Crystal Kusuma sih bungsu dari keluarga Kusuma yang terobsesi pada sang daddy sejak bayi.
Sedari dalam kandungan bayi mungil berusia dua tahun tersebut selalu ingin berada dekat dengan Jimmy Kusuma sang daddy.
Mereka pikir itu hanya ketertarikan biasa putri kecil pada daddynya. Siapa sangka obsesi tersebut malah berubah menjadi dosa terlarang selama belasan tahun?
Dosa terlarang dimana sang daddy Jimmy Kusuma pun tidak menyadarinya.
Selama ini kematian-kematian pegawai di kantor hukumnya, jimmy kira semata hanya kecelakaan biasa.
Tapi mereka salah, semua itu adalah dosa yang dilakukan Crystal kecil.....
Lalu dosa apa itu? Apa yang bisa dilakukan oleh bayi berusia dua tahun?
Saksikan eklusif disini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cloud_berry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 20 : Kalah?
Sore itu, saat matahari mulai tergelincir di balik cakrawala Jakarta yang penuh polusi, mobil mewah Jimmy berhenti tepat di depan teras Mansion Kusuma. Pintu dibuka oleh barisan pelayan yang membungkuk hormat, namun suasana di dalam mobil terasa jauh lebih dingin daripada AC yang menyembur pelan.
Crystal turun dengan langkah yang dihentak-hentakkan, tangan mungilnya mencengkeram erat tali paper bag hitam bermerek La Perla itu. Wajahnya ditekuk sedemikian rupa hingga alisnya hampir menyatu. Ia tidak langsung lari mencari mainannya, melainkan berjalan lurus menuju ruang tengah di mana Alice sedang duduk santai sambil membaca majalah Vogue edisi terbaru.
Alice mendongak, merasakan kehadiran aura kemarahan balita di hadapannya. Ia menutup majalahnya perlahan saat Crystal berdiri tepat di depan kakinya.
"Ini," tukas Crystal pendek, menyodorkan tas itu dengan gerakan kasar hingga hampir mengenai wajah Alice.
Alice mengernyitkan dahi, menatap tas belanja mewah itu lalu beralih ke wajah putrinya yang sangat cemberut. "Apa ini, Crystal? Hadiah dari Daddy untukmu?"
"Bukan!" jawab Crystal dengan nada ketus yang tidak bisa ia sembunyikan. "Daddy bilang... Mommy harus pakai ini malam ini. Terus... terus Crystal disuruh tidur di kamar Kak Gavin."
Bibir Crystal bergetar saat mengucapkan kalimat terakhir. Baginya, menyerahkan tas ini sama saja dengan menyerahkan kunci kerajaannya kepada musuh. Ia merasa dikhianati oleh sistem yang ia bangun sendiri.
Alice menerima tas itu, membukanya sedikit, dan seketika ia melihat sekilas kain sutra hitam transparan dengan detail lace yang sangat halus di dalamnya. Darah Alice seolah berdesir; ia tahu persis apa arti benda ini. Itu bukan hadiah cinta, melainkan sebuah "seragam dinas" yang dipesan oleh mantan suaminya untuk menuntaskan hasrat logis pria itu.
Melihat wajah Crystal yang begitu menderita—bibir yang mengerucut tajam dan mata yang menatap tas itu seolah-olah itu adalah bom waktu—Alice tidak bisa menahan dirinya.
"Pfftt..."
Sebuah tawa kecil lolos dari bibir Alice. Awalnya hanya senyum tipis, namun melihat betapa "tertekannya" si ratu kecil di hadapannya, Alice akhirnya tertawa renyah. Sebuah tawa yang penuh kemenangan sekaligus ironi.
"Kenapa Mommy tertawa?!" Crystal berteriak protes, wajahnya memerah padam. "Tidak ada yang lucu! Mommy nakal! Daddy jahat!"
Alice meletakkan tas itu di sampingnya, lalu mencondongkan tubuh ke arah Crystal dengan senyum yang sangat manis—senyum yang jarang ia tunjukkan. "Oh, Crystal... jadi ratu kecil kita sedang kalah hari ini? Kasihan sekali, harus mengungsi ke kamar Kakak karena Daddy ingin bersama Mommy."
Alice merasa ada kepuasan tersendiri melihat putrinya yang manipulatif itu tak berkutik di bawah perintah langsung Jimmy. Selama ini Crystal selalu menang, namun kali ini, insting purba Jimmy sebagai pria dewasa ternyata lebih kuat daripada rengekan balitanya.
"Daddy bilang kalau Crystal menangis, Crystal akan ditaruh di daycare!" seru Crystal lagi, suaranya parau karena menahan tangis yang dilarang.
"Wah, ide yang bagus," sahut Alice ringan, sengaja memanaskan suasana. Ia mengelus puncak kepala Crystal yang langsung ditepis kasar oleh sang putri. "Sepertinya malam ini Mommy akan tidur sangat nyenyak di bahu Daddy. Kamu... bersenang-senanglah ya dengan Gavin."
Crystal menghentakkan kakinya dengan sangat keras ke lantai marmer hingga suaranya bergema. Ia tidak sanggup lagi membalas ucapan Alice. Dengan langkah seribu, ia berlari menuju tangga lantai tiga, mencari Gavin untuk menumpahkan segala kekesalannya.
Alice menatap kepergian bungsunya dengan tawa yang perlahan memudar. Ia menatap kembali ke dalam paper bag hitam itu. Tawanya tadi mungkin terasa menang di depan Crystal, namun kini, kenyataan pahit kembali menghampirinya.
Malam ini, ia akan kembali menjadi objek pemuas bagi pria yang menghancurkan mimpinya. Tubuhnya memang akan bersandar pada bahu yang Crystal inginkan, namun jiwanya tetap akan terkunci di dalam penjara emas bernama Mansion Kusuma.
Alice menarik napas panjang, bangkit berdiri sambil membawa tas itu menuju kamar mandi utama. Ia harus bersiap. Jika ini adalah harga yang harus ia bayar agar Crystal tidak menang setiap hari, maka ia akan melakukannya dengan kepala tegak, meski hatinya tetap penuh dengan bara kebencian.
Lampu utama kamar tidur utama telah dipadamkan, menyisakan cahaya temaram dari lampu tidur di sudut ruangan yang menyinari permukaan kulit mereka yang masih hangat. Di dalam keheningan yang pekat, hanya terdengar suara napas teratur yang saling bersahutan.
Alice berbaring miring, menyandarkan kepalanya di dada bidang Jimmy. Tangannya yang ramping melingkar erat di pinggang pria itu, seolah-olah ia sedang memeluk satu-satunya tiang penyangga di tengah badai. Detak jantung Jimmy yang tenang di bawah telinganya memberikan rasa nyaman yang sangat ia benci, namun sekaligus ia butuhkan secara fisik.
Tugasnya telah selesai. Pelayanan yang dipesan Jimmy melalui sebuah paper bag hitam tadi sore telah ia tuntaskan dengan sempurna.
Alice menatap kosong ke arah kegelapan kamar. Pikirannya melayang pada masa-masa awal setelah Crystal lahir. Dulu, ia menyerahkan tubuhnya pada Jimmy dengan motif yang berbeda. Saat itu, ia merasa hancur secara mental; depresi pascapersalinan dan rasa benci pada pernikahan paksa ini membuatnya tidak sanggup mendengar tangisan Crystal. Suara tangis bayi perempuan itu terasa seperti pisau yang mengiris sisa-sisa kewarasannya.
Dulu, ia bersedia melayani Jimmy setiap malam hanya agar pria itu mau mengambil alih tugas mengasuh Crystal. Ia membiarkan Jimmy membawa bayi itu ke mana-mana—ke kantor, ke pertemuan bisnis, bahkan ke luar negeri—hanya agar ia mendapatkan kesunyian. Ia sengaja menjauhkan dirinya agar tidak perlu menghadapi sosok yang mengingatkannya pada malam kelam itu.
Namun hari ini, segalanya telah berubah.
Tawa kecil yang ia lontarkan pada Crystal tadi sore di ruang tengah bukanlah sekadar tawa biasa. Itu adalah deklarasi perang yang baru. Alice menyadari bahwa jika ia terus menjauh, maka Crystal akan menang sepenuhnya. Putri bungsunya itu tidak hanya ingin memiliki perhatian Jimmy, tapi ingin menghapus keberadaan Alice dari hidup sang Daddy.
Alice mempererat pelukannya, menghirup aroma maskulin yang menguar dari leher Jimmy. Ia merasakan tangan besar Jimmy bergerak secara naluriah, mengusap punggung polosnya dengan gerakan posesif yang sudah sangat ia kenal.
Aku tidak akan membiarkanmu menang, Crystal, batin Alice dingin.
Hari ini, Alice tidak memeluk Jimmy agar pria itu membawa Crystal pergi. Sebaliknya, ia memeluk Jimmy untuk memastikan bahwa tempat ini—dada ini, bahu ini, dan perhatian ini—tetap menjadi miliknya. Ia tidak ingin tersingkir. Ia tidak mau menjadi penonton di rumahnya sendiri sementara putrinya bertahta sebagai satu-satunya ratu.
Ada ego yang mulai bangkit di dalam diri Alice. Jika tubuhnya adalah satu-satunya senjata yang bisa membuat Jimmy menekuk lutut dan mengabaikan rengekan Crystal untuk sementara, maka ia akan menggunakannya sampai habis. Ia ingin tidur di sini sepanjang malam, membiarkan kulit mereka bersentuhan, membiarkan Jimmy tahu bahwa seorang wanita dewasa jauh lebih memuaskan daripada sekadar kasih sayang pada seorang putri yang manipulatif.
"Kenapa belum tidur?" suara berat Jimmy memecah keheningan. Ia tidak membuka mata, namun dekapannya pada Alice semakin erat.
"Hanya ingin merasakan detak jantungmu lebih lama," dusta Alice dengan nada lembut yang mematikan.
Jimmy terdiam sejenak, lalu mengecup puncak kepala Alice. "Tetaplah seperti ini. Jangan pergi ke kamar lain malam ini."
Alice tersenyum dalam kegelapan. Kemenangan kecil ini terasa sangat manis. Ia tahu, di lantai tiga sana, di dalam kamar Gavin, Crystal mungkin sedang gelisah, terjaga, dan membayangkan daddynya sedang berada dalam pelukan wanita lain.
Bagi Alice, malam ini bukan lagi soal kewajiban atau sekadar "melayani". Ini adalah soal pertahanan wilayah. Ia akan tetap berada di sini, di titik paling tengah kehidupan Jimmy Kusuma, untuk mengingatkan Crystal bahwa sekuat apa pun ia bertahta, ada satu posisi yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh seorang anak perempuan.
"Tidurlah, Alice," bisik Jimmy lembut.
Alice memejamkan matanya, menenggelamkan dirinya dalam kehangatan yang menyesakkan itu. Kebenciannya pada Jimmy tetap ada, membara di sudut hatinya yang paling dalam, namun untuk malam ini, ia akan membiarkan kebencian itu beristirahat dan membiarkan instingnya memenangkan peperangan melawan si iblis kecil yang ia lahirkan sendiri.