Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.
Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.
Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.
Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.
Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.
Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?
Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Mendengar permintaan Anya ingin memasak untuknya, Arhan terdiam.
"Aku ingin memasak untuk kamu, boleh ya?"
Ucapan itu menggantung di antara wajan yang belum panas dan meja dapur yang berantakan. Anya menatapnya dengan mata penuh harap, senyum lemasnya tertahan di bibir pucat.
Arhan bimbang.
Di dalam kepalanya ada dua suara yang bertabrakan.
Suara pertama adalah suara Dokter Rendra kemarin sore di ruang konsultasi yang terlalu putih itu. Lakukan hal-hal yang dia suka, Jaga kualitas hidupnya.
Tapi suara kedua adalah suara ketakutannya sendiri. Suara yang melihat bagaimana Anya berjalan ke kamar kecil saja butuh dipapah, bagaimana napasnya terengah hanya karena duduk terlalu lama di kursi dapur.
Arhan khawatir. Ia takut jika Anya berdiri terlalu lama di depan kompor, tubuhnya akan kembali drop.
Anya melihat Arhan diam terlalu lama. Senyumnya perlahan turun.
"Ng... nggak boleh ya, Han?" tanyanya pelan seperti anak kecil yang takut dimarahi.
Arhan tersentak. Ia buru-buru menggeleng dan menarik kursi untuk duduk di depannya.
"Boleh, An. Boleh banget," kata Arhan cepat. "Tapi kita bersih-bersih dulu ya. Nanti perawat akan datang memeriksa kamu. Biar badan kamu segar sebelum masak."
"Perawat?" Anya sedikit kaget.
"Iya, perawat home care dari rumah sakit. Tiap pagi ada perawat yang datang ke rumah buat cek tensi sama obat kamu," jelas Arhan.
Anya mengangguk pelan. "Tapi aku belum mandi, Han."
"Iya, makanya kita lap dulu aja ya. Biar tidak capek berdiri lama di kamar mandi," kata Arhan.
Anya setuju. Arhan pun berdiri. Ia mengambil baskom plastik berwarna biru di dekat sumur, mengisinya dengan air hangat dari termos dan air dingin. Ia mencampurnya sampai hangatnya pas. Ia juga mengambil dua handuk kecil yang lembut dan sabun cair.
Ia membawa baskom itu ke kamar. Anya sudah duduk di tepi ranjang.
"Pelan-pelan ya, An," kata Arhan.
Anya mengangguk. Arhan membantu Anya melepas baju luarnya yang tipis, menyisakan baju dalam. Gerakannya hati-hati, tidak terburu-buru. Ia mencelupkan handuk kecil ke dalam air hangat, memerasnya sampai tidak terlalu basah.
Ia mulai menyeka. Dimulai dari leher Anya yang jenjang, lalu ke bahu, ke lengan. Handuk hangat itu menyentuh kulit Anya yang pucat dan dingin.
"Dingin enggak, An?" tanya Arhan pelan.
"Enggak, Han. Hangat," jawab Anya lirih. Matanya menatap ke bawah.
Arhan melanjutkan menyeka punggung Anya dengan pelan. Tubuh Anya yang dulu berisi kini terasa ringan, tulang belikatnya sedikit menonjol. Arhan menahan napasnya agar tidak terlihat sedih.
"Kalau gak nyaman bilang ya," kata Arhan.
Anya hanya mengangguk. Setelah punggung, Arhan menyeka kedua kaki Anya. Dari paha sampai ke ujung kaki. Kaki Anya dingin. Arhan mengusapnya lebih lama dengan handuk hangat itu agar peredaran darahnya lancar.
"Terima kasih, Han," kata Anya pelan, suaranya bergetar.
"Sama-sama, sayang," jawab Arhan sambil tersenyum kecil.
Setelah selesai, Arhan membantu Anya memakai baju bersih yang lembut, baju rumah berwarna biru muda. Ia juga menyisir rambut Anya yang tipis dengan sisir bergigi jarang. Rambut itu banyak yang rontok ketika di sisir.
Anya terlihat jauh lebih segar setelah dilap. Wajahnya tidak sepucat tadi.
"Nah, sudah segar kan?" kata Arhan.
Anya mengangguk dan tersenyum. "Sudah. Sekarang boleh masak ya?"
Arhan tertawa kecil. "Boleh. Kamu mau masak apa?"
Mata Anya berbinar. Ia menoleh ke arah dapur.
"Lihat di kulkas ada apa, Han?"
Arhan membuka kulkas. Di dalamnya hanya ada beberapa botol air mineral, sisa telur tiga butir, dan satu kaleng kornet sapi yang belum dibuka.
"Hanya ada telur sama kornet kaleng, An," kata Arhan jujur.
Anya berpikir. "Omelet aja ya? Omelet kornet. Dulu kamu suka kan?"
Arhan ingat. Omelet buatan Anya yang agak gosong di pinggirnya tapi selalu enak karena banyak bawang.
Arhan setuju tapi memberi syarat selembut mungkin.
"Boleh, tapi janji ya, jangan dipaksain kalau nggak kuat. Kita duduk aja di sini, nggak usah berdiri. Kalau pusing bilang langsung."
Anya mengangguk semangat. Arhan menyiapkan mangkok kaca besar, sendok, garam, dan membukakan kaleng kornet itu hingga aroma dagingnya keluar.
"Nih, An. Pelan-pelan aja."
Dengan posisi duduk, Anya mulai memasukkan daging kornet itu ke wadah menggunakan sendok. Tangannya bergerak pelan. Sendok itu terasa berat. Daging kornet yang padat susah dicolek. Ia harus menekan sendoknya beberapa kali baru bisa mengambil sedikit. Tangannya bergetar, tapi ia tahan.
"Pelan-pelan aja, An," bisik Arhan di sampingnya.
Anya berhasil memasukkan tiga sendok kornet. Dahinya sudah berkeringat tipis.
"Sekarang telurnya, Han," kata Anya.
Arhan mendorong tiga butir telur lebih dekat.
Anya meraih satu butir telur dengan tangan kanannya. Telur itu dingin dan licin. Ia mencoba mengetukkannya ke pinggiran mangkok seperti kebiasaannya dulu.
Telurnya tidak pecah.
Ia coba lagi sedikit lebih keras. Masih tidak pecah, hanya retak sedikit.
Anya mengerutkan dahi. Ia menambah tenaganya. Ia mengetuk lagi, lagi, dan lagi. Suara ketukan telur di mangkok kaca terdengar berulang di dapur sepi itu.
Tenaga di pergelangan tangannya seolah hilang entah kemana. Telur yang dulu bisa ia pecahkan dengan satu tangan, kini bahkan dengan dua tangan terasa seperti batu.
"Kenapa nggak pecah sih," gumamnya pelan.
Lalu dengan sisa tenaga yang ia punya, ia menekan telur itu di bibir mangkok. Telur itu akhirnya pecah, tapi berantakan. Kuning dan putihnya tumpah tidak sempurna, sebagian tumpah ke meja, sebagian masih menggantung di cangkang yang hancur. Cangkang kecil ikut masuk ke mangkok.
Anya menatap kekacauan di tangannya. Tangannya belepotan telur mentah, meja kotor, cangkang berserakan.
Matanya berkaca-kaca.
"Han..." suaranya bergetar.
Arhan langsung berjongkok di sampingnya.
"Kenapa, An?"
"Untuk memecahkan telur saja aku sangat sulit, Han," kata Anya, air matanya jatuh satu tetes ke atas meja yang kotor itu. "Dulu aku bisa masak buat kamu seharian. Sekarang telur aja aku nggak bisa pecahin."
Kalimat itu jatuh pelan, tapi bagi Arhan rasanya seperti wajan panas yang jatuh menimpa dadanya.
Arhan terdiam dalam sendu. Tangannya terulur ingin mengusap air mata Anya, tapi belum sempat menyentuh pipinya, tiba-tiba...
Seseorang mengetuk pintu depan rumah mereka. Ketukannya teratur, tiga kali.
Suara itu membuat Arhan dan Anya sama-sama tersentak. Anya buru-buru menghapus air matanya dengan punggung tangannya yang masih belepotan telur.
Arhan berdiri pelan. Ia menatap ke arah pintu depan.
"Sebentar ya, An," kata Arhan pelan, suaranya gugup.
Anya mengangguk, masih menunduk menatap mangkoknya.
Arhan berjalan ke depan dengan langkah yang terasa berat.
Dan benar saja, itu adalah perawat yang akan memeriksa keadaan Anya. Seorang perawat perempuan muda dengan seragam putih dan tas medis besar di bahunya, tersenyum ramah dari balik pintu yang terbuka sedikit.
"Pagi, Pak Arhan. Saya perawat dari rumah sakit, jadwal cek Ibu Anya hari ini," kata perawat itu.
Wajah Arhan terlihat kalut. Senyumnya dipaksakan. Matanya melirik sekilas ke arah dapur, ke arah Anya yang masih duduk di kursi dengan mangkok berantakan dan air mata yang belum kering.
Seolah dia takut kebohongannya akan terbongkar.