Setelah mengetahui pengkhianatan sang kekasih, serta ada masalah di pabriknya, Rayyan memutuskan untuk healing sejenak ke sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya berada.
Tapi, nasib justru mempermainkannya. Malam itu, Rayyan menyelamatkan Lilis yang hendak di lecehkan seseorang, tapi Rayyan terjebak dalam sebuah kondisi, yang membuat warga desa salah paham, hingga mengharuskannya menikahi Lilis, seorang janda kembang.
Bagaimanakah lika-liku perjalanan mereka selanjutnya?
Apakah Rayyan akan tetap mempertahankan Lilis sebagai istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#34
#34
Mall siang menjelang sore.
“Ini aja,” cetus Rayyan. Tapi, sepertinya Lilis enggan menerima benda berkilau yang dipilih suaminya.
“Kenapa, Lis. Ini lebih berkilau daripada yang itu?” Rayyan tetap keukeuh dengan pendapatnya.
Tapi kalung sederhana dengan hiasan bandul kecil tetap menjadi pilihan Lilis, “Ini saja, Mas. Kalau Mas tetap memilih yang itu, maaf, aku tak akan memakainya.”
Kedua alis Rayyan saling bertaut, niat hati ingin membeli perhiasan mahal untuk Lilis sebagai hadiah, karena kemarin Rayyan menilai mas kawin yang ia berikan sangat tidak layak. “Kenapa?”
“Kita tinggal di desa, Mas. Rasanya tak etis saja, bila sengaja memperlihatkan perhiasan mewah. Lagipula aku tak mau terlihat seperti orang yang pamer, hanya itu, Mas.”
“Jadi karena itu kamu menolak cincin berkilau ini, dan lebih memilih kalung karena tak terlihat orang?” selidik Rayyan, padahal ia sudah memilih cincin berlian, tapi yang diinginkan Lilis hanya kalung permata biasa.
Rayyan mengerti, ia tak memaksa, mungkin saatnya belum tiba. Kelak, jika mereka sudah tinggal di kota, dan Lilis mau tak mau harus ikut mendampinginya menghadiri berbagai acara, pelan-pelan mungkin Lilis akan mau memakai perhiasan yang lebih mewah.
“Ya, sudah, terserah kamu saja. Jangan bilang aku pelit, ya?”
Lilis terkekeh, “Nggak, Mas. Suamiku tetap yang paling baik.”
Rayyan pun mengeluarkan kartu hitamnya, padahal kartunya no limit, tapi yang diinginkan Lilis hanya perhiasan murah yang harganya tak sampai lima juta.
Sebelum meninggalkan toko perhiasan, Rayyan lebih dulu memasangkan kalung ke leher Lilis. Pria itu tiba-tiba iseng berbisik, “Sekarang lehermu tak hanya berhiaskan tato,” katanya, dan sukses membuat wajah Lilis merah padam.
“Ish,” gerutu Lilis, bibirnya manyun, tapi jantungnya dar der dor tak karuan.
Ketika berjalan ke luar, Rayyan melingkarkan lengannya di pinggang Lilis. “Makan sudah, beli perhiasan juga sudah,” gumam Rayyan.
“Hah? Mas bilang apa, tadi?”
“Beli makan, sudah, beli perhiasan, juga sudah,” jawab Rayyan. Tatapan matanya pun tertuju ke toko perlengkapan pakaian khusus wanita. “Ayo, kita ke sana.”
“Kemana, Mas?” Lilis terlihat kebingungan, karena Rayyan mengajaknya berjalan cepat, tanpa memberikan jawaban.
Alangkah terkejutnya Lilis, ketika Rayyan membawanya masuk ke toko pakaian dalam dan pakaian tidur berbagai model khusus untuk wanita dewasa. Kemarin, Rossa yang berbelanja untuknya, dan kini melihat sendiri tokonya, Lilis jadi malu setengah hidup setengah mati.
“Nggak, ah, Mas. Yang kemarin masih banyak.” Lilis mencoba menyeret lengan suaminya agar segera beranjak dari toko tersebut, tapi Rayyan tetap diam tak bergeming.
“Nggak, ah, aku mau kamu beli salah satu dari pakaian yang dipajang di sana,” ucap Rayyan semakin iseng, jari tangannya menunjuk ke sebuah space yang memajang lingerie tipis, yang nyaris tak menutupi apapun jika dipakai.
Lilis sudah ingin menangis, tapi Rayyan justru menariknya masuk, sama sekali tak malu, padahal di sana menjual perlengkapan pakaian wanita, dan pramuniaga tokonya juga semuanya wanita.
Lilis hanya menunduk malu, tak berani mengangkat wajahnya. Jika bisa ia ingin tenggelam saja ke dasar bumi, agar tak ada yang menemukan keberadaannya.
Sementara Rayyan malah yang paling sibuk memilih, Lilis hanya menunggu diam.
Tiba-tiba.
Brugh!
Seorang wanita yang baru menyelesaikan pembayaran, berjalan ke pintu keluar, karena posisi Lilis masih menghalangi jalan, jadilah wanita itu tanpa sengaja menabrak Lilis.
Perut yang mulai membesar, ditambah kedua tangan repot menenteng belanjaan, membuat wanita itu kerepotan. “Kalau mau melamun, jangan menghalangi jalan, dong!” hardiknya kesal.
“M-ma-af,” kata Lilis terbata, sadar karena ia salah.
Deg!
Wanita itu—
Dada Lilis berdegup kencang ketika mengenali wajah wanita yang menabraknya, tapi sayang wanita itu tak mengenal Lilis karena penampilannya sudah seratus persen berubah.
Jadi, wanita itu pun pergi begitu saja, setelah mendengar permintaan maaf dari Lilis. Lilis menatap punggung Monica yang kian menjauh, ternyata Monica menghampiri Dio yang menunggunya di salah satu cafe yang tak jauh dari sana.
Ada rasa nyeri dan ngilu di ulu hati, ketika kembali mengingat kedua orang itu, rasanya ingin berdoa yang jelek dan jahat saja untuk mereka.
Tapi, sebuah pelukan di bahu membuyarkan lamunannya, “Kenapa, kok melamun?”
“Eh, Mas. Itu, lihat orang-orang kota berbelanja,” jawab Lilis beralasan.
“Aku sudah pilih beberapa, kamu mau yang mana?” Rayyan kembali menarik istrinya untuk masuk ke dalam toko, dan memilih sendiri pakaian untuk dinas malam dalam rangka menyenangkan dirinya.
•••
Sementara itu.
Agung dan Mbah Nuning sedang menggelar pertemuan secara tertutup. Tak hanya berdua, karena Agung ditemani istrinya, dan mbah Nuning di temani asistennya, Arini.
Mbah Nuning nampak serius mengamati deretan angka yang disuguhkan Agung padanya.
“Saya tak ingin menunjuk siapa dalangnya, tapi, saya hanya menunjukkan jika sudah seperti inilah keadaannya.”
Agung menunjuk layar monitor yang sudah ia beri tanda merah.
“Banyak pengeluaran tak wajar yang terjadi belakangan ini, mulai dari pembelian mesin pabrik, hingga inventaris kantor yang saya lihat dan amati, tak perlu-perlu amat.”
“Dan ini juga, catatan kartu kredit perusahaan, tagihannya membengkak, setelah saya selidiki, ternyata semua pengeluarannya untuk barang pribadi seseorang.”
Lagi-lagi Agung tak menyebutkan siapa orangnya. Hanya saja memberikan klu berupa teka-teki karena Ia tak ingin ikut campur.
“Tak perlu ragu, apalagi takut mengatakannya, Tuan Agung. Bagiku yang sudah senja ini, tahu sejak dini, lebih baik daripada tahu di akhir, ketika semua sudah terlambat.”
Seputus asa itulah Mbah Nuning pada Dio, sang calon penerus, bahkan pria itu menghamili kekasihnya padahal mereka belum terikat pernikahan pada saat itu. Entah bagaimana nanti kelanjutan nasab keluarga Erlangga.
•••
“Ada apa, Om? Kenapa malam-malam begini memanggilku kemari?”
“Ini, buku nikah kalian. Dan ini informasi tentang mantan suami Lilis. Ternyata pria itu adalah Dio.”
“Apa, Om?!” Rayyan segera merampas map berisi informasi tentang mantan suami Lilis, yang tempo Hari Rayyan minta.
Sumpah mati ia penasaran pada pria yang telah menyia-nyiakan Lilis dengan cara sedemikian menjijikkan. Rayyan mengepalkan kedua tangannya, bibirnya tersenyum miring seolah sedang merencanakan sesuatu, agar Lilis bisa membalaskan sakit hatinya.
Agung membuka kepalan tangan Rayyan, “Masalah mereka sudah berlalu, buang jauh-jauh rasa cemburumu,” tegur Agung, salah paham dengan apa yang Rayyan rasakan.
“Apaan, sih, Om. Siapa juga yang cemburu?” elak Rayyan, “justru pria bernama Dio itu yang wajib cemburu padaku,” sambung nya pongah.
Sombong pada pria sombong itu hukumnya wajib, biar saja Dio kepanasan melihat betapa Lilis yang kini menjadi ratu setelah menikah dengannya.
“Om kira kamu cemburu.”
“Oh, iya. Berita baiknya, besok kita diundang makan malam di rumah Bu Nuning.”
“Yes!” pekik Rayyan girang. “Aku tak akan melewatkan kesempatan ini, akan ku tunjukkan pada pria itu, wanita seperti apa yang sudah ia sia-siakan.”
###
Ramadhan telah tiba, selamat menjalankan ibadah puasa bagi kalian yang menjalankannya.
Dan seperti yang sudah-sudah, bila ramadhan tiba, othor hanya bisa up 1 bab saja, tapi tahun ini akan othor usahakan 2 bab. namun, bila hanya bisa 1 bab mohon dimaafkan ya 🥰
Dan untuk para pembaca Wanita Mantan Narapidana, akan othor usahakan up 2 hari sekali 🙏🏻😖
mohon pengertiannya 🙏🏻🙏🏻
cepet pulih ya lis
pantes lah kalau kurang gizi, lilis banting tulang buat nyari uang kebutuhan emak tiri