Luna meninggal tepat di usianya yang masih tergolong muda, percintaan juga kehidupan yang tak pernah memihaknya membuatnya jatuh terperangkap semakin dalam pada dusta.
Tidak ada yang berjalan baik dalam kehidupannya, namun sebuah keajaiban membuatnya memiliki satu kesempatan untuk mengulang segala hal dan merubahnya menjadi lebih baik.
"Aku.... aku masih hidup?" ucap Luna dengan raut wajah yang tak percaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja liana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
"Katakan siapa kamu sebenarnya?" ucap Sagara dengan raut wajah yang serius.
Luna yang tak tahu harus memberikan alasan apa kepada Sagara saat ini, lantas langsung mendorong tubuh Sagara sedikit menjauh sambil kemudian tertawa canggung dan mulai berdalih.
"Hahahaha bicara apa kau ini, tentu saja aku Luna, emangnya siapa lagi? Bercanda mu benar-benar tidak lucu Saga..." ucap Luna sambil tertawa cengengesan. "Sebaiknya aku harus segera pergi, sebelum Sagara kembali melontarkan pertanyaan yang aneh-aneh." ucap Luna dalam hati sambil mengambil langkah kaki besar meninggalkan Sagara di sana.
Sagara yang tahu Luna menghindarinya, sama sekali tak membuat Sagara mencegah kepergian Luna. Sagara jelas tahu bagaimana sifat Luna, jika ia terus mencercanya tentu gadis itu akan semakin menghindarinya sebelum ia berhasil menemukan sesuatu yang aneh dari diri Luna.
"Aku yakin ada yang aneh, apa jangan-jangan..." ucap Sagara sambil menatap punggung Luna yang semakin kabur dari pandangannya.
***
Apartment Arkan
Terlihat raut wajah kesal nampak terbit dari wajah Arkan kala itu, perubahan sikap Luna yang tiba-tiba membuat Arkan bertanya-tanya tanpa bisa mendapatkan jawaban yang pasti sedari tadi.
"Ada sesuatu yang berbeda dan aku yakin itu? Tapi apa mungkin Luna sudah menyadarinya?" ucap Arkan bergumam sedari tadi sambil terus berpikir apa alasan perubahan sikap Luna kepadanya.
Sebuah tangan lembut perlahan mengalun di pinggang Arkan, membuat pemuda itu tersadar dari lamunannya.
"Apa yang kamu risaukan sedari tadi? Bukankah kita di sini untuk bersenang-senang?" ucap Rachel dengan nada yang menggoda, membuat Arkan langsung tersenyum tipis kemudian sepersekian detik membuang muka.
"Jangan mengganggu ku, aku sedang kesal saat ini." ucap Arkan dengan nada yang ketus membuat Rachel langsung mengernyit dengan raut wajah yang bingung.
"Ada apa Ar? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Rachel dengan nada sensual yang menggoda sambil terus bermain di dada bidang milik Arkan.
Arkan bangkit dari tempatnya sambil menepis tangan Rachel dengan kesal.
"Ada sesuatu yang berbeda, maksut ku... Ada yang aneh dengan Luna dan rasanya seperti bukan Luna yang ku kenal." ucap Arkan dengan raut wajah yang gelisah.
Rachel yang mendengar hal tersebut hanya tersenyum tipis kemudian bangkit dari tempat duduknya dan mengambil ponsel miliknya.
"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Arkan dengan raut wajah yang mengernyit.
"Tentu saja menelpon Luna sekaligus membuktikan kepadamu bahwa dia tetap dan masih gadis bodoh yang berada dalam cengkraman kita." ucap Rachel dengan penuh percaya diri.
Rachel mulai menekan tombol di ponselnya dan menelpon Luna saat itu. Deringan pertama, deringan kedua, dan di lanjut deringan ketiga tak kunjung ada jawaban di seberang sana. Hal tersebut membuat Rachel mulai bertanya-tanya apa yang sedang terjadi sebenarnya, padahal biasanya tak butuh waktu lama jika Rachel yang menelpon Luna pasti akan langsung mengangkatnya sesibuk apapun Luna.
Sampai pada akhirnya entah deringan yang kesekian kalinya, sebuah suara ketus terdengar menggema di ruangan tersebut tatkala Rachel menyalakan pengeras suara di ponselnya.
"Hai Lun..." ucap Rachel kemudian
"Ada apa?" jawab Luna dengan nada suara yang ketus, membuat keduanya saling menatap satu sama lain.
"Emmm apakah kamu dan Arkan sedang bertengkar? Aku dengar rencana makan malam anniversary kalian gagal ya? Apa ada sesuatu?" ucap Rachel kemudian.
"Ah.. Kau menelpon ku malam-malam hanya karena ini?" ucap Luna dengan nada yang malas sambil sesekali menguap.
"Maksudnya Lun?" ucap Rachel tak mengerti.
"Gak ada maksud lain, yang jelas aku enggan membahas masalah ini apalagi menerima telpon gak penting malam-malam begini. Sudah dulu ya.. Ngantuk berat ni.." ucap Luna sambil mengakhiri panggilan telponnya begitu saja, membuat Rachel lantas di buat melongo karenanya.
"Tapi Lun.. Halo... Halo... Halo... Aishhh sialan!" pekik Rachel dengan kesal begitu tahu panggilan telpon darinya di tutup begitu saja.
"Apa aku bilang? Bukankah sebelumnya sudah ku katakan kepadamu jika ada yang aneh dengan Luna..." ucap Arkan kemudian sambil memegang kedua pundak Rachel dengan lembut.
"Jelas ada yang berubah darinya, apa dia sudah tahu tentang rencana kita? Tapi bukankah itu mustahil, rencana ini sudah kita susun sejak lama dan tidak ada yang tahu kecuali kita berdua. Atau jangan-jangan..." ucap Rachel sambil menatap ke arah Arkan dengan rasa curiga.
"Jangan gila kamu! Apa aku sebodoh itu melepas umpan yang besar? Lagi pula apa untungnya buat ku?" ucap Arkan segera menepis tuduhan Rachel.
"Jika bukan kamu lalu siapa lagi coba?" ucap Rachel sambil mengusap rambutnya dengan acak-acakan.
****
Kediaman Amera
Setelah menutup panggilan dari Rachel secara sepihak, Luna kemudian membaringkan tubuhnya di kasur kesayangan yang sudah lama sekali baru ia rasakan kembali, itupun tepat setelah ia di beri kesempatan kembali ke masa lalu.
Ditatapnya langit-langit kamar dengan tatapan yang penuh tanda tanya, Luna mengulum setiap benang kehidupannya yang baru saja terjadi begitu saja dan lantas menariknya mundur kembali.
Sambil menghembuskan napasnya kasar, gadis itu nampak bangkit dan duduk dengan helaan napas yang besar.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Sagara kala itu, setelah pertengkaran kami waktu itu..aku tidak pernah melihat Sagara lagi. Apa yang aku lewatkan waktu itu?" ucap Luna bertanya-tanya sendiri tanpa bisa mengetahui apa jawaban dari pertanyaannya barusan.
"Argggg Luna.. Luna...bodoh sekali kamu sih, mengapa kamu bisa melewatkan hal penting seperti ini dan malah mengejar Arkan seperti orang bodoh dan juga buta. Benar-benar menyebalkan kau Lun!" ucap Luna dengan kesal sambil mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kasar.
***
Sementara itu di kediaman milik Sagara
Suasana kamar tanpa penerangan membuat kesan misterius tak kala seorang pria nampak duduk di sebuah kursi sambil memegang gelas kaca berisi wine di dalamnya.
Sagara nampak meneguk sedikit wine tersebut kemudian menatap gelasnya dengan tatapan yang kosong. Sebuah perasaan tak karuan lagi-lagi muncul memutari benaknya saat ini, ia jelas tahu apa yang telah ia lakukan selama ini, namun lagi dan lagi ia harus menelan pil pahit karena mungkin usahanya kali ini akan kembali gagal.
"Ada yang berbeda dari Luna, aku tahu itu bukan Luna yang biasanya..." ucap Sagara sambil kembali meneguk wine di gelasnya.
Sagara bangkit dari tempat duduknya kemudian menatap ke arah jendela kamarnya dengan tatapan yang entah apa maksud dari tatapan tersebut.
"Kali ini aku tidak boleh gagal, aku sudah mencobanya kesekian kali dan aku terjebak kembali di sini bahkan sebelum aku memulainya, kali ini aku tidak boleh gagal melindungi Luna.. Ya, aku tidak boleh gagal lagi." ucap Sagara dengan tatapan lurus ke depan.
Bersambung