NovelToon NovelToon
Mafia Kejam Jatuh Cinta

Mafia Kejam Jatuh Cinta

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: erinaCalistaAzahra

Marvel Dewangsa sadar bahwa hatinya sudah lama mati. Mungkin dari pengkhianatan oleh wanita yang ia sayangi, ditambah ia yang berkecimpung di dunia bawah yang tidak memerlukan simpati untuk bertahan hidup. Ia akhirnya percaya bahwa hidupnya akan seallau gelap sampai mati.

Namun, entah keajaiban apa, di hari itu seorang wanita yang bernama Elara , datang dan perlahan selalau ada di kehidupannya. Apakah marvel Dewangsa akan menerima Elara di kehidupannya dan hatinya akan luluh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

perdebatan tentang kode

Di ruang perpustakaan yang remang-remang, bau cerutu mahal bercampur dengan ketegangan yang menyesakkan. Sang ayah, Don Dewangsa, melempar sebuah laporan ke atas meja kayu ek.

"Kau melanggar kode kita, marvel," suara sang ayah parau namun masih penuh otoritas. "Menculik putri musuh bukan cara kita berbisnis. Kita adalah pebisnis, bukan penculik rendahan."

Marvel tetap berdiri tegak, tangannya terselip di saku jas hitamnya yang licin. Wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun, sedingin es yang tidak pernah mencair.

"Dunia telah berubah, Ayah," jawab marvel dengan nada datar yang mengerikan. "Bisnis yang Ayah banggakan itu penuh dengan lubang. Aria bukan sekadar tawanan; dia adalah aset. Ayahnya mencuri dari kita, dan sekarang kita mengambil miliknya yang paling berharga sebagai kompensasi."

"Kau kehilangan rasa hormat, marvel! Tanpa omertà dan tradisi, kita hanyalah gerombolan manusia jalanan," bentak ayahnya, tangannya menggebrak meja.

Marvel melangkah maju perlahan, masuk ke bawah cahaya lampu meja, membuat bayangannya tampak raksasa. "Hormat tidak akan membayar tagihan pelabuhan kita. Ketakutan yang akan melakukannya. Ayah terlalu lama bermain dengan aturan lama, sementara musuh-musuh kita sudah menodongkan senjata ke tenggorokan kita dari balik senyuman mereka."

Marvel menatap mata ayahnya tanpa berkedip. "Aria tetap bersamaku. Bukan sebagai sandera yang akan dikembalikan, tapi sebagai bukti bahwa siapa pun yang mengusik keluarga Dewangsa akan kehilangan segalanya—bahkan keturunan mereka."

"Kau akan menghancurkan kita semua dengan kesombonganmu," bisik sang ayah, menyadari bahwa putra yang ia besarkan untuk menjadi pelindung kini telah berubah menjadi predator yang tidak bisa ia kendalikan lagi.

"Tidak, Ayah," balas marvel sambil berbalik menuju pintu. "Aku sedang memastikan tidak akan ada lagi yang berani mencoba menghancurkan kita."

Konflik Utama dalam Perdebatan Ini:

Tradisi vs. Efisiensi: Ayah Marvel memegang teguh kode etik mafia lama (honor), sementara marvel hanya peduli pada hasil akhir dan kekuasaan absolut.

Sang ayah masih melihat sisi kemanusiaan (setidaknya dalam lingkup keluarga dan musuh tertentu), sedangkan marvel telah sepenuhnya membuang empati demi keamanan sindikat.

Don Dewangsa berdiri di tepi balkon, membelakangi putranya. "Aku mendengar kau memindahkan pengawal dari gerbang depan hanya untuk berjaga di depan pintu kamar gadis itu, Marvel. Kau menipiskan pertahanan kita demi satu nyawa yang tidak berharga."

Marvel menyalakan pemantik apinya, cahayanya menerangi wajahnya yang datar selama sedetik sebelum kembali gelap. "Dia berharga bagiku sebagai sandera, Ayah. Aku tidak ingin ada 'kecelakaan' sebelum tujuanku tercapai."

"Jangan berbohong padaku!" Don Dewangsa berbalik, matanya berkilat marah. "Aku melihat caramu menatapnya. Kau tidak menatapnya seperti seorang tawanan. Kau menatapnya seolah dia adalah satu-satunya oksigen di ruangan yang penuh asap."

Marvel terdiam. Keheningan itu begitu berat hingga detak jam di dalam ruangan terdengar seperti dentum martil. "Ayah berimajinasi."

"Marvel, dengarkan aku," suara sang ayah merendah, penuh peringatan. "Seorang pria di posisi kita bisa memiliki apa saja, tapi dia tidak boleh membutuhkan apa pun. Begitu kau mencintai sesuatu, kau memberikan dunia sebuah tali untuk menjerat lehermu."

"Aku tidak mencintainya," desis marvel, suaranya kini sedikit lebih tajam, tanda bahwa serangan ayahnya mengenai sasaran.

"Kalau begitu, buktikan," tantang Don Dewangsa. Ia mengeluarkan pistol dari balik jasnya dan meletakkannya di atas meja marmer di antara mereka. "Eksekusi dia malam ini. Tunjukkan pada faksi lain bahwa putri musuh kita telah habis, dan Dewangsa tidak punya kelemahan."

Marvel menatap pistol itu. Jemarinya yang biasanya stabil kini terasa kaku. Keheningan berlangsung lama, hingga angin malam meniup abu rokok marvel ke udara.

"Membunuhnya sekarang adalah langkah strategis yang bodoh," ucap marvel akhirnya, memilih berlindung di balik logika bisnisnya yang dingin.

Sang ayah tertawa pahit. "Kau pengecut, Marvel. Kau lebih takut kehilangan gadis itu daripada kehilangan kekaisaran yang aku bangun. Ingat kata-kataku: es yang kau banggakan itu tidak sedang membeku, ia sedang mencair. Dan saat itu terjadi, kau akan tenggelam di dalamnya."

Marvel mengambil pistol itu, tapi tidak untuk digunakan. Ia menyelipkannya di pinggangnya sendiri, menatap ayahnya dengan mata yang kini benar-benar kosong. "Jika aku tenggelam, aku akan memastikan seluruh Milan tenggelam bersamaku. Termasuk Ayah."

Perdebatan ini mempertegas bahwa marvel mulai kehilangan kendali atas emosinya sendiri.

Suara gelas kristal pecah menghantam lantai marmer. Don Dewangsa berdiri dengan napas memburu, wajahnya merah padam.

"Kau membatalkan kontrak dengan keluarga Valerio tanpa izinku?! Mereka sekutu kita selama tiga puluh tahun, marvel!"

Marvel berdiri di balik meja, tenang seperti permukaan danau yang membeku di tengah badai. Ia bahkan tidak berkedip saat pecahan kaca mendarat di dekat sepatunya yang mengkilap.

"Tiga puluh tahun adalah waktu yang lama untuk menjadi parasit, Ayah," sahut marvel datar. "Valerio mencuri dari pengiriman kita di pelabuhan utara. Ayah terlalu setia pada 'sejarah', sampai-sampai Ayah buta terhadap pengkhianatan di depan mata."

"Itu fitnah! Kau hanya ingin menyingkirkan mereka karena mereka menentang caramu memperlakukan gadis tawanan itu!"

Marvel berjalan perlahan mengitari meja, mendekati ayahnya. Atmosfer di ruangan itu mendadak turun drastis.

"Ayah selalu bilang bahwa emosi adalah kelemahan. Tapi lihat dirimu sekarang. Ayah berteriak karena takut. Takut kalau duniamu yang penuh 'kehormatan' palsu ini sedang runtuh."

"Aku adalah Don di keluarga ini!" Don Dewangsa menunjuk dada putranya dengan jari yang gemetar. "Selama aku masih bernapas, kau adalah bawahanku!"

Marvel berhenti tepat di depan ayahnya. Ia jauh lebih tinggi, bayangannya menelan tubuh sang ayah yang mulai menua. "Bernapas adalah hak istimewa, Ayah. Bukan jaminan kekuasaan."

Kalimat itu membuat sang ayah terdiam, sebuah ancaman terselubung yang begitu dingin hingga sang ayah merasakan bulu kuduknya berdiri.

"Kau akan membunuh ayahmu sendiri demi tahta dan seorang wanita?" bisik Don Dewangsa, suaranya kini penuh rasa tidak percaya.

Marvel menatap mata ayahnya dengan kekosongan yang mengerikan. "Aku tidak butuh membunuhmu untuk mengambil tahta ini. Tahta ini sudah memilihku sejak Ayah mulai membiarkan perasaan sentimental menghambat bisnis kita. Dan soal Aria..." Marvel menjeda, suaranya merendah menjadi bisikan mematikan, "Siapa pun yang menyentuhnya—bahkan jika itu adalah orang yang memberiku nama Dewangsa—akan berakhir di liang lahat yang sama."

Tanpa sepatah kata lagi, Marvel berbalik dan meninggalkan ruangan. Don Dewangsa terduduk di kursinya, menyadari bahwa ia bukan lagi menghadapi putranya, melainkan monster yang ia ciptakan sendiri—monster yang kini sudah tidak memiliki rantai.

Poin Perdebatan:

Loyalitas vs. Profit,Sang ayah menjaga aliansi lama, Marvel hanya peduli pada siapa yang berguna bagi masa depan.

Ancaman Terbuka, Untuk pertama kalinya, marvel secara terang-terangan menunjukkan bahwa posisi ayahnya sudah tidak aman jika terus menghalangi jalannya.

Don Dewangsa meletakkan pisaunya dengan kasar. "Aku mendengar kau memindahkan dana darurat keluarga ke rekening pribadi untuk 'pengamanan' Aria. Kau sudah gila, Marvel? Itu dana untuk perang jika kepolisian atau faksi lain menyerang!"

Marvel menyeka sudut bibirnya dengan serbet kain putih, gerakannya sangat lambat dan tenang. "Itu bukan dana darurat lagi, Ayah. Itu modal. Aku sedang membangun sistem baru di mana kita tidak perlu lagi bersembunyi di lubang tikus setiap kali ada penggerebekan."

"Sistem baru?!" Sang ayah tertawa sinis. "Kau membangun benteng kaca untuk melindungi satu wanita, dan kau menyebutnya sistem? Kau sedang mempertaruhkan seluruh warisan Dewangsa demi ego dan obsesimu!"

Dewangsa menatap ayahnya dengan mata abu-abu yang tajam. "Warisan Dewangsa yang Ayah banggakan itu sudah berkarat. Ayah masih membayar suap kepada polisi-polisi tua yang sudah tidak punya taring. Aku membeli teknologi, aku membeli data, dan aku membeli keamanan yang tidak bisa ditembus oleh peluru."

"Kau sombong!" bentak sang ayah, berdiri hingga kursinya terlempar ke belakang. "Tanpa sejarah dan koneksi yang kubangun, kau bukan siapa-siapa! Kau hanya seorang sosiopat dengan setelan jas mahal!".

Marvel ikut berdiri, namun tidak seperti ayahnya yang meledak-ledak, marvel tetap stabil. "Sejarah adalah milik orang mati, Ayah. Aku hidup di masa depan. Dan di masa depanku, tidak ada tempat bagi mereka yang ragu untuk mengambil langkah ekstrem."

"Termasuk membuang ayahmu sendiri?" suara Don Dewangsa bergetar, antara amarah dan kesedihan yang mendalam.

"Jika Ayah terus berdiri di tengah jalan raya, jangan salahkan kendaraan yang menabrakmu," balas marvel dingin. "Aku sudah menawarkan kursi di barisan belakang untuk menonton kesuksesanku, tapi Ayah bersikeras ingin memegang kemudi yang sudah patah.".

Marvel mencondongkan tubuh ke arah ayahnya, suaranya kini hanya berupa bisikan yang menggetarkan ruangan. "Cukup sudah perdebatan ini. Mulai besok, semua akses keuangan keluarga ada di bawah otoritas tunggalku. Ayah bisa menikmati masa pensiun di vila pinggir laut, atau Ayah bisa terus melawan dan kehilangan segalanya—termasuk rasa hormat yang tersisa dariku."

Don Dewangsa menatap putranya, menyadari bahwa sosok di depannya bukan lagi anak yang ia ajari menembak, melainkan penguasa baru yang sama sekali tidak memiliki belas kasihan.

Ketegangan yang Memuncak

Kekuasaan Finansial: marvel telah melakukan kudeta ekonomi di dalam keluarganya sendiri.

Ultimatum: marvel secara terang-terangan mengusir ayahnya dari tahta operasional.

Begitu pintu besar ruang makan tertutup di belakang Marvel , Don Dewangsa perlahan duduk kembali di kursinya yang miring. Ia menatap piring porselen yang masih penuh, menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun, ia merasa asing di rumahnya sendiri. Putranya tidak hanya mengalahkannya dalam argumen, tetapi telah melucuti otoritasnya di depan para pelayan dan pengawal.

Langkah Marvel yang Tak Tergoyahkan

Marvel berjalan menyusuri koridor panjang menuju sayap utara—tempat Aria dikurung. Setiap langkah sepatunya yang beradu dengan lantai marmer terdengar seperti detak jam menuju eksekusi. Para pengawal yang berpapasan dengannya menunduk lebih dalam dari biasanya. Mereka tahu, mulai malam ini, hanya ada satu matahari di keluarga Dewangsa.

Marvel berhenti di depan pintu kamar Aria. Ia tidak segera masuk. Ia berdiri di sana, menatap tangannya yang sedikit bergetar—satu-satunya tanda bahwa ia masih manusia setelah mengancam ayahnya sendiri. Namun, getaran itu hilang dalam hitungan detik, digantikan oleh kedinginan yang lebih pekat.

Konsekuensi Langsung

Perubahan Hierarki: Malam itu juga, Marvel mengganti kode akses brankas utama dan memindahkan seluruh logistik pengiriman ke bawah kendali orang-orang kepercayaannya yang lebih muda.

Isolasi Sang Ayah: Don Dewangsa secara tidak resmi menjadi "tahanan" di vilanya sendiri. Meskipun ia memiliki fasilitas mewah, ia tidak lagi memiliki akses ke alat komunikasi organisasi.

Fokus pada Aria: Dengan ayahnya yang sudah "dijinakkan", Marvel kini memiliki kendali penuh atas nasib Aria tanpa ada lagi yang berani memberikan perintah eksekusi.

Di Kamar Aria

Marvel membuka pintu kamar tanpa mengetuk. Aria sedang berdiri di dekat jendela, menatap bulan. Ia berbalik dan melihat kilatan aneh di mata Marvel—sesuatu yang lebih gelap dari biasanya.

"Kau baru saja bertengkar dengannya," ucap Aria, bukan bertanya, tapi menyatakan fakta. "Aku bisa mendengarnya dari sini."

Marvel mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. Aroma tembakau dan kemarahan yang tertahan menguar dari tubuhnya. "Aku baru saja memastikan bahwa tidak ada lagi orang di dunia ini yang bisa menyentuhmu, Aria."

"Bahkan ayahmu sendiri?" tanya Aria dengan nada ngeri.

"Terutama dia," jawab Marvel pendek. Ia meraih helai rambut Aria, . "Harganya sangat mahal, jadi jangan pernah berpikir untuk mengkhianatiku. Karena sekarang, aku tidak punya apa-apa lagi selain kekuasaan ini... dan kau."

1
Dysha♡💕
bagus
Dysha♡💕
ceritanya bagus,tapi terlalu singkat dan cepat,,jadi kurang menghayati gitu,,,
erin
jangan bosan untuk membaca
erin
jangan lupa mampir🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!