Kisah seorang ilmuan gila yang melawan pemerintah dunia yang dzalim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Michael Jack, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekalahan Negeri Es
Di hamparan laut utara yang membeku, hawa dingin terus menerpa tubuh Jack. Ia bertarung hanya dengan setengah kekuatannya, karena setengah kekuatan lainnya digunakan untuk menciptakan zirah api penyembuh yang melindungi seluruh pasukannya. Bisa dibilang Jack memiliki energi qi yang sangat besar, karena ia mampu mengubah energi alam di sekitarnya menjadi energi qi miliknya sendiri, sehingga persediaan energi qi yang ia miliki hampir tak terbatas.
Di tengah kekacauan pertempuran, dari kejauhan Sky melesat cepat menuju arah Jack. Tanpa memberi kesempatan, ia langsung melancarkan tendangan ke arah Jack, namun Jack berhasil menghindarinya dengan langkah ringan.
"Aku sangat menantikan pertemuan ini... Michael Jack," ucap Sky dengan tatapan penuh permusuhan.
Jack tersenyum tipis.
"Saya pikir pertemuan itu sudah cukup membuat anda menyerah."
"Belum..." balas Sky dingin. "Waktu itu aku hanya kurang persiapan saja."
Jack menatap Sky dengan tatapan sinis.
"Lalu... apa yang anda inginkan?"
Sky mengepalkan tangannya dengan keras.
"Tentu saja melawanmu, pecundang!"
"Kalau saya menolak?" tanya Jack dengan nada tenang.
Sky mengeluarkan sayap es dari punggungnya.
"Maka aku akan membunuhmu!"
Sky menyerang lebih dulu. Ia terbang tinggi ke langit lalu menciptakan badai kristal es yang berputar dengan dahsyat.
Jack mengangkat tangannya. Api biru yang telah ia padatkan muncul di telapak tangannya, lalu ia melemparkannya ke arah badai itu. Dalam sekejap, badai kristal es tersebut pecah menjadi debu salju yang tebal dan berhamburan ke segala arah.
"Tunggu... kenapa anda melakukan hal sejauh ini?" tanya Jack. "Hal ini sangat membahayakan pasukan anda juga."
"Aaah! Aku tidak perduli!" teriak Sky. "Asalkan aku bisa membunuhmu, aku akan mengorbankan apa pun!"
Sky menghantam laut yang membeku dengan kekuatan besar. Retakan raksasa pun terbuka di permukaan es, membuat Jack terjatuh ke dalam air laut yang sangat dingin.
Jack berusaha keluar, namun Sky segera menekan tubuhnya menggunakan palu es kristal raksasa.
Jack melepaskan gelombang kejut yang menghancurkan palu itu menjadi pecahan es. Ia segera keluar dari laut, lalu terbang dan menendang Sky hingga terjatuh keras.
"Dampak yang anda buat terlalu besar bagi kedua belah pihak," ucap Jack sambil berjalan mendekati Sky yang tengah terbaring.
"Jika anda tidak menyerah sekarang juga, maka anda akan menanggung konsekuensinya."
Sky bangkit lalu melompat menjauh. Ia kembali membuka sayap esnya dan terbang tinggi ke udara.
"DENGAN INI, BERAKHIR SUDAH!!!"
Sky mulai mengumpulkan kekuatan di atas awan. Setelah selesai, ratusan tombak es raksasa muncul di langit, siap menghujani seluruh medan pertempuran.
Jack mendongak ke langit dengan ekspresi terkejut.
"Anda sudah gila ya?!"
Tanpa membuang waktu, Jack langsung terbang menuju Sky. Dalam satu gerakan cepat, ia menebas Sky sebelum serangan itu sempat dilepaskan.
Dengan satu tebasan, tubuh Sky langsung jatuh dari langit dengan kecepatan tinggi.
Di tengah kesadarannya yang mulai memudar, Sky menatap Jack dengan penglihatan yang semakin kabur.
"Sial... aku lagi-lagi dikalahkan oleh seorang pecundang?" gumam Sky dalam hati.
Tubuhnya menghantam permukaan es, lalu es itu pecah dan membuatnya tenggelam ke dalam lautan yang gelap.
Jack hanya menyaksikan tubuh Sky tenggelam dari langit. Wajahnya masih menunjukkan kebencian, namun di dalam hatinya tetap ada rasa hormat terhadap lawannya.
"Jujur saja, saya sangat menyukai semangat yang anda miliki. Namun sayangnya... semangat itu berubah menjadi keegoisan yang membuat saya harus mengakhiri anda," ucap Jack.
"Jika takdir masih membiarkan anda hidup, saya harap anda menjadi orang yang lebih baik nantinya."
Setelah itu, Jack terbang menuju tengah-tengah medan pertempuran.
"Wahai pasukan dari Negeri Es, saya ingin mengatakan satu hal," ucap Jack dengan suara yang menggelegar hingga terdengar di seluruh medan perang.
"Saat ini, pemimpin kalian Sky dan Kai telah tenggelam ke dasar lautan... dan saya memberikan kalian dua pilihan. Mati sia-sia di sini, atau mundur dan mengakui kekalahan."
Perang pun tiba-tiba berhenti.
Suasana yang sebelumnya dipenuhi suara ledakan dan teriakan kini berubah menjadi kesunyian yang mencekam. Para prajurit Negeri Es sama sekali tidak percaya bahwa jenderal mereka telah tewas.
Lutut mereka melemah.
Air mata mulai mengalir.
Kesedihan yang mendalam membuat hati mereka terasa hancur.
Pio segera memerintahkan seluruh pasukan Four Eyes untuk mundur dari garis depan.
Di tengah kesunyian penuh duka itu, seorang prajurit Negeri Es tiba-tiba berdiri tegak dengan mata yang dipenuhi air mata.
"Semuanya... dengarkan aku!"
Suaranya begitu keras hingga seluruh orang di medan perang menoleh ke arahnya.
"Kita tidak boleh menyerah begitu saja! Kita tidak boleh mengecewakan Jenderal Sky dan Kai!"
Kata-kata itu membangkitkan kembali semangat para prajurit Negeri Es. Mereka mengusap air mata mereka dan kembali bersiap untuk bertarung.
"Lebih baik kita mati daripada harus menanggung malu sepanjang hidup!"
Semangat mereka kembali menyala. Mesin tempur kembali dinyalakan, senjata kembali digenggam.
"Semuanya... SERAAANG!!!"
Seketika seluruh pasukan kembali maju menyerang.
Teriakan mereka, keberanian mereka, dan semangat mereka mencerminkan jiwa seorang ksatria sejati.
Jack berdiri di hadapan seluruh pasukan itu, bersiap melancarkan serangan terakhir yang dapat membunuh mereka semua.
Ia mengayunkan pedangnya secara horizontal, menciptakan tebasan berbentuk bulan sabit yang sangat panjang.
Serangan itu melesat lurus menuju pasukan Negeri Es.
Namun tidak satu pun dari mereka berusaha menghindar.
Saat semua orang mengira pasukan Negeri Es akan berakhir, tiba-tiba dari langit muncul cahaya biru kristal.
Seorang wanita turun dari langit dengan tombak es di tangannya.
Dengan satu ayunan tombak, ia menghancurkan serangan Jack.
"HENTIKAN SEMUA INI!!!"
Wanita itu bernama Diana.
Tinggi badannya sekitar 166 cm. Rambutnya panjang hingga melewati punggung dengan warna hitam yang dihiasi beberapa helai biru. Ia dijuluki Snow Wolf, karena mampu berubah menjadi manusia serigala es.
Senjatanya adalah tombak es yang sangat kuat, yang selalu ia gunakan dalam pertempuran.
Kepribadiannya sedikit pendiam, namun ia ramah dan suka menolong. Sikapnya yang anggun namun tegas membuatnya sangat dihormati oleh masyarakat Negeri Es.
Diana melangkah mendekati Jack.
Jack yang tidak merasakan niat membunuh darinya ikut berjalan maju sambil menyarungkan kembali pedangnya.
Mereka bertemu tepat di tengah medan perang.
Suasana menjadi sangat hening, namun ketegangan terasa begitu kuat.
"Michael Jack... perkenalkan, aku Diana. Jenderal perang dari Negeri Es. Salam kenal," ucap Diana dengan tenang.
"Ya... karena anda sudah tahu nama saya, jadi saya tidak perlu memperkenalkan diri," balas Jack. "Jadi, apa yang anda inginkan?"
Diana mengeluarkan sebuah gulungan surat dari tas yang ia bawa, lalu menyerahkannya kepada Jack.
"Sebelumnya, aku membawa pesan dari sang raja untuk menyampaikan surat permintaan maaf darinya."
"Dan kami juga mengundangmu untuk datang ke Negeri Es untuk membahas sebuah kerja sama."
Seketika seluruh pasukan dari kedua belah pihak langsung berteriak karena terkejut.
Terutama Vickery dan Aren yang berteriak paling keras.