Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.
Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.
Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Jam dinding di koridor luar rutan telah menunjukkan pukul dua dini hari. Suasana rutan begitu mencekam, hanya menyisakan deru angin malam dan tetesan air dari pipa bocor yang menggenangi lantai sel isolasi. Dikta Dirgantara masih terbaring lemah dengan baju tahanan kuningnya yang koyak. Tubuh tegapnya menggigil hebat akibat demam tinggi.
Lengan kirinya yang cedera semalam tampak membiru dan membengkak parah. Napasnya terdengar putus-putus dan berat, menyisakan rasa perih di rongga dadanya. Di tengah kesunyian itu, suara langkah sepatu milik sipir yang biasanya datang membawa siksaan, anehnya tidak terdengar.
Sreeet...
Pintu jeruji besi sel isolasi bergeser tanpa suara. Dikta memaksakan matanya yang bengkak untuk terbuka. Pandangannya kabur, namun ia bisa menangkap siluet tiga orang pria berbadan tegap yang melangkah masuk ke dalam kegelapan selnya.
"Pak Dikta..." sebuah suara bariton yang teramat akrab berbisik dengan nada panik sekaligus penuh hormat.
Marco, tangan kanan kepercayaan Dikta. Di belakangnya, berdiri Hendra, kepala penjaga keamanan Dirgantara Group, dan Billy, sopir pribadi yang selalu setia mengantarkan Dikta ke mana pun. Ketiganya mengenakan seragam sipir rutan tiruan untuk mengelabui penjaga pos depan yang telah berhasil dilumpuhkan secara senyap.
"Marco... Hendra... Billy..." lirih Dikta. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya untuk duduk, namun rasa sakit yang luar biasa langsung menusuk tulang rusuknya, hingga ia ambruk di semen yang dingin.
"Jangan bergerak dulu, Pak! Tubuh Anda... bajingan-bajingan itu benar-benar menyiksa Anda," potong Hendra dengan urat-urat leher yang menegang menahan amarah. Kepala keamanan itu segera berlutut di samping Dikta, memeriksa denyut nadi dan luka lebam di sekujur tubuh bosnya dengan tangan yang bergetar.
"Pak Dikta, ini Billy, Pak. Saya bawakan air minum hangat dan obat penurun demam," ujar Billy dengan mata yang berkaca-kaca. Sopir muda itu dengan cekatan menyodorkan botol air mineral dan membantu menyangga kepala Dikta dengan sangat hati-hati agar bisa meneguk air tersebut. "Minum sedikit, Pak... bertahanlah."
Dikta meneguk air itu perlahan, membasahi tenggorokannya yang sudah terkering akibat siksaan itu. Kesadarannya mulai terkumpul kembali berkat pasokan oksigen dan air. Mata elangnya yang sayu menatap Marco yang berdiri waspada di dekat pintu sel.
"Kenapa... kalian ke sini? Tempat ini dijaga ketat oleh orang-orang Arman Wijaya. Kalian bisa dalam bahaya." Dikta mencoba beranjak dari situ, namun tubuhnya tak mampu.
Marco mengepalkan tinjunya hingga memutih, matanya menatap tajam ke luar koridor memastikan situasi tetap aman. "Kami tidak peduli dengan bahaya, Pak. Begitu Pak Baskara mengabarkan bahwa Protokol Hitam gagal karena sabotase data oleh Arman Wijaya dan Bagas, kami tahu kami harus bergerak sendiri. Kami tidak akan membiarkan Anda membusuk di tempat kotor ini sementara para pengkhianat itu berpesta."
Dikta memejamkan matanya sejenak, menahan denyut yang ingin pecah di kepalanya. "Arini, Arkan... bagaimana keadaan mereka, Marco? Katakan padaku yang sebenarnya."
Marco terdiam sejenak. Ia melirik ke arah Hendra dan Billy sebelum akhirnya kembali menatap Dikta dengan berat hati. "Bagas telah resmi diangkat menjadi Direktur Utama di anak perusahaan Wijaya Corporindo, Pak. Dan saat ini, dia mengurung Bu Arini di rumahnya."
Dikta membuka matanya, kilatan tajam langsung terpancar dari tatapannya. "Untuk apa Bagas menahan Arini? Dia hanya ibu susuan Arkan!"
"Arman dan Bagas mendengar kabar isu soal surat wasiat rahasia yang Anda buat sebelum ditangkap, Pak," sela Hendra, ikut dalam pembicaraan. "Mereka tahu Anda mengunci seluruh aset utama dan tanah Dirgantara Group atas nama Arkan. Bagas juga tahu kalau Anda menunjuk Bu Arini sebagai wali hukum sah yang memegang kuasa atas hak waris tersebut."
Dikta mendengus kesal."Mereka pikir mereka bisa memanfaatkan Arini?"
"Iya, Pak," sahut Marco.
"Bagas mengira karena istri Anda telah kabur meninggalkan Den Arkan begitu saja sejak bayi, Anda tidak punya tameng hukum lagi. Bagas benar-benar syok saat mengetahui bahwa hak wali sah justru jatuh ke tangan Bu Arini. Sekarang, Bagas menyiksa Bu Arini di rumahnya. Dia memaksa Bu Arini menandatangani surat pengalihan tanah itu."
"Bajingan," desis Dikta lagi, "Arini yang menyusui Arkan saat ibunya sendiri tega membuangnya! Arini yang merawatnya saat anakku membutuhkan dekapan dari seorang Ibu. Bagas pikir Arini akan berkhianat seperti wanita sialan itu?!"
"Bu Arini terus bertahan, Pak. Beliau tidak membuka mulut sedikit pun," kata Billy, mencoba menenangkan Dikta. "Tapi karena Bu Arini tidak bisa ditekan, Bagas melampiaskannya pada Den Arkan. Dia menggunakan pengaruhnya di Dinas Sosial untuk membuang Den Arkan ke panti asuhan."
"Bagaimana keadaan Arkan? Apa dia baik-baik saja, katakan Billy?!" suara Dikta naik satu oktav, memotong kalimat sopirnya dengan sepasang mata yang berkilat. Aura membunuhnya keluar.
"Kami tidak tahu, Pak.Tapi Hendra sudah menempatkan beberapa anggota keamanan terbaik kita di sana secara menyamar untuk memastikan tidak ada orang suruhan Bagas yang bisa menyentuh Den Arkan."
Mendengar laporan dari Billy, Dikta mengembuskan napas panjang. Setidaknya putranya masih dalam pengawasan orang-orang kepercayaannya.
"Hendra," panggil Dikta, menoleh ke arah kepala keamanannya.
"Siap, Pak Dikta," sahut Hendra tegas.
"Siapa kepala sipir yang menyiksaku semalam?" tanya Dikta dengan senyuman sinis yang dingin.
"Namanya Sipir Heru, Pak. Dia menerima aliran dana ilegal bulanan dari rekening luar negeri milik Bagas yang disuplai oleh Arman Wijaya," jawab Hendra cepat. "Kami sudah memegang seluruh data transaksi dan bukti rekaman yang dia lakukan."
"Bagus." Dikta mencengkeram lengan baju sipir tiruan yang dikenakan Marco, memaksa tubuhnya sendiri untuk menegak berdiri meski seluruh persendiannya menjerit kesakitan. "Marco, katakan pada Baskara... jangan ajukan banding atau penangguhan penahanan lagi."
Marco terbelalak bingung. "Maksud Anda, Pak? Jika kita tidak bergerak secara hukum, Anda akan dipindahkan ke lembaga tingkat tinggi minggu depan. Akses kita untuk menjemput Anda akan semakin sulit!"
"Itu yang aku inginkan," kata Dikta dengan tatapan mata yang mematikan. "Biarkan Arman Wijaya mengira dia sudah menang karena berhasil menguburku di sini. Biarkan Bagas menikmati jabatannya sebagai Direktur Utama minggu ini. Aku ingin mereka membawa proyek itu berjalan hingga ke titik di mana seluruh modal Wijaya Corporindo tertanam di sana."
Dikta menjeda kalimatnya, menyeka sisa darah kering di sudut bibirnya dengan punggung tangannya. "Mereka pikir, dengan menyampakkan aku di sini, aku akan lemah? Mereka salah besar. Penunjukan Arini sebagai wali sah adalah keputusan terbaik yang pernah ku buat. Hendra, pastikan keamanan di sekitar panti asuhan Arkan diperketat tanpa menimbulkan kecurigaan. Billy, bersiaplah dengan mobil operasional di luar rutan setiap malam pergantian shift sipir."
"Baik, Pak Dikta!" jawab Hendra dan Billy serentak dengan suara rendah yang mantap.
"Dan kau, Marco..." Dikta menatap tangan kanannya itu dengan tajam. "Temui Arini secara rahasia di rumah Bagas."
"Apa yang harus saya sampaikan pada Bu Arini, Pak?" tanya Marco patuh.
"Katakan padanya... untuk tetap bertahan dan berpura-pura tunduk pada suaminya yang brengsek itu. Katakan padanya bahwa Arkan aman di panti asuhan dalam pengawasan kalian. Badai ini akan segera berakhir, dan saat aku melangkah keluar dari penjara ini dengan pakaian jas baruku, aku sendiri yang akan meratakan Wijaya Corporindo dan menyeret Bagas ke dasar neraka."
Marco mengangguk cepat, merasakan kembali aura penguasa dari tubuh Dikta meskipun sang bos dalam keadaan tak berdaya. "Perintah Anda dimengerti, Pak. Kami akan bergerak sesuai rencana."
Suara langkah kaki dari pos penjaga depan yang mulai siuman terdengar samar dari kejauhan koridor. Marco memberikan isyarat tangan kepada Hendra dan Billy untuk segera bersiap mundur dari area.
"Kami harus pergi sekarang, Pak. Obat ini akan meredakan demam Anda dalam beberapa jam. Tetaplah bertahan," bisik Billy seraya meletakkan botol air sisa bosnya dengan cepat.
Ketiga pria setia itu melangkah mundur dengan gerakan taktis, mengunci kembali pintu besi sel isolasi seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa malam itu, lalu meninggalkan Dikta yang kini menatap kegelapan dengan senyuman kemenangan yang mematikan.