NovelToon NovelToon
Teror Arwah Ci Sepi

Teror Arwah Ci Sepi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Sekuel keempat dari buku Sebelumnya: 'Cinderela Ubi Rebus, Kutukan Mbah Golok Sakti dan Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO'.

Menghadapi operasi bedah jantung? dr. Rahsya ahlinya. Tapi dipaksa jadi bidan sapi persalinan tengah malam oleh preman kampung berkolor tali rafia? Itu bencana!

Liburan tenang Rahsya di Desa Ci Sepi berubah total menjadi arena pawai hantu sejak ia menolong seorang anak kecil bernama Nathan.

Di tengah kekacauan mistis dan hilangnya para warga secara tragis, hadir Amel—gadis berisik yang selalu merepotkan namun berhasil mengacaukan detak jantung dokternya. Bisakah sang dokter rasional bertahan hidup, atau jiwanya akan tertinggal di dimensi lain telaga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. TEROR PINGSAN

Deg!

Tubuh Pak Dahlan bergetar hebat hingga ke dalam sumsum tulangnya. Senter di tangannya langsung jatuh berdenting di atas permukaan bambu sebelum akhirnya menggelinding jatuh ke dalam sungai di bawahnya. Sepasang lututnya terasa selembut jeli, saking lemasnya ia melihat sosok wanita tanpa kepala berdiri tegak tepat di hadapannya di ujung jembatan.

Bagian leher sosok itu tampak rata dengan sisa lumuran darah hitam yang telah mengering, seolah-olah kepalanya memang baru saja dilepas secara paksa dari raga.

Pasokan napas Pak Dahlan seketika tercekat di tenggorokan. Sepasang matanya membelalak kaku, dan seluruh tenaga di tubuhnya seakan tersedot habis ke dalam bumi.

Pak Dahlan langsung jatuh pingsan seketika, tubuh tegapnya ambruk berdebam di atas jembatan bambu karena tidak sanggup lagi melihat kengerian mistis yang telah melampaui batas nalarnya itu.

****

Kokokan ayam yang bersahut-sahutan di udara dingin fajar Desa Ci Sepi seolah menjadi alarm alami bagi Rahsya. Pukul lima pagi, ia sudah tegak berdiri, menyelesaikan kewajiban ibadah salat Subuhnya dengan khusyuk—sebuah rutinitas religius yang tidak pernah ia tinggalkan sesibuk apa pun jadwal operasi bedahnya di Jakarta. Baginya, iman yang kuat adalah stetoskop terbaik untuk menjaga kewarasan pikiran.

Satu jam berlalu dengan sangat efisien. Rahsya bergerak sigap memasukkan beberapa potong kemeja, peralatan medis "tempur", hingga stetoskop kesayangannya ke dalam tas punggung.

Kamar tidurnya yang semalam terasa sangat mencekam kini sudah tertata rapi sekali, seolah-olah seluruh jejak gangguan gaib dan misteri alat uji kehamilan atau testpack itu ikut menguap bersama dengan kabut pagi.

"Akhirnya selesai juga. Tinggal sarapan sedikit lalu memanaskan mesin motor," gumamnya puas.

Rahsya menyampirkan tas punggungnya yang berat, lalu melangkah menuruni anak tangga kayu vila.

Penampilannya pagi ini tampak sangat maskulin dan praktis; selembar kemeja rapi yang dibalut oleh jaket jins berwarna biru gelap, dipadukan dengan celana kain hitam yang membuatnya terlihat seperti seorang dokter muda yang siap bertualang, bukan sekadar pulang.

Langkah kakinya mantap menuju ke arah dapur, namun saat telapak kakinya baru saja menginjak lantai bawah, ia mendadak mencium aroma nasi goreng kencur yang sangat menyengat—sebuah aroma masakan yang biasanya hanya dibuat oleh satu orang gadis yang seharusnya sudah pulang ke Jakarta sejak kemarin siang.

Rahsya menarik kursi makan, lalu menjatuhkan tas punggungnya ke atas lantai dengan bunyi buk yang berat. Aroma kencur itu benar-benar manipulatif; dalam sekejap mata, ingatan Rahsya langsung terseret kembali pada sosok gadis berisik yang kemarin siang baru saja ia usir dengan kata-kata kasar.

"Tumben memasak nasi goreng, Pak?" tanya Rahsya berusaha sedatar mungkin, meskipun tangannya secara refleks meraih gelas susu putih hangat yang masih mengepulkan uap tipis.

Biasanya, rutinitas sarapan pagi mereka adalah bubur ayam langganan yang dibeli Pak Mamat di depan gang desa.

Pak Mamat menghentikan putaran sutilnya sejenak, membalikkan badan dengan seulas senyum yang sedikit dipaksakan di wajah tuanya.

"Iya nih, Den. Saya cuma kepengin saja. Mendadak kangen sama aroma nasi goreng buatan Neng Amel," jawab Pak Mamat sambil memindahkan nasi goreng ke atas piring dengan gerakan lambat.

"Rasanya vila besar ini jadi sepi banget ya, Den, enggak ada lagi yang hobi teriak-teriak berisik."

Rahsya seketika terdiam seribu bahasa. Ia menyesap susunya perlahan, merasakan kehangatan cairan itu melewati kerongkongannya.

Ucapan jujur Pak Mamat barusan bertindak seperti menyiramkan cairan garam pada luka hatinya yang belum kering. Ia teringat kembali bagaimana Amel mengeraskan rahangnya kemarin siang, memprotes keras sikap kasarnya sebelum benar-benar melangkah pergi dari vila tanpa menoleh lagi.

"Iya... sepi," gumam Rahsya hampir tidak terdengar oleh telinga sendiri.

Ia meraih sendok, menusuk bagian telur ceplok di hadapannya hingga kuning telurnya meleleh keluar—persis seperti kondisi perasaannya yang mendadak melunak tanpa izin dari egonya.

"Den Rahsya beneran tidak mau minta maaf sama Neng Amel? Katanya dia tinggal di Jakarta juga. Kalau Den memang mau menemui dia nanti, sebaiknya telepon dulu saja sekarang," ujar Pak Mamat tiba-tiba sembari meletakkan piring berisi nasi goreng yang mengepulkan aroma kencur di depan meja Rahsya.

Rahsya mendongak, menatap Pak Mamat dengan dahi yang berkerut dalam. Gengsinya yang setinggi langit seketika naik kembali ke permukaan, membentengi hatinya yang sebenarnya sudah mulai goyah.

"Ngapain? Saya sudah telat. Jadwal operasi bedah saya di rumah sakit Jakarta sudah penuh," bohongnya ketus, padahal jadwal praktiknya yang asli baru dimulai besok lusa.

Pak Mamat hanya manggut-manggut sembari terkekeh pelan. Ia melangkah kembali ke arah wastafel, mulai menyabuni wajan besi bekas memasak tadi.

"Saya sarankan jangan judes-judes sama Neng Amel, Den. Nanti bisa jodoh beneran, lho," goda Pak Mamat. Suaranya bersaing dengan bunyi gemericik air keran.

"Enggak bakalan! Saya tidak akan pernah tertarik sama anak kecil yang merepotkan, Pak," sahut Rahsya cepat, nyaris menyalak ketus.

Ia menyambar sendok dan menyuapkan nasi goreng kencur itu ke dalam mulutnya dengan gerakan beringas.

"Hah... hah! Panas!" rintihnya kemudian.

Ia merutuki kebodohan dirinya sendiri karena lupa meniup suapan nasi yang masih membara itu, membuat permukaan lidahnya mendadak terasa nyut-nyutan.

"Yakin nih, Den, tidak bakal menyesal nanti?"

Pak Mamat menolehkan kepalanya, menyeka tangannya yang basah menggunakan selembar serbet kusam.

"Nanti saja kalau Neng Amel sudah diambil atau dilamar oleh orang lain, baru Den Rahsya terasa ruginya."

Gerakan kunyahan di dalam mulut Rahsya mendadak melambat total. Kalimat peringatan Pak Mamat barusan entah mengapa terasa seperti sebuah hantaman telak tepat di ulu hatinya. Ada rasa sesak yang tiba-tiba saja menyeruak masuk, namun ego dokternya menolak mentah-mentah untuk tunduk pada perasaan.

"Apa sih, Pak! Ya biarkan saja dia mau pacaran atau menikah sama siapa pun, itu sepenuhnya terserah dia! Dia bukan siapa-siapa saya!" seru Rahsya dengan nada bicara yang meninggi, seolah-olah sedang mencoba keras meyakinkan dirinya sendiri.

Ia meletakkan sendoknya dengan bunyi dentingan keras di atas piring kaca. "Saya juga tidak suka sama tipe perempuan agresif seperti dia. Dia itu... dia sama sekali bukan tipe saya!"

Rahsya berdiri dari kursinya, menyandang tas punggungnya dengan satu sentakan kasar. "Tipe saya itu perempuan yang anggun, dewasa, tidak banyak tingkah, apalagi hobi cari muka di depan pria! Saya pamit pulang duluan, Pak. Assalamualaikum!"

Rahsya melangkah lebar-lebar menuju ke arah pintu depan, mencoba keras mengabaikan senyum penuh arti di wajah Pak Mamat yang masih asyik dengan busa sabun cuci piringnya.

Namun, tepat saat jemari tangannya menyentuh permukaan helm fullface-nya yang dingin di atas meja teras, ia mendadak tersadar bahwa daftar "tipe ideal" yang baru saja ia banggakan tadi terdengar sangat hambar, kaku, dan membosankan. Memori kehangatan aroma kencur dan teriakan berisik dari mulut Amel justru jauh lebih kuat datang menghantui ruang kepalanya pagi ini.

Tanpa membuang waktu lagi, Rahsya menuntun sepeda motor sport-nya keluar dari dalam garasi vila. Namun, tepat saat roda depan motornya baru saja hendak melewati daun gerbang vila, seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun tiba-tiba saja muncul dari balik semak dan menghadang jalannya.

Bocah kecil itu merentangkan kedua tangan mungilnya ke udara dengan kondisi wajah yang tampak pucat pasi.

"Om... tolong, Om," ucapnya lirih. Suaranya terdengar sangat tipis seperti suara bisikan yang terbawa oleh embusan angin pagi.

Rahsya menaikkan kaca helm hitamnya, keningnya berkerut dalam penuh kebingungan. Ia segera mematikan mesin motornya dan turun untuk menghampiri posisi bocah tersebut.

Rahsya terdiam mematung, sepasang matanya menyapu penampilan anak itu yang tampak basah kuyup dari ujung rambut hingga ujung kaki. Air tampak menetes deras dari pakaiannya, menciptakan genangan air kecil di atas tanah kering.

Rahsya secara refleks menatap ke arah langit, lalu beralih menatap ke arah permukaan aspal jalanan yang kering kerontang—hanya ada sisa embun tipis pagi, sama sekali tidak ada tanda atau bekas turun hujan semalam.

"Kenapa, Dek?" tanya Rahsya, mencoba melembutkan nada suaranya meskipun rasa heran sudah mulai merayap naik ke benaknya.

"Dingin, Om," ucap bocah kecil itu sambil memeluk tubuh mungilnya sendiri yang tampak menggigil hebat. Sepasang bibirnya terlihat berwarna kebiruan.

"Memangnya kamu habis dari mana?"

"Aku jatuh di sana, Om."

Bocah itu menunjuk ke arah parit sawah yang cukup dalam di seberang jalan vila, tempat air mengalir cukup deras menuju ke arah telaga hitam.

"Terus orang tua kamu ke mana? Kenapa kamu tidak pulang ke rumah dan malah datang ke sini?"

Rahsya merasa heran sekaligus geram. Orang tua macam apa yang membiarkan seorang balita berkeliaran sendirian pukul enam pagi hingga tercebur ke dalam parit? Rahsya sama sekali tidak mengenali wajah anak ini sebagai warga sekitar desa.

"Aku cuma mau minta tolong sama Om. Antarkan aku pulang ke rumah," pintanya dengan tatapan mata yang kosong namun tampak sangat memelas.

Rahsya tertegun sejenak, rasa iba kedokterannya terusik. "Mendingan kamu ikut saya masuk ke dalam vila dulu, ganti baju yang kering. Setelah itu saya suruh Pak Mamat untuk mengantarkan kamu pulang."

Rahsya sedikit bingung memikirkan baju apa yang muat untuk ukuran tubuh bocah ini di dalam vilanya, namun ia tidak mungkin tega membiarkannya kedinginan.

"Enggak mau, Om! Aku mau pulang sekarang juga!" tolak bocah itu keras sambil mulai merengek. Gemetar di badannya tampak semakin menjadi-jadi.

"Tapi Om harus pergi sekarang, Dek. Ada urusan medis yang sangat penting di kota," bujuk Rahsya tenang.

"Pokoknya aku mau pulang sekarang, diantarkan sama Om!"

Tangis bocah itu seketika pecah. Air matanya tampak bercampur dengan air parit yang membasahi pipi pucatnya.

"Cup... cup... jangan menangis di sini, Dek!"

Rahsya panik bukan main. Ia celingukan menatap ke kanan dan ke kiri, takut ada warga desa yang lewat dan mengira dokter kota ini sedang merundung seorang anak kecil di pinggir jalan.

Untungnya, suasana jalanan desa pagi ini masih sangat sepi.

"Ya sudah, kalau begitu. Om antar kamu pulang sekarang. Tapi tunggu sebentar, Om masukkan dulu motornya ke dalam."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!