Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.
Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!
"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."
Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MISI PENYELAMATAN RAKA (YANG TIDAK DIMINTA)
Lorong lantai dua mansion keluarga besar ini selalu berbau seperti campuran antara lilin aroma lavender murah dan ambisi yang busuk. Vania berjalan jinjit, memakai sandal empuk yang tidak bersuara, menuju ke arah perpustakaan pribadi. Dia hanya berniat mengambil buku novel detektif yang dia pinjam dari rak, tapi suara bisikan berat dan serak dari balik pintu kayu jati yang sedikit terbuka memaksa kakinya berhenti.
"Kau yakin dokumen ini aman, Tono?"
Itu suara Om Reza.
Vania mengintip melalui celah pintu. Di dalam ruangan yang remang-remang itu, Om Reza duduk di belakang meja kerja. Pria itu mengenakan kemeja batik sutra dengan motif yang terlalu ramai, dipadukan dengan rantai emas tebal yang mencolok di lehernya. Keringat mengilap di pelipisnya yang gundul sebagian, dan matanya yang sipit bergerak gelisah ke kiri dan ke kanan. Di depannya, seorang pria berkemeja putih lengan pendek—tipe akuntan gelap yang selalu ada di sinetron 90-an—sedang mengangguk patuh.
"Tenang saja, Om," jawab pria itu pelan. "Angka-angkanya sudah saya atur. Besok pagi, saat Raka menandatangani laporan kuartalan ini, sistem akan mencatat adanya kebocoran dana sebesar lima miliar rupiah. Jejaknya akan langsung mengarah ke rekening pribadi Raka."
Om Reza tersenyum. Senyum yang membuat Vania ingin muntah. Dia menepuk meja dengan telapak tangan yang gemuk. "Bagus. Bagus sekali. Ingat, Tono, saya melakukan ini semua demi keluarga. Raka itu terlalu muda, terlalu naif. Dia tidak pantas memimpin perusahaan. Dengan dia tersingkir karena skandal korupsi, Pak Darmawan akan terpaksa menyerahkan posisi direktur utama kepadaku. Dan saat itu, kesejahteraan keluarga ini akan terjamin."
Vania memutar matanya begitu keras hingga hampir terkilir. Dia menatap lurus ke arah "kamera" imajinernya yang melayang di dekat vas bunga di lorong.
"Dengar itu?" bisik Vania pada penonton tak terlihat. "'Demi keluarga'. Itu adalah kode rahasia di sinetron 90-an yang artinya: 'Aku mau ngambil duit kalian semua buat judi dan simpanan gelap'. Kalau ini tahun 2026, Om Reza pasti sudah diviralin di TikTok dengan tagar #OmRezaKoruptor. Tapi di sini? Dia cuma bisa keringetan di ruangan ber-AC sambil pakai rantai emas palsu."
Vania tahu persis apa yang harus dia lakukan. Jika Raka dipenjara karena korupsi, Larasati akan hancur. Jika Larasati hancur, Raka akan menjadi pria depresi yang pahit. Plot sinetron ini akan menyimpang total dari jalur aslinya. Dan jika plot menyimpang, semesta sinetron ini akan mencari "kambing hitam" untuk menyeimbangkan kembali cerita.
Kambing hitam itu, tentu saja, adalah Vania. Dia akan dituduh sebagai dalang di balik semua ini, dan ending tebingnya akan datang lebih cepat dari jadwal.
"Oke, Van. Fokus," gumamnya. "Kau harus menyelamatkan Male Lead dari om-nya yang serakah. Ini adalah misi penyelamatan yang tidak diminta, tapi mau tidak mau harus dilakukan."
Vania menunggu hingga Om Reza dan Tono keluar dari perpustakaan melalui pintu belakang. Begitu suara langkah kaki mereka menghilang, Vania menyelinap masuk. Dia tahu persis di mana Om Reza menyembunyikan dokumen bodongnya. Pria itu ceroboh. Dia selalu menyimpan buku catatan aslinya di laci paling bawah, di balik tumpukan majalah golf yang tidak pernah dia baca.
Dengan cepat, Vania membuka laci, mengambil buku catatan tebal berkulit hitam itu, dan memotretnya... eh, salah. Ini tahun 90-an. Tidak ada kamera digital.
Vania menghela napas frustrasi. "Aku rindu scan to PDF. Aku rindu Google Drive."
Dia terpaksa menggunakan mesin fotokopi tua yang ada di ruang sekretaris sebelah. Krek-krek-krek. Suara mesin fotokopi itu terdengar sangat lambat dan menyakitkan di telinga yang terbiasa dengan kecepatan internet fiber optic. Setelah mendapatkan lima lembar salinan yang agak buram, Vania memasukkan dokumen itu ke dalam amplop cokelat tebal.
Tapi dia tidak bisa mengantarnya sendiri. Jika dia tertangkap basah di dekat rumah Raka, dia akan langsung dituduh mencoba menjebak. Dia butuh kurir.
Vania keluar dari mansion melalui pintu dapur, memanggil tukang becak yang sedang menunggu penumpang di gerbang. "Mas, antar ini ke rumah Tuan Raka di Jalan Melati. Jangan bilang siapa yang kirim. Ini tip sepuluh ribu." (Uang sepuluh ribu di tahun 90-an adalah jumlah yang sangat besar, cukup untuk membuat tukang becak itu mengangguk semangat dan mengayuh sepedanya seperti dikejar setan).
***
Dua jam kemudian, Vania bersembunyi di balik semak-semak rindang di depan rumah Raka. Dia memakai topi lebar dan kacamata hitam, terlihat seperti detektif swasta yang gagal dalam penyamaran.
Dari balik jendela ruang kerja Raka, Vania bisa melihat pria itu duduk di mejanya. Raka terlihat lelah. Bahunya merosot, dan dia sedang memijat pangkal hidungnya dengan jari telunjuk dan jempol—kebiasaan yang selalu dia lakukan setiap kali stres. Rambutnya yang rapi terlihat sedikit berantakan, dan jas putih kremnya kusut di bagian siku.
Seorang pelayan masuk, menyerahkan amplop cokelat itu, lalu keluar.
Raka menatap amplop itu dengan curiga. Dia merobek segelnya dengan gerakan lambat. Matanya menyapu dokumen di dalamnya. Vania menahan napas. Baca, Raka. Baca bukti penggelapan Om Reza. Baca bahwa kamu tidak bersalah. Selamatkan nyawaku.
Wajah Raka berubah. Alisnya berkerut, rahangnya mengeras. Dia membanting dokumen itu ke meja, lalu berdiri dan berjalan mondar-mandir di dalam ruangan.
"Kevin..." gumam Raka, suaranya terdengar jelas melalui jendela yang terbuka. "Kau licik sekali. Kau mencoba memanipulasiku dengan memalsukan dokumen ini? Kau pikir aku akan percaya Om Reza melakukan ini? Ini jelas jebakanmu agar aku bertengkar dengan keluargaku sendiri!"
Vania yang bersembunyi di semak hampir tersedak ludahnya sendiri. Dia menatap "kamera" imajinernya dengan tatapan tidak percaya.
"Serius?!" bisik Vania frustrasi. "Otak Male Lead ini isinya cuma satu nama! Kevin! Kevin! Kevin! Itu bukan jebakan Kevin, bang! Itu bukti asli! Aku yang repot-repot nge-fotokopi pakai mesin yang macet tiga kali! Hargai sedikit dong usaha pahlawan tanpa tanda jasa ini!"
Raka mengambil telepon rumah di mejanya, memutar nomor dengan emosi. "Hubungi pengacaraku. Kita akan selidiki siapa yang mencoba mengadu domba aku dengan Om Reza. Aku tidak akan membiarkan Kevin menghancurkan keluarga ini dengan cara kotor seperti ini."
Vania menghentakkan kakinya pelan di tanah. "Ya ampun, Raka. Kamu ini toxic banget sama Kevin. Kalian itu harusnya bisa jadi bromance, bukan brothers to enemies!"
Merasa misinya sia-sia secara emosional (meskipun secara teknis berhasil karena Raka sekarang punya buktinya), Vania berbalik badan, berniat untuk pulang dan menikmati orange juice-nya. Dia sudah melakukan bagiannya. Plot aman. Nyawanya aman.
***
Vania masuk ke kamarnya, mengunci pintu, dan langsung merebahkan diri di atas kasur empuk. Dia menatap langit-langit, merasa puas dengan kerja kerasnya hari ini.
Tiba-tiba, dia merasakan tatapan.
Bukan tatapan dari "kamera" imajiner. Tatapan ini nyata. Berat. Dan berasal dari arah pintu kamarnya.
Vania duduk tegak. Dia menatap gagang pintu kuningan itu.
Perlahan, gagang pintu itu berputar. Klik.
Pintu terbuka.
Kevin berdiri di ambang pintu. Dia tidak memakai jas luar hari ini, hanya kemeja putih yang lengan bajinya digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat tangannya yang tegas. Di tangan kanannya, dia memegang sebuah kertas kecil. Sebuah struk atau catatan.
Vania menelan ludah. "Tuan Kevin. Pintu saya terkunci. Bagaimana Anda..."
"Aku punya kunci cadangan, Vania. Kau sudah tahu itu," potong Kevin, melangkah masuk ke dalam kamar. Dia menutup pintu di belakangnya dengan suara klik yang pelan namun mematikan.
Kevin berjalan mendekati tempat tidur Vania, tatapannya mengunci wanita itu tanpa ampun. Dia melemparkan kertas kecil itu ke atas kasur, tepat di depan Vania.
Vania menatap kertas itu. Itu adalah catatan kecil dari tukang becak. Antar ke Jalan Melati No. 12. Pengirim: Nona dari Mansion Sayap Barat.
"Tukang becak itu punya mulut yang sangat longgar," ucap Kevin pelan, suaranya datar, namun ada nada berbahaya yang bergetar di bawahnya. "Dia bercerita pada anak buahku di pos gerbang bahwa dia diantar ke sini oleh seorang wanita yang memakai parfum Chanel dan memberikan tip sepuluh ribu rupiah."
Kevin menunduk, menatap Vania dari atas. Jarak mereka sangat dekat. Vania bisa melihat pupil hitam Kevin yang membesar, menelan seluruh cahaya di sekitarnya.
"Jadi, jelaskan padaku, Vania," bisik Kevin, tangannya terulur, menyentuh ujung rambut bob Vania dengan gerakan yang sangat lembut, namun membuat Vania merinding. "Mengapa orang yang kau bilang tidak lagi menarik... menerima dokumen rahasia dari kamarmu?"
BERSAMBUNG...