NovelToon NovelToon
PENGANTIN SANG JENDERAL

PENGANTIN SANG JENDERAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: Dede Queen

Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.

Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".

Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.

Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.

Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Jejak yang Tertinggal & Bayangan di Pintu

Surat dari Rouran terlipat rapi di atas meja kayu cokelat, tepat di samping sepasang jarum giok dan sisir kayu tua. Tinta hitamnya sudah kering, namun kata-katanya seakan masih bergema di ruangan itu — lembut, tenang, namun ada sesuatu yang samar, tak sepenuhnya terungkap. Meiying berdiri di sana, jari telunjuknya menyentuh tepi kertas itu perlahan, seakan ingin merasakan kehadiran sepupunya yang tertinggal di balik tulisan itu.

Ada yang berbeda.

Bukan isi suratnya — itu tulus, Meiying yakin. Melainkan hal-hal yang tak tertulis. Tidak ada nama tempat tinggalnya. Tidak ada keterangan tentang orang-orang yang menyambutnya. Tidak ada janji kapan akan menulis lagi. Seakan-akan Rouran menutup pintu rapat-rapat di belakangnya, tanpa memberi tahu ke mana arah jalannya.

Suara langkah kaki terdengar di luar pintu — tenang, mantap, sudah sangat dikenali. Wei Chen masuk perlahan, menutup pintu pelan di belakangnya. Ia tidak langsung bicara, hanya berdiri di sana sejenak, membiarkan cahaya matahari pagi menyinari separuh wajahnya. Ia melihat ke arah surat itu, lalu ke wajah istrinya yang termenung.

"Kau ragu?" tanyanya pelan, mendekat perlahan.

Meiying mengangguk tanpa menoleh sepenuhnya. "Aku lega dia aman... tapi ada sesuatu yang mengganjal di hati, Wei Chen. Seakan dia menyembunyikan sesuatu. Tempatnya tidak disebutkan. Tidak ada nama siapa pun. Seakan dia takut dilacak."

Wei Chen berdiri di sampingnya, menatap surat itu bersama-sama. "Mungkin dia memang ingin memulai hidup baru tanpa diketahui siapa pun. Tanpa bayang-bayang nama keluarga, tanpa beban masa lalu."

"Bisa saja begitu," jawab Meiying, suaranya rendah. "Tapi aku mengenalnya. Rouran tidak pernah sendirian. Selalu ada teman, ada kerabat, ada seseorang yang ia percaya. Kali ini... seakan ia benar-benar sendirian."

Ia melipat surat itu pelan, menyimpannya ke dalam laci meja rias, lalu menutupnya rapat. Tindakan itu bukan untuk melupakan, melainkan untuk menjaga.

Wei Chen meletakkan tangan di bahunya, menatapnya lembut. "Kita tidak bisa memaksanya pulang, Meiying. Kebebasan yang ia cari adalah haknya. Dan kita harus menghormatinya, walau rasanya tidak tenang."

"Aku tahu," Meiying menghela napas panjang, menoleh menatapnya. "Hanya saja... aku takut dia terluka lagi, dan tak ada yang bisa menolongnya."

 

Siang itu, kedamaian yang baru saja menyapa terganggu.

Seorang utusan datang dari kediaman klan Lin — bukan pelayan biasa, melainkan pengawal pribadi ayahnya, wajahnya tegang, napasnya memburu saat melangkah masuk ke halaman kediaman Wei Chen. A-Mei menyambutnya di beranda, lalu segera datang ke kamar Meiying, wajahnya pucat.

"Nyonya... ayah kandung Anda jatuh sakit. Demam tinggi sejak semalam. Dokter belum bisa menurunkan suhunya."

Meiying berdiri seketika, jantungnya berdegup kencang. "Aku pulang sekarang."

"Saya ikut," kata Wei Chen langsung, sudah berdiri di ambang pintu.

Perjalanan pulang terasa lebih lama dari biasanya. Kereta melaju secepat mungkin, namun setiap detik terasa seperti berjam-jam. Meiying duduk memeluk lututnya, pikirannya berkecamuk — ayahnya yang selalu tegap, yang tak pernah mengeluh, kini terbaring lemah. Dan ada sesuatu yang lain, perasaan samar yang tak bisa diabaikan: penyakit ini datang tepat setelah kepergian Rouran. Apakah ada hubungannya?

Sesampainya di kediaman klan Lin, suasana rumah terasa berat. Para pelayan berjalan berhati-hati, berbisik pelan, wajahnya cemas. Di depan kamar ayahnya, ibunya berdiri menunduk, menyeka air mata yang tak henti jatuh. Saat melihat Meiying, ia merangkul putrinya erat, seakan takut kehilangan satu-satunya sandaran yang tersisa.

"Dokter bilang... tubuhnya lemas sekali," suara ibunya pecah. "Demamnya naik turun. Sesekali ia mengigau, menyebut nama Rouran."

Meiying masuk ke kamar ayahnya. Pria yang dulu gagah itu kini terbaring lemah di atas dipan, wajahnya pucat, napasnya pendek dan berat. Ia duduk di tepi tempat tidur, meraih tangan ayahnya yang terasa panas.

"Ayah... aku di sini," bisiknya pelan.

Mata ayahnya terbuka perlahan. Ia menatap putrinya, bibirnya bergerak pelan. "Meiying..."

"Aku di sini, Ayah. Tenanglah."

"Aku... harus bicara..." suaranya parau, terhenti setiap beberapa kata. "Tentang Rouran..."

Meiying mendekatkan wajahnya. "Aku menerima suratnya, Ayah. Dia baik-baik saja."

Ayahnya menggeleng pelan, kerutan di dahinya makin dalam. "Bukan... surat itu bukan dari pegunungan."

Meiying menegang. "Apa maksud Ayah?"

"Surat itu dikirim dari kota perbatasan... tempat yang berbahaya," napasnya memburu. "Aku mengenali cap posnya... Rouran tidak pergi ke tempat yang aman. Dia lari ke arah bahaya."

Wei Chen yang berdiri di ambang pintu melangkah maju. "Bagaimana Anda bisa yakin?"

Ayahnya menatap Wei Chen, matanya penuh kekhawatiran sekaligus keputusasaan. "Karena... ada utusan lain datang sebelum surat itu. Orang asing. Membawa pesan singkat: jika kami bicara soal kebenaran, Rouran tidak akan kembali hidup-hidup."

Darah seakan membeku di tubuh Meiying. "Mereka menculiknya?"

"Aku tidak tahu pasti," ayahnya terbatuk pelan. "Tapi gadis itu tidak bebas. Dan surat itu... kemungkinan ditulis di bawah paksaan."

 

Malam itu, Meiying dan Wei Chen duduk di beranda kediaman klan Lin, di bawah cahaya bulan yang samar tertutup awan. Angin malam bertiup sejuk, namun tak mampu mendinginkan kepala yang panas memikirkan sepupunya.

"Kita tidak bisa diam saja," kata Meiying tegas, memecah keheningan. "Kalau dia dalam bahaya, aku harus mencarinya."

Wei Chen menatapnya, wajahnya serius. "Aku tahu perasaanmu, Meiying. Tapi ini berbahaya. Siapa pun yang menahannya tahu kebenaran tentang siapa yang tinggal di kediamanku. Mereka bisa membongkar rahasia itu kapan saja — sebagai ancaman, sebagai senjata."

"Kita tidak bisa membiarkannya sendirian," jawab Meiying, matanya berkaca-kaca namun teguh. "Dia pergi demi melindungi kita. Sekarang giliranku melindunginya."

Wei Chen terdiam, menatap ke arah kegelapan di ujung halaman. Ia tahu betul perasaan itu — ditinggalkan, dikhianati, tidak mampu melindungi orang yang dicintai. Ia tidak akan membiarkan Meiying merasakan hal yang sama.

"Baik," katanya pelan namun mantap. "Kita cari dia. Tapi dengan rencana yang matang. Kita tidak akan terburu-buru dan jatuh ke dalam jebakan."

Meiying menatapnya, bersyukur mendengar kata-kata itu. "Terima kasih, Wei Chen."

Ia meraih tangannya, menggenggam erat. "Kita belum tahu siapa musuh sebenarnya. Bisa jadi sisa-sisa pengikut Tuan Zhang. Bisa jadi orang lain yang sudah lama menginciku. Siapa pun mereka, mereka menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kita semua."

"Dan Rouran adalah kuncinya," lanjut Meiying.

"Benar. Itulah sebabnya mereka menahannya — bukan untuk menyakiti dia semata, melainkan untuk mengendalikan kita." Wei Chen menatapnya tajam namun lembut. "Jadi apa pun yang terjadi, apa pun yang mereka minta... jangan bertindak sendirian. Berjanjilah padaku."

"Janji," bisik Meiying.

Malam itu, keduanya tidak tidur. Di kamar tamu yang tenang, mereka menyusun rencana — siapa yang harus dikirim menyelidiki perbatasan, bagaimana menyembunyikan kepergian mereka, bagaimana menjaga keluarganya tetap aman selama mereka pergi. Setiap langkah dipikirkan matang, namun di lubuk hati Meiying, ada ketakutan yang tak bisa dihilangkan: apa pun yang menanti mereka di perbatasan itu, bahayanya jauh lebih besar dari apa pun yang pernah dihadapi sejauh ini.

 

Keesokan paginya, kabar datang kembali — kali ini dari arah istana.

Seorang pengawal pribadi Kaisar tiba di kediaman klan Lin, membawa pesan tertulis langsung dari tangan Kaisar. Wajahnya serius, suaranya rendah saat menyerahkan pesan itu kepada Wei Chen di ruang tamu tertutup.

Meiying menunggu di luar, jantungnya berpacu kencang. Saat Wei Chen keluar, wajahnya tidak bisa dibaca — bukan marah, bukan takut, melainkan terkejut dan waspada.

"Apa katanya?" tanyanya segera.

Wei Chen menatapnya dalam-dalam. "Kaisar memanggil kita berdua ke istana sore ini. Ada hal penting yang harus dibicarakan. Katanya... ada orang yang melaporkan keberadaan Rouran."

Meiying menahan napas. "Siapa?"

"Dia tidak menyebutkan nama," jawab Wei Chen pelan. "Tapi pesannya jelas: seseorang telah mengajukan tuduhan baru. Dan kali ini, buktinya diklaim sangat kuat."

Langit pagi yang cerah perlahan tertutup awan kelabu. Perjalanan mereka belum jauh, namun musuh sudah berdiri tepat di depan pintu.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!