Kembali ke Meja yang Sama
Romance • Office Romance • Second Chance
Tiga tahun setelah putus tanpa penjelasan, Alya pikir dia sudah move on — sampai hari pertama kerja di kantor baru, dia sadar atasannya sendiri adalah mantan yang paling ingin dia lupakan.
Raka. Dingin. Profesional. Seolah tak pernah mengenalnya.
Tapi di balik topeng atasan yang terkontrol itu, ada rahasia yang selama ini disembunyikan — alasan sebenarnya kenapa dia pergi dulu, tanpa kata, tanpa jejak.
Setiap rapat jadi medan perang batin. Setiap proyek yang mempertemukan mereka berdua jadi ujian rasa yang belum sepenuhnya mati. Alya harus memilih: bertahan profesional, atau membiarkan luka lama terbuka lagi demi kebenaran yang mungkin akan menghancurkan segalanya — atau menyatukan mereka kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Dua Keluarga
Seminggu berikutnya berjalan dengan kecanggungan yang tidak pernah Alya bayangkan bisa ia rasakan di kantor sendiri. Ia dan Raka masih harus bekerja sama untuk proyek kampanye Q4, tapi sekarang ada lapisan baru dari kebenaran yang mengambang di antara mereka setiap kali bertatap muka—kebenaran soal perjanjian lama, soal pengorbanan diam-diam Raka, dan sekarang, soal rencana pertemuan keluarga yang entah bagaimana caranya harus mereka hadapi bersama.
Alya belum memberi jawaban pada ayahnya soal kesiapannya membahas lebih lanjut. Tapi hari Jumat sore, sebuah pesan masuk dari mamanya, yang jarang sekali terlibat dalam urusan bisnis ayahnya: *Sayang, Minggu siang kita makan bareng keluarga Pradana ya. Papa udah atur semuanya. Please dateng, ini penting buat Papa.*
Alya menatap pesan itu lama sebelum akhirnya membalas dengan satu kata singkat: *Oke.*
Bukan karena ia sudah siap. Tapi karena ia tahu, cepat atau lambat, ia harus menghadapi semua ini secara langsung—bukan lewat telepon, bukan lewat cerita orang lain, tapi berhadapan langsung dengan kedua keluarga yang selama delapan tahun diam-diam menyimpan rahasia yang mengubah jalan hidupnya.
---
Minggu siang, restoran yang dipilih untuk pertemuan itu adalah tempat yang cukup mewah namun tenang, di lantai atas sebuah hotel bintang lima, dengan ruangan privat yang sudah dipesan khusus. Alya tiba lebih awal bersama kedua orang tuanya, jantungnya berdebar kencang setiap kali pintu ruangan terbuka.
Ketika keluarga Pradana akhirnya datang, Alya melihat Raka berjalan di belakang kedua orang tuanya, mengenakan kemeja formal yang membuatnya terlihat lebih dewasa dari biasanya—atau mungkin karena beban yang terlihat jelas di raut wajahnya. Matanya bertemu dengan mata Alya sekilas, memberikan senyum tipis yang lebih terlihat seperti permintaan maaf daripada sapaan biasa.
"Bu Marlina, Pak Hendra," sapa ayah Alya, berdiri untuk menyalami kedua orang tua Raka dengan sikap formal yang biasa digunakan dalam pertemuan bisnis, meski suasana kali ini jauh lebih personal dari sekadar urusan perusahaan.
Mereka duduk mengelilingi meja bundar besar, Alya berhadapan langsung dengan Raka, sementara orang tua mereka duduk di sisi masing-masing. Pelayan datang mengantar hidangan pembuka, tapi tidak ada seorang pun yang benar-benar berselera makan di tengah ketegangan yang menggantung di udara.
Pak Hendra, ayah Raka, akhirnya membuka pembicaraan setelah beberapa menit basa-basi singkat. "Saya rasa kita semua sudah tahu kenapa pertemuan ini diadakan," katanya, suaranya berat dan penuh wibawa, meski ada kegugupan yang tersembunyi di baliknya. "Dulu, delapan tahun lalu, ada perjanjian yang belum pernah benar-benar terselesaikan antara keluarga kita."
Alya melirik ke arah Raka, yang duduk kaku dengan tangan terlipat di atas meja, matanya menatap ke bawah seolah menghindari kontak mata dengan siapa pun.
"Pak Hendra," potong ayah Alya, suaranya tegas namun tetap sopan, "sebelum kita lanjut, saya rasa penting untuk klarifikasi. Perjanjian itu dulu dibuat dalam konteks yang berbeda—waktu itu anak-anak kita masih muda, dan situasinya juga berbeda. Sekarang mereka sudah dewasa, punya kehidupan masing-masing. Saya nggak mau kita maksain sesuatu yang mereka sendiri belum tentu inginkan."
"Saya setuju," jawab Pak Hendra cepat. "Tapi saya juga nggak bisa menutup mata dari kenyataan bahwa anak saya, selama delapan tahun ini, belum pernah benar-benar move on dari Alya. Saya tau ini terdengar kuno, tapi sebagai orang tua, saya cuma ingin anak saya bahagia—dan saya lihat, satu-satunya waktu dia benar-benar bahagia adalah waktu dia bersama Alya dulu."
Raka mengangkat wajahnya, terkejut mendengar pengakuan ayahnya yang begitu terbuka di depan semua orang. "Pa—"
"Biarkan Papa selesai bicara, Raka," potong Pak Hendra lembut namun tegas. Ia menatap ke arah Alya dan kedua orang tuanya. "Saya nggak bermaksud memaksa pernikahan ini terjadi kalau memang anak-anak kita nggak menginginkannya. Tapi saya juga nggak mau kesalahan saya delapan tahun lalu—memaksa Raka untuk memilih antara cinta dan tanggung jawab keluarga—terulang lagi sekarang, di mana saya malah memaksa mereka untuk sesuatu yang belum tentu mereka mau."
Ruangan hening sejenak. Bu Marlina, yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara dengan suara lembut. "Yang Bu Marlina inginkan sebenarnya sederhana," katanya, menatap Alya dengan mata yang penuh kehangatan. "Bu Marlina cuma ingin Raka dan Alya punya kesempatan untuk memutuskan sendiri, tanpa tekanan dari siapa pun—termasuk dari kami sebagai orang tua. Kalau memang mereka berdua masih ada perasaan dan ingin mencoba lagi, kami akan sangat senang merestui. Tapi kalau memang mereka sudah punya jalan masing-masing, kami juga akan menghormati itu."
Alya menatap Raka, yang balas menatapnya dengan ekspresi yang sulit ia baca—campuran antara harapan dan ketakutan yang sama besarnya.
"Saya rasa," kata ayah Alya akhirnya, memecah keheningan, "keputusan ini memang seharusnya ada di tangan mereka berdua, bukan di tangan kita. Apakah kalian berdua bersedia bicara empat mata dulu, sebelum kita melanjutkan pembicaraan ini?"
Alya dan Raka saling bertukar pandang, dan tanpa perlu kata-kata, mereka berdua mengangguk bersamaan.
---
Mereka berjalan ke balkon kecil di luar ruangan privat itu, tempat suara kota terdengar samar dari ketinggian, angin sore berembus pelan membawa udara yang jauh lebih segar dibanding suasana tegang di dalam ruangan.
"Aku minta maaf," kata Raka, memulai lebih dulu, bersandar pada pagar balkon. "Untuk semuanya. Delapan tahun lalu, dan sekarang juga—karena orang tua kita malah bikin situasi ini makin rumit buat kamu."
"Aku bukan marah sama kamu lagi, Raka," jawab Alya, berdiri di sampingnya, menatap pemandangan kota yang mulai temaram. "Aku cuma... bingung. Ini semua terjadi terlalu cepat. Baru dua minggu lalu aku pikir kamu cuma atasan yang dingin, dan sekarang aku harus mikirin soal pernikahan yang direncanakan orang tua kita."
"Aku nggak mau kamu ngerasa terpaksa," kata Raka, menatap Alya dengan serius. "Kalau kamu bilang kamu udah nggak ada perasaan lagi sama aku, aku bakal ngomong ke orang tua kita buat batalin semua rencana ini. Aku janji."
Alya terdiam, mencerna kejujuran dalam suara Raka. Ia memikirkan semua yang telah terjadi—kemarahan yang ia simpan selama delapan tahun, kebingungan saat mengetahui kebenaran di balik kepergian Raka, kecemburuan kecil saat mengetahui soal Sarah, dan momen-momen ringan yang tanpa sadar membuatnya merasa seperti dulu lagi setiap kali mereka berdua bekerja sama.
"Masalahnya," kata Alya akhirnya, suaranya pelan namun jujur, "aku nggak yakin aku bisa jawab itu sejujurnya sekarang. Karena setiap kali aku coba yakinin diriku sendiri kalau aku udah nggak ada perasaan lagi sama kamu... aku selalu gagal."
Raka menatap Alya, matanya menyimpan secercah harapan yang selama ini ia coba padamkan. "Jadi maksud kamu—"
"Maksudku," potong Alya, menghela napas panjang, "aku butuh waktu. Bukan buat mikirin perjanjian orang tua kita, tapi buat mikirin apa yang sebenarnya aku mau, terlepas dari semua tekanan ini."
Raka mengangguk pelan, meski kekecewaan samar terlihat di matanya. "Aku ngerti. Aku akan nunggu, selama yang kamu butuhin."
Mereka berdiri dalam diam sejenak, angin sore terus berembus di antara mereka, membawa kecanggungan yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih lembut—bukan lagi ketegangan antara atasan dan bawahan, atau antara mantan kekasih yang terluka, tapi dua orang yang untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, benar-benar jujur satu sama lain.
Tiba-tiba, pintu balkon terbuka, dan Sarah muncul dengan wajah terkejut melihat mereka berdua berdiri berdekatan.
"Raka?" katanya, suaranya penuh kebingungan. "Kamu di sini? Aku... aku baru mau kasih tau, tadi aku ketemu sama orang tua kamu di lobi hotel. Mereka ngundang aku juga ke acara keluarga ini."