Berada di tengah laut jawa, Pulau Koriyaksa dihuni para siluman dalam segala bentuk, dipimpin oleh siluman tanpa nama berwujud menakutkan. Akhirnya setelah 50 tahun berperang, sebuah perjanjian damai ditandatangani.
Setiap malam satu suro, bangsa manusia wajib mengirim tumbal untuk dipersembahkan pada Sang Raja.
Namun Sura mahasiswa yang terlempar ke dalam buku harus menjadi tumbal ke-100, anehnya dia justru berhasil merebut hati Sang Penguasa. WARNING! HATI-HATI DALAM MEMILIH BACAAN!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepucuk tunas
Menit pun berlalu...
Setelah berpikir, raut Sura mulai berubah. Alisnya tak lagi berkerut, bahkan menerbitkan senyum girang, tampak berhasil mendapatkan cara.
"Bisa tolong siapkan 1 keranjang buah mangga untukku?" pintanya antusias.
"Pft...apa kamu lelah berpikir sampai kelaparan? Baiklah, ambilkan bakpao juga." mengayunkan tangan pada pelayan sebagai isyarat.
Sura hanya diam membiarkan Anubis tertawa, "Tertawa saja sampai puas. Karena habis ini aku akan lihat wajah hinamu yang tak terima mendapat kekalahan."
Tak berselang lama pelayan itu kembali membawakan makanan juga sekeranjang buah segar.
"Silahkan isi perutmu..."
Digapainya pisau tajam yang ada di sela keranjang tuk' Sura gunakan mengiris daging buah di tangan.
Sayatan penuh dilakukan tanpa mengupas kulit, sepertinya dia sengaja hingga satu persatu bagian terjatuh berhamburan di atas tanah, menyisakan biji tipis.
Dalam sekejap mata, buah yang menyentuh tanah itu langsung mengering, bukan hal asing bagi mereka tapi menyita perhatian Sura.
Bagaimana bisa seonggok mangga segar bisa berubah, seakan seluruh sarinya terserap oleh tanah, menyisakan kulit kering tipis berwarna hitam.
"Ternyata ini lebih buruk dari dugaanku..."
"Dasar kurang ajar! Berani-beraninya kamu membuang pemberian Raja!" tegur Anubis naik pitam,
"Apa kamu tahu? Buah-buah ini lebih mahal dari nyawamu! 1 buah mangga seharga 50 koin perak! Dan kamu malah membuangnya."
"Hah! Semahal itu?" Sura tercengang menjerit dalam hati.
"Mata uang dunia ini adalah koin tembaga, perak, dan juga emas. 10 koin tembaga setara dengan 1 koin perak, sedangkan 100 koin perak setara dengan 1 koin emas. Lalu upah rakyat biasa disini setiap bulannya hanyalah 2 koin emas,"
"Padahal buah mangga kalau lagi musim harganya cuma 8 ribu. Kalau dirubah ke mata uang disini sama dengan 8 koin tembaga," batin Sura menyesal membayangkan uang sebanyak itu disia-siakan hanya untuk 1 buah mangga.
"Tapi tenang saja. Setelah ini aku akan membuat seluruh daratan ditanami pohon mangga!"
Sura menaruh biji mangga tadi ke dalam keranjang lalu menunduk meletakkan kedua tangannya ke atas tanah.
"Apa yang mau dia lakukan?" batin Raja penasaran, "Hah?!"
"A-apa itu?!" sontak Anubis dibuat kaget.
Tanpa mengucap mantra, muncul cahaya dari bawah tanah, membentuk garis lengkung hingga menciptakan ruang tipis berukuran kecil.
Sura mengambil kembali biji mangga untuk diletakkan ke dalam ruang. Mereka keheranan melihat biji itu berhasil bertahan dan tak mengering,
"Kekuatan keduaku. Pembatas ilahi..."
Sura tersenyum puas melihat wajah siluman yang tadi terus meremehkannya.
"Ini disebut pembatas ilahi. Semacam ruang penghalang yang tak bisa ditembus apapun, jadi semua yang ada di dalam ruang akan dimurnikan, tentu cuma aku yang bisa masuk ke dalamnya."
Dia berhasil selamat dari hukuman penggal karena kekuatan ini. Namun Sura masih sulit membuat ruang yang lebih besar, jika dipaksa dia akan pingsan.
"Kekuatan ini muncul setelah meniduri istri majikanku...memang tidak sopan, tapi mau bagaimana lagi?"
"Aku kan cuma korban pemerkosaan. Hehe..."
"Mustahil! Mana mungkin manusia punya kekuatan sihir..." diam ternganga,
Bangsa manusia dikenal tak punya daya sihir dalam tubuh mereka.
"Eh tuan anjing! Ini masalah sepele, manusia bahkan bisa melakukan hal yang lebih hebat dari ini."
"Kayaknya sih..." lugas Sura meringis dalam hati.
Sengaja membual sambil memasang wajah serius, sudah lama Sura tak merasakan sensasi ini. Debaran kencang ketika melihat lawannya jatuh terpuruk, entah kenapa membuatnya semakin semangat.
"Tidak mungkin. Kalian itu cuma bangsa lemah, sejak perang dulu---"
"Buka matamu lebar-lebar! Perang itu sudah 150 tahun yang lalu. Sejak itu manusia terus berkembang, berbeda dengan kalian...yang bahkan tempat tinggalnya tak bisa menumbuhkan 1 tanaman."
"Kamu---" tak terima mendengar sanggahan, tangannya mengepal kuat seakan siap melayangkan satu pukulan bebas.
"Cukup." Raja menengahi,
Dengan lantang wajah datarnya menghentikan perselisihan tadi. Anubis menunduk patuh sedangkan Sura memalingkan muka seolah tak terlibat apapun,
"Mendengar kesombonganmu, aku jadi penasaran sehebat apa sihir yang kamu punya..." Raja memberi tatapan tajam, "Sampai malam ritual tiba aku akan memberimu kebebasan."
"Tapi, Raja---" suaranya tersedak, ketakutan melihat tatapan sinis Raja.
"Bukankah kita ada rapat penting? Ayo cepat pergi..."
"Baik yang mulia," kepalanya tertunduk patuh, bersiap pergi mengikuti dari belakang.
"Hei!"
Suara teguran menghentikan langkah Anubis, menoleh ke arah manusia yang berjalan mendekat.
"Jangan lupa, berdandanlah dengan cantik..." ejek Sura meringis,
"Rasa sukanya bertambah menjadi 7%? Aneh sekali..."
Secepat kilat memasang wajah memelas ketika sadar Raja mengawasi mereka dari kejauhan.
"Ehem...Ehem...sepertinya aku butuh buah lain untuk ditanam---" memalingkan muka,
"Coba saja ada yang jual bibit tanaman disini." sibuk bergumam sendiri, agar tak menarik perhatian.
Dia cuma ingin memberi pelajaran pada Anubis, tapi jika dilakukan secara terang-terangan, mungkin itu malah memancing kebencian sang Raja.
"Aku harus cari cara lain."
Langkah kaki mereka terdengar menjauh. Sura melirik memastikan tidak ada siapapun disana. Dia kembali menunduk, menatap lebih dekat ruang tipis ciptaannya.
"Apa sihir itu beneran ada?"
Sura tampak ragu meraba cahaya yang benar-benar membentuk pembatas tipis. Sulit menjelaskan secara ilmiah, mungkin karena dia tak terlalu pintar.
"Bisa saja aku terlempar kesini karena kekuatan seseorang..." mulai berpikir keras,
"Ah...repot banget!" mengacak-acak rambut panjangnya, "Yang penting sekarang, aku harus selamat dan membangun kehidupan damai disini."
"Percuma punya kekuatan kalau mati cepat!"
Sura diam membayangkan tubuh indah yang susah payah didapatkan hancur, dikoyak habis oleh Raja siluman.
Dulu Sura hanyalah pria culun berbadan kerempeng, jadi mana mungkin dia menyia-nyikan tubuh barunya.
Pria tinggi kekar, berkulit putih seperti keturunan bule eropa. Andai tak lahir di dunia ini, pemilik asli pasti menjadi model berprestasi.
"Argh!!"
"Pertama aku harus berhasil menumbuhkan pohon ini. Akanku tunjukkan kalau kekuatan ini berharga untuk bangsa siluman,"
Sura masuk ke dalam ruang seukuran tubuhnya, mulai menggali cukup dalam sebelum mengubur biji mangga yang telah kering.
Meletakkan secara mendatar lalu menutup kembali, menyiraminya dengan air. "Cepatlah tumbuh wahai penyelamatku..."
Sura menggali di bagian lain, membuat lubang yang lebih dalam dan luas, mengiris daging buah untuk dikubur, berencana membuat pupuk kompos.
Kebiasaan ini berlangsung selama beberapa hari. Tak ada siluman yang berani mengganggu, seluruh istana justru gempar karena Anubis yang berdandan layaknya wanita.
Beberapa pelayan bergosip perihal ritual yang Sura lakukan. Tentu mereka memberi respon buruk, meremehkan, dan menertawai gundukan tanah kosong yang setiap hari Sura rawat.
Sampai seminggu berlalu...
"DOK! DOK! DOK!"
Suara dobrakan pintu terdengar dari luar. Sedangkan Sura masih tertidur pulas di atas ranjang,
"Sura! Sura! Bangunlah..." panggil kelelawar menyelinap masuk dari jendela,
Mereka mendekat, mengepakkan sayap di telinga Sura bahkan menendangi wajah dengan kaki kecilnya, berusaha membangunkan.
"Sura!! Cepat bangun!"
"Aaa...ada apa? Biarkan aku tidur sebentar lagi," bergumam lirih, menggulingkan tubuh ke samping.
"DOK! DOK! DOK!"
"Ah, berisik!" reflek menutup telinga.
"Cepat bangun, Raja menyuruh pengawal untuk membawamu keluar!"
"Apa?!"
"BRAK!!" suara pintu yang berhasil didobrak.
Seketika Sura terjingkat turun dari ranjang,
"Mampus! Bukankah malam ritual masih minggu depan...jangan-jangan ini karena biji yang belum tumbuh itu?"
Dengan penuh cemas menatap dua siluman kera yang berlari masuk, berbekal pedang menggantung di punggung mereka.
"Tu-tunggu dulu---" suaranya tertahan,
Tanpa aba-aba mereka menarik kedua lengan Sura, menyeretnya keluar.
"Apa Raja tak bisa sabar? Aku sudah berusaha melakukan segala cara, tapi siapa sangka bakal sesusah ini!"
"Yang benar saja! Masa aku bakalan mati...Aa! Aku belum menikah!"
"Aku tidak mau mati..."