Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.
Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.
Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?
Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai mendisiplinkan : 08
“Itu apa? Telus jalannya kok miling-miling?” Kepalanya ikut miring ke kanan seraya terus memperhatikan cara jalan Saniya yang menggunakan kruk. Sayangnya ibu tiri memakai rok lebar panjang menutupi kaki.
Saniya mulai memperkenalkan jati diri apa adanya, dimulai dengan melepaskan kaki palsu yang memang jika malam hari menjelang tidur tidak dipakainya.
“Ini alat bantu jalan,” jawabnya pelan, berdiri pada kaki kiri dan mengangkat sedikit tinggi kruk sudah dimodifikasi, bisa diatur panjang pendeknya.
Kepala Ardan bergerak ke samping kiri, ketika belum juga paham dan tidak merasa puas akan jawaban, dia berniat turun dari bangku.
“Kita mau makan malam, Ardan. Duduk yang tenang di kursimu anak baik budi,” cegah sang ayah yang duduk pada bagian ujung meja, diapit kedua buah hatinya.
“Namaku Aldan, bukan Budi,” protesnya, kembali duduk tapi tidak bisa tenang.
Saniya menarik kursi, lalu menyandarkan kruk di bangku sebelah. Dia duduk berjarak dua kursi dari Tatiana, memberi waktu bagi semua orang agar belajar terbiasa akan kehadirannya di tengah-tengah mereka.
“Ibu tili kok pakek itu?” tanyanya berkelanjutan sambil jari telunjuk menuding kruk.
Saniya menoleh sebentar ke alat bantu jalannya, lalu memandang Ardan yang cuma memakai kaos singlet putih, bawahan celana kolor.
“Ya karena sebelah kaki Tante sudah kembali ke surga, jadinya gak bisa jalan sempurna seperti Ardan.”
Jawaban sang ibu tiri membuatnya berpikir keras sampai kedua alis hampir menyatu. “Pi, kaki bisa pulang ke sulga, ya?”
Yarash takut salah jawab yang akan berujung panjang, diliriknya Saniya.
“Bisa dong. Sama seperti Ardan menyimpan barang di tempat bagus. Nah, Tante menitipkan kaki Tante ke surganya Allah,” dia sering memberikan jawaban ini saat mengunjungi yayasan khusus anak-anak penyandang disabilitas fisik.
Sejenak hanya ada keheningan. Tatiana sendiri sudah diberi tahu tentang kondisi fisik ibu tirinya sehari sebelum sang ayah menikahi wanita itu.
Tiba-tiba Ardan bertepuk tangan. Wajahnya sumringah, lalu dia menyeletuk asal. “Aku mau simpan gigi Papi di sulga.”
“Memangnya gigi Papi salah apa, Nak? Masa mau disimpan di surga, nanti jadi ompong dong?” ia menanggapi kalimat konyol putranya.
“Kalena Papi suka gigit pelut aku.” Ardan menarik kaos singlet hingga atas dada, lalu memperlihatkan perut yang sering digigit ayahnya.
“Telus aku mau nyimpen tangan kak Tita juga —”
“Enak saja! Kamu itu dibohongi. Kakinya bukan disurga tapi diamputasi, dipotong. Dia cacat,” sambar Tatiana cepat.
“Tatiana, siapa yang mengajarimu berkata begitu kejam?” nada suara Yarash menggeram.
Ardan tersentak, mimik wajah mulai ketakutan. Ayahnya jarang sekali marah.
“Aku cuma bilang apa adanya, Pi. Kan memang bener dia cacat, punya satu kaki. Salahnya dimana?’ gadis cantik tapi sayang bermulut tajam, tidak terima dihardik.
Saniya menggeleng, meminta Yarash diam, dan biar dia yang memberi paham.
“Kamu benar, Tatiana. Aku memang gak sempurna secara fisik, tetapi kecacatan itu bukan mencakup kekurangan bentuk tubuh saja. Seseorang yang tidak memiliki simpati, terlebih sifat dan sikap empati, bisa dikategorikan cacat, sebab kepribadiannya sangat tak terpuji,” balasnya telak dengan suara tidak meninggi.
Tatiana menurunkan wajah, menunduk memandangi piring masih kosong. Ekspresinya berubah masam, dia tidak senang ditegur oleh orang asing terlebih di depan ayah dan adiknya. Merasa direndahkan.
“Ayo makan.” Tangannya menggantung saat hendak meraih sendok nasi terletak di samping mangkuk keramik.
Saniya lebih dulu meraihnya, lalu sebelah tangannya lagi terulur meminta piring milik Yarash.
“Segini cukup tidak, Mas?” tanyanya setelah menyendok satu kali.
“Eh, iya cukup.” Ia menarik tangannya, berbicara terbata efek terkejut. Tidak menduga Saniya bersedia melayaninya makan.
“Lauknya mau apa?” kembali dirinya bertanya santai.
“Saya gak pilih-pilih makanan,” jawabnya cepat.
Saniya ambilkan sepotong ikan sambal, tahu goreng, tumis buncis, menu tersebut disusun pada pinggiran piring. “Ini, Mas.”
Sesaat Yarash termangu dengan sepasang mata memandang lekat manik mempesona nan langka. “Terima kasih.”
“Sama-sama.” Saniya lalu mengisi piringnya sendiri, mengambil sedikit nasi serta lauk.
Suara sendok dipukul ke atas permukaan meja marmer menarik atensi sepasang suami-istri.
“Mas Aldan mana?” yang dia maksud kenapa tidak juga diambilkan makanan.
“Mas? Siapa yang kamu sebut Mas, Nak?” Yarash tidak bisa menyembunyikan ekspresi geli.
“Aku udah mas-mas, gak abang-abang lagi,” sahutnya asal.
Diliriknya ibu tiri, tetapi Saniya seperti tidak mendengar, sangat fokus pada makanannya. “Aku ini lapal loh.”
“Lebay kamu! Makan tinggal makan pakek acara kayak sinetron ikan terbang!” Tatiana menyindir Saniya. Gerakan mengambil nasi, lauk terdengar berbunyi dan kasar.
Suara ingus disedot masuk lagi memenuhi ruangan meja makan, Ardan terisak-isak, air liur ikut menetes, dan drama pun dimulai.
“Ibu tili jelek! Aku ndak suka.” Tangannya menarik bibir bawah lalu cepat-cepat dilepas agar suara tangis bernada.
Saniya mendongak sampai tatapannya sejajar dengan balita menjepit hidung. “Oh, Ardan ngomong sama Tante, ya?”
“Iyy-a. Aku juga mau jadi Mas. Ini.” Piringnya di dorong sampai menabrak mangkuk kaca.
“Kalau butuh bantuan, harus bilang apa dulu, Ardan?” Saniya memancing kepekaan anak sambungnya.
Ardan menoleh ke sang ayah yang pura-pura mencuil daging ikan. Kemudian memalingkan wajah ke kakaknya, malah dipelototi.
“Lupa,” jawabnya entah jujur atau sengaja.
Saniya meletakkan sepasang alat makan ke atas piring, lalu dia berdiri, menumpukan tangan di atas meja. “Biasakan bilang tolong. Supaya orang yang membantu Ardan juga senang, dan kamu sendiri pun riang. Paham, Nak?”
“Iya,” mulutnya berkata setuju, tetapi kepala menggeleng.
Namun Saniya tidak lagi memperpanjang, ini baru awal dari tugas mendisiplinkan anak bungsu suaminya.
“Aku ndak suka sayur,” protesnya.
Saniya menurut, untuk kali ini mengalah. Diambilkannya makanan sesuai keinginan Ardan.
“Jangan ditalik-talik!” Dia tidak bisa menarik piring yang masih ditahan oleh wanita menatap serius.
“Jika sudah dibantu, wajib bilang apa, Ardan?”
“Capek aku tu, dali tadi udah nangis,” alibinya enggan mengikuti.
Sang ibu tiri pun mengangkat piring sudah terisi menu pilihan Ardan.
“Telima kasih,” cepat-cepat bibirnya berucap, jangan sampai makanan diambil lagi.
“Anak pintar. Makannya pelan-pelan ya, biar gak tersedak?” Saniya tersenyum tulus.
“Oke Ibu tili.” Jari jempol gemuknya teracung.
Mereka pun mulai makan dengan tenang, yang biasa hanya tiga orang, sekarang ada sosok baru mengisi kursi terdiri dari enam tempat duduk.
“Papi, hari Sabtu nanti aku nginep dirumah Rista, ya? Kami ada belajar kelompok,” celetuk Tatiana, dia baru saja selesai makan.
“Kalau harus bermalam, suruh teman-teman kamu yang menginap disini,” Yarash termasuk ayah protektif.
“Semua-semua gak dibolehin! Coba kalau sama Mommy, dia selalu ngertiin apa mauku! Papi kolot, nyebelin!”
.
.
Bersambung.
ini sdh pol pas... bagus
si kecil ardan & si tita mulut racun😁
jngn di ganti lg ya kak cublik
lupakan lepaskan belenggu masa lalu.. sambutlah masa depan
dahayu apa kabarrr...