Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.
Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____
Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4. RENCANA LIBURAN
Beberapa hari kemudian, rencana liburan bersama di Bali yang sempat tertunda kembali diangkat oleh kedua keluarga. Meskipun Alana akan segera pergi ke Eropa, Samuel dan Marcell sepakat bahwa liburan singkat di Bali sebelum keberangkatan Alana akan menjadi kesempatan yang baik bagi kedua keluarga untuk berkumpul dan mempererat hubungan, serta bagi Aslan dan Alana untuk bertemu secara singkat dalam suasana yang santai sebelum mereka berdua berpisah untuk mengejar studi masing-masing di Eropa.
Samuel dan Marcell mulai merencanakan segala sesuatunya dengan detail. Mereka memilih sebuah resor mewah dan privat di kawasan Nusa Dua, Bali, yang memiliki pemandangan laut yang indah dan fasilitas yang lengkap. Rencananya, keluarga Hadinata dan keluarga Lenoir akan menghabiskan waktu selama satu minggu di sana.
Dalam rencana itu, mereka telah menyusun berbagai kegiatan yang menyenangkan. Di pagi hari, mereka akan menikmati sarapan bersama di restoran resor dengan pemandangan pantai, kemudian mungkin akan berjalan-jalan di sepanjang pantai atau mengunjungi tempat-tempat wisata indah di sekitar Bali seperti Pura Uluwatu yang megah atau sawah-sawah terasering di Tegalalang yang menakjubkan. Di siang hari, mereka akan menikmati makan siang di restoran-restoran lokal yang menyajikan masakan Bali yang lezat, dan di malam hari, mereka akan menikmati makan malam romantis di tepi pantai sambil diiringi oleh musik tradisional Bali yang menenangkan.
Tentu saja, dalam rencana itu, mereka juga menyediakan waktu khusus bagi Aslan dan Alana untuk berdua. Mereka berencana mengatur agar kedua anak muda itu bisa berjalan-jalan bersama, mengobrol, dan saling mengenal lebih baik tanpa gangguan dari orang tua. Mungkin mereka akan mengunjungi pasar seni di Ubud, atau sekadar duduk di kafe yang nyaman sambil menikmati pemandangan, memberikan mereka kesempatan untuk membangun koneksi yang lebih personal.
Namun, meskipun rencana itu sudah disusun dengan begitu matang dan indah, di dalam hati Aslan, rasa ragu itu masih tetap ada. Ia sering kali duduk sendirian menatap sketsa-sketsa arsitekturnya, namun pikirannya sering kali melayang ke pertemuan yang akan datang di Bali. Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah ia benar-benar bisa bergaul dengan Alana? Apakah mereka akan memiliki topik pembicaraan? Atau apakah pertemuan itu hanya akan menjadi momen yang canggung dan menyakitkan bagi keduanya.
...----------------...
> MENGUNGKAP RENCANA KELUARGA
Suatu sore, ketika Aslan sedang duduk di kafe favoritnya di dekat Place du Tertre, ponselnya berdering. Nama "Argon Leonard" muncul di layar. Argon adalah sahabat baiknya sejak masa sekolah, seorang pria yang ceria, santai, dan selalu memiliki pandangan yang unik tentang kehidupan.
"Halo, Argon," sapa Aslan saat mengangkat telepon.
"Halo, Aslan! Apa kabar, kawan?" terdengar suara ceria Argon di ujung saluran. "Aku baru saja kembali ke Paris dari perjalananku ke Barcelona. Aku punya banyak cerita seru untukmu. Dan kebetulan, Zayn dan Steven juga ada di sini. Kami sedang merencanakan untuk pergi bersenang-senang malam ini. Bagaimana kalau kita bertemu di klub malam 'L'Enfer' di Pigalle? Aku mendengar mereka memiliki DJ tamu yang hebat malam ini. Kita bisa melepaskan penat sedikit."
Aslan terdiam sejenak. Ia sebenarnya sedang tidak dalam mood untuk bersenang-senang, tetapi ia juga merasa butuh seseorang untuk diajak bicara, untuk meluapkan perasaannya. Argon, Zayn, dan Steven adalah orang-orang yang tepat untuk itu.
"Baiklah, Argon," jawab Aslan akhirnya. "Aku akan datang. Kita bertemu di sana jam sepuluh malam."
""Bagus! Aku akan memberitahu Zayn dan Steven. Sampai jumpa nanti, kawan!" seru Argon dengan antusias sebelum menutup sambungan telepon.
Aslan meletakkan ponselnya Diatas meja, Bertemu dengan Argon, Zayn, dan Steven malam ini mungkin adalah hal yang tepat yang ia butuhkan—sebuah kesempatan untuk melupakan sejenak masalahnya, atau mungkin justru sebuah kesempatan untuk berbicara dan meluapkan perasaannya kepada orang-orang yang ia percayai.
Aslan mengangkat gelas kopinya dan menyesap sisa kopi yang ada di dalamnya, meskipun rasanya sudah tidak segar lagi. Ia kemudian mengambil dompetnya, berdiri dari kursi kafe itu, dan berjalan keluar menuju jalanan Paris yang mulai ramai oleh lampu-lampu kota.
Malam itu, Aslan mengenakan kaos hitam polos, jaket kulit cokelat tua, dan celana jeans biru yang sedikit pudar. Ia merasa sedikit canggung mengenakan pakaian yang begitu kasual dibandingkan dengan gaya berpakaiannya yang biasanya lebih rapi, terutama ketika ia berada di lingkungan keluarga atau di universitas. Namun, malam ini ia ingin menjadi dirinya sendiri—seorang pemuda biasa yang ingin bersenang-senang bersama teman-temannya, tanpa harus memikirkan tentang status sosialnya atau tentang apa yang orang lain pikirkan tentangnya.
Ia berjalan menuju halte bus terdekat, lalu menaiki bus malam yang membawanya menuju distrik Pigalle. Sepanjang perjalanan, ia terus menatap ke luar jendela, melihat lampu-lampu kota Paris yang berkedip-kedip seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi. Ia memikirkan tentang apa yang akan ia katakan kepada teman-temannya nanti. Apakah ia harus berterus terang kepada mereka tentang rencana perjodohannya? Atau apakah ia harus menyembunyikannya dan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja?
Ia tahu bahwa Argon, Zayn, dan Steven adalah teman-teman yang sangat baik dan setia. Mereka sudah bersamanya melalui banyak hal—melalui masa-masa sulit di sekolah, melalui kegagalan dan keberhasilan dalam studinya, dan melalui berbagai masalah pribadi yang ia hadapi. Ia tahu bahwa ia bisa mempercayai mereka, bahwa mereka tidak akan menghakiminya atau menjadikan masalahnya sebagai bahan gosip. Namun, tetap saja, berbicara tentang sesuatu yang begitu pribadi dan sensitif seperti perjodohan bukanlah hal yang mudah.
Ketika bus akhirnya tiba di halte dekat Pigalle, Aslan turun dan berjalan menuju klub malam "L'Enfer". Jalanan di sekitar sana sudah sangat ramai dan hidup. Orang-orang dari berbagai usia dan latar belakang berjalan berkelompok, tertawa, dan berbicara dengan suara keras. Musik dari berbagai klub malam dan bar di sekitar sana terdengar bersahutan, menciptakan suasana yang sangat energik dan meriah.
Aslan berjalan menuju pintu masuk klub malam "L'Enfer". Di sana, ia sudah melihat Argon yang sedang menunggunya bersama dua orang lainnya—Zayn Abdullah dan Steven Argan. Zayn adalah sosok yang paling pendiam di antara mereka, namun ia juga memiliki hati yang sangat hangat dan penuh pengertian. Ia selalu mendengarkan dengan seksama ketika teman-temannya berbicara, dan ia selalu memberikan nasihat yang bijak dan tenang. Steven, di sisi lain, adalah sosok yang lebih ceria dan santai, namun ia juga sangat setia dan selalu ada untuk teman-temannya ketika mereka membutuhkannya.
"Aslan! Di sini, kawan!" seru Argon ketika melihat Aslan datang. Ia melambaikan tangannya dengan antusias.
Aslan tersenyum dan berjalan mendekati mereka. "Halo, semuanya. Maaf jika aku membuat kalian menunggu."
"Tidak sama sekali, kawan!" jawab Steven sambil memeluk Aslan dengan erat. "Kami baru saja sampai beberapa menit yang lalu. Bagaimana kabarmu? Kamu terlihat sedikit lelah."
Zayn juga tersenyum dan menepuk bahu Aslan dengan lembut. "Ya, benar. Apakah ada sesuatu yang terjadi? Kamu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat."
Aslan menghela nafas panjang, lalu menatap ketiga sahabatnya itu. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya dari mereka—mereka terlalu mengenalnya, dan mereka bisa melihat dengan jelas bahwa ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk berterus terang kepada mereka.
"Mari kita masuk dulu," ucap Aslan pelan. "Aku ingin berbicara dengan kalian tentang sesuatu. Sesuatu yang cukup penting."
Argon, Zayn, dan Steven saling bertukar pandang, terlihat sedikit penasaran namun juga khawatir. Namun, mereka tidak bertanya apa pun lagi. Mereka hanya mengangguk setuju, lalu bersama-sama mereka berjalan menuju pintu masuk klub malam.
Setelah melewati pemeriksaan di pintu masuk, mereka berempat masuk ke dalam klub malam. Suasana di dalam sangat hidup dan penuh energi. Lampu-lampu disko yang berwarna-warni berputar-putar di langit-langit, memantulkan cahaya ke segala arah. Musik elektronik yang keras dan cepat terdengar dari speaker-speaker besar yang terpasang di dinding, membuat lantai seolah bergetar. Di lantai dansa, banyak orang yang sedang menari dengan penuh semangat, mengikuti irama musik. Di meja-bar, orang-orang sedang mengantre untuk memesan minuman, sambil mengobrol dan tertawa satu sama lain.
Argon membawa mereka menuju sebuah meja kecil di sudut ruangan yang agak jauh dari keramaian, namun masih cukup dekat untuk bisa menikmati suasana klub. Mereka berempat duduk, dan tidak lama kemudian, seorang pelayan datang untuk mengambil pesanan mereka.
"Apa yang ingin kalian minum?" tanya Argon kepada teman-temannya. "Aku yang traktir malam ini sebagai tanda selamat datang kembali aku ke Paris, dan juga sebagai perpisahan untuk Aslan yang akan segera pergi ke Bali."
"Wah, murah hati sekali kamu, Argon!" ucap Steven dengan senyum lebar. "Kalau begitu, aku mau koktail 'Sex on the Beach' saja. Terima kasih!"
"Aku mau bir saja," ucap Zayn pelan. "Terima kasih, Argon."
"Dan kamu, Aslan?" tanya Argon sambil menatap sahabatnya itu. "Apa yang ingin kamu minum?"
Aslan berpikir sejenak. Ia sebenarnya tidak terlalu suka minum alkohol terlalu banyak, tetapi malam ini ia merasa butuh sesuatu untuk menenangkan sarafnya. "Bir saja sudah cukup, Argon. Terima kasih."
"Baiklah, satu 'Sex on the Beach', dua bir, dan... aku mau koktail 'Margarita' saja," kata Argon kepada pelayan itu. Pelayan itu mengangguk dan pergi untuk mengambil pesanan mereka.
Sambil menunggu minuman mereka datang, keempat sahabat itu duduk diam sejenak, menikmati suasana di sekitar mereka. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Argon, yang tidak sabar untuk mengetahui apa yang ingin Aslan sampaikan, akhirnya membuka suara.
"Jadi, Aslan," ucap Argon sambil mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, matanya penuh dengan rasa ingin tahu. "Kamu tadi bilang bahwa kamu ingin berbicara dengan kami tentang sesuatu yang penting. Apa itu? Apakah ada masalah dengan studimu di universitas? Atau mungkin ada masalah dengan keluargamu?"
Bersambung..
.....