Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Gelombang Pertama
Debu di kejauhan semakin dekat.
Dari atas menara komando, aku bisa melihat barisan panjang manusia bergerak di antara pepohonan. Dua ratus lebih. Mungkin dua ratus lima puluh. Mereka membawa spanduk dengan lambang berbeda—tiga klan bersekutu.
Klan Ma, Klan Seok, Klan Pyo.
Di bawah, desa sudah siap. Gong Hyerin berdiri di barisan depan bersama sepuluh pria terlatih. Di belakang mereka, para wanita bersiap di dekat tumpukan bom lempar. Di samping, Baek Dongsu mengawasi tim mesiu yang siap menyalakan meriam bambu.
Semua orang menungguku.
Aku menarik napas dalam-dalam. Di kehidupan sebelumnya, aku hanya insinyur. Tugas terberatku adalah memenuhi deadline proyek. Sekarang? Aku harus memimpin pertahanan melawan dua ratus pendekar.
Hyun Moo, bisikku dalam hati. Kau lihat? Aku tidak lari.
---
"Tae-kyung oppa!" teriak Gong Hyerin dari bawah. "Mereka berhenti!"
Aku melihat ke kejauhan. Barisan musuh memang berhenti sekitar setengah li dari desa. Mungkin mereka mengatur strategi. Atau mungkin mereka terkejut melihat desa ini tidak seperti yang mereka duga.
Dari barisan depan, tiga orang maju. Tiga pemimpin.
Yang di tengah, pria jangkung dengan jubah hitam—mungkin pemimpin Klan Ma. Yang kiri, wanita paruh baya dengan rambut disanggul tinggi—Klan Seok. Yang kanan, pria gendut dengan senyum licik—Klan Pyo.
Mereka berhenti di batas hutan, cukup dekat untuk bicara tapi cukup jauh dari jangkauan panah.
"Jin Tae-kyung!" suara pria jangkung itu menggema. "Kami tahu kau di sana! Keluar dan bicara!"
Aku turun dari menara. Gong Hyerin meraih lenganku.
"Oppa, jangan."
"Aku harus."
"Itu bisa jebakan."
"Mungkin. Tapi kalau tidak bicara, mereka akan menyerang tanpa tahu apa yang mereka hadapi." Aku tersenyum tipis. "Lebih baik mereka tahu. Biar takut."
---
Aku berjalan sendirian ke tengah lapangan.
Gong Hyerin ingin ikut, tapi kularang. Ini harus satu lawan satu. Pemimpin lawan pemimpin.
Tiga pemimpin itu mendekat. Aku berhenti sekitar sepuluh langkah dari mereka.
"Jadi kau Jin Tae-kyung?" Pria jangkung itu menatapku dari atas ke bawah. "Kelihatan lemah."
"Aku memang lemah. Tapi desaku tidak."
Wanita paruh baya itu tersenyum sinis. "Desa? Kau sebut gubuk-gubuk reyot itu desa? Klan Seok punya kandang kuda yang lebih bagus."
"Mungkin. Tapi kandang kuda kalian tidak punya ini."
Aku mengeluarkan bom kecil dari sakuku. Menyalakan sumbu. Melempar ke samping.
LEDAK!
Tanah berhamburan. Lubang kecil muncul. Mereka bertiga mundur selangkah, wajah berubah.
"Apa itu?" desis pria gendut.
"Itu yang akan menghancurkan pasukan kalian kalau kalian nekat menyerang."
Pria jangkung—pemimpin Klan Ma—memulihkan ketenangannya. "Kau pikir mainan kecil itu bisa menghentikan dua ratus pendekar?"
"Mungkin tidak." Aku tersenyum. "Tapi kami punya lebih dari satu. Dan lebih besar. Jauh lebih besar."
Diam sejenak. Mereka bertukar pandang.
Lalu wanita itu tertawa. "Kau berani, bocah. Tapi keberanian tidak cukup. Kami sudah sepakat. Wilayah ini akan dibagi tiga. Kau bisa pergi dengan selamat kalau menyerah sekarang."
Aku menggeleng. "Aku tidak akan pergi. Dan kalian tidak akan mendapatkan wilayah ini."
"Kau memilih mati?"
"Aku memilih bertarung."
---
Pertempuran dimulai satu jam kemudian.
Mereka memberi waktu—mungkin untuk persiapan, mungkin untuk menakut-nakuti. Tapi kami sudah siap sejak awal.
Gelombang pertama: lima puluh pendekar maju dari arah barat, jalur yang paling mudah.
Mereka berjalan dengan percaya diri. Pedang terhunus. Beberapa bahkan berlari, ingin cepat-cepat menghabisi desa kecil ini.
Mereka tidak tahu.
Di hutan, perangkap pertama aktif.
Lubang jebakan—ditutupi daun dan ranting—menelan sepuluh orang pertama. Jerat menarik beberapa lainnya ke atas pohon. Dan ketika mereka panik, bom pemicu meledak.
LEDAK! LEDAK! LEDAK!
Asap dan api. Teriakan. Kekacauan.
Dari atas menara, aku melihat dua puluh pendekar jatuh dalam hitungan detik. Sisanya mundur, panik.
Kemenangan kecil. Tapi ini baru awal.
---
Gelombang kedua datang dari timur.
Kali enam puluh orang. Mereka lebih hati-hati—berjalan perlahan, memeriksa tanah, menghindari jebakan.
Tapi mereka tidak bisa menghindari meriam bambu.
"TEMBAK!" teriak Baek Dongsu.
Dari balik pagar kayu, sepuluh meriam bambu meletus bersamaan.
DOR! DOR! DOR!
Proyektil-proyektil besi melesat, menghantam barisan depan. Lima orang jatuh. Sepuluh terluka.
Para pendekar terkejut. Mereka belum pernah melihat senjata seperti ini. Beberapa mencoba berlari maju—dan dihadang hujan proyektil kedua.
Gelombang kedua mundur dengan sisa empat puluh orang.
---
Gelombang ketiga adalah yang terbesar.
Seratus orang. Mereka maju dari tiga arah sekaligus—barat, timur, dan utara. Strategi klasik: mengepung, memaksa pertahanan terbagi.
Dan berhasil.
Tim pertahanan kami hanya punya tiga puluh orang. Terlalu sedikit untuk menghadapi tiga arah sekaligus.
Gong Hyerin berlari ke utara bersama sepuluh orang. Baek Dongsu ke barat dengan sepuluh. Sepuluh sisanya di timur bersama para wanita yang melempar bom.
Aku di menara, menyaksikan semuanya.
Barat: Baek Dongsu bertahan dengan gigih. Bom-bom lempar dan meriam bambu menahan laju musuh. Tapi persediaan menipis.
Timur: para wanita mulai kelelahan. Beberapa terluka. Musuh semakin dekat.
Utara: Gong Hyerin seperti malaikat maut. Pedangnya menari, menebas setiap musuh yang mendekat. Tapi bahkan dia mulai kehabisan napas.
Ini tidak bisa bertahan lama.
Aku turun dari menara. Di gudang belakang, masih ada satu kotak bom besar—cadangan terakhir. Aku memanggil dua anak muda.
"Ikut aku."
---
Kami berlari ke utara, tempat pertempuran paling sengit.
Gong Hyerin masih bertarung, tapi wajahnya pucat. Lukanya yang belum sembuh total mulai terlihat—gerakannya melambat.
Aku meraih bom besar dari kotak, menyulut sumbu.
"HYERIN! MUNDUR!"
Dia mendengar. Satu tebasan terakhir, lalu lari ke samping.
Aku melempar bom ke tengah kerumunan musuh.
LEDAKK... DUAR!
Ledakannya dahsyat. Sepuluh pendekar terpental. Yang lain terhuyung, telinga berdenging.
Sebelum mereka pulih, timku melempari mereka dengan bom-bom kecil. Kekacauan total.
Gelombang ketiga mundur.
---
Tapi kemenangan ini tidak gratis.
Di barat, Baek Dongsu terluka. Panah menancap di bahunya. Di timur, tiga wanita tewas terkena tebasan pedang. Dua pria lainnya luka parah.
Aku berlari dari satu tempat ke tempat lain, memeriksa korban. Gong Hyerin mengikutiku, membantu membalut luka.
Sore itu, saat matahari mulai terbenam, kami hitung korban.
Tewas: lima orang. Luka berat: delapan. Luka ringan: hampir semua.
Musuh: sekitar delapan puluh tewas atau terluka parah. Sisanya mundur ke hutan.
Kemenangan. Tapi pahit.
---
Malam harinya, kami berkumpul di halaman depan.
Lima jenazah terbaring, ditutupi kain putih. Keluarga mereka menangis di samping. Yang lain diam, menunduk.
Aku berdiri di depan mereka. Tidak tahu harus berkata apa.
Di kehidupan sebelumnya, aku tidak pernah kehilangan rekan kerja. Kecelakaan jembatan itu hanya menewaskanku—orang lain selamat. Tapi di sini, orang mati di depan mataku. Karena perintahku.
"Maafkan aku," kataku akhirnya. Suaraku serak. "Aku gagal melindungi mereka."
Seorang janda—istri dari salah satu yang tewas—mendekat. Wajahnya basah air mata, tapi matanya tajam.
"Tuan," katanya. "Suamiku mati karena dia memilih mati. Bukan karena Tuan. Dia bilang padaku, 'Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku punya sesuatu yang diperjuangkan. Bukan karena dipaksa. Tapi karena aku percaya.'"
Dia berhenti, menahan isak.
"Dia mati dengan bangga, Tuan. Tolong jangan minta maaf untuk itu."
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
---
Pemakaman dilakukan malam itu juga.
Dengan obor dan doa sederhana, kami menurunkan lima jenazah ke liang lahat. Gong Hyerin memimpin doa—dia yang paling tahu ritual yang benar.
Saat tanah menutup mereka, seseorang mulai menyanyi.
Lagu tua, lagu sedih. Tentang kehilangan, tentang harapan, tentang tanah air. Yang lain ikut menyanyi, perlahan, suara mereka naik memecah malam.
Aku tidak tahu lagu itu. Tapi aku bisa merasakan maknanya.
Di sampingku, Gong Hyerin meraih tanganku.
"Oppa, kau lihat? Mereka tidak menyalahkanmu."
"Aku tetap merasa bersalah."
"Itu tandanya kau manusia." Dia menatapku. "Tapi jangan biarkan rasa bersalah melumpuhkanmu. Mereka mati untuk masa depan. Kau harus memastikan masa depan itu terwujud."
---
Pagi harinya, penjaga melaporkan musuh mundur.
Mereka menarik sisa pasukan ke luar wilayah, kembali ke markas masing-masing. Luka mereka terlalu berat untuk lanjut bertempur.
Tapi ini bukan akhir. Ini hanya jeda.
Aku duduk di beranda, memeriksa persediaan. Mesiu tinggal seperempat. Bom tinggal dua puluh buah. Orang yang bisa bertarung tinggal dua puluh lima—itu termasuk yang luka ringan.
Rasio: kita lawan mereka, 1:10. Tapi mereka akan kembali dengan lebih banyak orang. Dan kita tidak punya banyak waktu.
Gong Hyerin duduk di sampingku.
"Oppa, ada yang ingin kubicarakan."
"Apa?"
"Aku bisa minta bantuan Klan Gong."
Aku menggeleng. "Tidak."
"Tapi..."
"Aku bilang tidak." Aku menatapnya. "Kau sudah kabur dari perjodohan. Ayahmu pasti marah. Kalau kau minta bantuan sekarang, dia akan gunakan itu untuk memaksamu kembali."
"Tapi kita butuh bantuan!"
"Kita butuh, tapi tidak dengan harga itu." Aku menghela napas. "Lagipula, aku punya rencana lain."
---
Rencana itu sederhana: membuat musuh saling bertarung.
Tiga klan bersekutu, tapi aliansi mereka rapuh. Masing-masing ingin wilayah ini, tapi tidak mau kehilangan terlalu banyak orang. Kalau kita bisa membuat mereka curiga satu sama lain...
"Kau mau memecah belah mereka?" Gong Hyerin mengerutkan kening.
"Bukan memecah belah. Hanya... mempercepat perpecahan alami."
"Bagaimana caranya?"
Aku tersenyum tipis. "Kita kirim surat."
---
Malam itu, tiga surat dikirim ke tiga markas.
Isinya berbeda-beda.
Untuk Klan Ma: "Klan Seok menawar damai dengan kami. Mereka akan dapat wilayah timur kalau membantu kami melawan kalian."
Untuk Klan Seok: "Klan Pyo mengkhianati kalian. Mereka sudah setuju bagi wilayah dengan Klan Ma tanpa melibatkan kalian."
Untuk Klan Pyo: "Klan Ma dan Seok akan menyerang kalian setelah kami kalah. Bersekutulah dengan kami, dan kalian dapat wilayah utara."
Tiga surat. Tiga kebohongan. Cukup untuk menanam benih kecurigaan.
---
Tiga hari kemudian, kabar datang.
Klan Ma dan Klan Seok bertengkar. Hampir terjadi pertempuran kecil di perbatasan wilayah mereka. Klan Pyo menarik diri dari aliansi, mengaku dikhianati.
Aliansi tiga klan runtuh.
Aku membaca laporan itu dengan puas. Gong Hyerin di sampingku tertawa.
"Oppa, kau benar-benar licik."
"Aku tidak licik. Aku hanya tahu sifat manusia."
"Jadi sekarang bagaimana?"
Sekarang? Sekarang kita punya waktu. Waktu untuk membangun kembali. Waktu untuk memperkuat pertahanan. Waktu untuk...
Pikiranku terhenti.
Dari kejauhan, kulihat seorang penunggang kuda melesat ke arah desa. Seragam Klan Gong.
Utusan itu turun di depanku, wajah tegang.
"Jin Tae-kyung, aku membawa pesan dari Patriark Gong."
"Apa?"
Dia menyerahkan gulungan surat. Aku membukanya, membaca.
Isinya singkat:
"Putriku, Gong Hyerin, harus kembali. Atau Klan Gong akan menganggapmu musuh."
---
[Bersambung ke Bab 14]