Rahmat hanyalah siswa SMA biasa—miskin, bodoh, diremehkan, dan dipaksa menanggung hutang satu miliar yang ditinggalkan ayahnya.
Ibunya terbaring di rumah sakit, deb collector bernama tomy terus mengancamnya, memukuli Rahmat sampai hampir mau mati, ia diberi waktu lagi selama dua bulan.
Waktu hanya tersisa dua bulan. Saat segalanya terasa mustahil, sebuah suara muncul di kepalanya.
[Sistem Analisis Nilai Aktif.]
[Menampilkan nilai sebenarnya dari segala hal]
Dari jam tangan rongsok bernilai jutaan, hingga saham perusahaan raksasa yang diam-diam akan runtuh—Rahmat kini bisa melihat apa yang tak terlihat orang lain.
Namun dunia investasi bukan taman bermain.
Satu kesalahan berarti kehancuran.
Satu langkah terlambat berarti ibunya menjadi “jaminan”.
Bisakah seorang bocah 16 tahun membalikkan nasibnya, menembus dunia finansial yang penuh manipulasi, dan menumbangkan perusahaan yang menghancurkan keluarganya?
(bismillah, ayo ramai, support penulis kecil ini yaallah 😭🙏wkw)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22—Idol Itu Bernama Kanaya Arcelia
Lampu venue sudah terlihat dari kejauhan—sorot warna-warni menembus langit malam. Antrian panjang mengulur, suara musik dan keramaian dari dalam terdengar samar.
Mobil berhenti di jalur khusus, ini bukan daerah yang bisa dimasuki oleh seseorang, bukan juga area parkir biasa, ini adalah tempat backstage khusus para pembawa acara, artis dan beberapa konglomerat yang membayar mahal hanya untuk bertemu artis di ruang tunggu diizinkan masuk. Artinya bukan sembarang orang bisa kesini
maka petugas keamanan langsung mendekat.
“Permisi kak, bisa tunjukan tiket identitas?” Tanya petugas keamanan penuh waspada.
Begitu Rahmat menunjukan e-ticket VIP di ponselnya, sikap mereka berubah sigap. Itu bukan VIP biasa, dengan tiket itu ia diizinkan untuk akses backstage untuk bertemu idola masing-masing.
Alias orang disini pasti sultan tajir, jadi mereka langsung beranjak sopan.
“Silahkan masuk, kak. Akses backstage bisa lewat pintu samping.”
Rahmat menutup jendela mobil, menganggukan kepala.
Alya menoleh cepat. “Backstage?” Ia baru pertama kali mendengar hal itu. “Kita bisa masuk ke sana.”
“Ya, kita bisa melihat beberapa artis papan atas di ruang tunggu. Kita bisa minta tanda tangan, jabat tangan, bahkan foto bebas asal tidak mengganggu persiapan. Kamu gak suka?”
Mata Alya langsung berbinar, ia sangat menantikan hal itu terlebih ada idol yang sangat ingin ia temui.
Hening, Rahmat belum mendengarkan jawaban dari Alya.
“Kalau kamu gak suka kita juga bisa langsung—”
“Enggak!” Potongnya cepat. “Siapa bilang gak suka! Aku suka kok, malahan ini bakal jadi menarik!”
Rahmat tersenyum kecil, senang mendengar jawaban itu.
***
Koridor backstage jauh berbeda dari area penonton biasa. Lebih tenang, tapi justru terasa lebih eksklusif. Kru lalu-lalang membawa headset, artis dengan make-up tebal berjalan cepat menuju ruang tunggu.
Alya seperti masuk dunia lain.
Beberapa wajah familiar lewat di depan mereka—aktor muda, band indie terkenal, bahkan idol yang sering ia lihat di media sosial.
Rahmat memperhatikan Alya yang hampir lupa bernapas.
“Tenang dikit napa,” bisiknya pelan.
“D-dih, aku tenang kok!” Dustanya, padahal dia sudah kegirangan, mata sampai berbinar, dan lupa napas. Terlihat seperti anak kecil yang mendapatkan mainan.
Lalu ia membeku. Makin parah daripada sebelumnya, reaksi terkejut bukan main lagi.
Di ujung koridor, berdiri seorang gadis dengan rambut panjang bergelombang yang dikuncir dua, mengenakan kostum panggung berwarna hitam.
Wajahnya lembut, dengan garis rahang halus dan pipi yang sedikit merona di bawah lampu koridor. Matanya besar dan jernih—berkilau seperti kaca yang memantulkan cahaya panggung. Bulu matanya lentik alami, membuat setiap kedipan terlihat pelan dan anggun.
Bibirnya kecil, berwarna merah muda natural, melengkung tipis dalam senyum sopan yang terlatih tapi tidak terasa palsu. Hidungnya mungil, proporsional, memberi kesan manis yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Rambut panjangnya dikuncir dua rendah, bergelombang lembut hingga melewati bahu. Setiap kali ia bergerak, ujung rambutnya ikut bergoyang ringan, memantulkan kilau sehat di bawah cahaya putih.
Kostum panggungnya berwarna hitam dengan aksen perak di bagian lengan dan pinggang. Potongannya sederhana namun pas di tubuhnya—tidak berlebihan, justru membuat auranya semakin elegan. Sepasang boots hitam setinggi betis melengkapi penampilannya, memberi kesan kuat namun tetap feminin.
Tapi bukan hanya penampilannya yang membuat orang sulit berpaling.
Ada aura yang berbeda.
Tenang. Percaya diri. Seperti seseorang yang sudah terbiasa berdiri di hadapan ribuan pasang mata, namun tetap menyimpan sisi lembut seorang gadis seusianya.
Ia sedang berbicara dengan manajernya, mendengarkan dengan serius sambil sesekali mengangguk. Ketika seorang kru lewat dan menyapanya, ia membalas dengan senyum kecil yang hangat—bukan senyum dingin selebritas, tapi senyum tulus yang membuat siapa pun merasa dihargai.
Alya benar-benar terpaku.
“Itu…” suaranya nyaris tak keluar. “Itu dia…”
Tangannya tanpa sadar mencengkeram lengan Rahmat sedikit lebih erat, bahkan sampai merangkul tanpa ia sadari. “Dia bahkan lebih cantik dari di layar…” bisiknya tak percaya.
Karena mendadak tanganya dirangkul dengan sangat erat, rahmat terkejut ia sebelumnya sedang melihat kesa-kesini, tapi rangkulan dan genggaman erat dari Alya membuat dia berpaling.
“Eh? Apa?”
““Ra… Rahmat…” suaranya berubah jadi bisikan tak percaya. “Itu… itu Kanaya Arcelia…”
Nama itu meluncur seperti mantra.
Kanaya Arcelia—idol solo yang sedang naik daun. Usianya baru tujuh belas, tapi sudah punya jutaan penggemar. Visual memukau, suara stabil, dan karisma panggung yang sulit ditandingi.
“Dia bahkan lebih cantik dari di layar…” bisiknya tak percaya.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Alya—yang biasanya percaya diri dan sulit terkesan—terlihat seperti penggemar biasa yang bertemu idolanya secara langsung.
Itu membuat Rahmat terkejut. Dilihatnya gadis itu seksama, ya itu adalah wajah gadis idol papan atas dan harus diakui cantik.
“Eh, begitu hebatnya dia ya?”
“iyalah! Jangan bilang kamu gak tahu siapa itu Kanaya Arcelia?” Alya kali ini terkejut dengan pertanyaan rahmat.
Pria itu menggelengkan kepala. Ia tidak terlalu mengikuti dunia idol memang wajah gadis itu sering muncul di beranda sosialnya hingga dia merasa familiar, tapi bukan artinya ia sampai tahu namanya.
“Kamu ini aneh, ya? Padahal cowok-cowok pasti tahu kalau masalah cewek cantik begini,” ucapnya.
“Kamu suka dia?”
Alya mengangguk cepat. “Banget! Dia udah jadi semacam kiblat untuk fashionku”
“…dan cara dia bawa diri,” lanjut Alya cepat, masih menatap lurus ke arah Kanaya seolah takut sosok itu menghilang kalau ia berkedip. “Dia nggak cuma cantik. Dia tuh… berkelas banget! Cara ngomongnya, cara senyumnya, bahkan cara dia jalan aja beda.”
Rahmat melirik lagi ke arah idol itu.
Kanaya sedang tertawa kecil mendengar sesuatu dari manajernya. Tawa yang tidak berlebihan—hanya sedikit melengkungkan bibir, tapi cukup membuat suasana di sekitarnya terasa lebih terang.
“Berkelas ya…” gumam Rahmat pelan.
“Iya!” Alya menoleh cepat. “Dan dia seumuran kita loh. Bayangin, tujuh belas tahun tapi udah bisa berdiri di panggung sebesar ini. Aku tuh kadang mikir… kok bisa ya dia punya keberanian kaya gitu?”
Rahmat menatap Alya beberapa detik lebih lama. “Kamu juga punya.”
“Hah?” Alya langsung menoleh, kaget.
“Keberanian,” ulang Rahmat santai. “Bedanya dia tampil di panggung. Kamu… cuma belum nemu panggungnya aja.”
Wajah Alya langsung memanas. “Apaan sih kamu tiba-tiba ngomong begitu…” gumamnya, pura-pura sebal, padahal sudut bibirnya susah disembunyikan.
Beberapa kru lewat, membuat mereka sedikit menepi ke sisi koridor. Alya kembali melirik ke arah Kanaya yang kini berdiri lebih dekat—hanya berjarak sekitar sepuluh meter.
Jantungnya berdebar lebih cepat.
“Aku… boleh nggak ya minta jabat tangan?” bisiknya ragu.
“Kita punya akses backstage,” jawab Rahmat tenang. “Kalau kamu mau, ayo.”
Alya menelan ludah. Tiba-tiba rasa percaya dirinya yang biasanya tinggi menguap begitu saja.
“T-tunggu bentar… aku takut keliatan norak.”
Rahmat menatapnya datar. “Udah keliatan norak, santai aja. Tadi kamu hampir lompat-lompat.”
“Itu refleks!”
Rahmat terkekeh pelan. “Ya udah. Kalau nggak sekarang, nanti dia naik panggung.”
Alya menarik napas dalam-dalam. “Oke. Oke. Santai. Cuma jabat tangan.”
Dengan langkah sedikit kaku tapi berusaha terlihat anggun, Alya mulai mendekat. Rahmat berjalan di belakangnya.
Semakin mendekat, aura Kanaya terasa semakin nyata. Wajahnya tanpa filter kamera tetap sempurna. Kulitnya bersih, ekspresinya tenang, tapi matanya hidup—tidak kosong seperti selebritas yang kelelahan.
Seorang staf melihat mereka dan sempat hendak menahan, namun Rahmat menunjukkan kembali akses di ponselnya. Staf itu langsung mengangguk memberi jalan.
Kanaya yang menyadari kehadiran mereka menoleh.
Dan ketika mata idol itu bertemu dengan mata Alya—Alya benar-benar membeku.
“Selamat malam,” sapa Kanaya lembut terlebih dahulu, suaranya lebih hangat daripada yang pernah Alya dengar lewat layar.
...ilustrasi Kanaya, by Ai...
Alya hampir lupa caranya berbicara.
“Ma—malam… Kak Kana…” suaranya sedikit gemetar. “Aku… aku penggemar kamu.”
Rahmat terkekeh dibelakang, baru kali ini dia melihat Alya gugup begitu.
Kanaya tersenyum lebih lebar, tapi tetap anggun. “Terima kasih. Senang ketemu langsung.”
Alya mengulurkan tangan dengan hati-hati, seolah menyentuh sesuatu yang rapuh. Kanaya menyambutnya tanpa ragu. Tangannya hangat, lembut, halus, Alya bersumpah tidak akan pernah cuci tangan setelah ini selamanya.
“Aku suka banget cara kakak tampil… dan fashion kakak juga jadi inspirasiku,” kata Alya lebih lancar sekarang, meski pipinya masih merah.
“Serius?” Kanaya tampak tulus tertarik. “Kamu juga cantik loh. Gaun biru itu cocok banget buat kamu.”
Kalimat itu seperti petir kecil bagi Alya, dipuji oleh idolanya sendiri itu beda level lagi rasanya.
Rahmat bisa melihat jelas—gadis di sampingnya itu hampir meleleh di tempat.
“Te-terima kasih…” bisiknya.
Beberapa kru memanggil Kanaya dari ujung koridor.
“Lima belas menit lagi, Kana!”
Kanaya mengangguk. Ia kembali menatap Alya dan Rahmat. “Aku tampil terakhir malam ini. Jangan pulang dulu ya.”
Alya mengangguk cepat seperti anak kecil. “Nggak mungkin! Aku kesini demi kakak!”
Kanaya tersenyum sekali lagi, “Makasih dukungannya, aku bakal tunjukin yang terbaik malam ini!”
“Kana, ayo buruan!” Manajernya makin berseru.
Kanaya lalu berbalik mengikuti manajernya menuju ruang persiapan, sudut matanya tanpa sengaja berpapasan dengan Rahmat, gadis itu pun tersenyum ke arah pria itu dan melambaikan tangan.
“Aku duluan, ya.”
Alya berdiri diam beberapa detik. Lalu perlahan menoleh ke Rahmat.
“Aku barusan jabat tangan Kanaya Arcelia…”
Rahmat mengangguk santai. “Iya, aku tidak buta, aku lihat kok.”
“Aku dipuji.”
“Iya.”
Alya menatapnya dengan mata berbinar penuh energi. “RAHMAT AKU BARUSAN DIPUJI KANAYA ARCELIA!”
Beberapa kru menoleh karena suaranya sedikit terlalu keras.
Rahmat buru-buru menarik lengannya pelan. “Volumemu, Nona tolong diperhatikan.”
Alya menutup mulutnya sendiri, tapi senyumnya tidak bisa hilang.
Namun di saat yang sama— Rahmat entah kenapa merasakan sesuatu.
Ia menoleh ke sana kemari, mencari hal yang membuat firasat dia tidak enak, namun tidak segera menemukan sumbernya.
Mungkin hanya perasaan.