NovelToon NovelToon
Singa Yang Menunduk Pada Mawar

Singa Yang Menunduk Pada Mawar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sinopsis: Singa yang Menunduk pada Mawar
Habib Ghibran Fahreza Al-Husayn adalah sosok "Singa" yang dingin dan kaku, hingga sebuah tragedi merenggut nyawa adiknya, Azlan, tepat sebelum hari pernikahan. Terikat janji dan kehormatan, Ghibran terpaksa melangkah maju menggantikan posisi adiknya untuk menikahi Syarifah Aira, wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya. Di bawah atap Pesantren Al-Husayn, Ghibran harus belajar menundukkan egonya demi memenangkan hati Aira, hingga ia memutuskan mengganti nama pesantrennya menjadi Salsabila sebagai bentuk pengabdian cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jamuan yang terasa pahit

Ghibran mencengkeram memo kecil dari Azlan hingga kertas itu sedikit kusut. Matanya beralih ke arah Shakira, sang dokter yang baru saja menjatuhkan bom informasi. Ruangan kantor itu mendadak terasa sempit. Azka yang biasanya banyak bicara pun kini terdiam membeku, menatap amplop kuning di meja seolah itu adalah benda terkutuk.

"Dokter Shakira," suara Ghibran terdengar sangat rendah, mencoba menekan emosi yang berkecamuk. "Anda tahu apa artinya tuduhan ini? Meracuni seorang putra Habib di lingkungan pesantren bukan perkara main-main."

Shakira memperbaiki letak kacamatanya. "Saya seorang profesional, Pak Ghibran. Saya tidak bicara tanpa bukti laboratorium. Arsenik dalam dosis kecil tidak akan membunuh seketika, tapi akan merusak jantung secara perlahan hingga terlihat seperti gagal jantung alami. Azlan tahu dia sedang 'dihabisi', itulah sebabnya dia menitipkan ini pada saya, bukan pada rumah sakit pesantren."

"Kenapa dia tidak bicara padaku langsung?" tanya Ghibran tajam.

"Karena dia tidak tahu siapa yang bisa dipercaya," jawab Shakira sambil berdiri. "Tugas saya selesai. Sisanya adalah urusan keluarga Al-Husayn. Saya permisi."

Begitu Shakira keluar, Azka langsung mendekat. "Ghib, ini gila. Bunda Aminah? Mertua lo sendiri? Kenapa Azlan minta lo menjauhkan Aira dari ibunya sendiri? Mereka kan terlihat sangat harmonis."

Ghibran tidak menjawab. Ia teringat wajah Bunda Aminah yang begitu lembut saat pemakaman Azlan. Wanita itu adalah sosok ibu yang sempurna di mata masyarakat. Namun, peringatan Azlan tidak mungkin tanpa alasan.

"Zka, simpan dokumen ini di brankas pribadiku. Jangan biarkan siapa pun menyentuhnya. Aku harus pulang. Ada jamuan makan malam di rumah orang tua Aira hari ini," ujar Ghibran sambil menyambar kunci mobilnya.

Kediaman Ayah Amir dan Bunda Aminah, 19:30 WIB.

Rumah mewah itu tampak hangat. Aroma masakan opor ayam dan sambal goreng hati memenuhi ruangan. Ayah Amir menyambut Ghibran dan Aira dengan senyum lebar. Aira sendiri tampak lebih tenang, meski matanya masih menunjukkan sisa-sisa kesedihan. Ia mengenakan gamis berwarna nude yang senada dengan jilbabnya.

"Ayo duduk, Nak Ghibran. Syukurlah kalian bisa datang," ujar Ayah Amir ramah.

Bunda Aminah keluar dari dapur membawa piring tambahan. Ia menghampiri Aira dan mengelus pipi putrinya dengan penuh kasih. "Kamu tampak pucat, Sayang. Harus banyak makan. Bunda sudah buatkan jus herbal khusus untukmu dan Ghibran, resep turun-temurun keluarga."

Ghibran memperhatikan setiap gerak-gerik Bunda Aminah. Saat wanita itu meletakkan dua gelas jus berwarna hijau pekat di depan mereka, jantung Ghibran berdesir. Pesan Azlan terngiang-ngiang: Jauhkan Aira dari Bundanya sendiri.

"Ayo diminum, Ghib. Ini bagus untuk stamina, apalagi kalian baru saja menikah," ujar Bunda Aminah dengan senyum yang sangat tulus. Terlalu tulus.

Aira baru saja hendak meraih gelasnya ketika Ghibran dengan sengaja menyenggol lengan Aira, membuat gelas itu terguling dan isinya tumpah ke atas taplak meja putih yang bersih.

Prang!

"Astagfirullah, Kak!" seru Aira kaget. "Kakak kenapa sih? Kok ceroboh sekali?"

"Maaf," ujar Ghibran datar, tanpa ekspresi bersalah sedikit pun. "Tanganku sedikit kaku karena kelelahan di kantor."

Bunda Aminah terdiam sejenak, matanya menatap tumpahan jus itu dengan kilatan yang sulit diartikan. Hanya sedetik, sebelum ia kembali tersenyum. "Ah, tidak apa-apa. Biar Bunda bersihkan. Aira, bantu Bunda di dapur ambil kain lap, ya?"

Begitu Aira dan ibunya menghilang ke dapur, Ghibran dengan cepat merogoh sapu tangan dari sakunya. Ia mengusapkan sapu tangan itu ke sisa tumpahan jus di meja, lalu memasukkannya kembali ke dalam kantong celananya. Ia butuh sampel ini untuk diperiksa Azka.

Perjalanan Pulang.

Di dalam mobil, keheningan menyelimuti mereka. Aira menatap keluar jendela, sementara Ghibran fokus menyetir.

"Kakak sengaja, kan?" tanya Aira tiba-tiba tanpa menoleh.

Ghibran terdiam sebentar. "Sengaja apa?"

"Menumpahkan jus itu. Aku tahu Kakak tidak ceroboh. Kakak orang yang paling teliti yang pernah kutemui." Aira menoleh, menatap Ghibran dengan penuh selidik. "Kenapa Kakak bersikap aneh sejak kita sampai di rumah Bunda?"

Ghibran menghela napas panjang. Ia harus mulai mengambil hati Aira, tapi ia belum bisa jujur. "Aku hanya lelah, Aira. Dan sejujurnya... aku tidak suka dipaksa meminum sesuatu yang tidak kukenal kandungannya."

Aira mendengus. "Itu jus kesehatan dari Ibuku, Kak. Bukan racun."

Kalimat Aira bagaikan tamparan bagi Ghibran. Seandainya kamu tahu, Aira, batinnya.

Saat mobil berhenti di lampu merah yang cukup lama, Ghibran menatap tangan Aira yang diletakkan di atas pangkuannya. Ia melihat jemari istrinya itu bergetar kecil. Tanpa banyak bicara, Ghibran meraih tangan Aira dan menggenggamnya erat.

Aira tersentak. Tangannya yang dingin kini berada di dalam genggaman tangan Ghibran yang besar dan hangat. Ia mencoba menarik tangannya, namun Ghibran tidak melepaskannya.

"Lepaskan, Kak," bisik Aira, namun suaranya tidak memiliki kekuatan.

"Biarkan begini sebentar saja," balas Ghibran. "Aku suamimu sekarang, Aira. Meskipun ini terpaksa, aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu."

Aira terdiam. Ada rasa gugup yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Genggaman tangan Ghibran terasa sangat protektif, memberikan rasa aman yang aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—bahkan dari Azlan sekalipun. Azlan selalu memanjakannya, tapi Ghibran... seolah-olah ia siap menjadi tameng bagi Aira dari dunia yang kejam.

Kamar Pengantin, 23:00 WIB.

Setelah sampai di rumah, Aira langsung masuk ke kamar mandi. Ghibran memanfaatkan kesempatan itu untuk menelpon Azka.

"Zka, aku punya sampel cairannya. Besok pagi-pagi sekali, bawa ke laboratorium independen. Gunakan namamu, jangan gunakan nama keluarga Al-Husayn."

"Siap, Bos. Tapi Ghib, ada satu hal lagi yang baru gue temukan dari laporan keuangan Azlan." Suara Azka terdengar tegang. "Azlan mentransfer sejumlah uang yang sangat besar secara rutin ke sebuah yayasan panti asuhan. Tapi setelah gue cek alamatnya, yayasan itu fiktif. Alamatnya adalah rumah pribadi milik... Ayah Amir."

Ghibran menutup teleponnya dengan perasaan geram. Keluarga Aira menggunakan Azlan sebagai mesin uang? Atau ada sesuatu yang lebih gelap?

Saat ia berbalik, ia melihat Aira berdiri di depan pintu kamar mandi, memegang sebuah kotak kecil yang ia temukan di bawah lemari pakaian.

"Kak," suara Aira gemetar. "Ini... ini kotak obat milik Azlan yang hilang. Kenapa ada di kamar Kakak?"

Ghibran mematung. Ia lupa bahwa ia sempat memindahkan beberapa barang Azlan dari laci rahasia tadi sore.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Kutu Buku
Thor apa2an Ini
jngan Bilang yaa punya Anak Di Luar Nikah 🤣😂😂
Isti Mariella Ahmad: hihi🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!