Malam kelam empat tahun lalu selalu datang menyapa benak Adrian setiap kali hening mulai menguasai sudut-sudut markas mewahnya. Sebagai seorang pemimpin jaringan bawah tanah yang disegani sekaligus ditakuti di kota ini, tak ada satu pun hal yang luput dari genggamannya—kecuali ingatan tentang malam itu. Sebuah penyesalan samar yang tak pernah terus terang ia akui, tetapi secara perlahan mengikis ketenangannya. Sampai detik ini, deretan anak buah terbaiknya yang tersebar di berbagai penjuru wilayah belum juga berhasil menemukan keberadaan wanita yang pernah hadir sejenak di hidupnya. Pria itu bahkan hanya mengingat sepenggal nama yang dibisikkan dalam kepasrahan malam: Alea.
Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota yang dipenuhi kemewahan dan intrik kekuasaan, Alea menjalani hidup sederhana di sebuah pemukiman pinggiran. Di sana, ia bekerja membanting tulang dari pagi hingga malam tanpa pernah mengeluh. Semua keringat dan rasa lelahnya menguap setiap kali melihat senyum manis putra kecilnya,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retaknya Sebuah Ikatan
Langkah kaki yang berat dan penuh wibawa membakar atmosfer gedung tua yang mencekam itu.
Adrian masuk ke sana. Sepasang mata elangnya mendapati pemandangan yang membuat darahnya mendidih: putra kecilnya terikat merintih kesakitan, dan wanita paruh baya yang melahirkannya sedang berdiri menatap Alea dengan penuh kebencian.
Alea, yang hanya memiliki pikiran untuk menyelamatkan putranya, tidak peduli lagi pada ancaman atau bahaya di sekitarnya. Begitu melihat celah dan perhatian sang mama teralih oleh kedatangan Adrian, Alea segera berlari ke arah Azka.
"Azka!" jerit Alea hysteris.
Namun, belum sampai di tempat Azka diikat—
DORR!
Suara ledakan tembakan yang sangat keras menggema hebat memecahkan keheningan gedung tua. Detik terasa berhenti berputar. Udara seketika berbau mesiu yang menyengat.
Tembakan tepat di punggung Alea. Tembakan dari Mama Adrian sendiri.
Tubuh Alea terhentak keras ke depan sebelum akhirnya ambruk bersimbah darah di atas lantai beton yang dingin, hanya beberapa senti dari kaki Azka yang terikat. Gaun putih yang dikenakannya seketika ternoda oleh warna merah pekat yang membual keluar dengan cepat.
"IBUUUUUU! HIKS... IBUUUUU!" jerit Azka histeris luar biasa, menangis hingga suaranya serak saat melihat tubuh ibunya terkulai tak berdaya di hadapannya.
"ALEAAA!" jerit Adrian dengan suara melengking penuh keputusasaan yang sanggup meruntuhkan dinding gedung tua itu.
Adrian melompat maju bak kilat, matanya memerah padam oleh rasa sakit dan amarah yang menghancurkan seluruh akal sehatnya. Dalam hitungan detik, Rian dan tim taktis bersenjata mendobrak masuk, melumpuhkan dua eksekutor bayaran dalam sekejap mata sebelum mereka sempat mengangkat senjata.
Mama Adrian menggenggam pistol kecil berukir emas di tangannya yang bergetar hebat. Wajah paruh baya itu mendadak pucat pasi melihat putranya berlutut di samping tubuh Alea, memangku kepala wanita itu dengan tangan yang gemetaran hebat dibasahi darah.
"Alea... Alea, buka matamu! Tatap aku!" bisik Adrian dengan suara bergetar dan air mata yang mulai menetes—hal yang belum pernah dilihat oleh siapa pun sepanjang hidup sang ketua mafia.
"Ad... rian..." bisik Alea amat pelan, napasnya tersengal-sengal menahan rasa sakit luar biasa di punggungnya. Tangannya yang dingin dan bersimbah darah terangkat pelan, mencoba menggapai pipi Adrian. "Se... lamatkan... Az... ka..."
Mata Adrian menatap lurus ke arah sang mama. Tatapan itu bukan lagi tatapan manusia—melainkan tatapan iblis yang siap membumihanguskan siapa pun yang merenggut kebahagiaannya.
"Rian! Bawa ambulans ke sini SEKARANG!" bentak Adrian menggelegar, sebelum perlahan berdiri dan menatap mamanya dengan aura membunuh yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.
Pekarangan gedung tua itu seketika riuh oleh raungan sirine ambulans dan deru kendaraan medis yang baru saja tiba. Suasana di dalam ruangan yang semula penuh ancaman kini berubah menjadi panggung kejatuhan dan rasa penyesalan yang membeku.
Alea tak sadarkan diri. Darah pekat terus merembes membasahi pakaiannya, membuat wajah cantiknya kian pucat pasi.
Dengan dada yang bergemuruh menahan remuknya hati, Adrian berlutut sejenak melepaskan ikatan tali di tubuh kecil Azka. Begitu terbebas, bocah itu langsung memeluk leher ayahnya erat-erat, menyembunyikan wajahnya yang sembap di ceruk leher Adrian sambil terus terisak pelan akibat trauma yang mendalam.
Adrian menggendong Azka rapat dalam dekapan hangatnya. Di saat yang sama, tim medis bergerak cepat menaikkan tubuh Alea ke atas tandu darurat untuk memasang masker oksigen dan menghentikan pendarahan.
Di sudut ruangan, anak buah Adrian telah berhasil membekuk sang mama dan anak buahnya. Dua eksekutor bayaran bertekuk lutut di lantai dengan tangan terikat ke belakang, sementara Mama Adrian berdiri terpaku dalam cengkeraman dua pengawal berjas hitam. Pistol emas yang digunakannya telah diamankan oleh Rian.
Wajah paruh baya Mama Adrian pucat pasi. Sepasang matanya menatap gemetar ke arah Adrian—putra tunggal yang sangat dibanggakannya—yang kini menatapnya dengan pandangan dingin, asing, dan penuh luka yang tak tersembuhkan.
Adrian menghentikan langkahnya tepat di depan sang mama. Tatapannya menusuk hingga ke dasar jiwa wanita itu.
"Aku tidak tahu Mama bisa berbuat sekeji ini," ucap Adrian dengan suara rendah, berat, dan sarat akan kekecewaan mendalam sebelum akhirnya keluar gedung lebih dulu menuju ambulans yang sudah datang.
Kalimat pendek itu menghantam dada Mama Adrian jauh lebih menyakitkan daripada tembakan senjata api. Wanita itu membisu, kehilangan seluruh keangkuhan dan kata-kata saat melihat putra tunggalnya melangkah pergi tanpa sedikit pun berpaling lagi.
Adrian membimbing Azka masuk ke dalam ruang belakang ambulans, mendampingi tubuh Alea yang sedang berjuang melewati masa kritis menuju rumah sakit terbaik di pusat kota.
Rian melangkah mendekati Mama Adrian yang masih berdiri kaku di dalam gedung. Dengan wajah tanpa ekspresi, Rian memberi isyarat kepada para pengawal.
"Bawa Nyonya Besar ke kediaman utama dan jaga ketat di bawah pengawasan penuh," perintah Rian dingin. "Tidak ada yang boleh keluar atau masuk sampai Tuan Adrian menentukan hukuman selanjutnya."