NovelToon NovelToon
Terjebak Satu Malam Dengan Mafia Kejam

Terjebak Satu Malam Dengan Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Mafia
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dini Andreina

Lyra Aldebaran hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan pertunangannya. Namun satu malam di klub hotel mewah mempertemukannya dengan pria yang tidak seharusnya ia kenal.

Darius Baskara, Pria dingin dan berbahaya yang menguasai dunia gelap kota. Sebuah kejadian membuat mereka terjebak bersama sepanjang malam. Lyra mengira semuanya akan berakhir saat pagi datang. Ia salah,Karena bagi seorang mafia seperti Darius Baskara, sekali ia menginginkan sesuatu, ia tidak akan pernah melepaskannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Andreina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hal Yang Tidak Penting

Malam sudah sangat larut.

Mansion tenggelam dalam keheningan. Lampu kamar utama hanya menyisakan cahaya redup dari lampu meja di samping tempat tidur, Udara terasa hangat.

Lyra bersandar di bantalan tempat tidur, Selimut menutupi sebagian tubuhnya, Rambut bob pendeknya sedikit berantakan, jatuh lembut di sekitar wajahnya. Darius duduk di tepi tempat tidur, Masih sangat dekat dengannya.

Tangannya perlahan menyusuri lengan Lyra, gerakan yang hampir tanpa sadar. Mereka baru saja melewati malam yang panjang. Malam yang terasa seperti pelepasan semua ketegangan yang selama ini menumpuk. Lyra menatap langit-langit beberapa saat, Lalu berkata pelan, "Darius…"

Pria itu menoleh sedikit."Ya."

Lyra menarik napas kecil "Kau tahu masa laluku? Aku buka anak ibu? tapi hanya anak adopsi"

Darius terdiam sebentar "Ibu Elena tadi…"

Lyra menoleh menatapnya "Aku tidak tahu semuanya." Ada jeda kecil.

Darius akhirnya berkata singkat, "Aku tidak peduli."

Jawaban itu membuat Lyra sedikit tersenyum.

Namun matanya tetap serius, Ia menatap wajah pria itu lama "Darius…" Nada suaranya berubah lebih lembut, "Aku belum benar-benar tahu siapa kamu."

Kalimat itu menggantung beberapa detik di udara.

Namun Lyra melanjutkan sebelum Darius bisa menjawab.

"Tapi yang aku tahu…" Tangannya naik menyentuh pipi pria itu, Hangat "Kamu seperti Papa."

Darius sedikit mengernyit, Lyra tersenyum kecil. "Bukan maksudku sama." Matanya melembut "Tapi kamu selalu melindungiku." Jarinya menyentuh garis rahang Darius "Dengan cara yang sama."

Beberapa detik ruangan itu menjadi sangat sunyi.

Darius tidak langsung menjawab, Tatapannya justru semakin dalam, Lalu ia memegang tangan Lyra yang masih berada di wajahnya.

Suaranya rendah ketika akhirnya berbicara.

"Aku bukan pria yang baik, Lyra." Nada itu jujur, Tanpa hiasan.

Lyra tidak terlihat terkejut "Aku tahu."

Jawabannya membuat Darius sedikit mengangkat alis, Lyra tersenyum tipis "Tapi kamu tidak pernah menyakitiku." Ia mendekat sedikit, Dahinya hampir menyentuh dada Darius "Itu cukup bagiku." Darius memegang belakang kepala Lyra dengan lembut.

Menariknya lebih dekat, Bibirnya menyentuh kening Lyra, Sangat pelan. Seolah sebuah janji yang tidak diucapkan, Namun jauh di luar mansion sebuah mobil berhenti di jalan gelap, Seorang pria turun.

Menatap rumah besar itu dari kejauhan, Rendra.

Matanya dipenuhi sesuatu yang sulit dijelaskan.

"Lyra…" Bisiknya pelan.

Karena baginya cerita mereka belum benar-benar selesai.

Pagi itu udara di halaman mansion terasa segar.

Langit cerah. Lyra baru saja keluar dari pintu utama setelah sarapan. Ia mengenakan Celana jeans, kemeja berwarna krem oversize, Rambut bob pendeknya bergerak pelan tertiup angin pagi. Di belakangnya, dua pengawal berjalan beberapa langkah menjaga jarak.

Hari ini ia berencana pergi ke TK menemui anak-anak seperti yang ia janjikan pada Rani. Lyra baru saja menuruni tangga depan teras mansion ketika sebuah suara tiba-tiba memanggilnya.

"Lyra."

Langkahnya berhenti, Suara itu terlalu ia kenal. Lyra menoleh perlahan, Dan di sana berdiri seorang pria dengan mata penuh emosi yang belum selesai.

Rendra.

Lyra terkejut "Rendra?"

Pengawal langsung bergerak waspada, Namun Rendra sudah berjalan cepat mendekat. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Lyra."Aku harus bicara denganmu."

Lyra sedikit mundur.

"Rendra… ini bukan tempat...."

Namun pria itu tiba-tiba meraih lengannya.

Pegangannya terlalu kuat, "Ikut denganku."

Lyra meringis, Tangannya tanpa sengaja menyentuh bekas luka tembak di sisi tubuh Lyra. Rasa nyeri langsung menjalar, Lyra tersentak. "Ah..."

Pengawal langsung bergerak mendekat.

" lepaskan Nyonya."

Namun situasi berubah sangat cepat, Rendra menarik tubuh Lyra ke arahnya. Tangannya bergerak ke dalam jaket, Dan dalam satu detik sebuah pisau sudah berada di tangannya. Bilah dingin itu menempel di leher Lyra, Semua orang langsung membeku.

"Jangan mendekat!" Suara Rendra bergetar antara marah dan putus asa, Pengawal berhenti.

"Turunkan senjatamu." Namun Rendra hanya tertawa pahit.

"Aku tidak akan menyakitinya." Tatapannya kembali ke wajah Lyra. Namun tangannya tetap menahan pisau itu, "Aku hanya ingin dia kembali."

Lyra memegang lengan Rendra dengan napas sedikit tidak stabil.

"Rendra…"

"Jangan lakukan ini."

Namun Rendra menggeleng keras, "Dia mengambilmu dariku." Matanya memerah.

"Lyra… kau seharusnya bersamaku."

Pengawal di sisi halaman diam-diam sudah menghubungi seseorang, Di dalam mansion ponsel Darius bergetar. Leon yang pertama membaca pesan itu, Wajahnya langsung berubah tegang, "Tuan."

Darius mengangkat kepala "Apa?"

Leon menatapnya serius "Nona Lyra." Ia menelan napas "Disandera."

Beberapa detik ruangan itu terasa membeku, Kemudian kursi Darius terdorong keras ke belakang ketika ia berdiri, Tatapannya berubah dingin.

Sangat dingin "Siapa?"

Leon menjawab pelan "Rendra."

Sementara itu di halaman pisau masih berada di leher Lyra, Dan Rendra berbisik di dekat telinganya,

"Aku hanya ingin kita kembali seperti dulu."

Namun langkah kaki berat sudah terdengar dari pintu mansion, Karena seseorang baru saja datang.

Halaman depan mansion menjadi sunyi mencekam.

Pisau masih menempel di leher Lyra. Pengawal berdiri tegang beberapa meter dari mereka, tidak berani bergerak terlalu dekat, Lyra mencoba tetap tenang meskipun napasnya sedikit tidak stabil.

"Kamu gila, Rendra." Nada suaranya tegas, "Kau sudah bersama Rose." Nama itu seperti memukul sesuatu dalam diri Rendra, Matanya langsung berubah, Lyra melanjutkan dengan dingin, "Lepaskan aku", Tatapannya tajam "Sebelum terlambat." Ia menelan napas, "Rendra."

Namun Rendra justru tertawa pelan, Tawa yang terdengar pahit, "Rose?" Ia menggeleng. "Itu tidak pernah berarti apa-apa." Tangannya sedikit gemetar.

"Yang aku inginkan selalu kamu." Pisau di tangannya menekan sedikit lebih dekat ke kulit Lyra.

Pengawal langsung menegang. Namun sebelum situasi itu berubah lebih buruk pintu besar mansion terbuka keras, Langkah kaki berat terdengar, Semua orang menoleh, Darius.

Ia berjalan keluar dengan langkah cepat, Tatapannya langsung menemukan Lyra, Dan kemudian melihat pisau di lehernya. Sesuatu di wajah Darius berubah dalam satu detik, Bukan hanya marah, Lebih gelap dari itu, Lebih berbahaya. Lyra langsung memanggilnya,"Darius...."

Namun Rendra menarik Lyra sedikit lebih dekat ke tubuhnya "Berhenti di sana."

Darius berhenti beberapa meter dari mereka, Namun seluruh tubuhnya terlihat menegang. Tatapannya tidak lepas dari pisau itu, Suaranya ketika ia berbicara sangat rendah, "Lepaskan dia."

Rendra tersenyum miring.

"Ah… akhirnya." Ia menatap Darius penuh kebencian.

"Pria yang mencurinya dariku."

Darius tidak bereaksi pada provokasi itu, Matanya tetap pada Lyra.

"Lyra."

Hanya satu kata, Namun cukup membuat Lyra merasa sedikit lebih tenang, Rendra menggeleng.

"Dia tidak akan pergi denganmu."

Darius akhirnya menatap langsung ke mata Rendra.

Dan untuk pertama kalinya, kemarahannya terlihat jelas. "Kau bahkan tidak tahu apa yang sedang kau lakukan."

Rendra tertawa pendek, "Oh aku tahu."

Tangannya menarik Lyra sedikit lagi, Pisau masih di lehernya. "Aku akan membawa dia pergi."

"Dan kau tidak bisa menghentikanku."

Namun Darius justru mengambil satu langkah maju.

Pengawal langsung menegang.

"Darius jangan.." kata Lyra cepat.

Namun Darius tidak berhenti, Tatapannya sangat dingin sekarang. "Jika kau melukainya…"

Suaranya hampir seperti bisikan.

"...aku akan memastikan kau berharap tidak pernah dilahirkan."

Beberapa detik suasana terasa seperti bom yang siap meledak, Rendra mulai mundur perlahan sambil menarik Lyra, Pisau masih di lehernya. Namun tanpa ia sadari dua penembak jitu Darius sudah mengambil posisi di atap mansion, Menunggu satu momen kecil.

Satu kesalahan kecil, dan tanda dari Darius, Dan semuanya akan berakhir, Lyra menatap Darius, Matanya memberi isyarat kecil, Tunggu. Karena satu gerakan salah saja pisau itu bisa benar-benar melukai dirinya.

1
Dini Andreina
sabar ya ka hari ini langsung banyak
Tanece Alu Bunga
update lama.kali thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!