"Dunia ini memang nggak adil, Hana. Tapi, malam ini kita yang akan membajak mesinnya."
Kalimat dingin Kaito Fujiwara memecah kesunyian di atap sekolah. Tokyo tahun 2026 telah menjadi penjara bagi mereka yang kalah dalam undian kelahiran. Hana Tanaka, siswi pintar yang menyembunyikan kemiskinannya, harus menghadapi kenyataan pahit saat dana beasiswanya dicuri untuk kampanye politik kotor. Bersama Akane si aktivis digital, Ren sang mantan atlet yang cacat, Yuki si peretas jenius, dan Kaito sang putra politisi yang pemberontak, mereka membentuk aliansi rahasia.
Dari gang gelap Shinjuku hingga pembajakan layar raksasa di persimpangan Shibuya, lima remaja ini mempertaruhkan nyawa untuk meruntuhkan sistem yang bobrok. Di dunia yang diyakini bahwa nasib orang ditentukan sejak lahir, mampukah mereka memutar balik roda takdir? Ataukah mereka hanya akan menjadi tumbal berikutnya dari keserakahan para penguasa? Persahabatan ini adalah satu-satunya senjata mereka dalam melawan ‘gelapnya kota’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulan Separuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6. Peretasan Sistem Sekolah
Hujan badai menghantam kaca jendela koridor sekolah dengan kekuatan yang sangat besar. Suara gemuruh guntur menutupi suara langkah kaki lima remaja yang sedang menyusup masuk. Hana Tanaka merasakan kain hitam pakaiannya mulai terasa sangat lembap dan juga berat. Dinginnya malam di Tokyo meresap hingga ke dalam tulang sumsum miliknya yang kecil.
Kaito Fujiwara memimpin di barisan paling depan dengan langkah kaki yang sangat tenang. Dia sudah menghafal jadwal patroli petugas keamanan sekolah berkat dokumen rahasia ayahnya. Kaito memberikan isyarat tangan agar semua orang berhenti di balik tikungan koridor pertama. Sinar lampu sorot dari halaman luar menyapu dinding putih koridor dengan irama teratur.
Yuki Nakamura menekan tombol pada perangkat peretas portabel miliknya dengan sangat teliti. Suara napas Yuki terdengar sangat stabil melalui perangkat penyuara telinga yang dipakai Hana. Yuki sedang sibuk mematikan sirkuit kamera pengawas di blok bangunan bagian timur sekarang. Dia menggunakan jalur sinyal satelit agar keberadaannya tidak terdeteksi oleh pelayan server sekolah.
Hana melihat lampu indikator pada kamera di atas mereka berubah dari merah menjadi mati. Ini adalah tanda bahwa jalur pergerakan mereka sudah aman untuk dilewati sementara waktu. Kaito segera memberikan komando untuk melanjutkan perjalanan menuju tangga darurat di pojok.
"Kamera blok timur sudah mati total selama tiga menit ke depan," bisik Yuki.
Hana Tanaka menggenggam tali tas punggungnya dengan sangat kuat hingga telapak tangannya berkeringat. Dia merasa jantungnya berdetak sangat cepat seperti sedang melakukan lari maraton yang sangat melelahkan. Di sampingnya Akane Sato terus memantau situasi di belakang mereka dengan tatapan yang tajam. Ren Ishida berada di posisi paling belakang untuk memastikan tidak ada petugas yang mengikuti.
Langkah kaki Ren tidak menimbulkan suara sedikit pun di atas lantai ubin yang sangat licin. Mereka bergerak seperti bayangan yang menyatu sempurna dengan kegelapan malam di sekolah tersebut. Bau pembersih lantai yang sangat menyengat memenuhi indra penciuman Hana yang sedang sangat sensitif.
Mereka sampai di depan pintu tangga darurat yang terbuat dari besi baja yang tebal. Kaito mengeluarkan kartu akses khusus milik ayahnya yang dia curi tempo hari lalu. Dia menempelkan kartu itu pada pemindai elektronik yang terpasang di samping pintu besi. Lampu pemindai berubah warna menjadi hijau dan terdengar suara mekanisme pengunci yang terbuka pelan.
Pintu terbuka dengan suara derit yang sangat tipis dan hampir tidak terdengar oleh telinga. Mereka segera masuk ke dalam lorong tangga yang sangat gelap dan juga terasa pengap. Suara tetesan air dari atap yang bocor terdengar bergema di dalam ruangan tangga tersebut.
Hana mulai menaiki anak tangga satu per satu dengan penuh kehati-hatian yang sangat tinggi. Dia tidak ingin membuat suara gaduh yang bisa memicu alarm darurat di pusat keamanan. Lutut Hana yang luka terasa sangat nyeri saat dia harus melangkah menaiki tangga tinggi. Namun dia terus menekan rasa sakit itu demi misi penyelamatan masa depan keluarganya sendiri.
Dia membayangkan wajah ibunya yang sedang menunggu di rumah aman dengan penuh rasa cemas. Kekuatan batin Hana muncul kembali setiap kali dia teringat pada penderitaan yang dialami keluarganya. Gacha kehidupan telah memaksa Hana untuk menjadi seorang penyusup yang sangat berani malam ini.
Lantai tiga gedung sekolah adalah area yang paling ketat penjagaannya di seluruh kompleks. Ini adalah tempat di mana semua data penting dan juga rahasia para donatur disimpan. Yuki menginformasikan bahwa ada dua orang petugas keamanan yang sedang berjaga di depan lift. Petugas tersebut membawa tongkat kejut listrik dan juga radio komunikasi yang terhubung ke polisi.
Ren Ishida memberikan kode agar Hana dan Akane tetap berada di balik pintu tangga. Ren akan menggunakan teknik pengalihan suara untuk menjauhkan para petugas dari pintu ruang kepala sekolah. Kaito memberikan peta lokasi sensor laser yang tersembunyi di bawah lantai koridor lantai tiga.
"Aku akan menarik mereka menuju arah toilet di ujung koridor," ujar Ren pelan.
Ren mengambil sebuah koin logam dari sakunya dan melemparnya ke arah tumpukan kaleng sampah. Suara dentingan logam yang keras segera memecah kesunyian di lantai tiga gedung sekolah itu. Kedua petugas keamanan tersebut langsung bereaksi dan berjalan menuju arah sumber suara yang mencurigakan.
Mereka mengeluarkan lampu senter dan mulai menyisir area sekitar toilet dengan sangat teliti sekali. Kaito memberikan isyarat kepada Hana dan Akane untuk segera keluar dari persembunyian mereka. Mereka berlari dengan langkah yang sangat ringan menuju pintu kayu jati ruang kepala sekolah. Pintu itu terlihat sangat megah dan juga sangat angkuh di tengah kegelapan koridor.
Akane Sato mencoba memutar gagang pintu namun pintu tersebut tetap terkunci dengan sistem mekanis. Hana segera mengeluarkan alat peretas fisik yang diberikan oleh Yuki dari dalam tasnya tadi. Dia memasukkan kabel tipis alat tersebut ke dalam lubang kunci elektronik yang ada di pintu. Layar kecil pada alat peretas mulai menunjukkan deretan angka sandi yang terus berubah cepat.
Hana harus mencocokkan pola frekuensi gelombang magnetik agar pengunci pintu bisa segera terbuka. Keringat dingin mulai mengalir di dahi Hana meskipun suhu udara di koridor sangat dingin. Dia hanya memiliki waktu kurang dari satu menit sebelum para petugas keamanan kembali berpatroli.
"Ayo Hana fokus pada pola gelombang yang ada di layar," bisik Akane memberikan semangat.
Tiba-tiba terdengar suara klik yang sangat memuaskan dari dalam mekanisme pengunci pintu tersebut sekarang. Hana berhasil menembus sistem keamanan pintu ruang kepala sekolah yang sangat rumit dan canggih itu. Mereka segera masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu kembali dengan sangat perlahan sekali.
Ruangan kepala sekolah terasa sangat luas dan juga dipenuhi dengan barang-barang antik mewah. Bau cerutu mahal dan kayu ek yang sangat tua menyambut kedatangan Hana dan teman-temannya. Kaito segera menuju ke arah meja kerja besar yang terbuat dari kayu jati kualitas terbaik. Dia tahu bahwa brankas rahasia berada di balik sebuah lukisan pemandangan Gunung Fuji.
Akane menggeser lukisan besar itu dan menemukan sebuah brankas besi tertanam di dalam tembok. Brankas ini menggunakan sistem pemindaian retina mata dan juga kode angka manual yang panjang. Yuki mulai bekerja melalui koneksi kabel yang sudah disambungkan Hana ke terminal data meja. Dia mencoba melakukan peretasan sistem biometrik dengan memalsukan data retina mata kepala sekolah tersebut.
Hana bertugas untuk memasukkan kode angka manual yang sudah berhasil dianalisis oleh Yuki sebelumnya. Mereka bekerja dalam sinkronisasi yang sangat sempurna seolah sudah berlatih selama bertahun-tahun lama. Ketegangan di dalam ruangan itu terasa sangat pekat dan juga sangat mencekam bagi mereka.
"Masukan kode empat sembilan dua satu tujuh sekarang juga Hana," perintah Yuki tegas.
Hana menekan tombol angka di panel brankas dengan jari yang masih sedikit gemetar hebat. Setelah angka terakhir ditekan terdengar suara putaran roda gigi di dalam pintu brankas besi. Pintu brankas terbuka perlahan dan menunjukkan isinya yang sangat mengejutkan bagi mata Hana. Di dalamnya terdapat tumpukan uang kertas yen dalam jumlah yang sangat banyak sekali.
Ada juga beberapa batang emas yang berkilau saat terkena cahaya lampu senter milik Akane. Namun tujuan utama mereka bukanlah harta benda yang ada di dalam brankas besi tersebut. Hana mencari sebuah kotak plastik kecil yang berisi kartu enkripsi data donatur gelap.
Hana menemukan kotak itu terselip di antara dokumen-dokumen kontrak penggusuran lahan yang sangat rahasia. Dia mengambil kartu hitam kecil itu dan menyimpannya di dalam saku pakaiannya yang paling aman. Akane juga mengambil beberapa dokumen yang berisi bukti penyuapan terhadap pejabat pemerintah pusat Tokyo. Mereka sudah mendapatkan semua bukti yang dibutuhkan untuk menghancurkan sistem korup di sekolah ini.
Namun, tiba-tiba lampu darurat berwarna merah di dalam ruangan mulai menyala dan berputar. Suara sirine yang sangat nyaring mulai bergema di seluruh penjuru gedung sekolah yang sepi. Yuki memberitahu mereka bahwa ada protokol keamanan otomatis yang telah terpicu secara mendadak.
"Seseorang telah mengaktifkan alarm dari luar sistem peretasan aku," teriak Yuki panik.
Para petugas keamanan di luar ruangan mulai berteriak dan berlari menuju arah ruang kepala sekolah. Ren Ishida mengabarkan melalui radio bahwa dia sedang tertahan oleh tiga orang petugas di koridor. Mereka harus segera mencari jalan keluar lain karena pintu utama sudah terkepung oleh musuh. Kaito menunjukkan sebuah jendela besar yang terhubung langsung dengan balkon di lantai tiga.
Mereka tidak memiliki pilihan lain selain melompat ke balkon dan mencari jalan turun. Hana merasa kakinya menjadi sangat lemas saat melihat ketinggian balkon dari permukaan tanah. Namun suara gedoran pintu yang sangat keras membuat rasa takutnya hilang seketika itu.
Mereka keluar menuju balkon dan merasakan terpaan angin kencang serta hujan yang sangat deras. Akane menggunakan tali pendaki yang dia bawa untuk membuat jalur turun yang sangat cepat. Dia mengikatkan tali tersebut pada pilar beton balkon yang sangat kuat dan juga kokoh. Kaito turun terlebih dahulu untuk memastikan area di bawah balkon aman dari penjagaan petugas.
Hana mengikuti Kaito dengan memegang tali tersebut secara sangat kuat menggunakan kedua tangannya. Dia meluncur turun dan merasakan gesekan tali yang panas pada telapak tangan miliknya itu. Hana mendarat di atas rumput yang basah dengan posisi berguling seperti yang diajarkan Ren.
Akane turun terakhir dan segera memotong tali tersebut agar tidak bisa digunakan oleh pengejar. Mereka berlari menembus taman sekolah menuju arah tembok pagar belakang yang sangat tinggi. Ren Ishida muncul dari balik semak-semak dengan napas yang memburu dan baju yang kotor. Dia berhasil meloloskan diri setelah melakukan pertarungan fisik yang singkat dengan para penjaga.
Mereka berlima berkumpul kembali dan segera memanjat tembok pagar dengan bantuan bahu Ren. Hana merasa napasnya hampir habis namun dia terus memaksakan dirinya untuk terus berlari cepat. Mereka mendengar suara gonggongan anjing penjaga yang mulai dilepaskan oleh petugas keamanan sekolah.
Mobil tua milik Ren sudah menunggu di jalanan sepi yang berada di luar pagar sekolah. Mereka semua masuk ke dalam mobil dengan gerakan yang sangat terburu-buru dan juga panik. Ren segera memacu kendaraannya menjauh dari area sekolah sebelum polisi datang mengepung lokasi. Hana menyandarkan tubuhnya pada kursi mobil dan mencoba untuk menenangkan detak jantungnya kembali.
Dia meraba kartu enkripsi di dalam sakunya untuk memastikan benda itu tidak hilang tadi. Perasaan lega mulai menyelimuti hati Hana karena mereka berhasil menyelesaikan misi yang sangat mustahil. Mereka kini memegang kunci untuk membongkar kebusukan sistem gacha kehidupan yang selama ini berkuasa.
"Kita berhasil mendapatkan kartunya kawan kawan," ucap Hana dengan suara serak.
Yuki Nakamura yang berada di dalam mobil segera mengambil kartu itu dan memasukkannya ke laptop. Dia mulai melakukan proses dekripsi data yang tersimpan di dalam kartu enkripsi hitam tersebut. Layar laptop menunjukkan progres pembacaan data yang bergerak sangat lambat karena enkripsi yang kuat. Kaito menatap ke luar jendela mobil dan melihat gedung sekolah yang perlahan menghilang di kejauhan.
Dia merasa sedih sekaligus bangga karena telah berkhianat pada ayahnya demi sebuah kebenaran. Akane memegang tangan Hana untuk memberikan dukungan moral atas keberanian yang sudah ditunjukkan. Persahabatan mereka kini sudah teruji melalui api pertempuran yang sangat nyata dan berbahaya.
Hujan di Tokyo perlahan mulai mereda saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur kota. Cahaya matahari pagi yang pucat mulai menerangi jalanan kota yang masih sangat basah dan dingin. Mereka tidak kembali ke rumah aman yang lama karena tempat itu sudah tidak aman lagi. Ren mengarahkan mobil menuju sebuah apartemen tua di pinggiran distrik Saitama yang sangat kumuh.
Tempat itu adalah milik salah satu kenalan lama Ren yang bisa dipercaya sepenuhnya olehnya. Di sana mereka akan mulai menyusun narasi untuk menyebarkan data korupsi kepada publik luas. Dunia akan segera mengetahui kenyataan pahit di balik megahnya sistem pendidikan di negara Jepang.
Hana Tanaka menatap dompet tuanya yang masih kosong namun hatinya terasa sangat penuh. Dia menyadari bahwa kekayaan yang sesungguhnya bukan berada pada jumlah uang di dalam dompet. Kekayaan itu ada pada keberanian untuk melawan ketidakadilan dan memiliki sahabat yang setia kawan. Gacha kehidupan mungkin telah memberikan awal yang sangat sulit bagi perjalanan hidup Hana Tanaka.
Namun, Hana telah membuktikan bahwa dia mampu menulis ulang takdirnya sendiri dengan tangannya sendiri. Perjalanan mereka masih sangat panjang namun mereka sudah melangkah di jalan yang sangat benar. Kehidupan baru yang lebih adil kini sudah mulai terlihat di depan mata mereka semua.
Mereka sampai di apartemen tujuan dan segera masuk ke dalam untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Yuki mengumumkan bahwa data sudah berhasil dibuka sepenuhnya dan siap untuk diunggah ke internet. Ada ribuan dokumen yang membuktikan keterlibatan ayah Kaito dalam skandal korupsi dana beasiswa. Hana merasa air matanya jatuh karena melihat namanya ada di daftar siswa yang haknya dicuri.
Kejahatan ini tidak akan pernah dia maafkan dan harus segera diketahui oleh seluruh dunia. Mereka mulai menyiapkan siaran langsung secara anonim untuk melakukan pengungkapan besar-besaran pagi ini juga. Tokyo akan segera digemparkan oleh suara dari lima remaja yang selama ini dianggap remeh.
negara defisit, pajak dinaikin, yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin😂, si hana juga, kemiskinan bukan aib, jangan terlalu takut dulu, dia pasti ngiranya ga ada yang mau temenan sama dia kalo tau dia miskin🤭😭
,, entah gaji rendah, pajak naik, barang2 mahal, kritik masyarakat... bahkan sirkel pertemanan yg canggung karena perbedaan ekonomi...
,, tapi buat Akane, semoga kamu bisa menjadi sahabat terbaik buat Hana 😌👍