NovelToon NovelToon
Gadis Barbar Kesayangan Ketos Dingin

Gadis Barbar Kesayangan Ketos Dingin

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Ketos / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Desty Haris Wahyuni

kalau adaa yang salah atau enggk nyambung ceritanyaa maapp yaaaahhh soalnya baru pertama bikin cerita kayak ginii (⁠◠⁠‿⁠◕⁠)


Siapa sangka gadis yang berisik, ceroboh, dan selalu bikin keributan itu justru jadi satu-satunya yang bisa meluluhkan hati ketua osis paling dingin, cuek, dan ditakuti seantero sekolah?


Dari yang saling tak suka, jadi tak bisa terpisahkan. Ini kisah gadis barbar yang mencuri hati ketos dingin yang tak pernah tersenyum pada siapa pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RUMAH BARU KITA.

Hari-hari setelah itu terasa kayak mimpi yang nggak mau bangun. Kita pindah ke rumah yang enggak terlalu besar tapi nyaman — dindingnya bersih, jendelanya terbuka lebar, dan setiap sudutnya kita isi bareng-bareng.

Pagi pertama di rumah baru, gue bangun lebih dulu. gue pergi ke dapur niat nya mau bikin sarapan buat arka tapi pas gue kedapur gue ingat gue enggak bisa masak.

jadinya yaa, kalian tau sendiri lah kan. hehe

Krak!

Panci terjatuh, sendok jatuh, tepung berterbangan kayak salju!. dan dapur yang udah mirip kayak kapal pecah.

Arka muncul di ambang pintu dapur, rambutnya sedikit berantakan, baju tidurnya kusut. Natap gue yang berdiri di tengah kekacauan, berdebu dari ujung kepala sampai kaki.

"Lo lagi bikin sarapan atau bikin badai?" tanyanya tenang, tapi sudut bibirnya naik.

Gue cemberut, tepuk tangan biar debunya turun. "Sarapan! Tadi mau bikin roti telur… eh luncur!"

Arka ketawa pelan, mendekat, ambil kain lalu bersihkan ujung hidung gue yang putih kena tepung. "Sudah, gue yang masak. Lo duduk aja di meja makan, jangan kemana-mana."

"Eh gue bisa kok!" protes gue, walaupun dalam hati gue sedikit meringis melihat dapur yang kayak kapal pecah tersebut.

"Gue tahu lo bisa," dia kecup kening gue pelan. "Tapi hari ini giliran gue. Lo jadi penonton aja."

Gue duduk manis, natap dia bergerak tenang di dapur. Ternyata dia jago masak! Telur matang pas, roti garing, susu hangat — semuanya rapi di meja dalam sepuluh menit.

"Lo jago banget?!" gue melotot.

Arka senyum malu. "Dulu sendirian di rumah, jadi gue belajar sendiri. tapi Sekarang… udah ada lo buat makan bareng, rasanya beda."

Siangnya, keluarga datang berkunjung — rame banget! Mama sama Mommy Amara langsung cek dapur, kamar, halaman, sambil ngobrol tanpa henti. Papa sama Daddy Daffa duduk di teras, ngopi, cerita soal masa muda mereka. Abang Daniel jalan keliling rumah, natap setiap sudut.

"Rumahnya bagus… dan nyaman," kata Daniel sambil tersenyum. "Arka jaga adik gue baik-baik ya?"

Arka mengangguk mantap. " iyaaa kak, aman. "

Sore itu, Raka sama Dito datang bawa kue lagi — kali ini tulisannya: "RUMAH TANGGA BUKAN LAPANGAN LARI!" 😂

Raka ketawa ngakak. "Pesan khusus dari kami! Kalau ribut, lapor kami, kami jadi penengah!"

Dito tambahin: "Tapi kalau Luna yang bikin ribut, kami pihak Luna!"

Gue tertawa sampai terbahak-bahak. "Nah itu baru benar!" 😆

Arka geleng-geleng kepala, tapi senyumnya lebar banget. "Baiklah, kalian selalu di pihak Luna. jadi nya Gue yang kalah terus."

Malamnya, setelah semua orang pulang, kita duduk di teras berdua. Udara sejuk, bintang bersinar terang. Arka pegang tangan gue erat.

"Lo bahagia di sini?" tanyanya pelan.

Gue sandarkan kepala ke bahunya. "Bahagia banget. Rumah ini kecil, tapi penuh. Penuh tawa, penuh perhatian, penuh… kita."

Dia diam sebentar, lalu bicara pelan: "Dulu gue pikir rumah itu cuma tempat tidur. Tempat sepi, tenang, sendirian. Sekarang gue tahu — rumah itu tempat lo ada. Di mana lo ada, di situ rumah gue."

Gue mendongak, natap matanya. "Arka… lo bikin gue mau nangis nih."

Arka senyum, usap pipi gue lembut. "Nangis boleh, tapi jangan sedih ya. Kita harus selalu bahagia walaupun nanti banyak kerikil- kerikil nya rumah tangga, tapi gue harap kita bisa lalui itu bersama.

" Luna," panggil arka pelan.

Luna menoleh pelan dan menatap arka lalu men jawab panggilan arka tadi, " iyaa, kenapa?"

arka natap Luna lembut dan bilang"sekarang panggilan lo harus ganti jadi aku kamu kalau kita pakai kata lo gue rasanya kurang nyaman aja gituh."

"hmm, okay gue akan usaha in pakai kata aku kamu mulai sekarang.

malam itu gue tidur dipelukan arka, nyaman, tenang dan damai. dulu gue takut, takut enggak cukup baik, dan takut di tinggal.

JANGAN LUPA BUAT, VOTE, LIKE, SUBSCRIBE DAN KOMEN YAH TEMAN" 😙😙😙😙

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!