Setelah dua puluh dua tahun berlalu, Gavin dan Aretha bertemu kembali. Namun Gavin tidak menyadari bahwa gadis cantik tersebut adalah orang dari masa kecilnya, ke duanya bekerja di perusahaan yang sama. Aretha tak pernah lupa dengan Gavin, sekalipun mereka sudah tidak ada komunikasi sejak terakhir bertemu. Lalu bagaimana dengan Gavin? Akankah dia ingat dengan Aretha? Apakah Aretha akan menagih janji om Leo padanya untuk menjadikan Gavin suami Aretha?
Sebenarnya itu bukan pertemuan pertama, tiga tahun lalu ke duanya sempat bertemu dan Aretha salah paham dengan status Gavin.
“Dasar papa tidak bertanggung jawab. Nitip anak tapi tidak ingat,” ucap Aretha sadis.
“Haah! Anak? Kapan kamu nikah, Vin?” ucap Langit dan Raja bersamaan.
Gavin mengerutkan dahinya, dia termangu menatap wajah perempuan yang ada di hadapannya. Lalu bagaimana kisah dan hari-hari mereka nantinya?
cover by pinterest & canva
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah ternyaman Aretha
Malam makin larut, Aretha masih betah duduk di balkon kamarnya. Dia menikmati langit malam kota Bandung dari tempatnya tinggal, kembali pulang sesungguhnya adalah hal yang paling nyaman untuknya. Mansion Damian tetap rumah ternyaman untuk Aretha, karena banyak kenangan ada ditempat itu.
Malam di Bandung tentu berbeda dengan malam yang di rasakan Aretha di Jerman, jika di Bandung dia bisa menikamti semua fasilitas yang ke dua orang tuanya berikan. Lain dengan saat dia tinggal di Jerman, malam hari di Jerman Aretha gunakan untuk part time sebagai kasir di sebuah coffee shop.
Jangankan sekedar duduk bersantai seperti malam itu, di sana tentu Aretha tidak punya waktu untuk sekedar menikmati langit malam ataupun salju. Dia bukan hanya menempuh pendidikan, namun Aretha sekaligus mencari relasi mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman untuk mengembangkan diri. Dia adalah salah satu pewaris kerajaan bisnis Federick dan Huan, rasanya tidak boleh sedikitpun waktu terbuang sia-sia.
Aretha mengangkat tangannya ke udara, dia seoalah ingin mengambil bintang yang ada di langit. “Apa kamu pernah memikirkanku?” monolognya sambil menatap bintang-bintang di langit. “Aku selalu mengingatmu setiap hari,” imbuhnya.
Di sana, diatas sana bayangan wajah Gavin muncul. “Ish...harusnya aku labrak saja abang Gavin, biar tahu rasa. Bukan...bukan, harusnya aku pukvl papamu itu. Toh dia juga tidak ingat kita berdua, curang sekali. Padahal aku ingat dia terus,” Aretha menekan-nekan Cimi si boneka kelinci pemberian Gavin.
Aretha tidak sadar kalau mommy Rena sudah ada diambang pintu, dia mendengarkan putrinya menggerutu. “Aku jadi khawatir kalau begini, mas. Apa kita telepon Rhea saja? Biar dia bicara pada Kia,”
“Jangan dulu, sayang. Keluarga Pradipta sedang ada masalah terkait kecelakaan salah satu keluarga mereka, kita tidak bisa egois. Percaya padaku, kalau mereka berjodoh. Kalau tidak ya aku paksa mereka berjodoh,” jawab Axel.
“Maksud mas Axel?” bingung mommy Rena, sepertinya sang suami menyembunyikan sesuatu.
“Nanti kalau sudah saatnya mommy pasti tahu. Untuk saat ini biarkan Aretha mengeksplor banyak hal,”
“Jadi daddy tahu?” tanya mommy Rena.
“Bagaimana mungkin daddy tidak tahu, mom. Aretha bahkan sudah menolak universitas yang di Jakarta, daddy rasa kali ini dia pulang sekaligus minta ijin untuk pergi.” Daddy Axel merangkul pundak sang istri. “Ayo masuk! Keburu si pengendali bumi bangun,” lajut Axel.
“Ya ampun, mas! Memangnya Azura avatar? Aretha manggilnya baby cimol, mas pengendali bumi. Belum lagi Enzo panggil bakpao hidup,” gerutu mommy Rena karena putri bungsunya punya banyak julukan.
Mommy Rena dan daddy Axel kemudian masuk ke dalam kamar Aretha yang memang tidak terkunci. “Aretha!” panggil mommy Rena.
Aretha melongokkan kepalanya ke dalam. “Iya, mom. Aku di sini,” ucapnya.
“Boleh daddy dan mommy ikut bergabung di sana?” tanya mommy Rena.
“Tentu saja, mom. Udaranya sejuk di sini,”
Mommy Rena dan daddy Axel kemudian ikut duduk di sofa balkon kamar Aretha, ke duanya duduk di satu sofa yang sama. Mommy Rena bersandar pada tubuh daddy Axel.
“Azura tidak apa-apa mommy tinggal ke sini?” tanya Aretha.
“Jam-jam seperti ini Azura sudah mimpi naik kuda poni, sayang. Dia bangun kalau haus,”
Aretha mengangguk, dia kembali menatap langit malam. “Apa cimol seperti Aretha waktu bayi mom, dad?” kepo Aretha pada ke dua orang tuanya.
Daddy Axel terkekeh. “Kamu tidak sedang cemburu kan, sayang?”
“Aku tidak cemburu,” Aretha mencebik, hal tersebut membuat mommy Rena dan daddy Axel tersenyum.
“Azura itu plek ketiplek kamu, sayang. Kadang mommy serasa kembali ke masa waktu mommy melahirkan dan merawat kamu, tapi versi lebih ngereog. Batrenya Azura sepertinya 200%,” jawab mommy Rena.
Aretha terkekeh. “Mommy ada-ada saja,”
Suasana hening sejenak, mereka bertiga menatap langit malam yang penuh bintang saat itu. Hingga daddy Axel kembali membuka pembicaraan.
“Kapan kamu berangkat ke Korea, sayang?” daddy Axel tidak basa basi, dia langsung bertanya pada putrinya.
Aretha terperanjat, dia menatap daddy dan mommynya. Memastikan ekspresi daddy Azxel dan mommy Rena. “Daddy ndak asik. Kenapa harus tanya langsung, kan bisa pura-pura ndak tahu biar kejutan. Ini malah sudah tahu,” gerutu Aretha karena daddy dan mommynya sudah bisa menebak.
Daddy Axel tertawa ringan melihat ekspresi kesal putri sulungnya tersebut.
“Kamu lupa siapa daddy, sayang? Punya seribu mata dan telinga,” sahut mommy Rena.
Aretha mengambil napas dan membuangnya. “Minggu depan Aretha ke sana, dad. Mengurus beberapa hal dan juga tempat tinggal. Kali ini Aretha janji mom, dad. Tidak akan lama,” ucap Aretha.
“Tidak akan lama versimu itu lima tahun, sayang. Mommy sampai melahirkan anak lagi,” kesal mommy Rena.
Yap! Aretha tidak bisa menyembunyikan hal-hal penting dalam hidupnya dari daddy Axel, daddynya bahkan sudah tahu kalau dia memilih melanjutkan S2nya di salah satu universitas ternama di Korea. Aretha hanya berharap daddy dan mommynya tidak tahu penyebab utama Aretha akhirnya kembali menempuh pendidikan diluar negeri.
***
Semalaman tadi Aretha banyak mengobrol dengan daddy dan mommynya, namun tak satupun dia memasukkan Gavin dalam obrolannya. Sebenarnya mommy Rena merasa heran, tapi dia tidak mau membicarakan di luar topik. Mommy tidak akan ikut campur selama Aretha tetap bisa mengatasinya.
“Pagi mom, dad. Enzo mana?” sapanya pada keluarganya pagi itu, namun Aretha tidak melihat keberadaan sang adik di meja makan.
“Enzo sudah berangkat, sayang. Ada kuliah pagi,” jawab mommy Rena.
“Pagi baby cimol,” Aretha beralih menyapa adik bungsunya, dia menoel pipi Azura.
“Kut taa...taa,” ocehnya sambil merentangkan tangan ke udara.
“Baby cimol sarapan dulu yang baik. Nanti boleh main sama mbak,” ucap Aretha, bocah itu mencebik. Akhirnya Aretha duduk tepat di samping Azura agar bocah itu tidak tantrum. Azura selalu melirik kearah sang kakak, memperhatikan gerak gerik Aretha. Sesekali dia tertawa riang saat sang kakak menggodanya.
Seperti biasa, usai sarapan daddy Axel hendak ke kantor. Rayen sudah tidak menjadi asisten daddy Axel semenjak menikah dengan Alya, dia saat ini menjadi pimpinan perusahaan milik keluarga Huan dan Darmawan.
“Daddy!” panggil Aretha. “Ada apa, sayang?” Axel masih bermain sebentar dengan Azura.
“Boleh Aretha bawa motor?” Aretha minta ijin untuk membawa salah satu motor ke sayangannya.
“Boleh. Tapi jangan ngebut,” jawab daddy Axel.
“Siap daddy,” hari itu Aretha ingin jalan-jalan menjelajah Bandung, tapi dia malas menggunakan mobil. Akan lebih menyenangkan menggunakan kendaraan roda dua, dia ingin menikmati jalanan kota Bandung sebelum kembali menuntut ilmu di negeri orang.
***
Gavin siang itu baru saja sampai di Bandung, dia ke sana karena papi Leo minta sang keponakan untuk membantunya di Hanapra. Ada beberapa hal yang Leo harus wakilkan pada sang keponakan dan juga sahabatnya Dio, karena Leo harus ke luar negeri bersama sang istri untuk menemani putri ke dua mereka lomba olimpiade.
“Bandung. Sudah lama aku tidak ke mari,” ucap Gavin. “Kenapa jadi ingat Aretha,” Gavin menghela napas.
Gavin kembali melajukan mobilnya menuju hotel tempatnya menginap, dia sengaja tidak menginap di rumah aunty dan om nya. Baginya rumah itu membuatnya ingat kisah masa kecilnya dengan gadis berkuncir dua yang sangat cerewet.
Siang itu dia tidak harus langsung ke kantor, jadi Gavin mencari tempat untuk makan siang lebih dulu sebelum ke hotel. Hingga dia menemukan rumah makan sunda yang cukup terkenal, Gavin memarkirkan mobilnya. Saat turun dari mobil dia melihat seorang ibu bersama anaknya yang sedang menyebrang jalan menuju kearahnya.
“Bu. Awas! Ada mobil,” teriak Gavin, namun si ibu tidak mendengar karena dia sibuk menenangkan putrinya yang menangis. Gavin melihat mobil melaju dengan kencang, hingga akhirnya dia lari kearah ibu dan anak tersebut.
Braak
cibe -cibe kalau ga salah