Kanaka kecewa berat mengetahuinya jika kekasih sekaligus suster pribadinya, meninggalkannya demi uang 1 milyar tawaran dari Ayahnya. Sejak dia buta karena kecelakaan 2 tahun yang lalu, Zea begitu tulus menjaganya hingga ia jatuh cinta. Namun cinta tulusnya, kalah dengan uang 1 milyar.
8 tahun berlalu, saat Naka sudah bisa melihat setelah menjalani operasi kornea mata, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Zara. Janda dengan satu anak laki-laki itu, memiliki suara yang mirip sekali dengan Zea. Fakta akhirnya terkuak, ia tahu jika Zara ternyata adalah Zea. Kebencian pada wanita itu, membuat Naka membalas dendam dengan cara memisahkan Zea dengan putranya. Ia ingin Zea merasakan kehilangan seperti apa yang ia rasakan dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Sepasang anak manusia, terlihat begitu menikmati pergulatan mereka di atas ranjang. Suara de sahan menjadi irama merdu yang meningkatkan ghairah. Keringat membasahi tubuh, dan nafas yang terdengar memburu.
Meski tak bisa melihat, Naka yakin wanita yang ada di atasnya sedang sangat menikmati permainan mereka. Malam ini, ia merasa jika Zea tak seperti biasanya. Wanitanya itu bergerak sangat liar, sangat agresif, hingga ia merasa baru mengetahui sisi lain Zea yang biasanya pemalu dan lemah lembut.
Bibir keduanya terus meracau akibat rasa nik mat yang mendera. Yang ada difikiran saat ini hanya bagaimana caranya mereguk kenikmatann setinggi mungkin, hingga akhirnya keduanya sama-sama mencapai titik tertinggi dari kepuassan.
Zea ambruk di atas tubuh sang kekasih. Ia merasa sangat lemas, hingga hanya untuk berguling kesamping Naka saja, rasanya tidak mampu.
Perlahan, tangan Naka mengusap lembut punggung polos Zea. Ia tak pernah tahu seperti apa wajah Zea, karena wanita itu bekerja menjadi perawatnya sejak ia buta karena kecelakaan 2 tahun lalu. Namun, meski tak tahu seperti apa wajahnya, ia yakin Zeanya sangat cantik. Tak hanya suaranya yang lembut, tubuh Zea juga menebarkan aroma harum yang ia sukai. Kulitnya mulus dan lembut seperti bayi, dan rambut panjangnya terasa halus saat disentuh.
Setelah merasa tenaganya sedikit pulih, Zea mengecup bibir Naka, menggulingkan tubuh ke sebelahnya, lalu memeluknya.
"Kau menikmatinya?" tanya Naka. Sebelah tangannya menyentuh kepala Zea, lalu berusah mengecupnya.
"Sangat."
Jawaban Zea membuat senyum Naka merekah. "Aku ingin segera bisa melihat Ze. Aku tak sabar ingin melihat wajahmu," sebelah tangannya menyusuri wajah Zea. Hidung mancung, pipi yang lembut, dan bibirnya yang kenyal dan lembab, menjadi bagian yang selalu ingin ia sentuh.
"Aku justru sebaliknya." Zea memejamkan mata, jemarinya bergerak menyusuri dada Naka yang basah oleh keringat. "Aku takut saat itu tiba. Aku takut, ekspektasimu terhadapku terlalu tinggi. Aku hanya gadis desa biasa Naka, aku tidak cantik seperti gadis-gadis kota pada umumnya."
"Justru itulah kecantikan alami, Ze. Kecantikan anugerah dari Tuhan, bukan cantik karena polesan."
"Aku ngantuk," Zea sedikit menggeser tubuhnya menjauhi Naka.
Terdengar helaan nafas panjang Naka. "Aku masih ingin pillow talk, Sayang," ibanya, sebelah tangannya berusaha menarik tubuh Zea merapat ke arahnya.
"Bicaralah kalau bagitu," Zea mendongak menatap Naka, tersenyum. Selalu seperti ini, Naka akan berusaha menghalanginya meninggalkan kamar.
"Aku ingin bicara sampai pagi, Ze."
Zea tertawa cekikikan. "Baiklah, bicaralah sampai pagi kalau seperti itu."
"Bicara sendiri maksud kamu?" Naka mendengus kesal. "Aku tahu, saat kamu bilang ngantuk, kamu akan segera kembali ke kamarmu. Iya kan?"
"Aku tidur disini malam ini."
Kening Naka mengkerut, tak percaya. "Kau yakin?"
"Hem," Zea mengangguk meski tahu sang kekasih tak bisa melihat itu.
Seketika, senyum Naka mengembang. Selama ini, Zea tak pernah mau tidur di kamarnya karena takut menjadi bahan gosip yang lainnya. Hubungan mereka sejatinya adalah tuan dan perawat, apa kata pekerja lain jika Zea tidur di kamarnya. Di rumah ini, Zea tak tidur sendirian, dia sekamar dengan Dinda, ART yang tugasnya bersih-bersih. Kalau Zea tidak kembali ke kamar, apa kata Dinda nantinya.
"Boleh gak, aku tidur disini malam ini?" Zea sengaja menggoda, mencubit pelan pinggang Naka.
Seketika Naka terkekeh, "Tentu saja boleh, aku malah senang. Ini impianku, bisa memelukmu sepanjang malam."
"Hanya memeluk sepanjang malam?" goda Zea.
"Hahaha, aku tidak bisa janji."
Zea terkekeh sambil memukul pelan bahu Naka. Dan malam itu, keduanya berulang kali bercinta hingga dini hari.
Saat bangun dari tidurnya, Naka tak mendapati Zea ada di sebelahnya. Tangannya meraba-raba sebelah. "Ze, kamu dimana Ze? Ze!" panggilnya setelah yakin Zea tak ada di sisinya. "Ze, kamu di kamar mandi?" teriaknya, namun tak ada sahutan. "Ze!"
Naka bangun, meraba-raba ke arah nakas, mengambil ponselnya yang ada disana. Meski tak bisa melihat, ia bisa mengoperasikan ponsel yang sudah diatur untuk pengguna tuna netra. "Pasti kembali ke kamarnya," gerutunya. Mencoba menghubungi Zea, namun nomornya tidak aktif. Dari ponselnya, ia bisa tahu jika sekarang sudah jam 11 siang, rasanya mustahil Zea masih tidur.
Biasanya Zea selalu membangunkannya jam 7 pagi, membantunya bersih-bersih, sarapan, lalu ke kantor. Meski kondisinya tak bisa melihat, Naka masih ke kantor meski tidak setiap hari. Dia menduduki jabatan sebagai direktur di perusahaan milik ayahnya.
Tok tok tok
Ketukan di pintu membuat Naka seketika tersenyum. Ia yakin itu Zea yang datang. "Ze, panggilnya begitu mendengar suara pintu dibuka."
"Selamat pagi, Tuan."
"Siapa kamu?" Naka mengernyit. Ia tahu itu bukan Zea, ia hafal suaranya. Mendengar suara derap langkah mendekat, ia meraih tongkat yang ada di dekat ranjang. "Siapa kamu?" ulangnya lagi.
"Saya Erika Tuan, perawat baru anda."
"Apa! Perawat baru?" Naka takut salah dengar.
"Benar, Tuan. Mulai hari ini, saya yang menjadi perawat anda, menggantikan Suster Zea."
"Tungu, tunggu!" Naka masih bingung. "Menggantikan Ze, apa maksudnya?"
"Suster Zea sudah berhenti bekerja."
"Hah!" Naka menggeleng cepat, tak percaya. Kemarin, semua baik-baik saja, bahkan semalaman mereka bercinta, mustahil Zea tiba-tiba berhenti. "Tidak mungkin."
"Tuan ingin langsung sarapan atau mandi dulu?"
Naka menepis kasar tangan Erika yang menyentuh bahunya. "Jangan sentuh aku!" bentaknya. "Aku hanya mau diurus oleh Ze."
"Zea sudah tidak bekerja disini lagi," ujar Veri__ayah Naka yang tiba-tiba masuk. Laki-laki berperawakan tinggi besar dengan suara menggelegar itu, langsung mengambil alih percakapan. "Zea sudah tidak ada disini, dia sudah pergi."
"Apa maksud Papa?" Naka semakin bingung, ia menatap ke arah sumber suara. Zea tak mungkin pergi meninggalkannya, apalagi tanpa pamit seperti ini. "Papa memecat Ze?" ia mulai gelisah, takut terjadi sesuatu pada Zea sementara ia tak tahu apa-apa.
"Papa hanya menawarkan sesuatu, dan dia memilihnya."
"Menawarkan apa?" kening Naka mengkerut.
Veri berjalan mendekati Naka, berhenti beberapa meter di depan putranya tersebut. "Papa sudah tahu hubungan kalian."
Ekspresi wajah Naka langsung berubah gelisah. Selama ini, hubungannya dengan Zea memang ia sembunyikan rapat-rapat, terutama dari Papanya.
"Wanita itu hanya mengincar harta kamu, Naka. Dia memanfaatkan kondisimu yang tidak bisa melihat untuk mengambil hatimu. Membuatmu merasakan seolah-olah dia adalah satu-satunya wanita yang mau menerima kondisimu saat ini. Dia bermulut manis, pandai merayu dan mengambil hatimu. Dia buat kamu ketergantungan padanya agar tidak bisa kehilangannya. Dia memanfaatkan kondisimu untuk bisa mendekatimu, tujuannya cuma satu, uang. Wanita miskin itu ingin kaya mendadak dengan cara instan," ujarnya penuh penekanan.
"Enggak!" Naka menggeleng cepat. "Ze bukan wanita seperti itu. Ze wanita yang tulus."
Tawa Veri langsung menggelegar, "Dia hanya menipumu Naka. Dia hanya memanfaatkan kondisimu. Dia tidak tulus, dia hanya mengincar harta."
o...o'o... kycduk kalian....
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
itu sih Aku ya Ze😄🤣