NovelToon NovelToon
Takdir Abadi: Dua Jiwa, Satu Jalan Pedang

Takdir Abadi: Dua Jiwa, Satu Jalan Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Seorang murid sekte luar yang dianggap tidak berguna karena memiliki "Akar Spiritual Terkutuk" tanpa sengaja membangkitkan jiwa seorang jenius dari era kuno yang terperangkap dalam artefak misterius. Bersama, mereka merintis teknik kultivasi kuno yang membutuhkan perpaduan dua elemen yang saling bertentangan, menuntut mereka untuk menyatukan kekuatan dan hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Pedang Hitam di Bawah Meja

​Pasar Gelap Ngarai Angin bersembunyi di ceruk tebing yang curam, beberapa puluh mil di bawah Puncak Teratai Luar. Tempat ini adalah surga bagi para kultivator liar, pencuri, dan murid sekte yang ingin menjual barang curian tanpa banyak ditanya. Aromanya merupakan campuran antara dupa murahan, darah kering, dan keringat asam.

​Li Jian menyusuri gang sempit yang diapit tenda-tanda kumuh. Ia mengenakan jubah hitam kasar dengan tudung yang ditarik rendah menutupi wajahnya, menyembunyikan seragam Sekte Pedang Awan yang ia kenakan di baliknya. Lima puluh batu spiritual di pinggangnya adalah jumlah yang cukup untuk membuat seseorang digorok di gang buntu tempat ini.

​"Tutup hidungmu, bocah. Tempat ini membuatku mual," keluh Yueyin di dalam kepalanya. "Aura di sini begitu kotor. Penuh dengan keserakahan fana dan barang rongsokan."

​"Kita butuh senjata, Senior," balas Li Jian dalam hati sambil terus melangkah, matanya waspada mengawasi setiap pergerakan di sekitarnya. "Pedang kayu sekte akan hancur berkeping-keping jika aku mengalirkan Qi Bintang Pemakan Langit lagi."

​Langkah Li Jian terhenti di depan sebuah tenda besar yang memajang puluhan senjata. Pemiliknya adalah seorang pria bermata satu dengan bekas luka melintang di wajahnya. Pria itu tengah mengasah sebuah golok besar ketika Li Jian mendekat.

​"Pilih saja. Pedang baja hitam sepuluh batu spiritual. Pedang berlapis perak murni lima belas batu spiritual. Kalau kau mau yang punya sedikit segel Qi, harganya tiga puluh ke atas," geram pria bermata satu itu tanpa menatap Li Jian.

​Li Jian memungut sebuah pedang baja hitam yang tampak berkilau tajam. Ia mengalirkan setitik—sangat kecil—hawa dinginnya ke gagang pedang tersebut.

​Cring!

​Terdengar suara retakan halus dari dalam bilah pedang. Baja itu langsung rapuh hanya karena sentuhan energi Yin yang ekstrem. Li Jian segera meletakkannya kembali sebelum bilahnya patah.

​"Besi sampah," cibir Yueyin. "Suhu Qi-mu akan membuat baja biasa menjadi setipis daun kering. Cari bahan yang setidaknya memiliki elemen Yin, atau terbuat dari logam laut dalam."

​Li Jian terus menyusuri meja demi meja di tenda itu, mengabaikan tatapan curiga dari sang penjual. Tidak ada satu pun yang cocok. Semuanya adalah senjata standar untuk kultivator dengan elemen netral atau Yang.

​Baru saja Li Jian hendak berbalik pergi, suara Yueyin mendadak berubah tajam.

​"Berhenti. Mundur dua langkah. Lihat ke bawah meja tua di sudut kanan itu."

​Li Jian menurut. Matanya menyapu bagian bawah meja kayu yang sudah lapuk. Di sana, tertutup debu dan jaring laba-laba, tergeletak sebatang besi hitam pekat yang digunakan untuk mengganjal salah satu kaki meja yang patah. Bentuknya lebih mirip penggaris besi tebal yang tumpul daripada sebuah pedang. Permukaannya kasar, tanpa ukiran, tanpa pelindung gagang yang layak, dan dihiasi sedikit noda karat.

​Li Jian membungkuk dan menarik besi hitam itu dari bawah meja. Meja itu sedikit bergoyang.

​"Hei! Apa yang kau lakukan dengan pengganjal mejaku?" bentak si penjual bermata satu.

​Begitu besi hitam itu berada di genggamannya, Li Jian merasakan sensasi yang aneh. Benda itu sangat berat, hampir seberat batu utuh, jauh melebihi pedang baja pada umumnya. Namun, yang paling mengejutkan adalah saat ia tanpa sengaja mengalirkan secuil Qi Bintang Pemakan Langit ke dalamnya.

​Benda itu tidak menolak. Ia juga tidak retak. Pedang tumpul itu menyerap hawa dingin Li Jian seperti spons yang kehausan di padang pasir.

​"Logam Bintang Jatuh yang tercemar hawa dingin ribuan tahun," gumam Yueyin, suaranya mengandung nada terkejut yang langka. "Meskipun penempaannya sangat kasar, ini adalah material langka bahkan di duniaku. Benda ini mampu menahan kekuatan ledakan Dantian-mu hingga kau mencapai tahap Inti Emas. Beli itu."

​Li Jian menatap si penjual dari balik tudungnya. "Aku mengambil pedang tumpul ini."

​Penjual itu tertawa meremehkan. "Kau kultivator pemula yang aneh. Aku menemukan rongsokan itu di dasar danau es di utara sepuluh tahun lalu. Benda itu terlalu berat untuk dipakai, tidak bisa diasah, dan menolak semua Qi berelemen api. Kalau kau mau, berikan aku lima batu spiritual untuk ganti rugi mengganjal mejaku."

​Li Jian tahu pria itu sedang memerasnya untuk sebuah barang rongsokan, tapi ini bukan waktunya berdebat. Ia melempar lima batu spiritual tingkat rendah ke atas meja, memasukkan pedang hitam yang tak bersarung itu ke balik jubahnya, dan langsung berbalik pergi.

​Transaksi berjalan cepat, namun Li Jian membuat satu kesalahan fatal: saat melempar batu spiritual, kilauan sutra dari kantong penyimpanan milik Zhao Feng tak sengaja terlihat dari balik jubahnya.

​Kantong penyimpanan spasial adalah barang mewah. Kultivator rendahan yang membeli pedang rongsok tak seharusnya memiliki barang seperti itu.

​Saat Li Jian berjalan keluar dari Pasar Gelap menuju jalan setapak berhutan yang kembali ke Puncak Teratai Luar, hawa dingin di sekitarnya menegang.

​"Bocah," suara Yueyin menggema pelan, tenang namun mematikan. "Ada tiga ekor tikus yang membuntutimu sejak kau keluar dari tenda senjata tadi. Dua di Kondensasi Qi Tingkat Dua, satu di Tingkat Tiga."

​Li Jian terus berjalan dengan ritme yang sama, tidak menoleh ke belakang sedikit pun. Tangannya perlahan merayap ke balik jubah, menggenggam erat gagang pedang hitam tumpul yang baru saja dibelinya. Darahnya tidak berdesir karena takut, melainkan mendidih oleh antusiasme yang dingin.

​"Tempat ini cukup sepi untuk mencoba senjata baru kan, Senior?" batin Li Jian, bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang kejam.

1
alex kawun
semangaat ..... lanjuut thoor
alex kawun
kelabang raksasa nya koq di tinggal ?
alex kawun
kecewa berat deh
novel silat dari author yg kereen kapan nyambung nya
ayo ... semangat doong thor
Dian Pravita Sari
dlegek cerita gak tamat lagi pengarang nya binatang gak tanggung jawab
alex kawun
elok nya di certain dong suasana dan kesibukan sekte yg di tinggal kan mc nya
alex kawun
kagum dgn susunan bahasa dan kata2 dari author sangat rinci dan teratur , nampak kelas nya bukan kaleng2
semangat & lanjuuuut thor
Night Watcher
sayang banget zhao dibunuh..
pinginnya dihancurin pusat meridiannya kyk suruhannya biar jd sampah selama hidupnya
Eko
bantaaaaaaiiiii
Eko
mantap Thor
Night Watcher
sbg sesama murid, kok zhao tian bisa berkuasa memerintah yg lain thor? apa penyebabnya?
nanya bukan protes loo.. 🤭🙏
Eko
hahahaha...hanya mengantarkan nyawa
Eko
trik sampah licik
Eko
ayoooo lebih kuat lagi
Eko
mantap Thor
Eko
bantaaaaaaiiiii lah
Eko
ayoooo bantaaaaaaiiiii
Eko
alur cerita yang bagus dan menarik
Night Watcher
nyoba ngintib..
Lekat Wahyudi
👍👍👍
Udin Alex
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!