Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang kritis di ICU, Dania Kirana terpaksa menerima syarat gila dalam surat wasiat seorang konglomerat: menikah dengan Arvin Dirgantara, CEO dingin yang penuh prasangka.
Arvin menganggap Dania wanita matre yang memanfaatkan kakeknya demi harta dan 51% saham perusahaan. Sementara Dania bertaruh harga diri demi bertahan dalam pernikahan rahasia berdurasi satu tahun.
Di balik pernikahan penuh ancaman dan perjanjian kertas ini, bahaya besar mengintai dari Dion—sepupu Arvin yang haus kekuasaan. Mampukah Dania membuktikan dirinya di tengah kepungan musuh, ataukah pernikahan rahasia ini justru menjebak mereka dalam benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Keadilan dan Hadiah Terbaik
Cahaya fajar menyingsing di atas langit Jakarta, membiaskan warna merah muda dan keemasan di balik dinding kaca penthouse. Pagi itu, Dania terbangun lebih awal dari biasanya. Suasana di dalam kamar utama terasa sangat tenang dan damai.
Saat Dania menoleh ke sisi tempat tidur, ia menemukan Arvin sudah tidak berada di sampingnya. Namun, di atas bantal tempat Arvin berbaring, tergeletak sekuntum mawar putih segar dan sebuah kartu ucapan kecil bersampul emas.
Dania meraih kartu tersebut dengan dahi berkerut halus. Dengan jemari gemetar halus, ia membuka lipatan kertas di dalamnya. Tulisan tangan Arvin yang tegas dan rapi terukir indah di sana:
Selamat ulang tahun yang ke-26, Dania Kirana Dirgantara. Terima kasih telah lahir ke dunia, dan terima kasih telah menjadi takdir terindah dalam hidupku. Kenakan gaun di atas lemari, dan temui aku di bawah sekarang.
Dania membelalakkan matanya tipis, jantungnya berdesir hebat. Ia hampir lupa bahwa hari ini adalah tanggal kelahirannya. Selama bertahun-tahun, sejak kepergian ayahnya dan perjuangan menyembuhkan Rehan, Dania tak pernah lagi merayakan hari ulang tahunnya.
Dania melangkah menuju lemari besar. Di sana, tergantung sebuah gaun terusan sutra berwarna krem yang amat anggun dengan potongan simpel khas selera Dania.
Satu jam kemudian, sebuah mobil sedan hitam yang dikemudikan langsung oleh Arvin berhenti di kawasan Jakarta Selatan. Area tersebut adalah kawasan tenang dengan deretan bangunan beraksitektur klasik kolonial.
Dania menatap luar jendela mobil dengan rasa bingung. Arvin tidak membawanya ke restoran mewah atau pusat perbelanjaan, melainkan menghentikan mobil di depan sebuah bangunan dua lantai berpagar besi tempa yang sangat dikenalnya.
Mata Dania membeku. Dadanya terasa sesak oleh gemuruh emosi yang mendadak menyeruak naik.
Di atas pintu ganda kayu mahoni bangunan itu, terpasang sebuah papan nama kuningan yang baru dipoles mengkilap: KIRANA ARCHITECTURAL STUDIO.
"Arvin..." bisik Dania, suaranya tercekat di tenggorokan, matanya bergetar hebat menatap papan nama itu.
Itu adalah studio arsitektur milik almarhum ayahnya, Hendra Kirana—tempat di mana Dania kecil dulu belajar menggambar draf garis pertamanya, tempat yang belasan tahun lalu disita dan dihancurkan reputasinya akibat manipulasi licin Ibu Helen dan Dion.
Arvin melepas sabuk pengamannya, berbalik menatap Dania dengan kedalaman rasa cinta yang tak terhingga. Pria tegap itu meraih kedua telapak tangan Dania yang mulai mendingin, mengusapnya dengan hangat.
"Ayo turun," ajak Arvin pelan dengan suara baritonnya yang lembut.
Arvin membukakan pintu mobil untuk Dania, merangkul pinggang istrinya dengan erat seraya menuntun langkah Dania melintasi pagar besi. Arvin merogoh saku jas mewahnya, mengeluarkan sebuah kunci kuningan antik dan meletakkannya di atas telapak tangan Dania.
"Buka pintunya, Dania," bisik Arvin tepat di samping telinga istrinya.
Dengan jemari gemetar dan air mata yang mulai menggenang di sudut mata beningnya, Dania memasukkan kunci tersebut ke dalam lubang pintu. KLIK. Pintu kayu mahoni itu terdorong terbuka pelan.
Suasana di dalam studio tampak sangat bersih, megah, dan terawat dengan sempurna. Seluruh meja gambar kayu tua milik ayahnya telah direstorasi dengan indah, dinding-dindingnya dihiasi oleh cetak biru bersejarah karya Hendra Kirana yang dulu sempat dihilangkan oleh konspirasi internal. Di tengah ruangan utama, sebuah papan akrilik besar memperlihatkan dokumen hukum resmi kepemilikan aset.
Dania menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata haru menetes membasahi pipinya yang halus.
Arvin melangkah mendekati Dania dari belakang, melingkarkan lengan tegapnya di sekeliling pinggang Dania, menyandarkan dagunya di bahu anggun istrinya.
"Tim hukumku telah merampungkan proses pemulihan aset ini dua hari lalu," kata Arvin pelan, menjelaskan seluruh perjuangan di balik layar yang dilakukannya secara diam-diam. "Seluruh nama baik ayahmu, sertifikat hak milik, dan seluruh hak cipta karya beliau secara legal telah dikembalikan sepenuhnya atas namamu dan Rehan."
Dania membalikkan tubuhnya perlahan di dalam pelukan Arvin. Ia menatap wajah tegas suaminya yang kini memancarkan kehangatan tiada tara.
"Kamu... kamu melakukan semua ini untukku, Arvin?" bisik Dania penuh keharuan.
"Ini bukan sekadar hadiah ulang tahun, Dania," tegas Arvin mantap, jemari kokohnya menghapus air mata di pipi Dania dengan sangat lembut. "Ini adalah keadilan yang berhak didapatkan oleh ayahmu, dan ini adalah bukti bahwa tidak ada satu pun orang di dunia ini yang boleh merenggut hak dan kebahagiaanmu lagi."
Dania tidak mampu menahan gemuruh kebahagiaan di dadanya. Ia berjinjit, melingkarkan kedua lengannya di leher Arvin, dan memeluk suaminya dengan erat. Dania menyembunyikan wajahnya di balik dada bidang Arvin, terisak pelan dalam keharuan yang paling dalam.
"Terima kasih, Arvin... Terima kasih banyak," bisik Dania berulang kali di balik dada suaminya. "Ini adalah hadiah terbaik yang pernah aku terima seumur hidupku."
Arvin mempererat dekapannya, mengecup rambut dan pelipis Dania dengan rasa sayang yang meluap-luap. Di dalam studio arsitektur yang penuh kenangan sejarah itu, Arvin menyadari bahwa melihat senyuman dan kebahagiaan Dania adalah tujuan utama dari seluruh pencapaian hidupnya.
Arvin melepaskan pelukannya sedikit, menangkup kedua pipi Dania dan menatap langsung ke dalam mata bening istrinya.
"Studio ini sekarang sepenuhnya milikmu, Nyonya Kirana Dirgantara," ujar Arvin seraya menyunggingkan senyuman tampan yang paling tulus. "Kamu bebas berkarya di sini kapan pun kamu mau."
Dania menyunggingkan senyum paling manis dan menawan, menatap Arvin dengan binar cinta yang membara. Ia mendekatkan wajahnya, menautkan bibirnya dengan bibir Arvin dalam sebuah ciuman yang manis, hangat, dan penuh rasa terima kasih yang mendalam.
Di tengah keheningan studio tua yang kini kembali bernyawa, dua jiwa itu merayakan kemenangan keadilan dan cinta sejati mereka—sebuah ikatan yang tak lagi memiliki celah untuk diragukan oleh siapapun.