketika menyadarkan Sakti dari aktivitasnya. Sang Kapten perlahan menurunkan ponselnya dan menoleh ke arah sumber suara.

Detik itu juga, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Sakti melihat sosok Rahma dewasa tanpa mengenakan jilbab yang biasa membungkus kepalanya. Rambut hitam pekat milik Rahma tergerai indah, bergerak-gerak lembut tertiup angin dari mesin pengering. Pemandangan itu sukses membuat mata tajamnya Sakti terpaku dan tak berkedip sama sekali.

Sosok gadis yang selama belasan tahun ini selalu ia cap sebagai bocah kecil ingusan, malam ini menjelma menjadi seorang wanita yang teramat cantik dan anggun. Kulit tubuh Rahma yang putih bersih dan mulus tampak kontras dengan rambut hitamnya. Ditambah lagi, malam ini Rahma mengenakan daster rumahan bermotif Hello Kitty berpotongan pas selutut, menampilkan betisnya yang indah.

Sakti merasakan tenggorokannya mendadak kering. Ia menelan ludahnya dengan susah payah, membuat jakun di leher kokohnya bergerak naik turun dengan kentara. Tubuh atletis sang perwira mendadak menegang di tepi ranjang.

'Kenapa... kenapa Rahma bisa sangat berbeda sekali seperti ini? Dulu, waktu dia masih kecil dan memakai baju motif Hello Kitty, dia terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Tapi sekarang... daster itu malah terlihat sangat menggoda imanku!' batin Sakti bergejolak hebat, mencoba sekuat tenaga mengalihkan pandangannya dari lekuk tubuh sang istri yang kini resmi menjadi hak milik sahnya.

Sakti yang biasanya selalu tenang di medan latihan kini mendadak dirayapi rasa gugup yang luar biasa. Ia berulang kali berdehem kecil, mencoba mengusir ketegangan yang mendadak menyerang pertahanannya. Bagi Rahma, berpenampilan seperti ini setelah mandi malam memang sudah menjadi kebiasaan sehari-harinya di dalam kamar. Daster Hello Kitty berpotongan selutut yang ia kenakan malam ini adalah baju tidur kesayangannya. Gadis itu sama sekali tidak menyadari bahwa pakaian santai tersebut sukses membuat suaminya tak berkedip dan diam-diam merasa gelisah.

Klik!

Setelah memastikan rambut panjangnya yang hitam dan berkilau benar-benar kering agar tidak masuk angin, Rahma mematikan hairdryer lalu membereskannya kembali ke laci meja rias. Ia membiarkan rambut indahnya tergerai bebas, membingkai wajah polosnya yang tampak segar.

Saat Rahma berbalik dan menoleh ke arah ranjangnya, Sakti dengan gerakan kilat langsung menundukkan kepala, kembali menyalakan layar ponselnya dan berpura-pura sangat sibuk membaca sesuatu di sana.

Dengan langkah yang masih diliputi rasa canggung, Rahma berjalan mendekati kasur. Rasa lelah yang teramat sangat setelah seharian berdiri menyapa ratusan tamu undangan membuat tubuhnya seolah menjerit meminta hak untuk beristirahat. Begitu Rahma berdiri di sisi tempat tidur, tepat di samping posisi duduknya Sakti, sang Kapten pura-pura terkejut dan sengaja membuang muka, tak berani menatap langsung wajah istrinya.

"Maaf, aku pikir kamu belum selesai mengeringkan rambutmu, Ma," ucap Sakti dengan suara yang sedikit serak, mencoba memecah kecanggungan.

"Sudah selesai, Kak... Hoaaammm," sahut Rahma polos, tak mampu lagi menahan kantuknya hingga mulutnya menguap lebar.

Sakti melirik sedikit lewat sudut matanya. "Kamu sudah mengantuk?"

"Iya, Kak. Malam ini Rahma sangat lelah sekali," jawab Rahma dengan nada suaranya yang terkesan manja dan polos. Ia benar-benar melupakan fakta bahwa malam ini adalah malam pengantin mereka yang seharusnya dipenuhi suasana yang romantis.

"Ya sudah, kamu tidur duluan saja. Aku belum mengantuk," ujar Sakti ketus, kembali memfokuskan matanya pada ponsel demi menyembunyikan debaran aneh yang tiba-tiba kembali menghantam dadanya.

Rahma tidak membantah. Ia segera merangkak naik ke atas ranjang berukuran pas-pasan itu, mengambil posisi di pojok kasur yang merapat ke dinding. Begitu kepalanya menyentuh bantal, kantuk yang teramat berat langsung menguasai kesadarannya. Dalam hitungan menit, mata bulat itu sudah terpejam damai.

Waktu kian bergulir larut, hingga akhirnya rasa kantuk mulai menggelayuti matanya Sakti. Sejujurnya, ia sempat berpikir untuk mengalah dan tidur di sofa ruang tamu saja. Namun, mengingat ini adalah rumah orang tuanya Rahma, jika sampai esok subuh mertuanya memergoki sang menantu tidur terpisah di luar kamar, urusannya pasti akan menjadi panjang dan runyam.

Detik itu juga, ada sesal yang menyeruak di hatinya. Mengapa tadi ia harus berdebat sengit dan menolak mentah-mentah tawaran hotel mewah dari ayahnya? Di hotel, ia setidaknya bisa tidur dengan tenang di atas sofa yang empuk tanpa harus berbagi kasur sempit ini.

Dengan helaan napas pasrah, Sakti akhirnya meletakkan ponselnya di atas nakas. Pria yang malam ini hanya mengenakan kaos oblong putih lengan pendek dan celana training hitam panjang itu perlahan merebahkan tubuh tegapnya di sisi kasur yang tersisa. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar dengan posisi kaku, sengaja tidak menoleh ke arah Rahma yang kini sudah mendengkur halus pertanda tidurnya sangat nyenyak.

Karena ukuran kasur yang terbatas, kulit lengan mereka sempat bersentuhan sejenak, mengirimkan sengatan hangat yang membuat Sakti kembali menahan napas. Namun, ujian sesungguhnya bagi sang Kapten baru saja dimulai.

Baru saja Sakti hendak memejamkan kedua matanya untuk menyusul ke alam mimpi, tiba-tiba tubuh Rahma bergerak gelisah. Gadis itu berbalik badan menghadap ke arah Sakti. Dan dalam hitungan detik, lengan kiri serta satu kaki Rahma dengan sukses mendarat, melintang bebas di atas dada bidang dan paha kokohnya Sakti.

Rupanya, dalam kondisi setengah sadar, Rahma mengira tubuh tegap di sampingnya itu adalah guling kesayangannya yang malam ini ia peluk. Rahma semakin merapatkan tubuhnya, memeluk guling bernyawa itu dengan erat.

Deg! Deg! Deg!

Sakti seketika membeku bagai patung di tempatnya. Jantungnya berdegup luar biasa kencang, berpacu hebat menembus dada bidangnya hingga terasa sesak. Ia sama sekali tidak bisa berkutik. Ketika ia menolehkan kepalanya ke samping, pemandangan di depannya sukses membuat napas sang perwira terhenti. Jarak wajah mereka kini hanya tersisa beberapa sentimeter saja....begitu dekat, intim, dan menyemburkan aroma wangi melati serta sabun mandi yang memabukkan dari tubuhnya Rahma.

Dalam remang cahaya lampu tidur, Sakti menatap lekat pahatan wajah istrinya yang tampak begitu damai dalam pelukan kasurnya.

'Kacau... kenapa bisa jadi seperti ini? Rahma, aku ini suamimu, bukan guling! Jangan seenaknya kau memelukku seperti ini!' jerit Sakti frustrasi di dalam hatinya. 'Kau benar-benar membuat jantungku serasa ingin melompat keluar. Tolong jangan memancing hasratku, Rahma...!'

Sakti memejamkan matanya erat-erat, menggigit bibir bawahnya sembari berusaha sekuat tenaga mengendalikan diri dan menahan gejolak naluri kelelakiannya yang kini mulai terusik hebat oleh kepolosan sang istri.

Bersambung..

1
Teh Euis Tea
sakti bilang aj udah cinta, pake acara gengsi segala, benar kt Salma klu udah di ambil orang baru deh nyesel
Teh Euis Tea
yg sabar Sakti km mah ganas main sosor aj
duhhh malu bgt ketahuan sm Salma, mau ngilang aj kelobang semut saking malunya🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: ketangkap basah 🤣🤣🤣
total 1 replies
Nar Sih
kalau udah ada rsa suka pasti bntr lgi cinta datang nih
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul sekali, tinggal menunggu waktu saja kak
total 1 replies
Nar Sih
cemburu mu lucuu sakti ,dan bikin rahma sedih karena sikap mu
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: bener kak 🤣🤣🤣
total 1 replies
dewi rofiqoh
Benar tu sakti apa yang sama bilang, klo kamu gk segera ungkapkan rasamu pada rahma keburu diambil orang tu si rahma🤭🤭🤭
Ilfa Yarni
tau nih sakti klo suka bila g aja pake gengsian sgala liat Rahma akrab dgn laki2lain km cemburu hadeeh sakti
Uba Muhammad Al-varo
Sakti.......kena sama jebakan nya Salma,ayo jujur kamu sukakan, cintakan ke Rahma, jangan gengsi yang digedein /Joyful//Joyful//Joyful//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 🤣🤣🤣
total 1 replies
Ilfa Yarni
hahahaha dasar sakti gengsi setinggi la git udah tau suka sama Rahma malah tidak mau mengakuinya
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: hooh Bun 🤣🤣🤣
total 1 replies
Patrick Khan
masih pagi wes delok sakti ambek rahma nag kasor🥱🥱🥱😁
Anonim
Aku suka
Anonim
🤭🤭🤭🤭
depoll_poll aje 😉😉😉
astagfirullah..
sakti u itu keterlaluan sekali SM s Rahma..
cemburu s cemburu tp sadar diri donk udh mantap blm hati u nya...
hahahaha kepergok s adik nya juga,,
gimna ya cerita selanjutnya...
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Anonim
❤️❤️❤️
depoll_poll aje 😉😉😉
cie cie yg sakit cemburu jugaa.. hahahaha
kepo ya kamu dengan keakraban Rahma dengan pria lain... hihihihihi
Anonim
😍😍😍
Patrick Khan
cemburu kan kau sakti🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betoolll🤣
total 1 replies
Patrick Khan
q aja pengen bisa pakai motor gede lo..tp punya siapa yoan 🤣🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: apalagi aku kak, yg ada nyungsep 🤣🤣🤣
total 1 replies
Patrick Khan
aku lupa cara ciuman 🤣🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: weleh... masa iya lupa, kak 🤣🤣🤣
kocak nih 🤣🤣
total 1 replies
Nar Sih
gak usah cemburu sakti ,dr adnan cuma mau bicara sbntr dgn istri mu tentang wanita pujaan nya yg kebetulan profesor nya rahma di kmpus
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 😄
total 1 replies
Nar Sih
wah ..rahma hebat lho bisa bwa motor besar suami nya👍
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Chuckle//Chuckle//Chuckle/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!