Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.
Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.
"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."
Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AIR YANG MEMBAKAR JIWA
Hafiz melangkah maju dengan ragu. Kakinya yang gemetar terasa sangat berat, seolah setiap jengkal menuju air itu adalah perjalanan mendaki gunung yang terjal.
Kyai Abdullah menatap Hafiz dengan pandangan yang teduh, seolah bisa membaca badai yang berkecamuk di dalam dada pria itu. Ia tahu, di balik baju koko yang tampak kikuk itu, ada harga diri seorang raja yang baru saja digulingkan dari takhtanya.
"Niatkan dalam hati, Hafiz. Bukan cuma untuk membersihkan badan, tapi untuk membersihkan jalan pulangmu kepada-Nya," bisik Kyai. Suaranya rendah, namun menggetarkan relung hati Hafiz yang paling dalam.
Hafiz menelan ludah yang terasa pahit. Ia mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar.
"Mulai dengan membasuh kedua telapak tanganmu," instruksi Kyai Abdullah sembari mencontohkan gerakan itu dengan sangat tenang.
Hafiz menjulurkan kedua tangannya ke bawah kucuran air dingin. Begitu air menyentuh telapak tangannya, Hafiz tersentak hebat. Ia refleks menarik tangannya kembali sebelum Kyai Abdullah menahannya dengan lembut.
Air itu terasa sangat dingin, namun bagi Hafiz, rasanya seperti logam cair yang mendidih menyentuh kulitnya yang lecet. Lecet akibat memegang sapu lidi yang kasar sepanjang hari tadi.
Ia teringat telapak tangan itu adalah telapak tangan yang sering menandatangani surat pemecatan karyawan tanpa ampun. Tangan yang sering menggebrak meja ruang rapat hingga semua orang gemetar ketakutan.
Ia teringat tangan itu adalah tangan yang sering memegang gelas-gelas alkohol mahal di pesta-pesta malam yang penuh maksiat, membuang-buang uang yang seharusnya bisa menghidupi ribuan perut orang miskin.
"Perih, Kyai..." desis Hafiz, namun ia memaksakan diri untuk tidak menarik tangannya lagi.
"Itu bukan airnya yang perih, Nak. Itu ingatanmu yang sedang memberontak. Itu kerak-kerak hitam di hatimu yang sedang mencoba bertahan agar tidak hanyut," jawab Kyai Abdullah tanpa menoleh, terus fokus pada setiap gerakan.
Hafiz terus menggosok tangannya. Ia merasa ada kotoran yang tidak kasat mata, sesuatu yang hitam dan lengket, yang enggan lepas meski diguyur air sedingin es ini.
"Sekarang berkumur. Bersihkan mulutmu," lanjut Kyai.
Hafiz meraup air dengan tangannya yang bergetar lalu memasukkannya ke dalam mulut. Dinginnya air merasap ke sela-sela gigi, tapi rasa pahit kembali muncul.
Saat itu juga, bayangan lidahnya yang tajam saat menghina Zahra anak sang Kyai tempo hari kembali muncul dengan sangat jelas.
Ia teringat kata-kata kotor, sumpah serapah, dan kesombongan yang pernah keluar dari bibirnya setiap kali ia merasa sebagai raja di kantor mewahnya. Setiap kebohongan publik yang ia ucapkan demi menutupi kecurangan perusahaannya seolah menumpuk di lidahnya.
Air itu terasa pahit, seolah-olah semua dosa ucapannya sedang larut dan menuntut pertanggungjawaban di dalam rongga mulutnya. Ia merasa mual.
Ia memuntahkan air itu dengan kasar, napasnya mulai tersengal-sengal seperti orang yang tenggelam di tengah lautan luas tanpa pelampung.
"Kyai... saya nggak kuat. Air ini... air ini aneh," bisik Hafiz, wajahnya kini pucat pasi dibasahi keringat dingin dan air wudhu.
"Lanjutkan, Hafiz. Jangan biarkan setan menang tepat saat kau baru saja memegang gagang pintu taubat. Setan benci orang yang ingin suci," tekan Kyai Abdullah dengan suara yang sedikit lebih berat, memberikan kekuatan spiritual yang tak kasat mata.
Hafiz membasuh hidungnya, lalu masuk ke bagian yang paling berat baginya: membasuh wajah. Bagian yang selama ini ia bangga-banggakan karena ketampanan dan wibawa CEO-nya.
Begitu telapak tangannya yang basah mengusap wajahnya, Hafiz memejamkan mata dengan sangat rapat. Ia tak berani melihat pantulan dirinya di air yang tergenang.
Gelap. Namun di dalam kegelapan itu, ia melihat wajah-wajah orang yang pernah ia rugikan dalam bisnisnya yang kejam. Para kontraktor kecil yang ia bangkrutkan, para buruh yang ia potong gajinya demi bonus pribadinya.
Ia melihat wajah ibunya. Wajah renta yang dalam kesendirian dan kesedihan karena ia terlalu sibuk mengejar harta hingga lupa jalan pulang. Ia teringat betapa sombongnya ia menolak pulang saat sang ibu merintih sakit di telepon.
Wajahnya terasa panas, seolah-olah air wudhu itu berubah menjadi bara api yang membakar topeng kesombongannya. Kulit wajahnya seolah melepuh oleh rasa malu yang teramat sangat.
"Astaghfirullah..." rintih Hafiz tanpa sadar. Kalimat itu keluar begitu saja dari celah bibirnya, untuk pertama kali dalam belasan tahun.
Air mata kini benar-benar tumpah, bercampur dengan air keran yang mengalir dari dahi menuju dagunya. Ia terisak di depan keran air yang dingin.
Ia merasa sangat kecil. Sangat kotor. Sangat tidak pantas berada di depan keran milik rumah Allah ini. Ia merasa seperti sebutir debu yang sebenarnya tidak layak dimaafkan.
"Sekarang basuh tanganmu sampai siku. Ingat, tangan kanan duluan. Bersihkan semua tindakan zalim yang pernah dilakukan tanganmu," Kyai Abdullah tetap membimbing dengan sabar, seolah tahu Hafiz sedang berperang dengan batinnya sendiri.
Hafiz menyiramkan air ke tangan kanannya. Ia melihat lecet di sela-sela jarinya yang tadi diprotes Cindy dengan nada jijik.
Lecet itu kini tampak seperti tanda peringatan baginya bahwa hidupnya sudah berubah total. Tangan yang dulu hanya mau menyentuh kulit kursi mobil mewah atau sutra mahal, kini harus terbiasa dengan sapu lidi dan ember pel.
Setelah membasuh sebagian rambut dan kedua telinga, Hafiz sampai pada bagian terakhir: membasuh kedua kakinya.
Ia membungkuk, menyiram kaki telanjangnya yang kotor karena tanah merah dari pelataran masjid yang belum sempat ia bersihkan total.
Kaki ini... kaki yang dulu melangkah dengan angkuh ke dalam kelab-kelab malam di Surabaya dan Singapura, kini berdiri di atas semen tempat wudhu yang kasar dan licin.
Setiap tetes air yang jatuh dari kakinya seolah membawa pergi satu per satu beban yang menghimpit pundaknya. Meskipun hatinya masih sesak, ada beban yang seolah menguap.
Meskipun rasanya "membakar" karena rasa bersalah yang luar biasa, ada ketenangan aneh yang mulai menyusup di celah-celah hatinya. Sejuk yang merambat pelan mengusir panasnya amarah.
Hafiz berdiri tegak setelah selesai. Ia menatap ke langit-langit tempat wudhu yang sederhana, dadanya naik turun dengan cepat, mencoba menghirup oksigen sebanyak mungkin.
"Sudah selesai, Kyai," ucap Hafiz. Suaranya kini terdengar lebih ringan, meski matanya masih merah dan sembab.
Kyai Abdullah tersenyum lebar, senyum paling tulus yang pernah Hafiz lihat sepanjang hidupnya. Ia menepuk bahu Hafiz dengan bangga, seolah Hafiz baru saja memenangkan proyek triliunan rupiah.
"Rasanya sakit, kan? Itu tandanya hatimu belum mati total, Hafiz. Syukuri rasa sakit itu. Yang celaka adalah mereka yang berbuat dosa tapi merasa biasa saja," ucap Kyai penuh makna.
Hafiz mengangguk pelan. Ia merasa kulitnya terasa lebih segar, seolah lapisan kulit lama yang penuh dengan "lendir" keserakahan baru saja terkelupas paksa oleh air wudhu tadi.
"Ayo, sholat Maghrib berjamaah. Jangan jauh-jauh dari saya. Berdirilah tepat di belakang saya," ajak Kyai Abdullah sembari melangkah menuju aula utama masjid.
Hafiz melangkah masuk ke dalam area utama masjid. Ini adalah pertama kalinya ia masuk untuk sholat setelah belasan tahun ia abaikan panggilan adzan.
Bau karpet masjid yang khas dan aroma wangi gaharu yang dibakar menyambut indra penciumannya. Suasana di dalam begitu hening, meskipun ada beberapa anak kecil yang berbisik.
Ia melihat Zahra sudah berada di barisan belakang di balik tirai pembatas wanita. Zahra mengenakan mukena putih bersih yang seolah mengeluarkan cahaya di matanya.
Zahra sempat menoleh sekilas melalui celah tirai, melihat Hafiz yang kini mengenakan sarung dan baju koko putih pinjaman ayahnya. Zahra tersentak kecil, tidak menyangka Hafiz benar-benar mau berubah.
Ada tatapan syukur yang terpancar dari mata bening Zahra, sebuah tatapan yang entah kenapa membuat Hafiz merasa lebih berharga daripada saat ia dipuji oleh dewan komisaris perusahaannya.
Hafiz mengambil posisi di barisan depan, tepat di belakang Kyai Abdullah. Saat takbiratul ihram dikumandangkan, Hafiz merasa dunianya benar-benar berhenti berputar.
Ia mencoba mengikuti gerakan sholat dengan kikuk. Tangannya gemetar saat bersedekap. Matanya terus melirik jamaah di sampingnya agar tidak salah gerak atau tertinggal rukun.
Saat sujud, Hafiz tidak ingin bangun lagi. Ia menempelkan dahinya ke karpet yang agak kasar itu, membiarkan sisa-sisa kesombongan dan kemarahannya tertumpah di sana.
Tuhan... kalau ini adalah cara-Mu menghancurkanku untuk menyelamatkanku, maka hancurkanlah aku sehancur-hancurnya asal Engkau jangan lepaskan genggaman-Mu, batinnya dalam isak tangis yang tertahan agar tidak mengganggu jamaah lain.
Setelah sholat selesai dan doa-doa panjang dipanjatkan Kyai Abdullah, Hafiz tidak langsung beranjak. Ia tetap duduk bersila di pojok masjid, menundukkan kepalanya, mencoba mencerna segala rasa yang baru saja ia alami.
Warga yang ikut sholat berjamaah mulai berbisik-bisik saat melewati Hafiz untuk keluar masjid. Mereka melirik sinis ke arah pria asing yang tiba-tiba jadi marbot itu.
"Itu kan orang yang tadi dijemput cewek seksi pakai mobil merah itu, ya? Mobilnya saja harganya bisa beli satu kampung ini," bisik seorang pria paruh baya kepada temannya.
"Iya, denger-dengar di koruptor. Seram juga ya, Kyai kok mau nampung orang berbahaya," sahut yang lain tanpa mempedulikan perasaan Hafiz.
Hafiz mendengar setiap kata itu. Kata-kata "penjahat" dan "bahaya" itu menusuk telinganya. Hatinya yang baru saja ditenangkan oleh sholat kembali berdenyut perih.
Ternyata, masa lalu tidak semudah itu larut oleh air wudhu. Kabar tentang jatuhnya sang CEO sudah menyebar seperti api di tengah padang rumput kering, bahkan sampai ke pelosok gang masjid ini.
Hafiz memejamkan mata, mencoba menulikan telinganya dari gunjingan orang-orang desa yang mulai curiga. Ia tahu, ini baru permulaan dari ujian yang sesungguhnya.
Kyai Abdullah mendekati Hafiz setelah selesai berdzikir dan menyalami beberapa jamaah. Ia duduk di samping pria muda itu, bersila dengan santai.
"Jangan dengarkan mereka, Hafiz. Manusia memang lebih cepat melihat noda hitam di baju putih daripada melihat bajunya itu sendiri," ucap Kyai menenangkan.
Hafiz mendesah berat. "Tapi mereka benar, Kyai. Saya ini masalah. Keberadaan saya di sini hanya akan merusak nama baik Kyai dan masjid ini."
Kyai Abdullah menggeleng. "Nama baik itu milik Allah, bukan milik saya.