NovelToon NovelToon
Takdir Abadi: Dua Jiwa, Satu Jalan Pedang

Takdir Abadi: Dua Jiwa, Satu Jalan Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Seorang murid sekte luar yang dianggap tidak berguna karena memiliki "Akar Spiritual Terkutuk" tanpa sengaja membangkitkan jiwa seorang jenius dari era kuno yang terperangkap dalam artefak misterius. Bersama, mereka merintis teknik kultivasi kuno yang membutuhkan perpaduan dua elemen yang saling bertentangan, menuntut mereka untuk menyatukan kekuatan dan hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Membelah Langit Puncak Awan

​Langit di atas Puncak Awan Berkabut yang biasanya cerah kini tertutup oleh kubah cahaya berwarna merah darah. Rune-rune kuno berputar lambat di permukaan kubah tersebut, mengunci setiap jengkal ruang dan udara. Formasi Pengunci Langit telah aktif sepenuhnya; bahkan seekor lalat pun tak akan bisa keluar hidup-hidup dari sekte ini.

​Di udara, tiga Tetua tahap Bina Pondasi melayang dengan wajah penuh niat membunuh. Pedang terbang, cambuk api, dan tombak petir berdengung di tangan mereka, mengunci aura Li Jian di tengah Arena Keadilan.

​"Bocah sombong! Kau pikir kau bisa melawan langit?!" raung Tetua Utama, menyeka sisa darah di sudut bibirnya akibat benturan es tadi. "Hancurkan meridiannya! Biarkan jiwanya disiksa di Penjara Bawah Tanah selama seratus tahun!"

​Ketiga Tetua itu menyerang serentak. Tiga pilar energi murni yang jauh melampaui alam Kondensasi Qi melesat menghantam arena, membawa tekanan yang membuat lantai obsidian hancur menjadi debu sebelum serangan itu bahkan menyentuhnya.

​Di tengah badai energi kematian tersebut, Li Jian berdiri diam. Tubuhnya bergetar hebat. Pembuluh darah di bawah kulitnya menonjol, beberapa di antaranya pecah dan merembeskan darah dari pori-porinya. Menahan sebagian jiwa Yueyin di tubuh Tingkat Lima-nya sama seperti mencoba memasukkan lautan ke dalam cangkir teh; cangkir itu mulai retak.

​"Tubuhmu mencapai batasnya, bocah," suara Yueyin menggema tajam, tak lagi meremehkan, melainkan penuh kalkulasi dingin. "Kita hanya punya waktu untuk satu ayunan. Aku telah memindai formasi rongsokan ini. Titik terlemahnya ada di arah barat laut, tepat di atas gerbang utama."

​"Satu ayunan..." Li Jian memuntahkan darah segar yang langsung membeku di dagunya. Matanya yang kini sepenuhnya berwarna perak menatap ke atas. "Kalau begitu, mari kita buat mereka tidak akan pernah melupakan ayunan ini seumur hidup mereka."

​Li Jian menarik napas yang terdengar seperti derak es. Ia mencengkeram gagang Gerhana dengan kedua tangannya. Sisa cairan Qi perak di Dantian-nya mendidih, dibakar bersama dengan esensi darahnya sendiri untuk memanggil kekuatan absolut.

​Bilah hitam legam pedang tumpul itu tiba-tiba berdengung dengan frekuensi yang sangat memekakkan telinga. Ia mulai menyerap cahaya matahari di sekitarnya, membuat area di atas arena mendadak menjadi gelap gulita seolah malam tiba lebih awal.

​"Seni Bintang Pemakan Langit: Tebasan Gerhana Bulan Darah!"

​Tepat saat tiga serangan mematikan dari para Tetua hampir meremukkan kepalanya, Li Jian mengayunkan Gerhana ke atas, mengarah ke sudut barat laut kubah formasi.

​ZRAAAAAASSS!

​Sebuah bilah energi raksasa berbentuk bulan sabit hitam dengan tepi perak menyilaukan melesat ke langit. Udara di sekitarnya tidak sekadar terbelah, melainkan hancur menjadi ruang hampa yang membekukan.

​Tebasan itu menyapu ketiga pilar energi para Tetua bagai sabit raksasa yang memotong ilalang. Cambuk api padam, tombak petir membeku dan hancur, dan pedang terbang milik Tetua Utama terpental dengan retakan parah.

​"T-Tidak mungkin! Kekuatan macam apa ini?!" jerit salah satu Tetua saat hawa Yin ekstrem dari tebasan itu menyapu balik ke arahnya, membekukan separuh tubuhnya seketika dan membuatnya jatuh dari langit seperti batu.

​Namun, target utama Li Jian bukanlah mereka. Bilah bulan sabit hitam itu melesat lurus menghantam kubah merah Formasi Pengunci Langit.

​BOOOOOOM!

​Ledakan yang dihasilkan menggetarkan seluruh gunung. Gelombang kejutnya melemparkan ribuan murid di tribun hingga bergelimpangan. Di titik benturan, kubah merah yang diklaim tak bisa dihancurkan itu mulai membeku, memucat, dan akhirnya... retak.

​Prang!

​Sebuah lubang raksasa sebesar bangunan tercipta di langit barat laut. Pecahan formasi berjatuhan bagai hujan kaca bercahaya.

​"Dia... dia memecahkan Formasi Pengunci Langit dengan satu tebasan?!" Tetua Utama berteriak histeris, matanya dipenuhi kengerian yang murni. "Jangan biarkan dia kabur!!"

​Tapi Li Jian tidak lagi berada di arena. Menggunakan daya tolak dari ledakan ayunannya sendiri, Li Jian menembakkan tubuhnya menembus lubang formasi tersebut bak meteor perak.

​Sensasi robek di seluruh otot dan meridiannya membuat pandangannya mulai menggelap. Setiap inci tubuhnya menjerit kesakitan, namun ia memaksakan kesadarannya untuk tetap terjaga.

​Ia terus melesat melintasi langit, meninggalkan Puncak Awan Berkabut jauh di belakangnya. Angin kencang menerpa jubah putihnya yang kini compang-camping dan bersimbah darahnya sendiri. Di depannya, membentang daratan hijau kehitaman yang tiada ujungnya—Pegunungan Ratusan Iblis, wilayah liar tempat hukum sekte tak lagi berlaku.

​Saat Puncak Awan Berkabut hanya terlihat seperti titik kecil di cakrawala, Li Jian akhirnya kehilangan sisa tenaganya. Gravitasi menariknya turun dengan cepat. Tubuhnya jatuh menembus kanopi pepohonan raksasa, menghantam dahan-dahan, sebelum akhirnya mendarat dengan suara berdebum keras di tepi sungai berbatu di kedalaman hutan.

​Kesunyian alam liar menyambutnya. Di dada Li Jian, giok hitam itu berkedip redup, menandakan Yueyin pun telah menghabiskan tenaga sementaranya dan kembali tertidur.

​Li Jian berbaring telentang di atas kerikil basah, menatap langit senja melalui sela-sela dedaunan. Ia tidak bisa menggerakkan satu jari pun, dan napasnya sangat lemah. Namun, meski di ambang kematian dan diburu oleh sebuah sekte besar, sebuah tawa serak, pelan, dan penuh kemenangan lolos dari bibirnya yang berdarah.

​Ia bebas.

1
alex kawun
kecewa berat deh
novel silat dari author yg kereen kapan nyambung nya
ayo ... semangat doong thor
Dian Pravita Sari
dlegek cerita gak tamat lagi pengarang nya binatang gak tanggung jawab
alex kawun
elok nya di certain dong suasana dan kesibukan sekte yg di tinggal kan mc nya
alex kawun
kagum dgn susunan bahasa dan kata2 dari author sangat rinci dan teratur , nampak kelas nya bukan kaleng2
semangat & lanjuuuut thor
Night Watcher
sayang banget zhao dibunuh..
pinginnya dihancurin pusat meridiannya kyk suruhannya biar jd sampah selama hidupnya
Eko
bantaaaaaaiiiii
Eko
mantap Thor
Night Watcher
sbg sesama murid, kok zhao tian bisa berkuasa memerintah yg lain thor? apa penyebabnya?
nanya bukan protes loo.. 🤭🙏
Eko
hahahaha...hanya mengantarkan nyawa
Eko
trik sampah licik
Eko
ayoooo lebih kuat lagi
Eko
mantap Thor
Eko
bantaaaaaaiiiii lah
Eko
ayoooo bantaaaaaaiiiii
Eko
alur cerita yang bagus dan menarik
Night Watcher
nyoba ngintib..
Lekat Wahyudi
👍👍👍
Udin Alex
lanjut thor
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!