Nayla Safira Hanin adalah siswi jenius yang lebih suka tidur di atap sekolah daripada di kelas. Namun di balik hijabnya, ia adalah petarung jalanan tak terkalahkan yang sanggup melumpuhkan lawan dalam hitungan detik. Kebebasannya terenggut saat dosa masa lalu sang ayah terungkap: setahun lalu, ayahnya tak sengaja menabrak istri seorang konglomerat hingga tewas.
Keluarga Hasyim datang bukan untuk meminta ganti rugi uang, melainkan "hutang nyawa". Nayla dipaksa menikah dengan Adnan Hasyim, pria dingin yang membenci keluarga Nayla sedalam cintanya pada mendiang istrinya. Adnan hanya butuh pengasuh untuk putrinya, Adiva, yang berhenti bicara sejak kecelakaan tragis itu.
Kini, Nayla terjebak sebagai istri dari pria yang menganggapnya beban sekaligus musuh. Adnan tak menyadari bahwa istri "kecil" yang tengil ini adalah satu-satunya pelindung yang akan mempertaruhkan nyawa saat musuh bisnis mulai mengincar keluarganya. Mampukah kepalan tangan Nayla meruntuhkan tembok kebencian Adnan,?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERBONGKARNYA RAHASIA
"Nay, itu beneran foto yang di unggah Reno digrup? Katanya Lo simpanan om-om, dirumah istana itu"
Pertanyaan Farah di seberang telepon membuat Nayla nyaris menjatuhkan buku rumus fisikanya. Nayla langsung melirik grup WhatsAppnya. Tapi malas membukanya.
Nayla memijat pelipisnya. "Duh, besok gue jelasin di sekolah. Sekarang gue tutup ya,"
Nayla menutup telepon dengan perasaan campur aduk. Di atas meja belajarnya, tumpukan simulasi Ujian Nasional (UN) menanti untuk ditaklukkan, namun fokusnya terbelah. Di ranjangnya, Adiva sedang terbaring lemas dengan kompres di dahi. Bocah itu terserang demam tinggi sejak sore tadi, dan anehnya, ia hanya mau minum obat jika disuapi oleh Nayla.
"My...ma... pusing..." rintih Adiva kecil dengan suara serak.
Nayla segera mendekat, meletakkan bukunya dan menggantinya dengan handuk kecil. "Iya sayang, sebentar ya. Myma di sini. Diva kuat, kan calon atlet karate masa depan."
Pintu kamar terbuka. Adnan masuk dengan wajah yang lebih kusut dari biasanya. Jasnya tersampir di lengan, dan dasinya sudah lepas. Ia tampak kelelahan setelah rapat maraton di kantor, namun sorot matanya langsung melembut saat melihat putrinya.
"Bagaimana panasnya? Sudah turun?" tanya Adnan sambil duduk di tepi ranjang, tangannya menyentuh punggung tangan Adiva.
"Masih 38 derajat, Pak. Obatnya baru bereaksi mungkin satu jam lagi," jawab Nayla tanpa menoleh, tangannya sibuk memeras kain kompres.
Adnan beralih menatap meja belajar Nayla yang berantakan. "Kamu besok ada simulasi UN, kan? Kenapa tidak belajar di kamar sebelah saja? Biar saya yang menjaga Adiva."
Nayla mendengus pelan, sebuah senyum getir muncul di wajahnya. "Bapak lihat sendiri kan tadi? Diva nangis histeris kalau Bapak yang pegang kompresnya. Katanya tangan Bapak dingin kayak es batu di kulkas. Udahlah, saya bisa belajar sambil jaga Diva kok. Otak saya kan multitasking, nggak kayak otak Bapak yang isinya cuma angka saham."
Adnan terdiam. Ia merasa tertusuk oleh kenyataan bahwa putrinya lebih merasa nyaman dengan orang asing yang baru beberapa minggu tinggal di sini daripada dengan ayahnya sendiri. Ia bangkit, berjalan menuju meja belajar Nayla, lalu menarik sebuah kursi kayu dan duduk di sana.
"Apa yang Bapak lakukan?" tanya Nayla heran.
"Buka buku fisikamu. Bab mana yang belum kamu mengerti?" tanya Adnan datar sambil membolak-balik halaman buku tebal itu.
Nayla berkedip tidak percaya. "Bapak mau... ngajarin saya? Emangnya Bapak masih ingat pelajaran SMA? Bukannya Bapak cuma tahu cara ngitung duit?"
Adnan melirik Nayla dengan tatapan meremehkan yang khas. "Saya lulusan terbaik teknik sipil di Jerman, Nayla. Fisika SMA itu cuma mainan anak TK buat saya. Cepat, tanya bagian mana yang sulit, sebelum saya berubah pikiran dan menyuruhmu belajar sendiri sampai pagi."
Nayla mendecak, namun ia tidak menolak. Ia membawa kursi plastiknya mendekat ke meja. "Oke, Pak Jenius. Jelasin ke saya soal hukum termodinamika ini. Saya pusing lihat rumusnya yang kayak cacing kepanasan."
Selama dua jam berikutnya, pemandangan aneh terjadi di kamar itu. Di tengah keheningan malam, seorang CEO dingin berubah menjadi guru privat bagi istrinya yang seorang petarung jalanan, sementara seorang anak kecil tidur terlelap di antara mereka. Adnan menjelaskan rumus-rumus rumit dengan bahasa yang sangat sederhana, sementara Nayla sesekali menyela dengan argumen tengilnya. Dan dibalas Adnan dengan sabar.
"Makasih ya, Pak Guru. Ternyata Bapak berguna juga selain buat bayar tagihan motor," ucap Nayla sambil menyengir.
"Hmm," balas Adnan sambil mengangkat tangannya.
"Pak, jangan pegang-pegang kepala saya. Nanti ilmu fisikanya lari semua ke tangan Bapak," celetuk Nayla sambil menepis pelan tangan Adnan yang hendak mengusap kepalanya.
Adnan menarik kembali tangannya, wajahnya kaku seperti biasanya. "Saya hanya ingin memastikan otakmu tidak korsleting karena belajar sambil mengompres Adiva. Dan berhenti memanggil saya 'Bapak'. Saya bukan guru honorer di sekolahmu."
"Lho, kan Bapak memang lebih tua? Menghormati orang tua itu sebagian dari iman, Pak Adnan," balas Nayla dengan senyum tengil yang membuat urat di pelipis Adnan berdenyut.
Di atas ranjang, Adiva masih meringkuk lemas. Panas tubuhnya mulai turun, namun ia tetap menggenggam ujung hijab yang dipakai Nayla. Di meja belajar, ponsel Nayla terus bergetar tanpa henti. Notifikasi grup WhatsApp kelas membanjir seperti air bah setelah Reno menyebarkan foto mansion mewah tempat Nayla tinggal.
"Teman-temanmu mulai berisik di ponsel itu. Kamu tidak mau mengurusnya?" tanya Adnan sambil melirik benda yang terus menyala itu.
Nayla menyambar ponselnya, membaca sekilas rentetan cacian dan tuduhan sebagai "simpanan om-om" yang dialamatkan padanya. Bukannya menangis atau minta perlindungan, Nayla justru terkekeh sinis. Ia mengetik sesuatu dengan cepat di layar.
"Apa yang kamu lakukan?" Adnan mengernyit.
"Ngirim lokasi ring tinju di dekat sekolah. Saya bilang, siapa yang mau tahu saya simpanan siapa, datang besok sepulang simulasi UN. Saya kasih jawaban lewat bogem mentah gratis," jawab Nayla enteng.
Adnan berdiri, rahangnya mengeras. "Jangan konyol, Nayla. Kamu itu istri saya. Biar saya suruh pengacara perusahaan atau supir untuk mengantarmu dengan Rolls-Royce besok. Biar mereka bungkam melihat kasta siapa yang ada di belakangmu."
Nayla mendongak, menatap Adnan dengan tatapan tajam yang tidak goyah sedikit pun. "Nggak perlu, Pak. Makasih tawarannya, tapi saya nggak butuh pamer harta Bapak buat jaga harga diri saya. Kalau saya dibela pakai uang Bapak, mereka bakal makin yakin kalau saya memang 'simpanan'. Saya bakal hadapi pakai cara saya sendiri."
"Kamu keras kepala sekali," desis Adnan.
"Saya ini petarung, Pak. Bukan boneka pajangan di lemari kaca Bapak. Bapak urus saja saham-saham Bapak yang lagi merah itu, urusan sekolah biar saya yang beresin," sahut Nayla sambil kembali membolak-balik buku rumus fisikanya.
Adnan terdiam. Ada rasa risih yang menjalar di hatinya setiap kali panggilan "Bapak" itu keluar dari mulut Nayla. Rasanya sangat jauh, sangat formal, dan sangat menyebalkan. Ia merasa seperti orang asing yang hanya kebetulan membayar tagihan, bukan seorang pria yang memiliki ikatan dengan gadis di depannya.
Keesokan harinya, suasana di SMA Garuda Bangsa terasa mencekam. Begitu Nayla memarkir motor sport hitamnya, puluhan pasang mata langsung menusuk. Farah menghampiri dengan wajah penuh selidik.
"Nay, jelasin sekarang. Itu rumah siapa? Jangan bilang lo beneran jual diri?" tanya Farah tanpa saringan.
Nayla melepas helm, menyugar rambutnya yang tertutup hijab dengan santai. "Rumah majikan bokap gue, Far. Gue di sana jagain anaknya yang lagi sakit. Puas? Sekarang mending lo fokus belajar, daripada ngurusin hidup gue yang lebih estetik dari hidup lo."
"Tapi foto yang dikirim Reno di grup..."
"Reno cuma butuh jatah masuk rumah sakit lagi. Biarin aja," potong Nayla dingin.
Sepanjang simulasi UN, Nayla fokus mengerjakan soal Termodinamika dan Gelombang Elektromagnetik yang tadi malam diajarkan Adnan. Ternyata, metode "Es Balok" itu cukup manjur. Otaknya bekerja seperti mesin yang baru saja diminyaki.
Begitu bel pulang berbunyi, Nayla tidak langsung pulang. Ia berjalan menuju gudang belakang sekolah, tempat yang ia janjikan di grup. Reno sudah menunggu di sana bersama tiga anteknya, lengkap dengan ponsel yang siap merekam.
"Mana om-om yang piara lo, Nay? Takut datang ya?" ejek Reno disambut tawa teman-temannya.
Nayla melempar tasnya ke lantai. "Ngapain bawa orang lain buat hadapi kecoa kayak lo? Sini, satu-satu atau mau barengan? Biar cepat, saya mau pulang, mau ngajarin anak 'majikan' saya ngaji."
Reno maju duluan, hendak melayangkan tamparan. Namun Nayla lebih cepat. Ia merunduk, menangkap lengan Reno, dan menggunakan berat badan lawan untuk membantingnya ke tanah. BRAK! Reno mengerang kesakitan saat punggungnya menghantam aspal.
"Itu buat fitnah di grup," ucap Nayla.
Dua teman Reno maju bersamaan. Nayla melompat, memberikan tendangan memutar yang mengenai telinga salah satu dari mereka, lalu mendaratkan pukulan telak di rahang yang satunya. Gerakannya rapi, efisien, dan penuh amarah yang terkendali.
Tiba-tiba, sebuah tepukan tangan pelan terdengar dari arah pintu gudang. Nayla menoleh dan terkejut melihat Adnan berdiri di sana dengan setelan jas lengkap, bersedekap dada. Di belakangnya ada dua bodyguard berbadan besar yang membuat antek-antek Reno gemetar ketakutan.
"Sudah selesai mainnya, Nayla?" tanya Adnan datar.
"Bapak ngapain ke sini?!" seru Nayla kaget. "Kan saya bilang jangan ikut campur!"
Adnan berjalan mendekat, mengabaikan Reno yang sedang merintih di lantai. Ia berhenti tepat di depan Nayla, lalu mengambil ponsel dari tangan salah satu teman Reno yang sedang merekam. Dengan sekali remas, ponsel itu retak di tangan Adnan.
"Saya tidak ikut campur urusan perkelahianmu. Saya hanya datang untuk menjemput istri saya yang lupa waktu karena asyik bermain dengan sampah," ucap Adnan dengan suara yang cukup keras hingga terdengar oleh siswa-siswa lain yang mulai berkerumun di kejauhan.
Nayla melotot. "Istri?! Pak, mulutnya dijaga!"
Adnan justru sengaja mendekatkan wajahnya ke telinga Nayla, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Berhenti memanggil saya Bapak jika tidak mau saya menciummu di depan teman-teman sekolahmu sekarang juga."
Nayla mematung, wajahnya mendadak panas. Ancaman Adnan kali ini tidak terasa seperti gertakan biasa.
"Diva mencari 'Myma'-nya di rumah. Dia tidak mau makan kalau bukan kamu yang suapi," lanjut Adnan sambil menarik tangan Nayla dengan tegas.
Nayla yang biasanya sanggup membanting pria seberat 80 kg, entah kenapa kali ini hanya pasrah saat Adnan menariknya menuju mobil Bentley yang terparkir di depan gerbang. Para siswa yang menonton hanya bisa melongo. Reno yang tadinya ingin mempermalukan Nayla, kini justru ketakutan setengah mati melihat siapa pria yang menjemput gadis itu.
Di dalam mobil, Nayla langsung melepaskan tangannya. "Bapak sengaja ya? Sekarang satu sekolah bakal tahu!"
"Biarkan mereka tahu. Dengan begitu tidak akan ada lagi kecoa yang berani menyentuhmu," sahut Adnan tanpa ekspresi.
"Tapi saya nggak mau dikenal sebagai 'istri orang kaya', Pak! Saya mau dikenal sebagai Nayla sang jenius dan jagoan!"
Adnan menoleh, menatap Nayla dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kamu tetap jagoan, Nayla. Bedanya, sekarang kamu punya tempat untuk pulang. Dan sekali lagi kau panggil aku 'Bapak' di dalam mobil ini..."
"Kenapa? Mau pecat saya jadi istri?" tantang Nayla.
Adnan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru mendekat, membuat Nayla terdesak ke pintu mobil. Suasana mendadak sunyi, hanya deru mesin mobil yang terdengar. Untuk pertama kalinya, Nayla merasa nyalinya menciut bukan karena takut dipukul, tapi karena detak jantungnya sendiri yang berkhianat.
"Panggil namaku, atau panggil 'Mas'. Pilihan ada di tanganmu," bisik Adnan.
Nayla menelan ludah, ia memalingkan wajahnya yang memerah sempurna. "I-iya, Mas Es Balok! Puas?!"
Adnan kembali duduk tegak, sebuah senyum kemenangan tersungging di bibirnya. Ia menyadari satu hal: menaklukkan Nayla ternyata jauh lebih menantang dan menyenangkan daripada memenangkan tender pelabuhan mana pun.
kuueeeereeeeennnnn..........🌹🔥🔥🔥🔥🔥