NovelToon NovelToon
My Girl

My Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:801
Nilai: 5
Nama Author: Helena Fox

Anindira Cewek yang dikenal “bar-bar”. Ceplas-ceplos, berani ribut kalau diremehin, dan gak pernah mau kalah. Di balik kerasnya, Dira cuma capek terus disalahpahami. Ia takut jadi lemah—padahal yang ia butuhin cuma dimengerti. Meskipun bar-bar dia juga memiliki sisi rasa penakut , terlebih pada hal - hal yang berbau horor

Elvan Bagaskara

CEO muda yang dingin di cap ceo dingin , rapi, dan perfeksionis. Hidupnya dikontrol logika. Emosi dianggap gangguan. Terlihat kuat, padahal ia memikul tanggung jawab terlalu berat di usia muda.

Albian Bagaskara
Adik Elvan Satu sekolah dengan Dira . Pendiam dingin, dan tertutup. Tidak suka konflik, tapi selalu ada di saat orang lain diserang. Cara pedulinya sunyi, itu yang membuat tidak terlihat .

Bagaimana jadinya .Dira cewek bar -bar bertemu Ceo dingin dan terjebak dalam kisah yang rumit antara Elvan dan Albian .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 26

Beberapa saat kemudian dokter keluar dari ruangan.

“Keluarga pasien?”

Elvan dan Kenzo langsung mendekat.

“Dia bagaimana?” tanya Kenzo cepat.

Dokter menghela napas ringan.

“Dia hanya pingsan karena benturan dan kelelahan. Untungnya tidak ada cedera serius. Dan untuk kedepannya harus lebih berhati- hati”

Kenzo langsung lega. “Syukurlah"

“Namun dia harus benar-benar istirahat. Tubuhnya belum pulih dari kejadian sebelumnya.”

Elvan hanya mengangguk. “Boleh kami masuk?”

Dokter mengizinkan.

Di dalam ruangan, Dira sudah terbaring di ranjang dengan infus di tangannya.

Wajahnya masih pucat.

Kenzo berdiri di sisi ranjang sambil menatap adiknya dengan khawatir.

“Dir…”

Beberapa detik kemudian kelopak mata Dira bergerak.

Ia membuka mata perlahan. “Hmm…”

Kenzo langsung mendekat.“Kamu bisa dengar abang ?”

Dira mengerjap pelan. “Bang ken.…?”

Kenzo langsung menghela napas lega. “Iya, abang di sini.”

Dira menoleh sedikit… lalu melihat Elvan berdiri di samping ranjang.

" Om Elvan…” Suaranya lemah.

Elvan mendekat. “Iya.”

Dira mengerutkan kening. “Kok… aku di rumah sakit lagi om?”

Kenzo langsung menatapnya kesal. “Karena kamu pingsan di sekolah!”

Dira mencoba mengingat. “Oh… astaga Vina.”

Mata Elvan langsung berubah dingin. “Dia yang mendorongmu?”

Dira mengangguk pelan.

“Iya....dia yang mulai.”

Kenzo mengepalkan tangannya. Namun Elvan justru terlihat lebih tenang. Terlalu tenang.

Ia berkata pelan,

“Mulai sekarang kamu tidak perlu khawatir tentang mereka lagi.”

Dira bingung. “Maksudnya? Om ”

Elvan tidak menjawab. Namun di dalam pikirannya… keputusan sudah dibuat. Tidak akan ada lagi orang yang berani menyentuh Dira.

***

Keesokan paginya, kabar bahwa Dira pingsan di sekolah sudah menyebar ke hampir seluruh siswa.

Di ruang kepala sekolah , Vina duduk bersama orang tuanya dengan wajah kesal.

“Ayah, aku nggak dorong dia keras-keras. Dia aja yang lebay,” katanya sambil menyilangkan tangan.

Ibunya mengangguk setuju.

“Anak sekarang memang suka drama.”

Namun suasana sekolah tiba-tiba berubah ketika sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan gerbang.

Para siswa langsung berbisik. “Itu mobil siapa?”

“Kayaknya orang penting deh…”

Pintu mobil terbuka.

" Bukannya.... itu yang kemarin bawa dira...."

Elvan keluar dengan langkah tenang dan wajah dingin. Jas hitamnya rapi seperti biasa. Di belakangnya berjalan Kenzo.

Begitu para siswa melihat mereka, lorong sekolah langsung sunyi.

“Bukannya itu kakaknya Dira?” bisik seorang siswi. Sambil menunjuk ke arah kenzo.

Di ruang kepala sekolah, suasana tegang. Ketika elvan dan kenzo memasuki ruangan.

Kepala sekolah mencoba tersenyum sopan.

“Terima kasih sudah datang. Kami sebenarnya sudah menangani masalah ini—”

Elvan memotong dengan suara datar. “Mana siswi yang mendorong Dira?”

Ruangan langsung sunyi.

Vina yang duduk di kursi langsung menatap sinis.

“Dia juga salah sendiri.”

Kenzo langsung melangkah maju. “Jadi. Kamu yang menyentuh adikku.”

Vina mendengus. “Dia cuma jatuh sedikit. Lebay banget.”

Kalimat itu membuat Kenzo hampir kehilangan kesabaran.

“Sedikit?”

Ia hampir maju lebih dekat, tapi Elvan mengangkat tangan sedikit menghentikannya.

Elvan menatap Vina dengan dingin.

Tatapan yang membuat gadis itu perlahan mulai gugup.

“Kamu tahu dia baru saja keluar dari rumah sakit?”

Vina tidak menjawab. Ayah Vina malah berbicara dengan nada meremehkan.

“Anak-anak kan kadang bercanda. Tidak perlu dibesar-besarkan.”

Mata Elvan langsung berubah tajam. “Bercanda?”

Suasana ruangan terasa semakin dingin.

“Kalau dia sampai cedera serius,” lanjut Elvan pelan, “itu sudah masuk ke dalam kasus kekerasan.”

Orang tua Vina mulai terlihat tidak nyaman. Kenzo menambahkan dengan nada tegas,

“Dan kami tidak akan ragu membawa ini ke jalur hukum.”

Wajah Vina langsung pucat. Ia tak menyangka akan sebesar ini masalahnya. Menambah rasa bencinya pada dira.

Setelah percakapan panjang, keputusan sekolah akhirnya jelas.

Vina diskors. Dan juga harus minta maaf kepada dira dengan tulus. Itu perintah dari elvan.

Para siswa yang melihat dari luar ruang guru langsung heboh.

“Serius?”

“Gara-gara Dira?”

Vina keluar ruangan dengan wajah marah dan malu.

Namun ketika matanya bertemu dengan Elvan di lorong…

Dia langsung menunduk takut.

Tatapan pria itu terlalu menakutkan. Elvan hanya berkata singkat,

“Ini peringatan terakhir.”

Vina tidak berani menjawab.

***

Sementara itu di rumah sakit, Dira sedang duduk di ranjang sambil memainkan ponselnya.

“Bosaaaan.”

Seorang perawat tertawa kecil. “Kamu harus istirahat.”

Dira menghela napas panjang. “Tiap hari istirahat terus.”

Pintu kamar tiba-tiba terbuka.

Kenzo masuk lebih dulu. Dira langsung bersinar.

Dira langsung bersinar.

“Bang ken...Akhirnya!”

Namun saat melihat Elvan di belakangnya, wajahnya berubah sedikit malu.

“Kalian dari mana?”

Kenzo duduk di kursi. “Dari sekolahmu.”

Dira langsung menegakkan badan. “Hah?!”

Elvan berdiri di samping ranjang. “Kami menyelesaikan masalahmu.”

Dira mengerjap. “Maksudnya?”

Kenzo tersenyum tipis. “Vina diskors.”

Dira langsung melongo. “Serius?!"

Elvan hanya berkata singkat. “Dia tidak akan mengganggumu lagi.”

Beberapa detik Dira hanya menatap Elvan.

Lalu ia tersenyum kecil.

“Om Elvan…”

“Iya?”

“Terima kasih sudah selalu datang waktu aku kenapa-kenapa.”

Elvan menatapnya sebentar. " Jangan terluka lagi"

Kemudian tanpa sadar ia mengusap pelan kepala Dira.

“Istirahat yang benar.”

Dira sedikit memerah.Kenzo yang melihat itu hanya menggeleng pelan.

“Kamu selalu seperti ini… benar-benar tak berubah.” gumamnya

***

Dua hari kemudian Dira sudah jauh lebih baik. Infusnya dilepas, dan dokter mengizinkan dia pulang dari rumah sakit.

Selama dua hari itu pula elvan selalu menjaga dira. Bahkan sampai mengerjakan tugas kantor di rumah sakit, sikap protektif nya mulai terlihat secara perlahan namun pasti.

Di dalam mobil, suasana terasa tenang.

Namun tiba-tiba Elvan berkata dengan nada datar,

“Kamu tidak boleh sekolah dulu.”

Dira langsung menoleh cepat. “Hah?!”

Kenzo yang duduk di kursi depan hanya menghela napas, seolah sudah menebaknya.

“Tubuhmu belum benar-benar pulih,” lanjut Elvan.

Dira langsung protes.

“Aku cuma pingsan om ! Itu juga gara-gara didorong!”

Elvan tetap fokus menyetir. “Justru karena itu.”

Dira melipat tangan dengan kesal.

“Aku bisa jaga diri.”

Elvan menjawab singkat, “Tidak.”

Jawaban pendek itu langsung membuat Dira semakin kesal. Bagaimana tidak ia sudah dua hari di rumah sakit cuma rebahan, masa iya harus istirahat lagi dirumah.

“Kenapa sih semua orang nganggep aku lemah!”

Kenzo menoleh sedikit.

“Karena kamu memang sering bikin masalah.”

“Aku nggak bikin masalah bang!”

Kenzo mengangkat alis. “Kecelakaan. Penculikan. Pingsan dua kali.”

Dira langsung terdiam beberapa detik… lalu berkata pelan,

“…itu kan bukan salahku.”

Elvan akhirnya berkata lagi dengan nada lebih lembut,

“Kami cuma ingin kamu aman dira.”

Namun Dira masih terlihat kesal.

Suasana jadi hening , karna dira mogok ngomong.

Tak lama mobil yang mereka tumpangi tiba di rumah dira. Elvan memutuskan untuk langsung pergi ke kantor

Tiba di rumah Kenzo melihat .Dira langsung duduk di sofa dengan wajah cemberut.

ketika melihat itu. Kenzo hanya bisa tersenyum.

“Kamu masih ngambek?”

Dira tidak menjawab.

Kenzo tertawa kecil. “Baru pertama kali lihat kamu diam.”

Dira akhirnya berkata kesal,

“Om Elvan nyebelin.”

“Kenapa?”

“ Masa iya om el larang aku sekolah.”

Kenzo duduk di kursi seberang.

“Dia cuma khawatir.”

Dira menatapnya.

“Kenapa om el harus khawatir?”

Kenzo tersenyum tipis. “Kamu benar-benar tidak sadar?”

Dira mengerutkan kening. “Sadar apa?”

Kenzo hanya menggeleng.

“Lupakan.”

Namun di dalam hati Kenzo… jawabannya sudah jelas.

" Apaan sih gak jelas " dira mendengus

Kenzo tak menjawab , ia hanya berlalu pergi meninggalkan dira di sofa.

Bersambung...........

1
Teh Sopiah
Lumayan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!