NovelToon NovelToon
THE PRIDE BETWEEN US

THE PRIDE BETWEEN US

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:166
Nilai: 5
Nama Author: Aravienne

Reyhan (31), pemilik Waroeng Sederhana di Bandung, dingin dan penuh gengsi. Anindya (30), tukang cuci piring baru dengan mimpi kecil membuka usaha kuliner sendiri.

Sepasang sarung tangan tanpa nama, wedang jahe yang "kebetulan kelebihan", dan tumpangan "searah" mengubah segalanya. Tapi gengsi lebih keras dari perasaan, dan gosip dapur tak pernah berhenti.

Saat Reyhan terpaksa memecatnya, mereka berpisah. Akankah gengsi terus berdiri di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aravienne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Waroeng Sederhana tetap buka.

Itu hal pertama yang Reyhan sadari setelah sebulan berlalu: tidak ada yang berhenti hanya karena seseorang pergi. Kompor tetap menyala jam tujuh pagi, nasi tetap ditanak, pelanggan tetap datang dan pergi dengan piring yang bersih. Dunia tidak runtuh. Ia sendiri yang merasa lantai di bawahnya menjadi agak lebih miring dari sebelumnya.

Mang Eman, pegawai pengganti keempat, akhirnya bertahan. Laki-laki paruh baya itu mencuci piring dengan gerakan yang cepat dan efisien, tanpa mengeluh, tanpa bicara, tanpa pernah sekali pun menoleh ke arah keran bengkok di sampingnya. Piring-piringnya selalu bersih. Tidak pernah ada bekas sabun. Tidak pernah ada gelas yang perlu diulang.

Dan entah kenapa, Reyhan tidak pernah bisa menegur apa pun lagi.

Sebulan lalu ia mungkin akan senang. Sekarang ia berdiri di ambang dapur setiap pagi, memperhatikan bak cuci yang bersih tanpa cela, dan merasa seperti seseorang yang baru saja memenangkan perdebatan yang ia tidak ingin menang. Bak cuci itu terlalu rapi. Terlalu sunyi. Tidak ada tangan merah di sana, tidak ada punggung yang tegak terlalu lama, tidak ada suara pelan yang berkata *maaf, Mas, saya ulang.*

Sarung tangan kuning itu masih tergantung di leher keran.

Sudah ia larang semua orang menyentuhnya, tanpa memberi alasan. Teh Lilis pernah memandanginya dengan mata berkaca. Dimas pernah berdiri di depannya cukup lama sebelum pergi. Mang Eman, yang tidak tahu apa-apa, pernah hampir mengambilnya untuk dipakai, dan Reyhan menghentikannya dengan satu kalimat pendek yang membuat laki-laki itu mundur selangkah dan tidak pernah bertanya lagi.

"Jangan."

Tidak ada kata sesudahnya. Tidak perlu.

Karena bagi semua orang di dapur itu, benda sederhana itu bukan sekadar sarung tangan. Itu satu-satunya bukti bahwa seseorang pernah ada di sana, dan bahwa mereka semua, dengan caranya masing-masing, ikut membuat orang itu pergi.

---

Malam-malam Reyhan menjadi sangat panjang.

Ia menutup warung lebih lambat dari biasanya, menghitung kas dua kali, membersihkan meja yang sudah bersih, memeriksa kompor yang sudah mati. Ia pulang ke rumah yang terlalu besar dengan langkah pelan, menyalakan lampu satu per satu, lalu duduk di meja makan dan menatap kursi-kursi kosong di seberangnya.

Rumah itu dulu penuh. Ayahnya yang jarang bicara dan selalu membaca koran di pojok. Ibunya yang bersenandung di dapur, dengan aroma jahe dan serai yang menempel di setiap tirai. Sekarang hanya ada dengung kulkas dan jam dinding yang berdetak dengan sabar, seolah menunggu seseorang menyelesaikan kalimat yang ia tinggalkan di tengah jalan.

Suatu malam, setelah berminggu-minggu menahan diri, ia membuka dompet dan mengeluarkan selembar kertas kecil yang sudah dilipat berkali-kali.

*Pakai ini.*

Dua kata. Tulisan miring. Pernah diremas, pernah dibuang, pernah diinjak, dan sekarang disimpan lebih rapi dari kartu identitasnya sendiri. Ia meletakkannya di atas meja, meratakannya dengan ujung jari, dan duduk menatapnya seperti menatap sebuah surat yang tidak pernah ia kirim.

Ia tidak menangis. Reyhan tidak pernah menangis, bahkan di pemakaman ayahnya dua tahun lalu, ketika semua orang menatapnya dengan iba dan ia hanya berdiri tegak seperti pohon yang menolak tumbang. Tapi ada sesuatu di tenggorokannya yang menolak turun, sebesar kepalan tangan, dan ia membiarkannya di sana sampai pagi.

Ayahnya dulu juga begitu. Diam, tegak, menyimpan semua hal di dada. Dan Reyhan baru sadar, di tengah sunyi malam itu, betapa mahal harga yang dibayar oleh orang-orang yang tidak pernah belajar mengucapkan apa yang mereka rasakan. Ibunya dulu pernah berkata kepadanya, sambil mengaduk wedang jahe di dapur yang hangat: *Rey, hati itu kayak telur dadar. Kalau terlalu lama di api tanpa diangkat, gosongnya bukan di pinggir lagi, tapi sampai ke tengah.*

Ia tertawa kecil mengingat itu, tanpa suara, dan tawa itu terasa seperti pisau.

---

Suatu dini hari, ia bangun jam tiga, tidak bisa tidur lagi, dan melakukan sesuatu yang tidak masuk akal.

Ia berjalan ke dapur rumahnya, membuka kulkas, dan mengambil dua butir telur. Memecahkannya ke dalam mangkuk, mengocoknya dengan garpu, menambahkan sedikit garam dan irisan daun bawang. Ia menyalakan kompor, menuang minyak ke wajan kecil, dan menunggu sampai minyaknya cukup panas.

Lalu ia menggoreng telur dadar.

Pinggirnya sengaja ia biarkan agak gosong.

Telur itu keluar dari wajan dengan warna keemasan di tengah dan cokelat tua di tepinya, persis seperti yang selalu ia sukai sejak kecil. Ia meletakkannya di atas piring, menatapnya, lalu duduk di meja makan dan mencicipinya.

Rasanya biasa saja.

Bukan karena salah masak. Telurnya matang sempurna, garamnya pas, gosongnya tepat di tempatnya. Tapi ada sesuatu yang kurang, sesuatu yang tidak bisa ia ukur dengan sendok atau takaran, dan ia sudah mengenal rasa kekurangan itu sejak ia melihat seorang perempuan duduk di bangku plastik belakang dapur, mengunyah telur dadar buatannya sambil berkata, *pantes agak gosong.*

Reyhan meletakkan sendoknya perlahan dan menutup mata.

*Masak itu bukan soal bumbu,* kata ibunya dalam ingatannya. *Masak itu soal siapa yang kamu pikirkan waktu mengaduknya.*

Ia duduk lama di dapur yang sepi itu, dengan sepiring telur dadar yang hampir tak tersentuh, dan menyadari dengan kejelasan yang menyakitkan bahwa ia sedang memikirkan seseorang saat menggoreng telur itu. Dan orang itu tidak ada di sana. Orang itu, kini, mungkin sedang menggoreng telur dadar untuk orang lain, di dapur yang lebih hangat.

Dan ia tidak punya hak untuk merasa cemburu pada itu.

---

Di warung, hari-hari berjalan seperti jam yang dipaksa berdetak.

Dimas masih datang setiap pagi, tapi tidak lagi bercanda. Ia mengerjakan penggorengan dengan wajah tertunduk dan rahang terkatup, seperti seseorang yang sedang menjalani hukuman yang ia berikan sendiri. Rafi dan Yoga bekerja lebih rajin, lebih pelan, lebih hati-hati, dan keduanya tidak pernah lagi menyentuh topik apa pun yang berhubungan dengan bak cuci.

Jaka tetap seperti biasa, tenang dan lelah, tapi sesekali Reyhan menangkapnya menatap keran bengkok dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Bayu tidak lagi membawakan teh.

Sudah sebulan lebih. Reyhan tidak pernah menyinggungnya, dan Bayu tidak pernah menjelaskan. Setiap kali Reyhan lewat di dekat dispenser kopi, Bayu hanya mengangguk sopan dan memanggil "Mas" dengan nada orang yang menghormati jabatan, bukan orang. Dan di dalam diamnya, Reyhan mengerti: segelas teh hangat yang dulu muncul di mejanya sebenarnya bukan kebiasaan, melainkan kebaikan. Dan kebaikan bisa ditarik kembali.

Dan Mbak Sari...

Mbak Sari tetap memasak dengan rapi. Takarannya tetap tepat, irisan bawangnya tetap rata, laporan harian yang ia sampaikan tetap lengkap dan datar. Hanya saja, tidak lagi menatap Reyhan lebih dari satu detik. Dan Teh Lilis, yang dulu bicara tanpa henti, sekarang hampir tidak pernah bicara. Ia mengaduk sambal dengan tatapan kosong, kadang berhenti di tengah gerakan, kadang menarik napas pendek seperti ingin berkata sesuatu lalu mengurungkannya.

Suatu sore, Reyhan lewat di lorong belakang dan mendengar suara pelan dari balik gudang.

"Kita harus bilang, Mbak..."

"Nggak."

"Tapi, Mbak..."

"Lis." Suara Mbak Sari rendah dan tegas. "Sudah lewat. Nggak ada gunanya."

"Tapi, Mbak..."

"Lis. Berhenti."

Reyhan berhenti. Napasnya tertahan. Ia berdiri di sudut lorong cukup lama, tangannya refleks hampir mengetuk dinding, hampir. Tapi suara-suara itu sudah berhenti, dan ketika ia melongok, hanya ada dua perempuan yang sibuk memindahkan karung beras dengan wajah yang terlalu tenang.

Ia mundur pelan tanpa suara.

Malam itu ia duduk di mobil di halaman belakang, menatap tembok warung yang gelap. Percakapan tadi berputar di kepalanya seperti kaset rusak. *Bilang apa? Sudah lewat apa?*

Tapi untuk pertama kalinya, selain penyesalan, ada sesuatu yang lain di dadanya. Sesuatu yang dingin, tajam, dan mulai bertanya.

Dan ia tidak tahu apakah ia siap menerima jawabannya.

Bersambung ke Bab 19...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!