NovelToon NovelToon
Saving My Ex-Husband

Saving My Ex-Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mafia / Penyelamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hyacinthus Rainwood

IG: @hyacinthschia

Brooklyn dan Liam menikah karena perjodohan demi menyelamatkan keluarga Liam, meski hati pria itu tetap milik Helena. Selama beberapa tahun Brooklyn setia menjaga rumah tangga dengan cinta sendirian, hingga kembalinya Helena memicu perceraian di hari ulang tahunnya.

Brooklyn menghilang dan berubah menjadi agen rahasia, sementara Liam baru menyadari ketulusan Brooklyn serta kebohongan Helena setelah semuanya terlambat. Saat Liam diburu mafia, ia tak menyangka bahwa sosok yang ditugaskan melindunginya adalah mantan istrinya sendiri. Kini, di tengah bahaya yang mengintai, keduanya terpaksa berhadapan kembali dengan masa lalu yang belum selesai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Serpihan yang Melukai

Pagi harinya, Liam terbangun dengan kepala yang berdenyut hebat dan perut yang terasa mual luar biasa akibat alkohol yang ia konsumsi berlebihan semalam. Ia terbaring lemas di ranjangnya, wajahnya pucat, keringat dingin membasahi dahinya, sementara rasa mual terus menggerogoti perutnya setiap kali ia mencoba bangkit.

Brooklyn, yang mendengar suara erangan dari kamar Liam ketika ia melewati koridor, memutuskan untuk memeriksa keadaan suaminya meski hubungan mereka masih sedingin es sejak insiden tamparan beberapa hari lalu. Terlepas dari segala luka yang telah ia terima, naluri kepeduliannya sebagai seorang istri masih belum sepenuhnya padam.

Ia mengetuk pintu kamar Liam pelan sebelum membukanya sedikit. "Liam? Kau baik-baik saja?"

"Pergi," jawab Liam lemah, suaranya serak dan penuh penderitaan. "Aku hanya ingin sendirian."

Namun Brooklyn tidak menggubris permintaan itu. Ia melangkah masuk, mendapati Liam meringkuk di ranjangnya dengan wajah pucat pasi, tangannya memegangi perutnya sendiri yang jelas terlihat kesakitan.

"Kau terlihat sangat pucat," ucap Brooklyn, mendekat meski hati-hati. "Aku akan buatkan bubur untukmu. Itu bisa membantu meredakan mualmu dan mencegah asam lambungmu naik lebih parah."

"Aku bilang aku tidak butuh apa pun darimu," gumam Liam, meski suaranya terlalu lemah untuk terdengar tegas seperti biasanya.

Brooklyn tidak menjawab lagi. Ia berbalik dan berjalan menuju dapur, memutuskan untuk tetap melanjutkan niatnya meski tahu kemungkinan besar usahanya akan berakhir sia-sia seperti yang sudah-sudah. Namun ada bagian dari dirinya yang tetap tidak bisa membiarkan seseorang menderita kesakitan tanpa mencoba membantu, terlepas dari bagaimana perlakuan yang ia terima sebagai balasannya.

...***...

Setengah jam kemudian, Brooklyn kembali menuju kamar Liam dengan semangkuk bubur ayam hangat yang telah ia siapkan dengan tambahan jahe dan sedikit kunyit—resep yang dipercaya bisa meredakan mual dan menenangkan lambung yang teriritasi oleh alkohol.

Ia membawa nampan itu dengan hati-hati, membuka pintu kamar Liam yang masih terbaring lemas di ranjangnya.

"Liam, aku bawakan bubur untukmu. Ini akan membantu meredakan mualmu," ucap Brooklyn lembut, meletakkan nampan di meja samping ranjang.

Liam membuka matanya perlahan, wajahnya masih pucat dan penuh peluh. Untuk sesaat, ia hanya menatap mangkuk bubur itu dalam diam, seolah mempertimbangkan sesuatu. Namun rasa frustrasi akibat kondisi fisiknya yang tidak nyaman, ditambah dengan kebencian yang masih membara terhadap situasi pernikahannya, membuat kesabarannya kembali runtuh.

"Aku sudah bilang aku tidak membutuhkan apa pun darimu!" bentaknya tiba-tiba, meski suaranya masih terdengar lemah akibat kondisi fisiknya. Dengan gerakan tangan yang kasar, ia menyambar mangkuk bubur itu dari nampan dan melemparkannya ke arah lantai.

Mangkuk keramik itu jatuh dengan suara keras, pecah berkeping-keping, buburnya yang hangat tumpah dan bercampur dengan serpihan-serpihan tajam yang berserakan di lantai marmer.

"Liam!" seru Brooklyn, terkejut sekaligus lelah dengan pengulangan pola yang sama ini. "Kenapa kau selalu—"

"Karena aku tidak memintanya!" potong Liam, suaranya kini lebih keras meski tubuhnya masih lemas karena mual. "Berapa kali aku harus mengatakannya sebelum kau berhenti mencoba, Brooklyn? Aku tidak ingin bubur ini, aku tidak ingin perhatianmu, aku tidak ingin apa pun darimu!"

Brooklyn menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri dari amarah yang mulai menggelegak di dadanya. Namun alih-alih membalas dengan kata-kata, ia memilih untuk tetap fokus pada kondisi Liam yang jelas masih membutuhkan bantuan, terlepas dari sikap kasarnya.

"Baiklah," ucap Brooklyn akhirnya, suaranya terdengar lelah namun tetap tenang. "Aku tidak akan memaksamu makan bubur itu lagi. Tapi setidaknya biarkan aku membantumu kembali berbaring dengan benar. Kau terlihat sangat lemas."

Liam mencoba bangkit sendiri dari posisi setengah duduknya, namun tubuhnya yang masih lemas akibat mual dan pengaruh alkohol membuatnya sempoyongan. Brooklyn segera mendekat, mencoba membantu menopang tubuh Liam agar tidak terjatuh.

"Pegangan padaku," ucap Brooklyn, melingkarkan salah satu lengan Liam di bahunya sendiri untuk membantunya berdiri dan berjalan kembali ke ranjang yang lebih nyaman.

Namun Liam, yang masih diliputi amarah dan rasa frustrasi terhadap kondisinya sendiri, tiba-tiba mendorong tubuh Brooklyn menjauh dengan kasar.

"Aku bilang aku tidak butuh bantuanmu!" bentaknya, dorongan itu cukup keras hingga membuat Brooklyn kehilangan keseimbangan dan terhuyung mundur beberapa langkah.

Brooklyn mencoba menahan tubuhnya agar tidak jatuh, namun kakinya yang bergerak mundur tanpa sengaja menginjak salah satu serpihan mangkuk yang pecah tadi. Rasa sakit tajam segera menjalar dari telapak kakinya ketika pecahan keramik itu menembus kulitnya, membuatnya meringis keras sambil kehilangan keseimbangan sepenuhnya.

"Aduh!" jeritnya, jatuh terduduk di lantai dengan tangan yang refleks menahan tubuhnya sendiri, namun sialnya, telapak tangannya juga mendarat tepat di atas serpihan keramik lain yang tajam, membuat kulitnya tergores cukup dalam hingga darah segera merembes keluar dari lukanya.

Rasa perih dari dua luka sekaligus—di telapak kaki dan telapak tangannya—membuat Brooklyn menahan napas, matanya berkaca-kaca menahan sakit yang cukup hebat. Ia menatap ke arah Liam, berharap sedikit saja kekhawatiran atau rasa bersalah akan muncul di wajah suaminya melihat kondisinya yang terluka akibat dorongannya.

Namun yang ia dapati hanyalah punggung Liam yang berbalik, melangkah kembali menuju ranjangnya sendiri tanpa menoleh sedikit pun ke arah Brooklyn yang masih terduduk kesakitan di lantai yang berserakan pecahan keramik dan bubur yang sudah dingin.

"Liam..." panggil Brooklyn lirih, suaranya bergetar antara rasa sakit fisik dan kepedihan yang jauh lebih dalam.

Namun Liam tidak menjawab. Ia hanya merebahkan dirinya kembali ke ranjang, menarik selimut hingga menutupi tubuhnya, seolah tidak ada apa pun yang terjadi di ruangan itu barusan—seolah istrinya yang terluka karena tindakannya sendiri bukanlah sesuatu yang pantas mendapatkan perhatian atau kepeduliannya.

Brooklyn duduk sendirian di lantai untuk beberapa saat, menatap luka di telapak tangannya yang terus mengeluarkan darah, dan luka di telapak kakinya yang berdenyut nyeri setiap kali ia mencoba menggerakkannya. Ia menghela napas panjang, mengumpulkan kekuatan yang tersisa untuk bangkit sendiri, karena jelas tidak akan ada bantuan yang datang dari pria yang tertidur membelakanginya di ranjang.

Dengan susah payah, ia berdiri dan melangkah pincang menuju kamar mandi terdekat, membersihkan luka-lukanya sendiri dengan air hangat dan antiseptik yang ia temukan di lemari obat. Setiap sentuhan kapas pada lukanya terasa perih, namun rasa sakit fisik itu tidak sebanding dengan kepedihan yang terus menggerogoti hatinya.

Ketika ia selesai membalut luka-lukanya dengan perban seadanya, Brooklyn duduk di tepi bak mandi, menatap refleksinya sendiri di cermin besar kamar mandi itu. Wajahnya terlihat lelah, matanya sembab menahan tangis yang terus ia coba tahan sejak insiden barusan.

"Sampai kapan aku harus terus seperti ini?" bisiknya pada bayangannya sendiri, suaranya nyaris tidak terdengar di ruangan yang sunyi itu. "Sampai kapan aku harus terus menerima semua ini, hanya untuk dibalas dengan ketidakpedulian yang semakin menyakitkan setiap harinya?"

Tidak ada jawaban yang datang, hanya kesunyian kamar mandi yang dingin menemani kepedihannya malam itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!