Amara rela menerima perjodohan dengan Tobias William Larsen demi cinta, berharap hatinya bisa memenangkan pria yang dingin dan sempurna itu. Ia memberi segalanya—kesetiaan, pengorbanan, bahkan seluruh rasa cintanya. Namun, semuanya hancur saat mantan Tobias muncul kembali.
Di malam ulang tahun pernikahan mereka, dunia Amara runtuh. Tobias menuntut cerai tanpa ampun, bahkan menyisakan ancaman yang menusuk hatinya. Dengan hati remuk, Amara akhirnya melepas semua harapan, memutuskan untuk pulang ke rumah keluarganya dan menjalani takdirnya sebagai pewaris keluarga Crawford.
Kini, ketika Amara dan Tobias bertemu lagi, mereka bukan lagi suami-istri. Mereka adalah dua rival, saling menatap dengan luka dan dendam yang tersimpan.
"Tuan Larsen, apakah Anda ingin saya mengingatkan sekali lagi? Kita sudah bercerai."
"Amara… ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kumohon… kembalilah padaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Banto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
Saat Amara terlelap dalam tidurnya yang damai, Tobias masih terjebak di ruang kerjanya yang dingin. Layar ponselnya menyala, menampilkan artikel skandal yang kini menjadi buah bibir. Ia menonton video itu berulang kali, mencoba mencari celah untuk membela wanita yang selama ini ia puja. Namun, kenyataan pahit itu terpampang nyata—Celestine tidak didorong. Wanita itu dengan sengaja menjatuhkan diri ke kolam, sebuah sandiwara murah untuk menjebak Amara.
‘Tapi kenapa?’ batin Tobias gusar. Mengapa Celestine harus melakukan drama serendah itu untuk memfitnah wanita yang sudah ia ceraikan? Keyakinannya pada sosok Celestine yang polos kini mulai retak, menyisakan keraguan yang menyakitkan.
Lamunannya pecah saat ketukan pintu terdengar. Dean masuk membawa amplop cokelat berisi informasi krusial.
"Tuan, saya telah melacak perusahaan yang mengakuisisi lini kosmetik Nona Wood," lapor Dean. "Namanya Synergy, raksasa teknologi yang sedang berekspansi. Besok, mereka akan meresmikan kepala cabang baru untuk kantor London."
"Synergy..." Tobias menggumamkan nama itu, menatap dokumen di tangannya dengan mata menyipit. "Awasi setiap gerak-gerik mereka. Aku ingin tahu siapa yang akan memimpin perusahaan itu."
Keesokan paginya, Rolls-Royce milik Lorenzo membelah jalanan London menuju gedung pencakar langit bertuliskan Synergy. Amara duduk di kursi penumpang, terlihat tenang meski hari ini adalah babak baru dalam hidupnya.
"Kau gugup, Mara?" tanya Lorenzo sembari melirik adiknya.
"Sama sekali tidak. Ayah mendidikku untuk ini sejak kecil," jawab Amara mantap. Namun, raut wajahnya berubah serius. "Lorenzo, ingat janji kita? Jangan ada yang tahu identitas asliku sebagai putri pemilik perusahaan. Aku ingin orang-orang menghormatiku karena kemampuanku, bukan karena darah Crawford yang mengalir di tubuhku."
Lorenzo tersenyum bangga, lalu mengacak rambut adiknya. "Rahasia aman bersamaku, Principessa."
Begitu mereka menginjakkan kaki di lobi, Duncan menyambut mereka dengan wajah pucat. "Nona Amara, Tuan Lorenzo... ada masalah. Para eksekutif sedang mengadakan rapat darurat untuk menentang pengangkatan Nona."
"Menentangku?" Amara mendengus sinis. "Sepertinya mereka butuh sedikit kejutan di pagi hari."
Amara melangkah menuju ruang konferensi dengan aura yang mengintimidasi. Tepat di balik pintu yang tertutup, suara-suara sumbang para eksekutif terdengar jelas.
"Wanita tidak berpengalaman itu pikir dia bisa memimpin kita hanya dengan menggoda bos?" cibir Carlos, salah satu eksekutif senior.
"Benar. Dia bahkan tidak bisa mempertahankan suaminya sendiri. Apel busuk seperti itu akan menghancurkan Synergy!" timpal Shawn dengan nada menghina.
BRAKK!
Amara mendorong pintu dengan keras, membuat seluruh ruangan seketika hening. Ia melangkah masuk dengan anggun, gaun hitamnya yang elegan dan mantel cokelat panjangnya menegaskan siluet tubuhnya yang sempurna. Ia berdiri di ujung meja, menatap satu per satu pria-pria tua yang baru saja menggosipkannya.
"Kalian semua sangat cerewet di pagi hari begini," ucap Amara datar, namun suaranya menggema di setiap sudut ruangan. Ia duduk di kursi pimpinan, menyilangkan kakinya dengan tenang. "Sepertinya kalian tidak punya pekerjaan selain membahas tubuh atasan kalian?"
Para eksekutif itu terpaku, terpesona sekaligus terintimidasi oleh kecantikan dan keberanian wanita di depan mereka. Amara meraih selebaran proyek besar yang sedang macet di hadapannya, membacanya sekilas, lalu melemparkannya ke meja dengan suara hantaman yang keras.
"Jadi, ini kesepakatan yang membuat kalian gemetar ketakutan?" Amara menyeringai tipis. "Beri aku waktu satu minggu. Aku yang akan mengurusnya sendiri—dengan cara 'wanita tidak berpengalaman' ini. Jika aku berhasil, aku ingin kalian semua tutup mulut dan bekerja dengan benar. Ada keberatan?"
Hening. Tak ada satu pun yang berani membantah. Dengan tatapan tajam terakhir, Amara berdiri dan melangkah keluar, meninggalkan ruangan yang kini dipenuhi aura kekalahan para pria sombong itu. Permainan baru saja dimulai.