Lula, bocah 5 tahun yang hidup luntang-lantung di kerasnya jalanan Jakarta, mendadak jadi putri bungsu kesayangan keluarga konglomerat Ayodhya setelah kekuatan supernya menyelamatkan nyawa sang istri CEO. Kini, dengan kemampuannya berbicara dengan hewan dan melihat kabut nasib buruk, Lula bukan cuma jadi jimat penyelamat Grup Lentera, tapi juga pusat dunia bagi empat kakak laki-lakinya yang kelewat protektif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Dari celah pintu itu, Lula melihat kabut hitam yang sangat tebal merembes keluar.
Kabut itu bau amis darah dan terasa sangat dingin.
"Kabutnya jahat sekali," bisik Lula pelan.
Lula melangkah maju mendekati pintu itu.
"Lula, kamu tidak boleh masuk ke sana, dokter sedang bekerja," larang Bastian sambil menahan bahu adiknya.
Lula mendongak menatap Bastian dengan mata bulatnya yang sembab.
"Kak Bastian, kalau Lula tidak masuk sekarang, Kak Adrian akan dibawa pergi oleh kabut itu," ucap Lula serius.
"Kak Adrian kesakitan di dalam, dia butuh Lula."
Bastian terdiam menatap mata anak kecil itu.
Pikirannya yang selalu logis dan berdasar ilmu medis kini sedang berperang dengan hatinya.
Bastian tahu kakaknya sudah hampir mati di dalam sana.
"Biarkan dia masuk Bastian," perintah Baskoro tiba-tiba.
"Tapi Pa, ini ruang steril, anak kecil tidak boleh masuk," bantah Bastian.
"Aku bilang biarkan dia masuk, persetan dengan aturan sterilmu itu!" bentak Baskoro putus asa.
"Dia satu-satunya harapan kita sekarang."
Bastian akhirnya melepaskan pegangannya dari bahu Lula.
Ceklek.
Bastian membuka pintu itu sedikit dan membiarkan tubuh kecil Lula menyelinap masuk ke dalam.
Di dalam ruangan, suasananya sangat tegang.
Tittt tittt tittt.
Suara mesin pendeteksi jantung berbunyi sangat cepat dan tidak beraturan.
Beberapa dokter dan perawat sedang berkerumun mengelilingi sebuah ranjang besi.
"Tekanan darahnya terus turun Dokter, pendarahannya tidak mau berhenti!" teriak seorang perawat panik.
"Siapkan alat kejut jantung sekarang!" perintah dokter bedah yang memimpin.
Lula menyelinap di antara kaki para perawat itu tanpa disadari oleh siapa pun.
Dia melihat Adrian terbaring kaku dengan kepala diperban dan banyak selang di tubuhnya.
Kabut hitam pekat itu melilit leher dan dada Adrian dengan sangat ketat.
Lula tidak takut sama sekali.
Dia langsung melompat naik ke atas kursi kecil yang ada di dekat ranjang Adrian.
"Hei anak kecil! Sedang apa kamu di sini?!" teriak seorang perawat yang baru menyadari kehadiran Lula.
"Keluar dari sini, ini area terlarang!"
Perawat itu baru saja ingin menarik tubuh Lula.
Namun Lula sudah lebih dulu menempelkan kedua telapak tangannya ke dada Adrian.
"Pergi kau kabut jahat, jangan ganggu Kak Adrianku!" teriak Lula dengan suara melengking.
Lula memejamkan matanya erat-erat dan memfokuskan seluruh energinya.
Cahaya hijau yang sangat terang meledak dari telapak tangannya.
Cahaya itu sangat menyilaukan hingga para dokter dan perawat di ruangan itu harus menutup mata mereka.
Wusss!
Energi hijau itu menghantam kabut hitam di tubuh Adrian dengan sangat kuat.
Kabut itu mendesis keras seolah terbakar lalu hancur berkeping-keping menjadi debu.
Cahaya hijau milik Lula kemudian meresap masuk ke dalam dada dan kepala Adrian.
Energi itu dengan cepat memperbaiki tulang rusuk yang patah dan menghentikan pendarahan di otak Adrian.
Tit tit tit tit.
Suara mesin pendeteksi jantung yang tadinya tidak beraturan kini berubah menjadi sangat stabil.
Layar monitor yang tadinya menunjukkan angka merah kritis perlahan kembali ke angka hijau yang normal.
Semua dokter di ruangan itu menurunkan tangan mereka dan menatap monitor dengan mulut terbuka lebar.
"Ini tidak mungkin, detak jantungnya tiba-tiba stabil," gumam dokter bedah itu tidak percaya.
"Pendarahannya juga berhenti secara ajaib, bagaimana ini bisa terjadi?" tanya perawat yang tadi ingin mengusir Lula.
Lula menarik tangannya dari dada Adrian dengan nafas tersengal-sengal.
Kepalanya terasa sangat pusing dan pandangannya mulai berputar.
Mengobati luka separah ini menguras hampir seluruh tenaganya.
"Kak Adrian sudah sembuh," bisik Lula pelan dengan senyum lemas.
Bruk.
Tubuh kecil Lula ambruk ke belakang dan jatuh dari kursi.
Untungnya Bastian sudah berlari masuk ke dalam ruangan dan berhasil menangkap tubuh Lula sebelum menghantam lantai.
"Lula!" teriak Bastian panik.
Bastian memeriksa denyut nadi adiknya dan bernafas lega saat tahu Lula hanya pingsan karena kelelahan.
Bastian menatap ke arah monitor jantung Adrian dan melihat angka-angka yang sangat stabil.
Kakak keduanya itu meneteskan air mata haru.
"Kau benar-benar malaikat kecil keluarga kami," bisik Bastian sambil memeluk tubuh mungil Lula.
Satu jam kemudian, dokter keluar dari ruang operasi menemui keluarga Ayodhya.
"Ini keajaiban Tuhan Pak Baskoro, pasien tiba-tiba melewati masa kritis dengan sangat cepat," lapor dokter itu takjub.
"Luka di kepalanya juga menutup sendiri secara medis tidak bisa dijelaskan."
"Pasien hanya butuh istirahat beberapa hari untuk pemulihan total."
Arini menangis memeluk suaminya mendengar kabar baik itu.
Cakra dan Dewa langsung berpelukan sambil bersorak kegirangan.
"Syukurlah, Adrian selamat," ucap Baskoro dengan senyum lega.
Namun senyum lega itu perlahan menghilang saat melihat seorang pria berjas rapi berjalan mendekatinya.
Pria itu adalah kepala keamanan Grup Lentera.
"Permisi Pak Baskoro, kami sudah memeriksa bangkai mobil Tuan Adrian," lapor kepala keamanan itu dengan wajah serius.
"Dan apa hasilnya?" tanya Baskoro dingin.
"Kabel rem mobil itu dipotong dengan sangat rapi menggunakan alat pemotong khusus."
"Ini bukan kecelakaan biasa Pak, ada yang sengaja merencanakan pembunuhan ini."
Suasana di lorong rumah sakit itu seketika berubah menjadi sangat mencekam.
Dewa mendecih kesal dan menendang kursi besi di dekatnya.
"Sudah kuduga, ini perbuatan pengecut," geram Dewa marah.
Baskoro mengepalkan kedua tangannya hingga bergetar.
Wajahnya berubah menjadi sangat menakutkan seperti seekor singa yang wilayahnya baru saja diusik.
"Kumpulkan semua orang kita, lacak siapa pemilik truk itu dan periksa semua CCTV di sekitar kantor."
"Aku akan menghancurkan siapa pun yang berani menyentuh anakku," perintah Baskoro dengan nada membunuh.
Pria berjas itu menunduk hormat lalu berbalik pergi untuk melaksanakan perintah.
Keluarga Ayodhya mungkin terlihat seperti pebisnis biasa yang tenang.
Namun jika ada yang berani mengusik anggota keluarga mereka, mereka akan membalasnya berkali-kali lipat lebih kejam.
Dan sekarang, musuh baru saja membangunkan monster yang sedang tertidur lelap.