Dibuang oleh keluarga sendiri. Dikhianati oleh orang yang paling ia percaya. Dan kehilangan segalanya karena ulah mereka.
Reyna pernah menjalani hidup seperti itu sampai kematian menjadi satu-satunya akhir yang tersisa.
Namun ketika membuka mata, ia justru kembali ke masa lalu. Kali ini, Reyna tahu siapa yang akan mengkhianatinya.
Mereka mengira Reyna masih gadis naif yang mudah dimanfaatkan, namun mereka salah.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, Reyna akan merebut kembali apa yang menjadi haknya, melindungi orang-orang yang dulu gagal ia selamatkan, dan membongkar satu per satu kebusukan yang pernah menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Adrian menghela napas, lalu menatap Richard dengan tatapan yang bisa membekukan lautan. "Richard. Kau mencoba menjual barang curian padaku. Dan bukan hanya itu, kau mencoba menyeretku ke dalam tuntutan hukum internasional."
"T-Tuan Adrian, saya tidak tahu! Reyna yang memalsukan.." Richard mencoba membela diri, keringat dingin membasahi kerah jasnya.
"Cukup," potong Adrian. Ia mengambil map perjanjian di depan Richard, merobeknya menjadi dua bagian dengan gerakan yang lambat dan disengaja, lalu melemparkannya ke wajah Richard. "Keluarkan dia dari estatku. Dan sampaikan pada orang-orangmu di pasar gelap bahwa Richard Arland adalah penipu. Aku ingin melihat seberapa lama dia bisa bertahan di luar sana."
Richard terpaku, air mata dan ingus mulai bercampur di wajahnya yang hancur. "Adrian... tolong... aku mohon..."
Maya melangkah maju, mencengkeram kerah jas Richard dan menyeret pria tua itu dari kursi. "Tuan Richard, waktunya pulang."
Reyna tidak melihat kepergian ayahnya. Ia hanya menatap Adrian, yang kini menatapnya dengan rasa hormat yang baru.
"Kau bermain kotor, Nona Reyna," ucap Adrian pelan. "Tapi aku menghargai itu. Ibumu adalah wanita yang brilian. Ternyata, darah itu mengalir deras di dirimu."
"Darah tidak pernah bohong, Tuan Blackwood," jawab Reyna, berdiri dan merapikan mantelnya. "Dan satu hal lagi. Jika Tuan pernah mencoba mendekati Arland Group lagi, saya tidak akan hanya membatalkan lisensi paten. Saya akan membuka berkas tentang bagaimana Blackwood Group mencuci uang melalui pelabuhan di Makassar sepuluh tahun lalu. Berkas yang juga disimpan oleh Ibu."
Wajah Adrian untuk pertama kalinya menunjukkan ekspresi terkejut, sebelum ia perlahan tersenyum, menampilkan gigi-giginya yang putih. "Permainan yang menarik. Sampai jumpa di medan perang, Nona Reyna."
Reyna berbalik dan melangkah keluar dari ruang makan itu, meninggalkan serigala tua yang baru saja menyadari bahwa ada predator yang jauh lebih buas di hutan ini.
Langkah ketiga selesai. Richard kini benar-benar sendirian, tanpa uang, tanpa koneksi, dan tanpa harga diri.
Namun, Reyna tahu, Clarissa dan Julian masih di luar sana. Dan mereka tidak akan tinggal diam melihat keluarga mereka hancur.
Hujan turun dengan deras, membasahi jalanan aspal di depan Estat Blackwood. Richard Arland, pria yang tadi malam masih duduk di kursi empuk ruang CEO dan memerintah puluhan ribu karyawan, kini berdiri menggigil di tepi jalan. Jas mahalnya basah kuyup, rambutnya yang disisir rapi kini menempel lemas di dahi.
Sebuah mobil sedan hitam berhenti di depannya. Pintu penumpang terbuka, dan Clarissa menarik lengan ayahnya paksa, menyeretnya masuk ke dalam mobil.
"Papa! Kenapa Papa bisa seperti ini?!" teriak Clarissa, suaranya melengking histeris. "Katanya Papa akan menjual saham itu dan kita bisa pergi ke Eropa! Kenapa Papa malah diusir seperti pengemis?!"
Richard menatap putrinya dengan mata merah, lalu dengan gerakan yang tak terduga, ia menampar pipi Clarissa keras.
PLAK!
"Diam kau, perempuan bodoh!" raung Richard, dadanya naik turun. "Ini semua salahmu! Kalau kau tidak tidur dengan Julian dan membiarkan dia mencuri dana perusahaan, Reyna tidak akan punya amunisi untuk menghancurkanku! Kau telah menghancurkan keluarga ini!"
Clarissa memegang pipinya yang memerah, air mata bercampur dengan riasan yang luntur. Ia menatap ayahnya, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Clarissa tidak melihat sosok dewa penyelamat. Ia melihat seorang pria tua yang lemah, pengecut, dan gagal.
"Jangan salahkan aku, Pa," balas Clarissa, suaranya turun menjadi desisan yang dingin dan penuh kebencian. "Papa yang terlalu serakah. Papa yang membiarkan Julian masuk ke dalam rumah kita. Sekarang, kita tidak punya uang, tidak punya rumah, dan tidak punya masa depan. Julian sedang bersembunyi di apartemen sempitnya, dan penagih utang sudah mulai mencarinya."
Richard terdiam, napasnya memburu. Ia menyandarkan kepalanya di kursi, menyadari bahwa putrinya yang selalu ia anggap sebagai boneka manis kini telah berubah menjadi ular yang siap menggigitnya.