NovelToon NovelToon
Dari Skripsi Jadi Ibu Tiri

Dari Skripsi Jadi Ibu Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Orang Disabilitas / Dosen
Popularitas:48.8k
Nilai: 5
Nama Author: dtyas

Terancam Drop Out karena masa studi yang di ujung tanduk, Ruby menyusul Bara --dosen pembimbingnya hingga ke pelosok desa tempat pria itu melakukan penelitian. Misinya hanya satu, acc skripsi demi menyelamatkan masa depannya.

Sebuah kesalahpahaman konyol membuat mereka dituduh melanggar adat setempat. Tanpa opsi untuk bernegosiasi, Ruby dan Bara dipaksa menikah. Dalam semalam, status Ruby berbalik 180 derajat: dari mahasiswa abadi, menjadi istri sah sang dosen.

Kejutannya tak berhenti di situ. Bara bukan sekadar dosen senior dan dingin, dia adalah duda beranak dua dan salah satu anak Bara penyandang disabilitas.

"Satu dosen dingin, plus bonus dua krucil. Mirip promo beli satu dapat tiga.”

Ruby mendongak, menatap Bara yang menatapnya. "Jadi, ibu tiri! Siapa takut? Lagipula, menghadapi bab empat Pak Bara aja saya bertahan, apalagi cuma ngadepin mereka berdua!"

“Mas, panggil saya mas Bara.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Salah Paham

Bab 2

 

“Siapa yang suruh kamu datang kemari?” sela Bara di ujung sana.

“Lah! Bapak yang bilang. Saya tunggu segera! Gitu ‘kan?”

Terdengar decakan di ujung sana. “Posisi kamu di mana?”

“Tidak jauh dari balai desa. Bapak tinggal di kampung Mejati ‘kan? Biar saya susul kesana deh.”

“Naik apa? Kamu pikir ini Jakarta, bisa order ojek online.”

Ruby mengusap tengkuknya. Iya juga sih, apalagi makin larut suasana kampung makin sepi. Jangankan ojek mau bertanya pun pada siapa.

“Tunggu di sana! Jangan kemana-mana sampai saya datang.”

Tidak sampai 5 menit, ada motor mendekat dan berhenti di depan warung. Pria dengan baju koko berlapis jaket dan celana panjang. Ruby sempat terpukau dengan penampilan pria itu, Barata Airlangga. Sudah lama tidak bertemu, ternyata makin terlihat dewasa dan berwibawa sama seperti penampilannya saat di kampus.

“Busyet, udah 3 tahun nggak jumpa, masih ganteng aja,” gumam Ruby. “Malam, pak Bara. Maaf, jadi merepotkan.”

Bara menatap Ruby dari kepala sampai kaki lalu menggeleng pelan. “Saya bilang dokumen dan file titip ke Ardi, saya tunggu segera. Kamu memang menyusahkan saja. Kemarin-kemarin saya hubungi tidak respon, tahu-tahu muncul di sini.”

“Masa sih, yang saya dengar nggak gitu kok?”

Bara pamit pada pemilik warung lalu kembali menaiki motor. “Naik!” titahnya.

Berharap kopernya dibantu naikan ke motor, nyatanya hanya halusinasi. Tidak mungkin Bara bersikap ramah dan hangat macam ke pasangan, apalagi diantara mereka ada miss komunikasi.

“Kita mau kemana, pak? Saya mau bimbingan loh.”

“Cari penginapan, memang kamu mau tidur di mana? Emperan balai desa.”

“Tapi saya mau bimbingan dulu, pak. Tujuan saya kemari ‘kan itu.”

“Tapi ini kampung orang dan kita harus menghormati aturan di sini. Bukan macam Jakarta yang 24 jam bisa bertamu, di sini ada aturannya.”

Melewati jalan kecil, suasana semakin sepi saat perlahan meninggalkan perkampungan. Tidak lama suara motor mulai aneh dan jalannya macam tersendat. “Pak, motornya kenapa?” Ruby menatap sekitar, sudah menjauh dari perkampungan dan sekeliling hanya pepohonan. Gelap pula, cahaya yang ada dari sinar rembulan dan lampu motor itu pun ikut meredup. Mendadak ia mengingat adegan dari film horor.

Motor pun berhenti, Bara mencoba menghidupkan kembali mesinnya tapi gagal.

“Turun!”

“Tapi, pak!” Alih-alih turun, Ruby malah mencengkram sisi kemeja Bara. “Bapak nggak takut, tiba-tiba ada perempuan nangis, makhluk lompat-lompat atau ada yang merayap turun dari pohon.”

“Astaga, imajinasi kamu li4r juga. Kebanyakan nonton film horor. Turun dulu,” titah Bara lagi lalu memeriksa kemungkinan masalah mesin yang dia tahu. Membuka jok dan melihat isi tangki ternyata kosong. “Bensinnya habis.”

“Yang bener, pak? mana ada Pom bahan bakar di sini? Bapak gimana sih?”

“Kenapa malah kamu yang marah? Ini karena kamu salah menanggapi perintah saya. Bikin susah aja. Kita balik, temui Pak Kades untuk minta solusi di mana kamu bisa bermalam.”

“Maksudnya balik lagi ke kampung tadi, udah jauh pak.” Ruby tidak bisa membayangkan ia harus jalan kaki dengan kondisi gelap, perut lapar dan badan yang lengket dan tidak nyaman karena keringat.

“Terserah kamu, mau ikut atau tinggal disini. Menyusahkan saja.”

Sempat menghentakan kakinya, Ruby mengekor Bara yang mendorong motor sambil mengoceh tanpa suara. Panggilan alam yang sejak tadi dia rasakan dan terpaksa ditahan, sudah pada puncaknya.

“Pak Bara, saya mau pi-pis pak.”

Bara mendessah sambil terus mendorong motor. “Tahan dulu!”

“Nggak bisa, pak. Udah saya tahan dari tadi pas di warung. Saya pikir Pak Bara mau ajak ke tempat pak Bara tinggal buat bimbingan. Makanya saya gak numpang di warung, taunya diajak uji nyali.”

“Disini nggak ada toilet umum. Tahan dulu.”

“Berapa lama, pak?”

“Makin lama kalau kamu jalan macam siput.”

Ruby berdecak dan bergumam tidak jelas. Rasanya ingin mengump4t, tapi tidak ingin menambah masalah. Gimana kalau Bara baper lalu kabur dan menolak bimbingan. Masa kuliah 4 tahun akan berlalu begitu saja, bukan ijazah sarjana yang dia terima melainkan surat DO. Tidak boleh terjadi, ia harus sabar. Sedikit lagi.

Namun, baru beberapa langkah rasanya sudah tidak tahan. Apalagi langkahnya sempat tersandung, karena minimnya pencahayaan.

“Pak, saya nggak tahan pak,” rengek Ruby.

Bara tidak menjawab, hanya terdengar tarikan nafasnya dan berhenti melangkah lalu menurunkan standar motor.

“Di semak saja.”

“Hah, masa disemak pak. Kalau ada serangga atau ulat gimana?”

“Ya sudah kamu tahan, sampai rumah pak Kades.”

“Nggak bisa.” Ruby menyilangkan kedua kaki, rasanya sudah tidak nyaman.

“Disemak, jangan terlalu ke semak. Di pinggir sana, lakukan dengan cepat.”

“Nanti bapak ngintip.”

“Astaga, kamu nggak lihat suasana gelap begini,” cetus Bara.

Ruby mengoceh pelan, mengeluarkan beberapa lembar tisu dari tasnya lalu menyorot ke arah pinggir jalan dengan cahaya kamera. Memastikan area itu aman.

“Jangan ngintip ya, pak.”

“Dikasih gratis pun nggak tertarik,” sahut Bara menatap ke arah lain.

“Siapa juga yang mau kasih gratis. Mahal pak, limited edition. Satu-satunya di dunia, pokoknya pulen.”

Ruby mematikan cahaya dari ponsel lalu berjongkok, tapi gegas berdiri lagi. Ia mendengar sesuatu, seperti suara langkah. Namun, kembali senyap. Kembali berjongkok setelah menurunkan celananya. Hah, kejadian paling memalukan. Buang air ditemani dosen killer tanpa air pula hanya dengan tisu.

“Harus dibasuh 7x ini mah,” gumamnya setelah selesai dan ….

Sret

“Aduh.”

Bara menoleh, mendengar pekikan. MEski tidak jelas, ia tahu kalau Ruby sepertinya terpeleset.

“Bisa bangun sendiri?” tanya Bara belum beranjak dari tempatnya berdiri.

“Sakit, kayaknya tangan saya kegores ranting. Perih banget.”

Bara pun mendekat karena rintihan Ruby. Membantu gadis itu berdiri dan ….

“Sedang apa kalian, pasangan mesum!”

“Mau macam-macam ya.”

“Berbuat asusila, di tempat ini ‘kan?”

Ruby menghalangi wajahnya dengan lengan karena sorotan senter yang ditujukan ke arahnya dan Bara. Beberapa orang entah muncul dari mana, menuduh dan menangkap seolah mereka baru saja melakukan hal buruk.

“Kalian salah paham. Tidak ada perbuatan asusila. Pakaian kami masih pada tempatnya. Motor ini mati, kami harus jalan kaki.”

“Halah, alasan saja. Kalau tidak kepergok, sudah melucuti pakaian.”

“Pak, ya ampun jangan main tuduh. Ini negara hukum, harus ada bukti dong. Jelas-jelas motor mati saya sampai kepleset,” oceh Ruby. Bara sambil menyenggol tangannya agar tidak terbawa emosi.

“Jelas-jelas kalian berada di tempat gelap. Untuk apa ke semak segala?”

“Nggak denger gue kepleset,” sahut Ruby lagi. “Ingat ya, macam-macam saya lapor polisi.”

“Kalian ini sudah melanggar adat, malah mengancam kami.”

“Ruby, diam,” cetus Bara. “Maaf, bisa kita cari tempat lain untuk bicara. Saya akan jelaskan kenapa kami ada di sini, kalau tidak percaya silahkan periksa motor ini.”

“Bawa ke pak Kades.”

“Arak keliling kampung saja.”

“Bawa ke pak kades, jangan main hakim sendiri.”

“Pak Bara, jangan diem aja. Kita nggak salah,” sentak Ruby. 

1
Koesbandiana
ma mau mau..😅😅😅😘
Nur Wakidah
adik bayi segera otewe 🤭🤭🤭
sikepang
sabar y jelita bahan y masih baru di cek out dikerangjang kuning, ntar di adon adek baby y sama daddy dan bunda 🤣
tiara
hayo Ruby Jelita minta adik tuh
mery harwati
Meldy aq padamu 😛❤️
Terus jadi kompor mleduk bwt Bara Meldy 💪
'Nchie
semoga ada ke ajaiban untuk adly😭😭
Melania Kiaa
ehh gak sooan🙄
'Nchie
awas aja kamu ruby kalo adly udah sembuh boleh pulang🤣🤣yg ada kamu yg di makan bara🤣🤣
'Nchie
spesial pake telor ya by🤣🤣🤣
'Nchie
🤣😀jaelangkung
Melania Kiaa
yang ada malah papamu yang ketuaan dek🤭
Anonim
Ruby .....emang sok berani
Anonim
Iih ada jaelsngkung keluyuran 🤭
Anonim
Jangan sampai kenapa "Adly
Anonim
Tuhkan Ruby....kamu sih ....sok"an tantang Mas Bara .....
Dozky 2 Crazy
mas duda bisa gak cara penyampaian jgn lempeng banget🥲🥲
Dozky 2 Crazy
jangan kan adly kita ajj yg baca selalu dibikin ketawa sama ruby😁😁😁
Anonim
Ruby ngapain kamu tantangin Bara
Awas ya kamu .....🤭
Dozky 2 Crazy
makasih bunda udh ada buat adly 🥲🩷🩷
Anonim
Benar .....Ipar adalah iblis
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!