Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Nadin mengerutkan keningnya, sedikit terkejut melihat perubahan emosi Tommy yang terlihat sangat nyata.
"Iya, gue mau dengar penjelasan logis lo," jawab Nadin tidak mau kalah.
Tommy menundukkan pandangannya menatap gambar di atas meja itu.
"Waktu aku masih kecil, almarhum kakekku sering menemaniku belajar," ucap Tommy memulai kebohongannya.
"Setiap kali aku tidak bisa mengerjakan PR matematika dan mulai menangis, kakek selalu mengajariku menggambar pola ini."
"Pola apa maksud lo?" tanya Nadin bingung.
"Kakek bilang, ini adalah pola jaring laba-laba ajaib untuk menangkap pikiran yang kusut," jawab Tommy dengan wajah sendu.
"Setiap kali aku panik atau stres, tangan aku akan otomatis menggambar pola jaring ini untuk menenangkan diri."
Nadin terdiam seribu bahasa mendengar penjelasan yang sama sekali tidak berhubungan dengan matematika itu.
"Jadi... lo cuma menggambar jaring laba-laba masa kecil lo?" tanya Nadin memastikan.
"Iya, Din," angguk Tommy pelan.
"Kemarin di panggung aku sangat takut ditertawakan satu sekolah, makanya aku refleks menggambar itu di papan tulis."
"Lalu angka dua puluh delapan itu?" desak Nadin belum menyerah sepenuhnya.
"Aku sudah jujur, itu tanggal lahir kucingku yang mati ditabrak mobil tahun lalu," jawab Tommy sambil memaksakan senyum sedih.
"Aku menulisnya karena aku ingat kakek dan kucingku di saat aku sedang ketakutan di atas panggung."
Nadin menyandarkan kepalanya ke tangan dengan sangat lemas.
Logikanya sebagai siswi terpintar di sekolah seakan hancur berkeping-keping berhadapan dengan alasan emosional anak bodoh ini.
Semua analisis matematisnya tentang kurva probabilitas menjadi tidak berguna.
"Apakah mungkin gambar kurva probabilitas itu secara kebetulan memang mirip dengan pola jaring laba-laba?" batin Nadin bimbang.
Peluangnya sangat kecil, tapi di dunia ini tidak ada yang sepenuhnya mustahil.
Ditambah lagi, rekam jejak Tommy selama dua tahun ini memang membuktikan bahwa anak ini benar-benar tidak bisa matematika dasar.
"Gue... gue gak tahu lagi harus ngomong apa," ucap Nadin akhirnya menyerah dengan wajah lelah.
"Maaf kalau aku bikin kamu pusing, Din," kata Tommy pura-pura bersalah.
"Ya udah, lo boleh pulang sekarang," usir Nadin sambil merapikan kertasnya.
Tommy segera berdiri dari kursinya dan berjalan keluar dari perpustakaan dengan langkah pelan.
Begitu ia membelakangi Nadin, senyum sedih di wajahnya langsung lenyap seketika.
Senyuman dingin dan penuh perhitungan kembali menghiasi bibirnya.
"Gadis pintar yang terlalu mengandalkan logika akan selalu kalah dengan manipulasi emosi dasar," batin Tommy puas.
Ia terus berjalan keluar gerbang sekolah dan menuju jalan raya untuk pulang ke rumah.
Drrrt! Drrrt!
Ponsel murah di saku celananya tiba-tiba bergetar panjang.
Tommy mengeluarkan ponselnya dan melihat sebuah notifikasi berita terkini dari portal berita nasional.
[BREAKING NEWS: KPK Geledah Kantor Pusat PT Bangun Persada Terkait Dugaan Buku Besar Ganda.]
Mata Tommy berbinar membaca tajuk berita utama tersebut.
Ia mempercepat langkah kakinya menuju rumah, tidak sabar ingin melihat hasil karyanya.
Setibanya di kamar, ia langsung menghidupkan komputer rakitannya.
Wunggg.
Ia membuka jaringan proksi dan masuk ke dalam forum peretas anonim.
Di kotak masuknya, terdapat sebuah pesan baru dari klien yang membeli data PT Bangun Persada malam sebelumnya.
"Kerja yang sangat rapi dan brilian, Tuan Blank."
"Data yang Anda berikan sangat valid dan langsung kami kirimkan ke pihak berwajib pagi ini."
"Perusahaan saingan kami itu kini sudah tamat riwayatnya berkat Anda."
Tommy membaca pesan itu dan langsung membalasnya dengan singkat.
"Senang berbisnis dengan Anda, jaga kerahasiaan transaksi ini."
Klik.
Setelah mengirim balasan, Tommy beralih membuka situs berita siaran langsung di perambannya.
Layar komputernya kini menampilkan tayangan langsung dari depan gedung mewah PT Bangun Persada.
Puluhan wartawan dengan kamera menyala terlihat berdesakan di depan pintu lobi utama gedung tersebut.
"Pemirsa, saat ini kami melaporkan langsung dari kantor pusat PT Bangun Persada," ucap seorang reporter wanita di layar.
"Pihak kepolisian dan komisi antirasuah baru saja menyita puluhan kotak dokumen dari dalam gedung."
Kamera berita itu kemudian bergeser menyorot pintu kaca lobi yang terbuka.
Beberapa petugas kepolisian berjalan keluar mengawal seorang pria paruh baya yang memakai rompi tahanan berwarna oranye.
Pria itu adalah Haris Wijaya, ayah dari Bagas.
Wajah angkuh pria itu kini terlihat sangat pucat dan hancur saat kilat lampu kamera wartawan menyambar ke arahnya.
"Bapak Haris, apa tanggapan Anda soal tuduhan penggelapan pajak triliunan rupiah ini?" teriak seorang wartawan.
Haris Wijaya hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Di sudut layar televisi, Tommy tiba-tiba melihat sebuah pemandangan yang sangat menarik.
Bagas yang masih mengenakan seragam SMA terlihat menerobos kerumunan wartawan dengan wajah penuh air mata.
"Papa! Papa!" teriak Bagas histeris mencoba mendekati polisi yang membawa ayahnya.
Namun tubuh preman sekolah itu langsung ditahan oleh dua orang petugas keamanan gedung.
"Lepasin gue! Gue mau ketemu bokap gue!" jerit Bagas meronta-ronta di depan kamera nasional.
Semua arogansinya di sekolah seketika hancur lebur di jalanan aspal itu.
Tommy menatap layar komputernya dengan sorot mata yang sangat dingin dan kosong.
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi empuknya sambil memutar pulpen di tangannya.
"Lihatlah dirimu sekarang, Bagas," gumam Tommy pelan di kamarnya yang sunyi.
"Kalian yang selalu menggunakan otot dan kekuasaan untuk menindas orang lemah, tidak akan pernah bisa melawan."
"Melawan seseorang yang bisa menghancurkan dunia kalian hanya dengan beberapa baris kode dari dalam kamar sempit."
Ting!
Suara jernih dari sistem tiba-tiba berbunyi tepat saat Haris Wijaya dimasukkan ke dalam mobil polisi.
Layar biru transparan muncul di tengah ruangan kamar Tommy.
[MISI TERSEMBUNYI SELESAI.]
[Evaluasi: Pengguna berhasil memanipulasi kehancuran musuh besar melalui efek domino dunia maya dengan sempurna.]
[Mengirimkan hadiah...]
[IQ pengguna meningkat +2 poin.]
[Poin Sistem bertambah +50 PS.]
[IQ Saat Ini: 115 Kategori: Cerdas]
[Poin Sistem Saat Ini: 185 PS]
Tommy tersenyum membaca peningkatan drastis dari poin sistemnya.
Kini ia memiliki seratus delapan puluh lima poin sistem yang siap digunakan.
Ia bisa membeli lebih banyak keahlian berbahaya dari Toko Sistem untuk memperkuat posisinya di dunia nyata maupun dunia maya.
"Runtuhnya perusahaan ayahmu adalah balasan atas semua hinaan yang kau berikan kepadaku selama dua tahun ini, Bagas," batin Tommy.
Namun Tommy sangat tahu bahwa manusia yang terpojok adalah makhluk yang paling berbahaya.
Bagas yang kini kehilangan segalanya pasti akan mencari tempat pelampiasan amarah di sekolah besok pagi.
Dan Tommy sudah sangat siap untuk menyambut sisa-sisa kemarahan dari preman kelas tersebut.
Ia mematikan layar komputernya dan merebahkan diri di atas kasur dengan perasaan sangat puas.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Tommy merasa memegang kendali penuh atas takdirnya sendiri.
Panggung olimpiade akademik di depan mata, dan panggung kehancuran musuhnya di dunia nyata.
Semuanya berjalan persis seperti naskah yang ditulis oleh otaknya yang ber-IQ seratus lima belas.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇