NovelToon NovelToon
COLD MAFIA, WILD FLAME

COLD MAFIA, WILD FLAME

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Damian Alveros adalah CEO berwajah dingin yang memimpin jaringan mafia berbahaya di balik kekuasaannya. Hidupnya terkontrol, tanpa emosi, tanpa celah.

Semua berubah ketika ia bertemu Lyra Arsetha—gadis bar-bar yang tak sengaja menyelamatkannya di negara asing dan tanpa sadar terseret ke dunia gelap yang seharusnya tak pernah ia sentuh.

Ia adalah badai yang tak bisa dikendalikan.
Ia adalah es yang tak bisa dicairkan.

Namun di tengah pengkhianatan, kejar-kejaran maut, dan perang mafia internasional, mereka menemukan satu kebenaran berbahaya:

Semakin mereka mencoba menjauh…
semakin takdir memaksa mereka bertahan bersama.

Ketika cinta lahir di medan perang, hanya ada dua pilihan—
hidup berdampingan… atau hancur bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Langit di atas kota tampak berat, menggantung rendah seolah menahan hujan yang belum jatuh.

Mobil hitam meluncur tenang di jalan raya yang mulai padat. Di dalamnya, suasana jauh lebih sunyi daripada lalu lintas di luar.

Lyra duduk di kursi belakang, menatap chip hitam kecil yang kini tersimpan dalam wadah transparan milik Lucian. Benda itu tampak sederhana. Tidak berkilau. Tidak mencolok.

Namun semua orang di mobil itu tahu satu hal yang sama.

Benda itu adalah ancaman.

Di kursi depan, Kael mengemudi tanpa banyak bicara. Aidan duduk di sampingnya, memperhatikan kaca spion dengan konsentrasi penuh. Damian duduk di sebelah Lyra, tatapannya lurus ke depan.

Lucian duduk berhadapan dengan mereka, laptop kembali terbuka.

“Aku sudah mengisolasi sinyal pasifnya,” katanya pelan. “Tapi Orion tidak perlu melacak kita secara real-time. Dia hanya perlu tahu pola gerakan kita.”

Lyra menyilangkan tangan.

“Jadi kita seperti… bidak catur yang sedang berjalan sendiri?”

Lucian tersenyum tipis. “Kurang lebih.”

Damian akhirnya berbicara.

“Orion tidak bermain untuk informasi. Dia bermain untuk tekanan psikologis.”

Lyra menoleh.

“Kau benar-benar mengenalnya.”

Damian terdiam beberapa detik sebelum menjawab.

“Kami dilatih untuk membaca reaksi manusia dalam kondisi ekstrem. Dia yang terbaik di antara kami.”

Kael menambahkan tanpa menoleh, “Dan yang paling sabar.”

Aidan berkata pelan, “Orang seperti itu tidak menyerang langsung. Mereka membentuk situasi sampai target menghancurkan dirinya sendiri.”

Lyra menghela napas panjang.

“Baik. Jadi kita menghadapi pria yang sabar, cerdas, dan punya waktu luang berbahaya.”

Lucian menutup laptopnya.

“Aku lebih khawatir pada sumber dayanya. Sistem gedung tadi bukan jaringan biasa. Dia punya dukungan besar.”

Mobil berhenti di depan bangunan tinggi yang tampak seperti hotel bisnis biasa. Tidak mencolok. Tidak mewah berlebihan.

Namun ketika pintu terbuka, keamanan terlihat dalam setiap detail.

Pintu kaca berlapis baja. Kamera tersembunyi. Personel yang tidak berpakaian seperti penjaga, tapi bergerak seperti tentara.

Lyra menatap Damian.

“Tempat aman?”

Damian mengangguk singkat.

Mereka masuk.

Lift privat membawa mereka ke lantai tertinggi. Ketika pintu terbuka, ruangan luas dengan dinding kaca menyambut mereka. Kota terlihat jelas dari ketinggian.

Dan di tengah ruangan itu berdiri seorang pria berjas abu-abu gelap, tangan di belakang punggung, menatap keluar jendela.

Ia tidak berbalik ketika mereka masuk.

“Aku sudah menunggu.”

Suara itu tenang. Dalam. Terukur.

Kael dan Aidan berhenti dua langkah di belakang Damian.

Lucian mengangguk hormat.

Lyra menatap pria itu dengan rasa ingin tahu.

Damian melangkah maju.

“Raven.”

Pria itu akhirnya berbalik.

Wajahnya tajam, bersih, dan nyaris tanpa ekspresi. Tatapannya langsung jatuh pada Damian, lalu bergerak ke Lyra.

Pengamatan cepat. Akurat. Tidak sopan — tapi tidak pula kasar.

“Kau membawa badai ke dalam lingkaran,” katanya tenang.

Lyra mengangkat alis.

“Aku juga belum sempat minta undangan.”

Lucian menahan senyum.

Raven berjalan mendekat beberapa langkah.

“Aku sudah melihat rekaman kejadian semalam,” katanya pada Lyra. “Keputusanmu tidak rasional.”

Lyra menyilangkan tangan.

“Orang yang hampir mati di gang gelap juga bukan situasi rasional.”

Hening singkat.

Kemudian, untuk pertama kalinya, sudut bibir Raven bergerak sedikit.

“Masuk akal.”

Damian menyerahkan wadah berisi chip hitam.

Raven menerimanya dengan hati-hati.

“Jadi dia benar-benar kembali.”

Kael bertanya langsung, “Seberapa besar jaringan Orion sekarang?”

Raven tidak menjawab segera. Ia menaruh chip di meja kaca, lalu mengaktifkan layar digital besar di dinding.

Peta dunia muncul.

Beberapa titik merah menyala.

“Selama dua tahun terakhir,” kata Raven, “terjadi serangkaian operasi bayangan di tiga wilayah berbeda. Tidak ada tanda tangan organisasi. Tidak ada klaim.”

Aidan menyipitkan mata.

“Uji coba kekuatan.”

Raven mengangguk.

“Dan hari ini… dia menunjukkan dirinya.”

Lyra menatap titik-titik merah itu.

“Semua itu… untuk apa?”

Raven menatap langsung padanya.

“Untuk membangun sesuatu yang tidak bisa dihancurkan dari luar.”

Lucian menambahkan pelan, “Sistem tertutup. Struktur yang hanya bisa runtuh dari dalam.”

Lyra mengerti maknanya.

“Jadi dia menunggu seseorang menghentikannya dari dalam.”

Semua mata tanpa sadar beralih ke Damian.

Damian tidak bereaksi.

Raven berkata tenang, “Dia tidak menantang dunia. Dia menantangmu.”

Ruangan kembali sunyi.

Lyra menatap Damian. Ia bisa melihat ketegangan kecil di rahang pria itu.

Bukan ketakutan.

Kenangan.

Raven mematikan layar.

“Mulai hari ini, kita mengubah protokol.”

Kael langsung tegak. “Perintah?”

“Kita tidak bersembunyi,” jawab Raven. “Kita bergerak.”

Lucian membuka laptop lagi, sudah memahami maksudnya.

“Serangan balik informasi.”

Aidan bertanya, “Target pertama?”

Raven menatap chip hitam di meja.

“Kita ikuti jejak yang dia sengaja tinggalkan.”

Lyra melangkah maju sedikit.

“Kau yakin itu bukan jebakan?”

Raven menatapnya tenang.

“Sudah pasti jebakan.”

Lyra tersenyum kecil.

“Bagus. Aku benci teka-teki yang terlalu mudah.”

Damian menoleh padanya.

“Kau tetap di sini.”

Lyra langsung memandang tajam.

“Tidak.”

“Kau belum terlatih untuk operasi seperti ini.”

“Aku juga tidak terlatih untuk dikejar jaringan kriminal internasional,” balas Lyra.

Kael menyilangkan tangan, memperhatikan mereka berdua seperti menonton duel.

Aidan berkata pelan, “Jika Orion menginginkannya dalam permainan… menjauhkannya justru risiko.”

Raven mengamati Damian beberapa detik.

“Kau tahu itu benar.”

Damian menghela napas pelan.

Ia menatap Lyra.

“Aku tidak bisa menjanjikan keselamatan.”

Lyra menjawab tanpa ragu.

“Aku tidak meminta.”

Hening jatuh.

Lalu Damian berkata rendah, “Tetap di sisiku.”

Lyra mengangguk.

Lucian menepuk laptopnya.

“Aku menemukan sesuatu.”

Semua mendekat.

Layar menampilkan skema jaringan bawah tanah kota.

“Node komunikasi yang Orion gunakan memiliki jalur cadangan,” jelas Lucian. “Jalur itu mengarah ke fasilitas lama di pelabuhan.”

Kael bertanya, “Aktif?”

“Tidak. Tapi baru saja diakses tiga jam lalu.”

Raven berkata singkat, “Itu tujuan kita.”

Aidan menambahkan, “Jika ini umpan, maka pengawasannya maksimal.”

Damian menatap semua orang di ruangan.

“Kita masuk cepat. Ambil data. Keluar sebelum mereka tahu.”

Lyra mengangkat tangan kecil.

“Ada kemungkinan mereka sudah tahu.”

Lucian tersenyum tipis.

“Sudah pasti.”

Kael menarik jaketnya.

“Bagus. Sudah lama aku tidak bergerak.”

Raven mematikan lampu utama ruangan. Hanya cahaya kota yang tersisa.

“Mulai sekarang,” katanya tenang, “tidak ada langkah yang kebetulan.”

Lyra berdiri di samping Damian, menatap jendela besar.

Di bawah sana, kota terus bergerak tanpa mengetahui apa yang sedang dimulai.

Ia merasakan sesuatu yang aneh.

Bukan takut.

Bukan ragu.

Melainkan kesadaran bahwa hidupnya benar-benar telah berubah arah.

Ia menoleh sedikit pada Damian.

“Jika ini perang,” katanya pelan, “kita menang bagaimana?”

Damian menatap lurus ke depan.

“Dengan tetap hidup lebih lama dari musuh.”

Lyra tersenyum tipis.

“Tujuan sederhana.”

Damian menjawab tanpa ekspresi.

“Tujuan yang paling sulit.”

Di kejauhan, petir menyambar langit gelap.

Dan di suatu tempat yang tidak terlihat, seseorang sedang menunggu mereka datang.

Bukan untuk menghentikan mereka.

Tapi untuk memastikan mereka melangkah lebih jauh ke dalam permainan.

Dan kali ini, tidak ada jalan kembali.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!