NovelToon NovelToon
DUA WAJAH SATU HATI

DUA WAJAH SATU HATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:687
Nilai: 5
Nama Author: Kenzy Elbarra

Siang hari, aku cuma Maxy — pegawai biasa yang diam-diam mencintaimu.
Malam tiba, aku berubah jadi Roxy — sosok percaya diri yang berani berdiri di hadapanmu.

Kamu tersenyum pada Roxy, tapi tak pernah tahu kalau dia itu aku.
Sampai kapan aku harus menyembunyikan siapa diriku?
Dan nanti… saat kamu akhirnya memilih, siapa yang akan kamu pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenzy Elbarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Pagi itu udara di kantor terasa biasa saja, tapi di hati Shella ada sesuatu yang lain. Setiap kali dia menyentuh kalung batu berbentuk bunga matahari di leher, senyumnya muncul sendiri, tanpa sadar.

Bayangan ombak, pasir hangat, dan tawa di tepi pantai kemarin terus terputar di kepalanya seperti film yang enak ditonton berulang-ulang.

Dia duduk di mejanya, memandang ke luar jendela. Langit hari ini agak mendung, tapi itu tidak mengurangi kehangatan yang masih tertinggal di hatinya.

Dia ingat bagaimana Maxy berusaha sebaik mungkin dengan apa yang dia punya — mobil tua, jagung bakar buatan sendiri, kalung batu yang diukir pakai tangan. Bukan kemewahan, tapi ketulusan yang bikin hati terasa penuh.

"Kamu terlihat senang sekali pagi ini, Shella."

Suara berat itu tiba-tiba terdengar dari samping. Shella menoleh, tersentak sedikit. Pak Arif berdiri di dekat mejanya, menatapnya dengan senyum yang terasa terlalu dekat.

"Ah, Pak Arif... selamat pagi," jawabnya sambil merapikan tumpukan berkas di depan, berusaha terlihat tenang.

"Pagi. Dari tadi saya perhatikan, Anda tersenyum sendiri. Pasti ada hal menyenangkan ya?" Arif melangkah lebih dekat, menyandarkan satu tangan di tepi meja kerjanya. "Mungkin ada cerita menarik yang bisa dibagi?"

"Huuuuuft" Shella menarik napas pelan, menata jawaban agar tetap sopan tapi memberi batas.

"Bukan apa-apa, Pak. Cuma kemarin jalan-jalan ke pantai, suasananya menyenangkan. Masih terasa segar sampai sekarang." jawab Shella sopan.

"Pantai?" Arif mengangkat alis, seolah informasi itu punya arti khusus.

"Siapa yang menemani kalau boleh tahu?" tanya Arif penuh penasaran.

"Teman, Pak," jawab Shella singkat, berharap jawaban itu cukup.

"Teman..." Arif mengulang kata itu pelan, matanya menyelidik.

"Pantas saja terlihat ceria. Tapi hati-hati ya, Shella. Banyak orang yang pandai bicara manis di awal, padahal tidak bisa menawarkan masa depan yang pasti. Pantai itu bagus untuk wisata, tapi tidak untuk dijadikan tempat membangun kehidupan." ucap Arif mencoba memprofikasi.

Dia tersenyum seolah memberi nasihat berharga, lalu melanjutkan dengan nada yang makin mendekat.

"Kalau Anda ingin menikmati suasana pantai yang benar-benar layak, saya bisa antar ke resor pantai yang jauh lebih nyaman. Fasilitas lengkap, pelayanan prima. Bukan sekadar duduk di pasir biasa." ajak Arif penuh keangkuhan.

"Terima kasih tawarannya, Pak. Tapi saya sudah cukup senang dengan yang kemarin," jawab Shella dengan tegas namun tetap sopan.

Arif tersenyum tipis, seolah tidak menerima penolakan itu sepenuhnya. "Pikirkan saja dulu. Saya siap kapan saja."

Dia melangkah pergi, tapi sebelum jauh, dia menoleh sekali lagi, tatapannya jatuh tepat ke kalung batu di leher Shella.

"Perhiasan yang... sederhana sekali. Tapi mungkin itu selera Anda ya. Sampai jumpa nanti, Shella." ejek Arif sembari melangkah pergi.

Shella menghela napas panjang begitu Arif hilang di balik pintu ruangan. "Huuuuffft" Dia meraba kalung itu pelan, merasa sedikit kesal sekaligus sedih.

Bukan karena kalung itu dinilai sederhana, tapi karena Arif seolah tidak pernah bisa membiarkan dia tenang.

Selalu ada saja komentar, selalu ada saja tawaran yang memaksa, selalu ada cara untuk membuat dia merasa tidak nyaman.

Sepanjang pagi, hal itu terus berulang. Saat dia berjalan ke ruang fotokopi, Arif lewat dan berhenti untuk membahas pakaian yang dia pakai. Saat dia makan siang di kantin, Arif duduk di hadapannya tanpa diundang dan mulai bercerita tentang keberhasilan bisnis keluarganya.

Bahkan saat dia ke toilet, Arif sempat menunggu di koridor untuk menanyakan apakah dia sudah mempertimbangkan tawaran makan malam yang dulu pernah diajukan.

Setiap kali, Shella harus menolak dengan cara yang sopan, menahan kesabaran, dan berusaha tidak terlihat kasar. Tapi rasanya melelahkan. Seperti ada bayangan yang terus mengikuti ke mana pun dia melangkah.

Sedangkan Aku cuma bisa melihat semua itu dari kejauhan. "Aku harus bantu Shella dari kondisi saat ini" gumamku.

Sore harinya, saat pekerjaan mulai berkurang dan jam menunjukkan pukul empat lewat tiga puluh menit, Shella duduk sejenak untuk mengistirahatkan pikiran. Dia menatap keluar jendela, membiarkan pikirannya kembali ke pantai kemarin — ke suara ombak, ke tawa yang lepas, ke rasa dihargai tanpa harus dibandingkan dengan harta atau status.

Ponsel di mejanya bergetar pelan. Nama "Roxy" muncul di layar. Shella tersenyum pelan, meraih ponsel dan mengangkatnya.

"Halo, Roxy..."

"Halo, Shella. Lagi sibuk ya?" Suaraku terdengar tenang dan hangat di seberang sana.

"Enggak kok, sebentar lagi pulang. Cuma... capek dikit," jawabnya jujur.

"Kenapa? Banyak kerjaan atau ada hal lain yang bikin capek?" tanyaku pelan, walaupun sebenarnya aku sudah tahu semuanya.

Shella menghela napas pelan. "Banyak hal, Roxy. Kerjaan, dan... orang-orang juga."

Aku mendengar, memahami. "Pasti ada yang bikin tidak nyaman ya. Kalau mau cerita, saya dengar kok."

"Nanti aja ya. Sekarang masih di kantor." Shella tersenyum tipis, lalu bertanya pelan. "Kamu gimana harinya?"

"Baik. Tapi ada yang ingin saya tanyakan. Kalau nanti sore pulang kerja, saya jemput boleh? Ada film bagus yang baru tayang. Saya pikir mungkin kamu mau nonton, sekalian melepas lelah." ajaku tegas.

Shella terdiam sebentar. Pikiran tentang film, tentang keluar, tentang ditemani seseorang yang tidak membuatnya merasa terganggu... rasanya sangat menggoda. Tapi dia juga sadar kalau harus hati-hati, apalagi kalau Arif melihat.

"Film apa?" tanyanya pelan.

"Film yang ceritanya tentang perjalanan dan menemukan kembali diri sendiri. Bukan yang berat-berat, tapi yang bisa bikin pikiran lebih ringan setelah seharian kerja."

aku terdiam sebentar, lalu menambahkan lembut.

"Kalau kamu belum mau keluar, tidak apa-apa kok. Bisa saya antar pulang dulu, atau kita ngobrol di tempat dekat rumah kamu aja. Yang penting kamu nyaman." imbuhku.

Shella tersenyum mendengar itu. "Boleh, Roxy. Aku mau. Tapi... kalau bisa jemput agak jauh dari gerbang kantor ya. Ada orang yang agak... terlalu perhatian di sini. Takutnya salah paham."

Aku langsung mengerti. "Pasti. Saya tunggu di pertigaan depan, di dekat toko roti. Jauh cukup. Kalau kamu keluar lewat pintu samping, tidak akan ketahuan siapa pun. Aman."

"Makasih ya, Roxy. Kamu ngerti banget." jawab Shella.

"Yang penting kamu tenang dan nyaman. Saya jemput pukul lima lewat empat puluh lima ya? Jangan buru-buru, selesaikan dulu pekerjaanmu. Saya tunggu sampai kamu siap."

"Oke. Sampai nanti ya."

Shella menutup telepon, merasakan beban di dadanya sedikit berkurang. Setidaknya sore ini dia tidak akan sendirian dengan pikiran yang berat. Setidaknya sore ini ada seseorang yang memikirkan kenyamanannya, bukan hanya keinginannya sendiri.

Tak lama kemudian, saat dia membereskan barang-barang untuk pulang, Arif lewat lagi di dekat mejanya.

"Sudah mau pulang, Shella?"

"Iya, Pak. Pekerjaan hari ini sudah selesai," jawabnya sambil memasukkan berkas ke dalam tas.

"Bagus sekali. Kalau tidak ada rencana, mungkin kita bisa pulang bareng? Saya bisa antar langsung ke depan pintu rumah." Arif tersenyum, menatapnya dengan tatapan yang berharap.

"Makasih, Pak. Tapi saya sudah ada janji sore ini," jawab Shella dengan tegas tapi tetap sopan.

"Janji?" Arif mengangkat alis, seolah sulit menerima jawaban itu. "Dengan siapa kalau boleh tahu?"

Shella menahan keinginan untuk menjawab terlalu tajam. "Teman, Pak. Sudah diatur dari sebelumnya."

Arif diam sebentar, matanya meneliti wajah Shella seolah mencari tanda kebohongan. Lalu dia tersenyum tipis, senyum yang tidak sepenuhnya tulus.

"Baiklah. Kalau begitu lain kali saja. Hati-hati di jalan ya, Shella. Dan ingat... pilihlah teman yang bisa membawa ke arah yang benar. Bukan yang cuma bisa bikin senang sesaat."

"Terima kasih nasihatnya, Pak. Saya akan ingat," jawab Shella singkat, lalu berjalan menjauh tanpa menunggu jawaban Arif lagi.

Dia berjalan cepat menuju pintu samping seperti yang disarankan Roxy. Langkahnya mantap, tidak menoleh ke belakang. Di luar, udara sore terasa segar, dan di kejauhan, di dekat pertigaan depan, dia melihat mobilku terparkir tenang, menunggu.

Jantungnya berdebar bukan karena takut, tapi karena lega. Akhirnya ada tempat di mana dia bisa bernapas tanpa diawasi, tanpa dinilai, tanpa dikejar tawaran yang tidak dia inginkan.

Dia melangkah mendekat, dan pintu mobil terbuka dari dalam..

 

1
Lylik Kurniawan
😍😍😍😍😍😍😍
Lylik Kurniawan
Bagus. beneran fresh.. aku ksih bintang 5
Lylik Kurniawan
bagus dan beda. like this!!!😍😍😍
Kenzy Elbarra
hehehe 😍😍😍
Salwina Riyani
mewek gw ... 🤣🤣🤣🤣🤣
Salwina Riyani
😍🤭😍🤭🤭😍🤭😍😍
Salwina Riyani
wadidawwww... 😍
Salwina Riyani
heran.. pdhl ini novel bagus.. knpa msh sepi ya
Salwina Riyani
nusuukkkm
Salwina Riyani
seruuuuu.....!!! bener bener beda dari yang lain.. byee bye CEO... bosen gw ma alur CEO wkwkwk
Salwina Riyani
seruuuu.... 😍😍😍😍😍😍
Ma Xy
gasssss terussss kak...
Ma Xy
lanjutkan kaka.. saya suka🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!