Karina, seorang wanita cantik yang sangat mandiri. Karena di usianya yang baru 23 tahun sudah memiliki toko bakery sendiri hasil kerja kerasnya.
Namun, tiba-tiba saja hidupnya berubah drastis saat ada seorang laki-laki yang datang ke tokonya mencari roti untuk sang ibu, hingga membuat hidupnya terus di hantui oleh laki-laki itu yang ternyata seorang duda.
Andrian Jayatama Persadha, seorang duda berusia 41 tahun, yang sudah menduda selama 7 tahun tiba-tiba saja di paksa menikah lagi oleh ibunya, hingga dia bertemu seorang wanita cantik yang menurutnya tipe idaman ibunya sekali.
Akankah perjuangan Andrian membuahkan hasil untuk mendapatkan hati Karina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resah
"Ahkkkk..." Karina berteriak di dalam kamarnya saat dia masih terbayang kata-kata dari om-om itu tadi.
"Sadar Karina sadar, itu om-om gak mungkin mau sama elu. Dia kaya Karina, om Adrian gak mungkin mau sama lu, inget itu Karina, inget!" ucapnya lagi pada dirinya sendiri.
Di saat dia sedang resah, ponselnya bergetar dan masuk sebuah pesan dari nomor Adrian.
"Karina?" pesan yang Adrian kirimkan padanya.
Karina tidak tau harus membalas apa. Dia hanya membacanya saja tanpa ingin membalasnya.
Tapi, pesan lainnya kemarin masuk dan itu dari orang yang sama. Adrian.
"Karina, kenapa tidak membalas pesan saya?"
"Karina, kamu marah dengan saya?"
"Karina?" Adrian spam chat yang membuat Karina mau tidak mau harus membalasnya.
Tidak tahukah laki-laki itu jika saat ini dirinya tidak bisa tidur?
"Apaan sih om? Aku ngantuk tau. Kalau mau ngomong besok aja." balasnya pada Adrian yang membuat laki-laki itu langsung kembali membalasnya juga.
"Oh, oke. Maaf karena telah menganggu waktu kamu. Selamat tidur, Karina." balas Adrian dan Karina hanya membalasnya dengan sebuah emoticon.
"👌🏽." terdengar helaan nafas berat dari Adrian saat Karina membalas pesannya hanya dengan sebuah emoticon saja.
Padahal dia ingin bicara dengan Karina, jika apa yang dia ucapkan tadi tidak ada yang main-main. Tapi sepertinya Karina butuh waktu untuk istirahat dan memikirkan perkataannya tadi.
Memang benar, jika saat ini Karina tidak bisa tidur dan merasa resah karena apa yang antrian katakan padanya itu benar-benar membuatnya kaget.
Siapa yang tidak kaget tiba-tiba diajak menikah. Padahal mereka baru saja kenal dan bertemu beberapa kali. Tapi laki-laki itu sudah mengajaknya menikah saja.
"Ahk...tau ah! pusing gue! Mending tidur!" umpatnya pada dirinya sendiri karena dia benar-benar tidak bisa tidur dan terus memikirkan laki-laki itu.
Sedangkan Adrian, Dia terpaksa kembali pada pekerjaannya. Karena Karina tidak mau bicara dengannya.
"Saya serius dengan kamu Karina. Saya benar-benar ingin menikahi kamu." ucap Adrian pada foto kontak Karina di ponselnya.
Karena tidak ingin terus di hantui pikiran tentang Karina, Adrian juga memilih tidur karena hari juga sudah larut.
*
*
*
*
*
Keesokan harinya, Adrian memanggil Chyntia untuk datang ke ruangan kerjanya.
"Ya, Pak? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Chyntia pada Adrian.
"Tidak ada jadwal penting hari ini?" tanya Adrian pada Cynthia.
"Tidak ada, Pak. Hari ini bapak senggang." jawabnya lagi.
"Saat ini kita bicara sebagai teman, Chyntia. Jadi duduk di tempatmu dan jangan panggil aku bapak." Cynthia mengerti saat ini.
Jika teman sekaligus bosnya ini, sedang tidak baik-baik saja. Terkahir kali Mereka bicara sebagai teman ketika Adrian yang masih memikirkan mantan istrinya, Ambar.
"Ada apa, Adrian? Apa ini tentang Ambar lagi?" tanya Chyntia untuk memastikan.
Jika ini kembali tentang Ambar, maka dia tidak ingin membicarakannya.
"No! ini bukan tentang Ambar lagi Chintya. Tapi tentang seorang gadis yang menghantui isi pikiranku." jawabnya pada Cynthia.
"Gadis mana yang kau maksud Adrian. Jangan bertele-tele, langsung saja pada intinya. Apa kau jatuh cinta untuk yang kedua kalinya?" Adrian membenarkan apa yang ditanyakan Cynthia padanya.
"Siapa wanita itu? aku harus memastikannya jika dia memang wanita baik-baik untukmu. Aku tidak ingin kamu kembali menjadi laki-laki bodoh hanya karena cinta. Ayolah Adrian, kau bukan lagi anak remaja yang berusia 17 tahun. Saat ini usiamu sudah memasuki 41 tahun. Jadi pikirkan apa yang akan kau lakukan selanjutnya."
"Maka dari itu aku ingin bicara denganmu. Namanya Karina, dia baru berusia 23 tahun."
"Apa?!" pekik Chyntia saat mengetahui wanita yang di sukai Adrian berusia 23 tahun. Hampir setengah dari usianya.
"Kenapa Chyntia? Apa aku setua itu hingga kau kaget saat mendengar usianya?" tanya Adrian dengan gurat kecewa di wajahnya.
"Ayo kita pergi padanya! Aku ingin melihatnya secara langsung! Aku sendiri yang akan memastikan bahwa wanita itu memang wanita baik-baik. Astaga aku bahkan tidak sanggup menyebutnya wanita karena usianya. Dia lebih pantas di panggil gadis Adrian. Atau jangan-jangan di hanya ingin memanfaatkan mu saja?"
"Dia anak baik-baik Chyntia. Dia mandiri dan memiliki toko bakery sendiri. Namanya Karina Bake A Love. Aku sudah mancari tau tentang dirinya dan dia memiliki seorang kakak laki-laki dan ibunya janda, di tinggal mati suaminya." Chyntia menatap tajam pada Adrian.
Ternyata sudah sejauh ini Adrian mencari tau tentang gadis itu. Saat mereka sedang bicara, ponselnya berdering dan itu panggilan masuk dari Karina.
"Diam!" titah Adrian pada Chyntia karena dia ingin menjawab panggilan telepon dari Karina.
"Hal-"
"Om! Apa maksudnya ini hah? Jangan gila ya om! Kemaren bayar roti sama latte 10 juta. Sekarang kirim buket bunga Segede itu buat apaan coba?" pekik Karina kesal dengan sikap Adrian yang membuat heboh satu toko miliknya.
Chyntia yang mendengar suara gadis itu memekik pada Adrian pun terkejut. Jika itu orang lain, mungkin sudah Adrian hajar karena berani membentaknya.
"Karina, dengarkan saya dulu. Saya-"
"Aku gak mau tau! Pokoknya ambil balik. Itu pasti mahal banget, astaga! Dasar om-om menyebalkan!!!"
Tut!
Panggilan di tutup sepihak setelah Karina mengungkapkan kekesalannya terhadap Adrian.
"Aku rasa dia gadis yang cocok untuk sikap kamu yang terlalu dingin ini Adrian. Lihat, dia bahkan berani memaki kamu begitu. Jadi aku rasa dia cukup baik." kata Chyntia menilai Karina yang belum pernah dia temui sebelumnya.
***
belajar memangil mas jan om