Dianggap sampah tanpa bakat. Dikhianati oleh seniornya sendiri. Dan dipaksa menyaksikan kematian sang guru di depan mata.
Hiraisin hanyalah murid terbuang di Sekte Awan Putih yang dianggap tak punya masa depan karena meridian tubuhnya terluka. Namun, di tengah gempuran brutal pasukan Raja Kegelapan, darah Hiraisin menetes di atas hulu pedang patah berkarat—membangunkan rahasia purba yang lama tertidur.
Segel di tubuhnya hancur. Petir dari langit menyambar, membakar meridiannya dan membangkitkan legenda yang telah lama punah: Pedang Kilat.
Kini, dengan luka pengkhianatan di dada dan percikan listrik yang sanggup merobek malam, Hiraisin memulai perjalanan darah. Di hadapannya berdiri jutaan pengikut iblis, para jenderal mengerikan, dan Raja Kegelapan yang menguasai takhta dunia.
Satu tebasan telah lahir. Dan kegelapan tak akan pernah sama lagi.
"Saat dunia dikuasai bayang-bayang, kilat adalah satu-satunya keadilan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astrius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Sang Penjaga Kuno
Hutan Kilat Merah tidak pernah tidur. Setiap detikan waktu diisi oleh raungan guntur yang merobek langit gelap dan dentuman kilat merah yang menghantam bumi tanpa henti. Di bawah rimba pepohonan arang berdaun bara, Hiraisin berdiri menengadah, membiarkan tubuhnya dipukul bertubi-tubi oleh sambaran petir alami yang berjatuhan dari angkasa.
Setiap hantaman kilat merah mengirimkan gelombang sengatan luar biasa yang seolah menguliti daging dan meretakkan tulang-tulangnya. Namun, bukannya tumbang, Hiraisin justru mengalirkan setiap percikan energi buas itu ke dalam poros Dantiannya.
"Fokus pada titik Qihai dan Guanyuan!" teriak Liora dari balik celah batu pelindung. Tangannya mengayun, melempar jarum-jarum perak yang melayang dan menancap di bahu serta pinggang Hiraisin untuk mengunci kebocoran tenaga batin. "Biarkan petir merah membakar jaringan meridian lama yang telah rusak! Gunakan daya hantamnya untuk membentuk ulang dinding meridian yang baru!"
Hiraisin mengeram rendah. Gigi-giginya bergemeretak menahan rasa sakit luar biasa yang membakar seluruh organ dalamnya. Namun di dalam penderitaan itu, ia merasakan mukjizat. Retakan-retakan pada saluran Qi-nya yang disebabkan oleh racun dan pemaksaan kekuatan sebelumnya, kini perlahan tertutup rapat. Serat-serat pembuluh energinya tumbuh kembali—lebih tebal, lebih lentur, dan berkali-kali lipat lebih tahan terhadap tekanan arus listrik berkekuatan tinggi.
BZZZZ-CLACK!
Pendar merah membara memancar keluar dari pori-pori kulit Hiraisin, berpadu sempurna dengan kilatan ungu keemasan yang telah lama bersemayam di dalam jiwanya. Meridiannya tidak lagi sekadar menampung petir, melainkan telah menyatu dengan hukum alam petir itu sendiri.
Ketika sambaran petir merah terakhir meredup, Hiraisin menghembuskan napas tebal yang memancarkan percikan api ungu. Ia mengepalkan telapak tangannya, merasakan kestabilan dan kekuatan baru yang mengalir deras tanpa hambatan.
"Pembersihan dan penempaan meridianmu telah selesai," ujar Liora seraya melangkah keluar dari balik batu, menatap Hiraisin dengan rasa takjub yang tak tersembunyi. "Meridianmu kini sekeras baja purba. Kau sudah siap melangkah ke wilayah terlarang yang paling dalam."
"Terima kasih, Liora," ucap Hiraisin tulus.
Keduanya kemudian melanjutkan langkah, menembus kerapatan Hutan Kilat Merah yang makin menajam aura magisnya. Setengah jam melintasi medan gersang beraroma ozon pekat, mereka akhirnya tiba di sebuah pelataran batu raksasa yang dikelilingi oleh pilar-pilar granit kuno berukirkan Runa badai.
Di ujung pelataran batu tersebut, berdiri sebuah gerbang kuil raksasa yang tertutup rapat. Gerbang itu dipahat dari batu meteorit hitam, dihiasi oleh relief naga dan petir yang memancarkan pendar perlindungan yang sangat kuat.
Namun sebelum mereka sempat mendekati tangga gerbang, tanah pelataran bergetar hebat.
RUMBLEEEE!
Gumpalan aura petir berwarna ungu keemasan dan merah membara mendadak menyembur keluar dari pilar-pilar granit, membumbung tinggi ke udara sebelum menggumpal menjadi satu wujud raksasa di tengah pelataran.
Dari dalam gumpalan kilat tersebut, melangkah keluar sebuah makhluk legendaris bertubuh sebesar bukit kecil. Makhluk itu menyerupai singa jantan raksasa dengan bulu-bulu berupa jilatan api listrik murni. Taring-taringnya yang tajam terbuat dari kristal petir bening, sementara sepasang matanya menyala bagaikan dua buah matahari mini yang memancarkan wibawa tak tertandingi.
Dialah Singa Kilat Purba—Binatang Pelindung Kuno yang ditugaskan menjaga Altar Utama sejak puluhan ribu tahun lalu.
ROAAAAAR!
Raungan Singa Kilat Purba menggetarkan seluruh atmosfer lembah. Gelombang kejut energinya merubuhkan belasan batu granit di sekeliling pelataran dan melempar Liora terdorong mundur beberapa meter.
"Hiraisin, berhati-hatilah!" teriak Liora seraya menancapkan jarumnya ke tanah untuk menahan tubuhnya. "Dia bukan makhluk hidup dari daging dan darah! Dia adalah wujud murni dari Kehendak Petir Purba! Dia tidak akan membiarkan siapa pun lewat kecuali sang pewaris mampu membuktikan kelayakan jiwa dan raganya!"
"Kelayakan jiwa dan raga..." bisik Hiraisin seraya menarik pedang patah dari punggungnya.
Singa Kilat Purba menghentakkan kaki depannya. Dalam hitungan mikrosatuan, tubuh raksasa makhluk itu meluncur membelah udara bagaikan kilat menyambar, menerjang lurus ke arah Hiraisin dengan cakar listrik yang sanggup membelah gunung.
CLANG!
Hiraisin menahan serangan cakar tersebut dengan bilah pedang patahnya. Benturan dua kekuatan petir murni menciptakan ledakan kubah cahaya yang menghancurkan lantai batu pelataran menjadi abu. Hiraisin terdorong terperosok ke belakang, merasakan getaran energi yang sangat dahsyat menembus lengannya.
Namun belum sempat Hiraisin memperbaiki kuda-kudanya, mata emas Singa Kilat Purba mendadak menyala terang, memancarkan gelombang cahaya aneh yang menembus langsung ke dalam pupil mata Hiraisin.
Hummmmm...
Seketika itu juga, kesadaran Hiraisin ditarik paksa keluar dari dunia nyata. Suara raungan badai dan pemandangan gerbang kuil mendadak sirna, digantikan oleh kegelapan total yang dingin dan hampa.
Lalu, bau darah dan asap pembakaran mulai menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya.
Hiraisin membelalakkan mata. Ia kini berdiri di tengah panggung Sekte Awan Putih yang hancur berantakan. Langit berwarna merah menyala akibat kobaran api yang membakar seluruh bangunan kuil. Di sekeliling kakinya, bergelimpangan jasad para saudara seperguruannya yang tewas mengenaskan dengan luka tebasan sihir hitam.
Di hadapannya, terbaring jasad Tetua Shan yang bersimbah darah.
"Kau gagal, Hiraisin..." sebuah suara parau bergema dari balik kegelapan.
Sosok bayangan hitam yang menyerupai dirinya sendiri melangkah keluar dari dalam kobaran api. Bayangan itu memegang pedang yang meneteskan darah, memandangi Hiraisin dengan tatapan penuh kebencian dan cemoohan.
"Kau hanyalah pembawa sial," desis bayangan itu. "Sekte Awan Putih hancur karena keberadaanmu! Gurumu mati karena melindungi monster seperti dirimu! Kekuatan petir di tubuhmu tidak membawa apa-apa selain kehancuran, kematian, dan dendam yang tak ada habisnya!"
Hiraisin berlutut di atas tanah yang bersimbah darah, tubuhnya gemetar hebat. Bayangan ketakutan, rasa bersalah, dan trauma masa lalu yang selama ini ia tekan di dasar hatinya kini menyembur keluar bagaikan racun yang mematikan.
Apakah aku benar-benar hanya berniat membalas dendam? Apakah pedang ini hanya diciptakan untuk membunuh dan menghancurkan? batin Hiraisin bergejolak hebat, membuat pendar petir di dadanya mulai meredup dan terancam padam.
Bayangan hitam itu tertawa terbahak-bahak, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi untuk memenggal kepala Hiraisin. "Serahkan tubuh dan jiwamu pada kegelapan! Kau tidak layak menjadi Pewaris Petir!"
Namun, tepat saat mata pedang bayangan itu hampir menyentuh lehernya, di dalam pikiran Hiraisin mendadak terlintas bayangan senyuman Tetua Shan saat memberikan lencana sekte kepadanya. Terlintas pula keteguhan mata Liora yang rela mempertaruhkan nyawa demi menyembuhkan meridiannya.
Tidak...
Hiraisin mengepalkan tangannya rapat-rapat.
Gurumu tidak mati agar aku tenggelam dalam dendam hampa... Beliau mengorbankan nyawanya agar percikan harapan ini tetap menyala!
Hiraisin mendongakkan kepalanya, menatap lurus mata bayangan hitam di hadapannya dengan tatapan jernih tanpa keraguan sekecil apa pun.
"Pedangku memang lahir dari duka dan darah," ucap Hiraisin dengan suara yang mantap dan bergema bagaikan guntur yang suci. "Tetapi pedang ini tidak akan lagi diayunkan hanya demi kebencian! Pedang ini ada untuk melindungi mereka yang tersisa, menghancurkan kegelapan, dan membawa kembali kedamaian di atas benua ini!"
BOOOOOOOM!
Cahaya murni berwarna ungu keemasan meledak hebat dari dalam jiwa Hiraisin. Ilusi batin dan bayangan hitam hancur berkeping-keping bagaikan kaca yang terhempas ke batu.
Kesadaran Hiraisin kembali seketika ke dunia nyata.
Ia kembali berdiri di pelataran batu Hutan Kilat Merah. Pedang patah di tangannya kini berpendar oleh cahaya ungu keemasan yang begitu jernih, tenang, dan dipenuhi oleh kehangatan yang mengayomi.
Singa Kilat Purba yang tadinya bersiap melancarkan serangan pemungkas, mendadak menghentikan gerakannya di udara. Sepasang mata kristalnya menatap pendar cahaya di tangan Hiraisin, merekam kebersihan niat dan keteguhan jiwa sang pemuda.
Huuuuh...
Singa raksasa itu menghembuskan napas guntur pelan. Perlahan-lahan, ia mendaratkan empat kakinya di atas tanah, lalu merendahkan tubuh besarnya dan membungkukkan kepalanya secara khidmat di hadapan Hiraisin.
Pengakuan dari sang Penjaga Kuno telah diberikan.
BZZZZZT!
Tubuh raksasa Singa Kilat Purba perlahan melebur menjadi gumpalan arus listrik murni berkilau emas. Gumpalan energi itu melayang naik ke udara, memadat menjadi sebuah kuncian Runa berbentuk kepala singa bercahaya, lalu meluncur cepat dan menancap tepat di pusat ukiran gerbang batu meteorit.
CREAAAK!
Runa-runa purba di sepanjang pintu gerbang menyala terang satu per satu. Dengan dentuman berat yang mengguncang tanah, gerbang raksasa Altar Utama perlahan-lahan terbelah dan terbuka lebar.
Dari dalam ruang altar yang gelap, menyembur keluar pusaran angin badai raksasa yang membawa aura keberadaan murni Inti Pedang Kilat Pertama.
Hiraisin menyarungkan pedang patahnya, menoleh menatap Liora yang melangkah mendekat dengan wajah lega.
"Pintu Altar Utama telah terbuka," bisik Hiraisin dengan pandangan mata mantap menatap ke dalam kegelapan altar. "Waktunya merebut kembali warisan kita."