Sepuluh ribu tahun yang lalu, Kaisar Pedang Kekosongan, Jian Chen, dikhianati oleh tunangannya (Permaisuri Surgawi Luo Xue) dan saudara angkatnya saat mencoba menerobos ke Alam Ilahi Primordial. Jiwanya hancur berantakan. Namun, setetes Darah Primordial misterius yang ia temukan di Reruntuhan Kekacauan menyelamatkan satu fragmen jiwanya.
Sepuluh ribu tahun kemudian, Jian Chen terbangun di tubuh seorang pemuda bernama sama di Benua Bintang Jatuh (Dunia Fana terendah). Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Bawaan" yang meridiannya hancur. Dengan ingatan masa lalunya, pengetahuan alkimia tingkat dewa, dan teknik kultivasi terlarang Seni Melahap Surga Primordial, Jian Chen memulai kembali langkahnya dari bawah. Ia bersumpah untuk membelah langit, menghancurkan para pengkhianat yang kini telah menjadi Penguasa Surga, dan mengungkap rahasia sejati di balik Darah Primordial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukum Rimba
Hutan Binatang Iblis membentang ribuan mil melintasi perbatasan utara Kerajaan Angin Langit. Pepohonan raksasa berusia ratusan tahun tumbuh rapat, kanopinya saling berjalin rapat hingga mencekik cahaya bulan purnama. Di dalam sana, udara selalu terasa berat, sarat akan aroma lumut basah, daun membusuk, dan—jika angin berhembus tepat—bau anyir darah segar.
Bagi penduduk fana Kota Daun Gugur, hutan ini adalah perwujudan rahang dewa kematian. Hanya kelompok tentara bayaran elit atau kultivator nekat yang berani menginjakkan kaki di pinggirannya.
Namun malam ini, seorang pemuda berusia lima belas tahun berpakaian hitam melangkah masuk ke dalam zona mematikan itu sendirian. Langkahnya seringan hantu, menapak di atas dedaunan kering tanpa menghasilkan satu pun suara gemerisik.
Jian Chen berjalan santai, namun setiap serat otot di tubuhnya ditarik kencang bak pelatuk yang siap dilepas. Matanya yang segelap malam menyapu bayangan pepohonan dengan presisi absolut. Meski kultivasinya kini hanya berada di Kondensasi Qi Tingkat Dua, insting bertarung dan kesadaran spasial seorang mantan Kaisar Pedang Kekosongan masih tertanam di jiwanya.
Di kehidupan lampau, ia telah selamat merangkak dari lautan pedang dan gunungan mayat dewa. Hutan tingkat fana ini, di matanya, tak lebih dari halaman belakang rumah yang sedikit berantakan.
"Energi spiritual di sini jauh lebih padat dibandingkan kediaman klan," gumam Jian Chen pelan, membiarkan udara lembap memenuhi paru-parunya. "Tapi ini masih terlalu tipis untuk memberi makan pusaran di Dantianku. Aku butuh esensi darah."
KRAK!
Suara ranting patah memecah keheningan, berjarak sekitar lima puluh meter di sebelah kanannya.
Langkah Jian Chen terhenti. Dalam sekejap, tubuhnya menyatu sempurna dengan bayangan batang pohon ek raksasa di dekatnya. Ia menajamkan telinga. Terdengar dengusan kasar, diikuti suara gesekan benda keras yang mengoyak tanah berbatu.
Dari balik semak belukar berduri, seekor makhluk mengerikan menyeret tubuhnya keluar. Itu adalah babi hutan, namun ukurannya membengkak sebesar sapi jantan dewasa. Kulitnya berwarna abu-abu gelap, sekasar dan sekeras pelat baja, ditumbuhi bulu-bulu kaku setajam jarum. Dua taring kuning melengkung mencuat dari rahang bawahnya, meneteskan liur kental yang berbau busuk.
Babi Berkulit Besi, batin Jian Chen, membongkar ingatan pemilik asli tubuh ini. Binatang Iblis Tingkat 1 Kelas Rendah. Kekuatan setara Kondensasi Qi Tingkat Dua. Tanpa kecerdasan, hanya mengandalkan kulit kebal senjata dan serudukan brutal.
Jika jenius klan seperti Jian Hu bertemu monster ini sendirian, ia pasti sudah lari terbirit-birit mengompol di celana. Mengalahkan makhluk ini umumnya butuh pengepungan dari tiga kultivator sepadan.
Namun, yang bersembunyi di dalam bayangan saat ini bukanlah pemuda fana biasa.
Jian Chen menarik belati tua berkarat dari balik sabuknya. Ia memandang bilah murahan itu dengan senyum miring. "Bilah rongsokan ini akan hancur jika aku menebas kulitnya. Tapi sekeras apa pun kulit besi... setiap makhluk yang bernapas memiliki celah."
Mata Jian Chen menyipit, mengunci targetnya layaknya predator puncak.
Babi Berkulit Besi itu tengah mengendus tanah, mencari akar berdarah untuk dikunyah. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa posisinya dalam rantai makanan baru saja berbalik.
WUSH!
Jian Chen melesat meledak dari tempat persembunyiannya. Kecepatannya tidak masuk akal; otot-otot kakinya yang diregenerasi Darah Primordial melepaskan tenaga lima ratus kilogram ke pijakan tanah, melontarkan tubuhnya bagai anak panah hitam di tengah malam.
Monster itu merasakan hembusan angin pembawa maut. Naluri purbanya menjerit. Ia menyentakkan kepalanya yang masif ke atas, mendengus marah, dan bersiap meremukkan bayangan kecil yang berani menantangnya.
Tapi Jian Chen bergerak dengan kesempurnaan matematis.
Alih-alih mundur atau menghindar, Jian Chen tiba-tiba menjatuhkan diri, meluncur rendah di atas tanah berlumpur tepat di bawah kolong taring monster yang sedang menanjak. Dalam sepersekian detik kritis saat ia berada tepat di bawah leher raksasa itu, tangan kanannya menusuk ke atas dengan sudut yang mematikan.
Ia tidak mengincar kulit leher. Ia mengincar lipatan sempit di antara rahang bawah dan tenggorokan—titik buta absolut di mana pelat kulit besinya tidak tumbuh.
CRAAAT!
Belati berkarat itu menembus daging lunak dan memutus pembuluh darah utama babi hutan itu tanpa perlawanan. Namun, karena ledakan tenaga murni Jian Chen dan kualitas logam yang terlampau buruk, bilah belati itu langsung patah menjadi dua, tertinggal di dalam tenggorokan makhluk tersebut.
"NGUIIIIKKK!"
Jeritan melengking merobek malam. Darah panas mendidih menyembur deras dari leher makhluk itu bagai geyser pecah. Raksasa itu terhuyung-huyung, menyeruduk udara kosong dengan membabi buta, sebelum akhirnya ambruk membentur tanah dengan dentuman keras. Kakinya menendang-nendang udara beberapa kali, lalu terdiam selamanya.
Satu tarikan napas. Kematian instan.
Jian Chen bangkit berdiri perlahan, mengibaskan kotoran dari pakaiannya. Tak ada setetes pun darah yang berhasil menodai jubah hitamnya.
"Seni pedangku tak bisa digunakan tanpa Qi Sejati, tapi insting membunuh dari sepuluh ribu tahun tidak akan pernah berkarat," ucapnya dingin sambil melempar gagang belati yang kini tak berguna.
Ia melangkah menghampiri bangkai hangat Babi Berkulit Besi itu. Tanpa jeda, Jian Chen menempelkan telapak tangannya tepat di atas luka menganga yang mengucurkan darah.
"Waktunya makan."
Seni Melahap Surga Primordial—Bangkit!
Pusaran hitam kelam di Dantiannya berputar liar merespons kehendak tuannya. Daya hisap tak kasat mata menjalar dari perutnya, merambat melalui jaringan lengan, dan meledak di telapak tangannya.
Pemandangan yang menyalahi kodrat alam pun terjadi.
Darah yang tadinya tumpah ke tanah perlahan melayang naik, melawan gravitasi, meresap masuk ke telapak tangan Jian Chen. Daging, otot, dan Esensi Kehidupan dari monster raksasa itu disedot keluar secara paksa.
Hanya dalam sepuluh napas, bangkai Babi Berkulit Besi yang seukuran sapi itu menyusut dengan kecepatan mengerikan. Otot-ototnya kempes. Darahnya mengering. Kulit besinya kehilangan kilau, berubah kusam layaknya batu nisan tua. Pada akhirnya, yang tersisa hanyalah kerangka berbalut kulit keriput—sebuah mumi monster yang mengenaskan.
Di saat bersamaan, Jian Chen bergetar hebat.
Esensi darah dan energi iblis liar merangsek masuk ke dalam tubuhnya. Energi itu sarat akan kebrutalan dan kotoran. Jika kultivator normal menyerapnya, meridian mereka akan meledak atau mereka akan berakhir gila karena penyimpangan Qi.
Namun di hadapan lubang hitam Seni Melahap Surga Primordial, energi liar itu digilas tanpa ampun. Kesadaran brutalnya dihancurkan, kotorannya dibumihanguskan, menyisakan untaian Qi keperakan yang sangat murni dan setetes embun Esensi Kehidupan yang menyegarkan setiap sel tubuh Jian Chen.
Kultivasinya, yang tadinya baru menetap di Tingkat Dua, kini mendidih dan merayap naik menuju puncak Tingkat Dua dengan sangat solid.
"Luar biasa," mata Jian Chen berkilat buas. "Satu ekor Babi Berkulit Besi setara dengan lima Pil Pengumpul Qi tingkat rendah. Dan esensi kehidupannya secara pasif terus menumbuhkan kekuatan fisikku."
Ia menendang bangkai mumi itu hingga hancur menjadi debu tulang, melenyapkan barang bukti agar tidak memancing predator tingkat tinggi. Ia hanya mematahkan sepasang taring babi hutan itu dari tengkoraknya; benda itu cukup keras dan tajam untuk menggantikan belatinya yang hancur.
Perburuan baru saja dimulai. Hutan gelap ini resmi menjadi taman bermainnya.
Selama tiga jam berikutnya, Jian Chen bergentayangan bak hantu kelaparan. Ia melacak, menyergap, dan membantai empat ekor Babi Berkulit Besi lainnya, serta dua ekor Serigala Angin Bayangan (Shadow Wind Wolf). Semuanya dieksekusi dengan presisi tusukan taring babi hutan, lalu dilahap esensinya hingga tak tersisa.
Energi di Dantiannya terus membengkak, mendorong batas kapasitasnya. Ia hanya berjarak sehelai rambut tipis dari terobosan ke Kondensasi Qi Tingkat Tiga.
Di sela-sela pembantaiannya, mata elangnya—yang mewarisi pengetahuan Alkimia Tingkat Dewa—berhasil mengais harta karun yang buta bagi kultivator amatir. Ia mencabut belasan batang Rumput Darah Beku di bawah lapisan lumut dan memanen kelopak Bunga Pengumpul Roh dari celah bebatuan.
Namun, target utamanya malam ini belum juga muncul.
"Untuk mencabut sisa akar kecacatanku dan menembus Tingkat Tiga dengan fondasi sempurna, aku butuh Bunga Sumsum Tulang (Bone Marrow Flower)," pikir Jian Chen seraya melompati akar gantung. "Ramuan busuk itu hanya mekar di atas kuburan massal binatang iblis."
Pencariannya membuahkan hasil tepat ketika semburat biru fajar mulai menggaris ufuk timur.
Jian Chen menghentikan langkahnya di balik semak pakis raksasa. Di depannya, sebuah celah tebing berbatu melesak ke dasar bukit. Bau busuk kematian menguar pekat dari dalam sana. Permukaan tanah di sekitar celah itu memutih—sepenuhnya tertutup oleh tulang-belulang hancur dari ratusan binatang.
Dan tepat di tengah lautan tengkorak itu, mekar sekuntum bunga yang ganjil. Kelopaknya seputih pualam tulang, dihiasi urat-urat merah menyala yang berdenyut pelan, seolah tengah memompa darah ke udara.
Bunga Sumsum Tulang!
Jian Chen tidak langsung bergerak maju. Ia seketika menahan napas dan menekan seluruh auranya menjadi ketiadaan.
Ia sangat paham hukum mutlak alam liar: Harta karun surgawi tidak pernah mekar tanpa penjaga.
Dari dalam kegelapan pekat celah gua itu, sebuah geraman rendah terdengar, frekuensinya begitu dalam hingga membuat tanah berbatu di bawah kaki Jian Chen bergetar. Dua pasang mata kuning vertikal menyala, mengiris kegelapan, menatap tajam penuh posesif ke arah Bunga Sumsum Tulang.
Sesosok makhluk berukuran sebesar kuda perlahan melangkah keluar, otot-ototnya bergerak bagai cairan di bawah bulu hitam legamnya yang menyatu dengan bayangan. Cakar-cakarnya yang melengkung tajam menancap tanpa suara ke dalam bebatuan padat.
Macan Kumbang Bayangan (Shadow Panther)...
Binatang Iblis Tingkat 1 Kelas Menengah. Kekuatannya mengimbangi kultivator Kondensasi Qi Tingkat Tiga Puncak, hampir menembus Tingkat Empat. Monster ini seratus kali lebih mematikan dari babi hutan berotak udang; ia dipersenjatai kecepatan kilat, kecerdasan berburu yang licik, dan haus darah yang tak pernah terpuaskan.
Jian Chen memutar taring babi hutan di genggamannya. Alih-alih gentar, senyum gila justru perlahan merobek wajahnya. Darah di pembuluhnya mendidih oleh antisipasi pertarungan sejati.
"Sempurna. Esensi darahmu akan menjadi tiketku menuju Tingkat Tiga."