Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22 - Rumah yang Masih Menunggu
Mama Renata menelepon Nadira malam itu.
Nadira baru tiba di apartemen setelah operasi panjang dan pemeriksaan polisi. Ia belum sempat melepas sepatu ketika nama Mama Renata muncul di layar. Ada bagian dari dirinya yang langsung melembut, meski ia berusaha menahan.
"Assalamu'alaikum, Ma."
"Wa'alaikumsalam, Nak. Kamu sudah makan?"
Nadira memejamkan mata.
Pertanyaan itu selalu datang sebelum apa pun. Sebelum kabar, sebelum masalah, sebelum tangis.
"Belum. Baru sampai."
"Mama tahu. Itu kenapa Mama kirim makanan ke bawah apartemenmu."
Nadira berjalan ke interkom. Benar, satpam memberi tahu ada paket makanan.
"Ma..."
"Jangan protes. Mama tidak bisa diam setelah dengar ada paket ancaman ke rumah sakit. Kalau kamu tidak mau pulang, setidaknya biarkan Mama memastikan kamu makan."
Nadira menelan sesak. "Terima kasih."
Di seberang, Mama Renata diam sebentar.
"Nadira, besok datang ke rumah, ya?"
Nadira membeku.
"Ma."
"Bukan untuk Arga. Mama janji. Papa juga ingin ketemu kamu. Kami rindu."
Kalimat itu membuat pertahanan Nadira goyah.
Ia bisa menolak Arga. Bisa menghindari Bima. Bisa mengunci pintu dari Laras dan Vania. Tapi menolak Mama Renata terasa seperti menolak rumah yang pernah menyelamatkannya dari kesepian.
"Aku pikir dulu."
"Mama tunggu. Tidak perlu menginap. Makan siang saja."
Setelah telepon terputus, Nadira berdiri lama di dekat pintu.
Maya yang sedang membuka laptop di sofa menatapnya. "Mama Renata?"
"Iya."
"Dia minta kamu datang?"
Nadira mengangguk.
"Kamu mau?"
"Aku tidak tahu."
Maya menutup laptop. "Dir, kamu boleh sayang sama mertua tanpa harus balikan sama Arga."
"Aku tahu."
"Tapi?"
"Rumah itu..." Nadira berhenti. "Aku takut kalau datang, aku merasa ingin tinggal."
Maya tidak menggoda kali ini.
"Merasa ingin tinggal bukan berarti kamu harus tinggal. Itu cuma berarti rumah itu pernah penting."
Nadira duduk di lantai, membuka kotak makanan dari Mama Renata. Ada nasi hangat, ayam kecap, sayur bening, sambal terpisah, dan puding cokelat kecil.
Di tutup kotak ada catatan.
Makan pelan-pelan. Jangan kerja terus.
Mama.
Nadira menyentuh kertas itu.
Keesokan siang, ia datang ke rumah Wijaya.
Ia memilih memakai baju sederhana, bukan pakaian kerja. Kemeja krem, celana hitam, rambut diikat rendah. Maya menawarkan ikut, tapi Nadira menolak. Kalau ia datang membawa tameng, Mama Renata akan makin sedih.
Gerbang rumah terbuka begitu mobil taksi online berhenti.
Satpam lama, Pak Udin, tersenyum lega.
"Bu Nadira pulang."
Kata pulang hampir membuatnya tersandung.
"Saya cuma mampir, Pak."
Pak Udin seperti tidak mendengar. "Ibu Renata sudah tunggu dari pagi."
Mama Renata memang menunggu di teras.
Begitu melihat Nadira, ia langsung memeluknya. Tidak bertanya boleh atau tidak. Pelukan itu spontan, hangat, dan bergetar.
"Kurus sekali kamu."
Nadira hampir tertawa. "Baru beberapa minggu, Ma."
"Beberapa minggu bisa bikin orang kurus kalau hatinya capek."
Papa Surya muncul dari ruang tengah. Ia tidak banyak bicara, hanya menepuk kepala Nadira pelan seperti dulu.
"Masuk. Makan dulu."
Ruang makan sudah penuh makanan. Soto Betawi, tempe orek, perkedel, sayur asem, sambal, dan buah potong. Terlalu banyak untuk tiga orang.
"Ma, ini untuk satu RT?"
"Untuk kamu. Sisanya baru untuk kami."
Nadira duduk di kursi yang dulu selalu ia pakai. Di sampingnya, kursi Arga kosong.
Mama Renata melihat arah pandangnya.
"Arga tidak Mama panggil."
Nadira menatapnya.
"Mama janji ini bukan jebakan."
Papa Surya duduk di kepala meja. "Kalau dia datang tanpa izin, Papa kunci di pagar."
Nadira tidak bisa menahan senyum.
Makan siang itu berjalan hangat dan menyakitkan sekaligus. Mama Renata bercerita tentang tanaman baru. Papa Surya bertanya soal pasien anak. Tidak ada yang memaksa membahas perceraian.
Justru karena itu, Nadira merasa lebih ingin menangis.
Setelah makan, Mama Renata mengajaknya ke kamar yang dulu ia tempati.
Kamar itu masih kosong.
Namun di meja ada vas bunga segar.
"Mama tidak mengubah apa pun," kata Mama Renata pelan. "Bukan untuk menekan kamu. Mama cuma belum sanggup."
Nadira berdiri di tengah kamar.
"Ma, aku..."
"Tidak apa-apa. Kamu tidak perlu menjelaskan."
"Aku takut Mama kecewa kalau aku tetap cerai."
Mama Renata menggenggam tangannya. "Mama pasti sedih. Tapi Mama lebih kecewa kalau kamu bertahan hanya karena kasihan pada Mama."
Air mata Nadira akhirnya jatuh.
"Mama terlalu baik."
"Tidak. Mama egois juga. Mama ingin kamu tetap di sini. Tapi Mama sedang belajar seperti Arga. Cinta tidak boleh memaksa."
Nadira memeluk Mama Renata.
Di luar kamar, Arga berdiri di lorong.
Ia datang tanpa tahu Nadira ada di rumah. Bima yang mengantarnya juga baru sadar ketika melihat taksi online pergi dari depan rumah. Arga hendak masuk, tapi suara Mama Renata membuatnya berhenti.
Ia tidak masuk.
Ia hanya berdiri, mendengar ibunya berkata cinta tidak boleh memaksa.
Kalimat itu terasa seperti ditujukan untuknya.
Ketika Nadira keluar dari kamar bersama Mama Renata, ia melihat Arga di ujung lorong.
Wajahnya langsung berubah.
Mama Renata ikut menoleh. "Arga Pratama Wijaya."
Arga mengangkat tangan. "Aku tidak tahu Nadira datang."
Papa Surya muncul dari tangga. "Kamu selalu punya timing buruk."
Bima di belakang Arga menunduk. "Om, saya saksi. Komandan benar-benar tidak tahu."
Nadira menatap Arga. Pria itu tidak mendekat.
"Aku bisa pergi," kata Arga.
Nadira tidak langsung menjawab.
Mama Renata memandangnya, memberi pilihan penuh.
Akhirnya Nadira berkata, "Tidak perlu. Aku memang sudah mau pulang."
Arga mengangguk. "Aku antar?"
Papa Surya langsung berdehem.
Arga cepat menambahkan, "Kalau Nadira mau. Kalau tidak, aku panggil taksi."
Nadira hampir tersenyum karena semua orang jelas mengawasi latihan sopan santun Arga.
"Aku pulang sendiri."
"Baik."
Ia tidak membantah.
Nadira pamit pada Mama Renata dan Papa Surya. Saat berjalan ke teras, Arga mengikuti pada jarak aman, tidak menawarkan tas, tidak membuka pintu mobil sebelum diminta.
Di teras, Nadira berhenti.
"Mas dengar pembicaraanku dengan Mama?"
Arga diam sebentar. "Sebagian."
"Sengaja?"
"Awalnya tidak. Setelah itu... iya."
Nadira menatapnya.
Arga berkata jujur, "Aku dengar Mama bilang cinta tidak boleh memaksa."
"Bagus kalau Mas dengar."
"Aku sedang mencoba."
"Aku tahu."
Arga tampak terkejut.
Nadira melihat ke gerbang. "Aku belum pulang, Mas. Aku cuma datang makan siang."
"Aku tahu."
"Jangan menunggu di pintu seolah aku akan berubah pikiran hari ini."
"Aku akan menunggu, tapi tidak di pintu."
Nadira menoleh.
Arga menatapnya dengan wajah tenang. "Aku akan menunggu sambil memperbaiki hal-hal yang bisa kuperbaiki. Kalau suatu hari kamu pulang, itu karena kamu mau. Bukan karena aku menghalangi jalan keluarmu."
Nadira tidak menjawab.
Ia ingin bertanya, bagaimana kalau aku tidak pulang? Tapi pertanyaan itu terasa terlalu kejam untuk teras yang masih menyimpan bau masakan Mama Renata.
Arga seolah mendengarnya juga.
"Kalau kamu tidak pulang," katanya pelan, "aku tetap harus menjadi orang yang lebih baik. Itu tidak boleh bergantung pada hadiah."
Nadira menatapnya. "Mas belajar kalimat itu dari siapa?"
"Dari banyak kesalahan."
"Jawaban bagus."
"Terlalu bagus?"
"Sedikit."
Arga menunduk, menerima sindiran itu. "Aku akan berusaha bicara lebih biasa."
Nadira akhirnya tersenyum tipis. "Mulai dari jangan terdengar seperti pidato di apel pagi."
Di belakang mereka, Papa Surya bergumam, "Akhirnya ada yang bilang."
Mama Renata menyikut suaminya pelan, tapi matanya basah lagi. Nadira melihatnya dan cepat menunduk. Kalau ia terlalu lama melihat wajah itu, ia mungkin akan memeluk Mama Renata lagi dan lupa bahwa pergi juga bagian dari menyelamatkan diri.
Taksi online datang.
Sebelum masuk, ia berkata pelan, "Jangan lupa kontrol luka besok."
Arga mengangguk. "Aku ingat."
Mobil pergi.
Mama Renata berdiri di belakang Arga.
"Dia mengingatkan kontrol."
Arga menatap mobil yang menjauh.
"Iya."
"Jangan besar kepala."
"Tidak, Ma."
"Bagus. Karena kalau kamu menyakitinya lagi, Mama yang pertama usir kamu dari rumah."
Bima berbisik pada Papa Surya, "Tante sangat konsisten."
Papa Surya menjawab, "Itu sebabnya kami masih hidup."
Arga tidak menoleh.
Untuk pertama kalinya setelah Nadira pergi, rumah itu tidak terasa sepenuhnya kosong.
Ia tahu Nadira belum pulang.
Tapi ia juga tahu jalan menuju rumah itu belum benar-benar ditutup.