“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.
"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.
"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."
Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.
"Ning, ayo nikah sama Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24
“Siapa kamu sebenarnya…?”
Ridho dengan hati-hati menyimpan kembali foto tersebut ke dalam laci mejanya, ujung jari-jarinya masih bergoyang sedikit akibat kekaguman dan kebingungan yang tak terucapkan. Dalam benaknya, sedikit demi sedikit muncul kenangan yang kabur—seolah ia pernah menjumpai wanita pada foto di suatu tempat, di mana sekitarnya tumbuh pepohonan dengan bunga merah yang mencolok, dan senyum lembut sang wanita terasa begitu akrab hingga mampu menenangkan hati. Namun, ia memilih untuk tidak menyampaikan hal ini pada Dewi. Sebagai seorang suami yang baru saja menikah, ia menyadari bahwa berpikir tentang orang lain bukanlah hal yang pantas dilakukan.
Malam itu, rumah baru mereka yang baru saja direnovasi menghadirkan suasana yang hangat di bawah penerangan lampu yang sedikit redup. Dewi duduk di sofa sambil memperhatikan layar ponselnya, kemudian perlahan berbalik menghadap Ridho dengan pandangan yang penuh makna.
“Sayanggg… kita sudah lama nggak punya waktu untuk satu sama lain lho,” ucapnya sambil menarik tangan Ridho, jari jemari mengelus-elus bagian lengan suaminya dengan lembut. “Kamu kan sudah benar-benar sehat kan? Cuma capek karena kerjaan aja ya?”
Ridho mengangguk perlahan. Meskipun benaknya masih terganggu oleh bayangan wanita pada foto, ia menyadari bahwa sebagai pasangan hidup, ia memiliki kewajiban yang harus dipenuhi. Insting sebagai laki-laki juga muncul, membuatnya akhirnya mengikuti keinginan Dewi. Mereka menjalani momen keintiman dengan penuh kasih sayang, meskipun di dalam hati Ridho merasakan adanya kekosongan yang tak bisa dijelaskan—seolah bagian penting dari dirinya masih hilang dan belum ditemukan.
****
Keesokan paginya, Ridho sekali lagi membuka laci mejanya untuk melihat foto tersebut. Sudah tiga hari lamanya ia terus berpikir—mengapa foto ini berada di mejanya? Bagaimana mungkin ia menyimpannya sendiri namun tidak mengingatnya? Padahal ia bukanlah orang yang suka menyimpan barang orang lain secara sembarangan.
“Apaan tuh yang kamu liat, Rid?” tanya Toni, rekan kerja yang duduk di mejanya sebelah, sambil memperhatikan dari kejauhan.
“Oh ini cuma foto lama aja,” jawab Ridho dengan cepat, merasa sedikit canggung karena kesannya sedang menyembunyikan sesuatu. “Kau tahu nggak Toni, siapa cewek di foto ini? Sepertinya bukan orang dari kantor kita ya?”
Toni mendekat untuk melihat lebih jelas, wajahnya juga menunjukkan ekspresi kebingungan. “Enggak tahu juga nih. Aku sejak masuk kantor tiga tahun yang lalu, belum pernah melihat orang ini bekerja di sini. Kayaknya juga bukan mantan karyawan, karena kalau ada mantan karyawan yang cantik gitu pasti aku pasti inget dong!” ujarnya sambil tertawa riang.
Ridho hanya bisa pasrah. Mungkin saja foto ini hanya salah tempat dan secara tidak sengaja masuk ke mejanya. Namun, mengapa rasanya ia begitu mengenal wanita pada foto tersebut?
****
Pada hari Minggu berikutnya, Dewi mengajak Ridho pulang mengunjungi orang tuanya. Saat mereka tiba di depan pintu rumah, Pak Hasto langsung keluar untuk menyambut dengan wajah yang penuh senyum.
"Assalamualaikum, Pak, Buk."
“Wa'alaikum salam. Gimana kabar mu Dho? Sehat, kan?” ujar Pak Hasto sambil menepuk bahu Ridho dengan hangat.
“Alhamdulillah, Pak. Sehat banget. Terima kasih banyak sudah merawat saya waktu saya sakit dulu,” jawab Ridho dengan sopan. Bu Sumi juga keluar dari dalam rumah, tangan kanannya membawa mangkuk berisi buah-buahan.
“Kamu kan suka makan mangga kan Rid? Ayo cepat masuk aja, Ibu sudah siapin banyak makanan kesukaan kamu!” ujar Bu Sumi dengan sikap yang sangat ramah.
Rasanya sangat aneh berada di rumah ini. Seolah-olah ia tidak pernah merasa asing—Ridho bisa langsung mengetahui di mana kamar mandi berada.
"Wi, kenapa rasanya aku enggak asing sama tempat ini ya?" tanya nya sambil berjalan bersama Dewi masuk ke dalam rumah.
“Ah mungkin karena dulu sering datang kesini buat ngapelin aku aja,” jawab Dewi, padahal hanya ingin menutupi dan menghapus kenangan Ning di ingatan Ridho.
"Wi."
"Kenapa, Mas?" tanya Dewi saat dia membukakan pintu kamar.
"Kenapa dulu kita bisa kenal dan pacaran?
"Oh, dulu kan kita memang bekerja di satu departemen yang sama di kantor, baru enam bulan yang lalu Dewi dipindahkan ke departemen produksi. Mas lupa, ya?"
"Oh, begitu ya?"
Makan malam pada hari itu berlangsung dengan penuh keceriaan, diisi dengan candaan dan cerita dari keluarga Dewi. Setelah makan, Ridho menawarkan bantuan untuk membersihkan piring-piring. Saat ia sedang mencuci piring di wastafel, matanya tertuju pada pintu kamar kecil yang hanya ditutupi oleh tirai tipis di depannya.
“Kamar itu milik siapa ya?” tanya Ridho pada Dewi yang sedang mengelap meja makan.
“Ah itu cuma gudang kecil aja, Mas. Yaaah, buat nyimpen barang-barang lama yang sudah tidak terpakai lagi,” jawab Dewi dengan cepat, seolah ingin segera mengakhiri pembicaraan tentang kamar tersebut. “Udah aja kamu istirahat aja Mas, nanti biar Ibuk yang bersihin aja.”
Ridho hanya bisa mengangguk dan menerima penjelasan istrinya. Malam itu mereka beristirahat di kamar pribadi Dewi. Saat tengah malam Ridho merasa haus, ia keluar kamar untuk mencari air minum di kulkas yang berada di ruang makan.
Saat ia berjalan menuju dapur, ia mendengar suara orang yang sedang berbincang di dapur yang lampunya masih menyala. Suara tersebut berasal dari Pak Hasto dan Bu Sumi.
“Capek, Mas! Kapan sih ini selesai?”
"Loh, bukannya kamu yang menginginkan ini?" ujar Pak Hasto dengan suara yang pelan.
Bu Sumi mendekus, membanting wajan yang masih dicuci.
“Padahal dulu kan ada orang yang selalu siapin segalanya, sarapan pagi sampai kamar selalu dijaga kebersihannya. Tapi kalian juga yang memaksanya keluar dari sini?!”
Ridho langsung berdiri diam di belakang pintu. "Siapa yang mereka maksud? Apakah benar-benar ada orang lain yang pernah tinggal di rumah ini dan kemudian diusir? Mengapa Dewi tidak pernah menceritakan hal ini padaku? Apa yang mereka sembunyikan dariku?"
Pikirannya langsung terbang ke foto wanita berjilbab. "Apakah mungkin wanita di foto itu adalah orang yang mereka bicarakan?"