"Perempuan Mandul!" cerca Loretta melotot tajam.
"Ibu...." Amira tergugu, sakit hati ia mendengar teriakan sang mertua.
"Kenapa? Kalian sudahenikah 10 tahun, tapi tak kunjung punya anak, kalau bukan mandul apa namanya, Hah?!"
Di sudut ruangan, Beni hanya tertunduk diam, tak berniat mendekati atau menghibur istrinya.
"Atau jangan-jangan kau sengaja minum pil ya, biar nggak hamil?" Loretta tak henti menyudutkan Amira, berdiri bersedekap membelakangi menantunya itu. "Pergi dari sini, Besok pagi Beni harus menikah dengan wanita lain pilihan ibu!"
........
Pernikahan bukan hanya tentang hidup bersama, tapi juga tentang bagaiman abertahanbbersama, setia sekata dalam menghadapi setiap ujian.
Loretta, mertua yang kejam, tak segan menjebak dan menjatuhkan Amira hanya untuk memisahkannya dengan Beni yang notabene adalah putranya sendiri.
Mampukah Amira pergi menanggung tuduhan yang menyakitkan? akankah ia kembali untuk membalas perlakuan keluarga suaminya?
happy reading ya🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WeGe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbangun Di Tempat Asing
Perlahan-lahan Amira mulai tersadar. Ia membuka mata, lalu mengerjap beberapa kali menyesuaikan dengan cahaya menyilaukan yang masuk ke matanya, membuat Amira sedikit menyipitkan matanya. "Dimana ini?" bisiknya sambil mengusap-usap sedikit memijat keningnya karena masih terasa pusing.
"Mbak, bangun, kenapa tidur di tempat ini?" Suara seseorang seraya mengguncang pelan tubuh Amira.
Amira menjolak bangun, menatap bingung pada orang itu, lalu beralih melihat sekeliling.
"Tolong cari tempat lain, saya harus buka warung." kata orang itu lagi dengan sopan namun terdengar tegas mengusir Amira.
Amira melompat turun dari meja yang ternyata adalah bagian dari warung kecil di pinggir jalan. Entah bagaimana caranya ia bisa berakhir di tempat itu. Hatinya masih sangat kacau dan merasa hancur, dan sekarang dia dihadapkan dengan situasi yang memalukan. "Ma-maaf, sa-saya—"
"Bawa koper dan tasmu itu juga, Mbak!" seru orang itu sambil menunjuk barang milik Amira yang tergeletak tak jauh dari meja.
Dengan langkah gontai, Amira meninggalkan tempat itu. Tubuhnya terasa sangat letih, bagian selangkangannya pun masih terasa sangat nyeri. Amira berhenti di tepi jalan, sesaat mendongak menatap matahari yang belum sepenuhnya di tengah langit, atau mungkin justru sudah melewati batas setengah hati, namun masih terasa membakar kulitnya yang kuning langsat.
"Ini daerah mana?" telisiknya bingung, di kanan dan kirinya hanya terlihat hamparan sawah yang sangat luas, jalanan yang ia lalui pun lebih terlihat seperti jalan menuju ke tempat asing yang sepi.
Terlihat deretan rumah, tapi jauh di depan mungkin butuh setengah jam untuk menuju ke tempat itu. Jalanan pun lengang, hanya ada satu atau dua kendaraan yang lewat, sejenak pengemudi pun menatap aneh ke arah Amira, mungkin mereka berpikir, 'Penampilan acak-acakan, sepertinya ada orang gila baru lepas.'
Seperti itulah penampilan Amira, rambut yang tak disisir, mengenakan sendal jepit, dress yang sangat tak rapih, apalagi mukanya, jelas tak tersentuh air sejak pagi terakhir ia pergi dari rumahnya.
"Pergi, besok Beni harus menikah!"
"Dasar Mandul!"
"Istri nggak becus!"
Seketika Amira teringat kata-kata kasar ibu mertuanya, tanpa sekalipun Beni berusaha membela.
Amira kembali berdiri tegak, menatap lurus ke depan, terdiam lama.
Angin sepoi membelai wajahnya yang sayu, menyibakkan rambut sebahunya yang tergerai. Seketika ia merosot terduduk lemas di tepi jalan beraspal dengan kedua tangan menutup wajahnya. Tangisnya pecah. Ingatan-ingatan menyakitkanlah penyebabnya.
Ingatan tentang tubuhnya yang digagahi pria lain yang bukan suaminya. Perih rasanya, sakit, takut, dan kecewa. Amira meraung sendirian di jalanan yang entah dia ada dimana. Berapa lama ia tertidur di tempat tadi, bagaimana ia bisa berakhir di tepat itu, lalu kenapa Beni tak berusah mencari, dan banyak lagi pikiran buruk yang tiba-tiba menyergap membuat bahu rapuh itu merosot bergetar karena tangis yang membuncah.
"Harus gimana sekarang? A-aku... sudah kotor begini, apa Mas Beni akan mengampuniku?" Amira meronta, memukul-mukul sendiri tubuh dan wajahnya, menjambak rambutnya sendiri. Ia sangat terpukul dan frustasi.
Tak ada yang peduli, tak ada yang mencoba menghampiri, Amira masih ditempat itu, di tepi jalan aspal, meringkuk memeluk tubuhnya sendiri. Menangis sejadi-jadinya, hingga kepalanya terasa pening, dan tanpa sadar ia pun tertidur karena sangat lelah.
"Jangan diganggu, nanti ngamuk!" bisik seseorang yang melewati Amira.
"Iya, biarin aja, mungkin dia ketiduran!" sahut temannya.
Begitulah orang-orang dan beberapa petani yang lewat, justru mengira Amira adalah orang gila, tanpa seorang pun yang tahu bahwa sebenarnya ia tak sadarkan diri. Mungkin beberapa saat.
Hingga waktu berlalu, matahari mulai terbenam. Suasana tempat itu menjadi semakin dingin karena angin yang bertipe dari persawahan terasa begitu kencang.
Jemari Amira bergerak, kemudian disusul matanya yang perlahan kembali terbuka, menatap langit yang masih menyisakan orang di sisi barat. Amira terjingkat lalu bangun.
Amira menatap sekeliling, hanya menemukan gelap yang remang-remang, dan suara jangkrik malam serta beberapa katak menjadi temannya di senja itu. "Harus kemana sekarang?"
Amira menguatkan diri, ia bangkit dan menyeret langkahnya dengan bingung. Tanpa sadar ia justru kembali ke arah sebelumnya. Kembali ke warung terbuka, yang lebih terlihat seperti gubuk kecil di pinggir sawah.
Entah berapa lama ia terbaring di jalanan, bahkan saat ia berdiri menatap pemilik warung yang tengah membereskan barang-barangnya, ia hanya bisa menatap pilu bercampur malu.
Amira memberanikan diri mendekat. "Maaf, Bu. Ini daerah mana?"
Pemilik warung, wanita paruh baya yang mungkin seusia dengan mertuanya, berhenti menyapu bagian dalam warungnya lalu menoleh pada Amira. Ia mengernyit sesaat, menatap pendatang itu dari atas hingga ke bawah, kemudian naik lagi dan berhenti di wajah Amira.
"Kau yang tadi tidur di tempat ini." Bukan bertanya balik, tapi menyimpulkan setelah mengenali betul penampilan kacau wanita asing itu.
"I-iya," jawab Amira menahan malu.
Wanita yang bernama Siti, namanya terukir di spanduk depan gubuk, warung Bu Siti. Menghela napas dalam. "Kamu mau kemana, bawa-bawa koper begitu? Tapi malah tidur sembarangan di gubuk seperti ini, apa tersesat?"
'Jika mengaku semua yang dialaminya, apa pemilik warung itu akan percaya, atau malah menertawakannya, atau justru akan menjauhinya karena dia adalah istri yang diusir mertua, ditambah justru malah menikmati saat tubuhnya digauli pria lain?'
Amira terdiam, begitu berat untuk mengaku, tapi ia tak punya tujuan. "Kalau gitu, bisa tolong beritahu saya, dimana saya bisa mencari taksi, ojek, atau sesuatu yang bisa mengantar saya pulang?"
Bu Siti kembali memperhatikan penampilan Amira, dan berhenti pada wajah sendunya. "Entah apa yang sudah kamu alami, kamu seperti orang yang hilang arah. Kalau mau ke jalan besar, kau harus jalan sejauh satu kilometer lebih menuju ke arah sana. Nggak ada ojek di sini," ujarnya sembari kembali menyelesaikan kegiatan beres-beresnya.
Amira mengangguk, 'Satu kilometer, dalam jalanan gelap,' pikir Amira bergidik. Namun ia tak punya pilihan. Tidur di warung terbuka itu pun tak mungkin dilakukannya, lagi. Itu terlalu menakutkan. Bagaimana jika para pria yang menggaulinya justru kembali dan menangkapnya lagi, itu ketakutan terbesar Amira.
Kruuk!
Bahkan perutnya pun mulai protes saat Amira bahkan sejak tadi tak merasakan lapar. Amira membaca tulisan di spanduk, beberapa menu tertulis disana.
Amira berjongkok, kemudian mengeluarkan sebuah cincin dari tas jinjingnya. Beruntung semua perhiasannya masih tersimpan di tempat yang sama.
"Ibu, masih punya sisa makanan?" tanyanya pasrah. "Tapi saya belum sempat menukarnya dengan uang." Amira menyodorkan cincin itu pada Bu Siti.
Bu Siti menoleh, menatap aneh pada Amira. Seolah ada banyak pertanyaan di kepalanya, tapi enggan mengutarakannya.
Bu Siti tak menjawab, tak merespon apapun. Ia mendekat ke meja, membongkar sebagian ikatan di keranjang jinjingnya, mengeluarkan dua bungkusan dari dalamnya.
"Hanya ini yang tersisa. Simpan saja itu untukmu. kembalilah membayar saya kau punya uang sungguhan." Tanpa ekspresi yang berarti, Bu Siti kembali mengikat taplak yang membungkus keranjang jinjingnya, kemudian pergi meninggalkan Amira.
Tak ayal, sudut mata Amira mengembun, menatap punggung Bu Siti, orang asing yang entah kenapa bicaranya terlalu dingin padanya.
...----------------...
Bersambung🤗