Hidup Zheana berubah di saat harus menggantikan sang Kakak menikah. Niken kabur di saat hari pernikahan dengan Khadafi.
Ibunya mengamuk dan malah menyalahkan Zheana atas apa yang terjadi. Zheana bahkan di maki dan di siksa ibunya, Khadafi yang tak tega melihat Zheana membawa dia pergi dari sana.
Mereka tinggal di Apartemen milik Khadafi yang sudah di persiapkan sebelumnya. Rupanya kelembutan Zheana mengubah hati Khadafi dan mulai mencintai istrinya. seperti yang di katakan Umi dan Abinya, jika ini adalah jalan Allah SWT untuk menunjukkan jodoh Khadafi.
Selama pernikahan tak semulus itu, karena ibunya Zheana masih terus membencinya. saat Zheana hamil, rupanya Niken kembali. Apakah Khadafi akan kembali kepada Niken?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zheana 14
Zheana merasa seluruh tubuhnya tak memiliki kekuatan yang sama dengan sebelumnya. Kenyataan yang tiba-tiba benar-benar mengubah hidupnya. Tuhan memberikan takdir yang tak pernah dia kira sebelumnya. Menikah dengan Khadafy, calon suami kakaknya sekaligus atasannya di kanto. Tak pernah dia bayangkan sebelumnya, apalagi melihat keduanya saling mencintai. Namun, sekarang kurang dari tiga jam kedepan, dia akan menjadi istri Khadafy, apa yang akan terjadi dengan pernikhan mereka yang serba dadakan ini?
Mbak Siska langsung menutup pintu rapat-rapat. Bersama asistennya, wanita perias itu bertindak secepat kilat membuka koper alat kosmetiknya.
"Mbak Zheana, tolong duduk di sini. Kita cuma punya waktu kurang dari empat puluh menit sebelum rombongan berangkat ke gedung," ujar Mbak Siska dengan napas terengah-engah.
Zheana duduk di depan cermin besar. Ia menatap gaun pengantin mewah milik Niken yang tergantung di sudut ruangan kamar Niken, gaun berbahan lace transparan dengan potongan dada rendah dan punggung terbuka.
"Mbak... gaun Kak Niken terlalu terbuka," bisik Zheana gemetar, matanya menatap gaun itu dengan cemas.
"Zheana nggak biasa pakai baju seperti itu..."
Tok! Tok! Tok!
Pintu kamar terketuk pelan, lalu terbuka. Umi Rina melangkah masuk membawa sebuah kotak besar berbalut kain beludru, didampingi seorang asisten keluarga.
"Umi..." panggil Zheana lirih.
Umi Rina tersenyum hangat, melangkah mendekati Zheana lalu mengusap lembut bahu gadis itu.
"Jangan khawatir, Nak. Mas Khadafymu yang minta Umi langsung membawa ini ke atas."
Mbak Siska dan Zheana tertegun. Umi Rina membuka kotak beludru tersebut, mengeluarkan sestel kebaya pengantin berwarna putih gading yang sangat anggun, lengkap dengan kain batik prada dan hijab satin sutra yang senada.
"Khadafy tahu gaun Niken sangat terbuka dan tidak sesuai denganmu," tutur Umi Rina dengan binar mata penuh kasih sayang.
"Tadi sebelum kita berangkat dari rumah, Khadafy sendiri yang minta Umi menyiapkan kebaya tertutup ini. Kebaya ini sebenarnya disiapkan Umi untuk acara syukuran, tapi ukurannya pas dan dijahit sangat santun. Khadafy bilang, dia ingin istrinya tampil terhormat dan menutup aurat dengan sempurna di pelaminan. Dan rupanya pemilik kebaya yang Khadafy siapkan ini adalah kamu, Nak..."
Mendengar ucapan Umi Rina, dada Zheana berdesir hebat. Ada rasa hangat yang tak terduga menyusup ke hatinya. Pria dingin yang baru saja menyetujui pernikahan ini ternyata begitu memperhatikan kehormatan dan kenyamanannya.
"Terima kasih banyak, Umi..." ucap Zheana tulus, matanya berkaca-kaca.
"Sama-sama, Sayang. Mbak Siska, tolong bantu Zheana mengenakan kebaya ini ya," pimpin Umi Rina anggun sebelum melangkah keluar kamar.
"Siap, Bu!" sahut Mbak Siska dengan mata berbinar kagum.
"Wah, Mas Khadafy perhatian banget ya, Mbak Zheana. Yuk, kita bersiap!"
Tangan-tangan terampil MUA mulai menari di wajah Zheana. Riasan lembut yang memancarkan kecantikan alami dipadukan dengan jilbab putih gading yang tertata rapi serta ronce melati segar yang melingkar di kepala. Kebaya putih gading berpayet halus itu melekat sempurna di tubuh Zheana, tampak sangat bersahaja, terhormat, dan memesona.
Sementara itu, di lantai bawah, Khadafy melangkah kembali ke dalam rumah setelah mematikan telepon dari sekretarisnya mengenai pembatalan seluruh akses kartu kredit atas nama Niken.
Abi Haris menepuk pundak Khadafy. "Kebaya dari Umi sudah diantar ke atas?"
"Sudah, Abi," jawab Khadafy singkat dan datar, merapikan lengan beskap putihnya.
"Zheana tidak akan nyaman dengan gaun Niken."
Pak Bagas tak henti-hentinya mengusap air mata kepasrahannya seraya duduk di dekat Abi Haris.
"Pak Haris... saya tidak tahu harus mengganti rugi dengan apa atas kelakuan Niken... Saya benar-benar malu..."
Abi Haris menepuk pundak Pak Bagas dengan tegas.
"Sudah, Pak Bagas. Jangan bahas Niken lagi. Wanita yang meninggalkan tanggung jawabnya di menit terakhir bukan wanita yang layak masuk ke keluarga kami. Allah sudah menggantinya dengan Zheana, dan saya yakin ini pilihan terbaik."
Di sudut lain, Bu Irma berusaha bangkit dari lantai, merapikan kebayanya yang kusut. Wajahnya yang tebal oleh riasan kini pudar dan terlihat menyedihkan. Ia menatap Umi Rina yang sedang sibuk menelepon pihak pengelola gedung pernikahan.
"Jeng Rina..." panggil Bu Irma terbata-bata, mencoba mencairkan suasana.
"Bagaimana dengan para tamu? Nama di prasasti dan buku tamu kan nama Niken..."
Umi Rina menurunkan ponselnya dari telinga, lalu menatap Bu Irma dengan pandangan dingin yang membuat Bu Irma mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"Semua papan bunga dan nama pengantin di layar LED gedung sedang diubah oleh orang-orang kami sekarang, Bu Irma," jawab Umi Rina datar dan lugas.
"Penghulu juga sudah diberi tahu mengenai pergantian identitas pengantin wanita. Kami keluarga pengusaha, kami terbiasa mengatasi krisis dalam hitungan menit. Yang penting bagi kami sekarang adalah mental Zheana, bukan gengsi."
Terdengar langkah kaki tegap Khadafy melangkah ke luar menuju teras depan untuk menerima telepon dari sekretaris pribadinya.
"Bagaimana, Hendra?" tanya Khadafy dingin, menempelkan ponsel ke telinganya.
"Pak Khadafy, pelacakan tiket atas nama Niken dan Rico sudah terkonfirmasi. Mereka berada di penerbangan Air France pukul delapan pagi ini menuju Paris," pakaikan laporan dari sekretarisnya di ujung telepon.
"Apakah Bapak mau saya kirim petik pengamanan bandara untuk mencegat mereka sebelum boarding?"
Khadafy memejamkan mata sejenak, mengepalkan jemarinya. Bayangan keputusasaan Zheana dan wajah hancur Pak Bagas melintas di pikirannya. Namun, alih-alih meluapkan amarah, Khadafy justru menghembuskan napas panjang.
"Tidak perlu," jawab Khadafy singkat dan tegas.
"Bapak yakin? Wanita itu sudah membawa lari perhiasan dan—"
"Biarkan dia pergi," potong Khadafy tanpa ragu.
"Batalkan semua akses kartu kredit yang pernah saya berikan atas nama Niken. Blokir seluruh aksesnya. Mulai detik ini, nama Niken tidak ada hubungannya lagi dengan saya maupun keluarga saya."
"Baik, Pak Khadafy. Dilaksanakan."
Bu Irma yang menyaksikan perbincangan itu dengan napas memburu, mendadak tidak sanggup menahan rasa dengki dan gengsi yang membakar dadanya. Ketika melihat semua orang begitu memuliakan Zheana, anak tiri yang selama ini hanya ia jadikan pelayan dan tak pernah dia sayangi seperti saat awal pernikahannya dengan Pak Bagas, otaknya yang licik mencari cara terakhir untuk menjatuhkan Zheana.
"Pak Haris! Jeng Rina! Tolong jangan tertipu!" teriak Bu Irma tiba-tiba, melangkah maju dengan wajah histeris dan telunjuk mengacung ke arah lantai atas.
"Saya yakin ini semua akal-akalan Zheana! Anak itu diam-diam iri setengah mati sama Niken! Dia pasti yang menghasut Niken supaya kabur, biar dia bisa ambil posisi Niken dan nikah sama Mas Khadafy yang kaya raya!"
Suasana ruang tamu seketika membeku. Pak Bagas berdiri seraya menunjuk istrinya dengan tubuh gemetaran akibat amarah yang tak tertahankan lagi.
"Irma! Cukup! Kamu sudah gila, ya?!"
"Aku nggak gila, Mas!" jerit Bu Irma makin melengking, sama sekali tidak peduli pada tatapan sinis kerabat keluarga besar Khadafy.
"Mana ada kejadian serba pas begini?! Niken kabur, terus tiba-tiba Zheana sok-sokan jadi penyelamat?! Padahal dari awal anak tiri itu memang kecentilan! Dia pasti sengaja cari perhatian sama keluarga Pak Haris!"